I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Bonus Chapter 2


__ADS_3

Kabar jika nyonya muda Refalino tengah mengandung tersebar cepat. Banyak pihak yang membicarakan, termasuk di sosial media. Apalagi ketika Aqilla dengan sengaja memposting foto hasil USG janinnya di aplikasi Instagram, kolom komentar seketika penuh! Jumlah like membludak!


Usia empat bulan, Aqilla dinyatakan hamil anak kembar. Semua orang sebenarnya sudah bisa menebak hanya dengan melihat ukuran perut Aqilla yang melebihi ibu hamil pada umumnya. Namun, tetap saja, Rayhan sangat bahagia kala sang dokter menyatakan hal tersebut. Senyum lelaki itu terus terukir setelah dokter mengatakan bahwa jenis kelamin bayinya perempuan.


Yap, dua-duanya perempuan.


Itu perkiraan dokter. Apa pun di dunia ini bisa berubah ketika Allah berkehendak bukan?


Sepanjang kehamilan, Aqilla merasakan perbedaan yang signifikan. Kali ini, ada banyak insan yang memberi perhatian—apalagi Rayhan, suaminya. Robert dan Reva tak kalah memanjakan Aqilla. Richard dan Kalina pun selalu menuruti keinginan putri mereka ini. Termasuk Jovan dan Jovin yang berubah menjadi anak penurut supaya tidak membebani mommy mereka dan calon dede’.


Pokoknya, Aqilla diprioritaskan dalam segala hal. Apa saja yang ia sebut, beberapa menit kemudian keinginan itu akan muncul di hadapannya. Suaminya benar-benar perhatian, kan?


“Sayang, kamu mau ke kantor?” tanya Aqilla dengan bibir mengerucut. Sepasang manik bumil satu ini berkaca-kaca, sementara tangannya mengusap perut yang membuncit.


Rayhan terkekeh melihat ekspresi yang dikeluarkan Aqilla. Istrinya ini sering sekali meminta ini dan itu—untungnya, sih, permintaannya masih dalam tahap wajar. Asalkan itu baik dan diperbolehkan, Rayhan setuju-setuju saja. Perubahan lain dalam diri Aqilla adalah sifat wanita itu sendiri.


Sumpah, ya, Aqilla bener-bener manja ke siapa pun, terutama Rayhan. Kadang, wanita itu ingin dipeluk seharian atau minimal tidak mengizinkan Rayhan keluar dari jangkauan. Aqilla super super manja pokoknya.


“Kenapa, hm?” tanya Rayhan lembut. “Kamu mau aku di rumah lagi?”


Aqilla cengengesan. “Bawaan bayi, Sayang. Kamu di rumah aja, ya.”


“Iya.” Rayhan menaruh balik tas kerja ke atas meja, lantas memeluk istrinya yang mendusel-dusel. “Manja banget, sih, bumilnya Rayhan.”


“Nggak pa pa. Kan, sama suami, bukan cowok lain. Iya, kan?” Aqilla menaik-turunkan alis disambut gelakan dari Rayhan. Keduanya tahu betul jika barusan Aqilla tengah meledek Rayhan yang memiliki tingkat keposesifan melebihi kapasitas.


“Aku ganti baju dulu, ya,” pinta Rayhan melepas rengkuhan.


Aqilla mengangguk. Rayhan pun masuk ke dalam ruang ganti, sedangkan Aqilla duduk di tepi ranjang. Posisi mereka memang tengah berada di kamar.

__ADS_1


Aqilla bersenandung pelan seraya menendang-nendang udara. Suara emasnya menyanyikan lagu-lagu rohani untuk menenangkan sang bayi, hal yang selalu ia lakukan kala hamil Jovan dan Jovin dahulu. Semenjak hamil, wanita itu lebih sering membaca kitab suci atau mendengarkan lagu-lagu berbau islami. Tujuannya agar calon bayinya bisa mendengar dan menghayati.


Rayhan keluar dari ruang ganti. Lelaki itu tersenyum tipis melihat Aqilla bernyanyi lagu shalawat sembari mengusap perut, kebiasaan yang Aqilla terapkan semenjak hamil. “Sayang..” panggil Rayhan pelan, takut mengagetkan.


Aqilla mendongak. Ia tersenyum lebar melihat penampilan Rayhan yang selalu tampak bersinar—apalagi kalau lagi berkeringat dan tidak pakai apa-apa. Beuhh.. so hot🔥


“Udah? Ayo turun, Mommy sama Dedek Bayi mau makan, laper.” Aqilla merangkul lengan Rayhan, menariknya keluar kamar. Sepasang suami-istri itu turun ke lantai bawah menggunakan lift. Rayhan melarang keras penggunaan tangga akhir-akhir ini.


Pasalnya, Rayhan merasa ngilu menyaksikan perut buncit Aqilla. Ia takut seandainya istrinya membentur sesuatu atau jatuh, perutnya kenapa-napa.


“Bunda...” seru Aqilla semangat. Kedua tangannya merentang, menyambut Kalina dengan pelukan hangat.


“Assalamualaikum, Putri Bunda, Cucu Oma,” kata Kalina mengusap perut putrinya.


“Wa‘alaikumsalam, Oma,” balas Aqilla dengan suara anak kecil. Kedua wanita beda generasi itu tertawa bersama.


“Ayah nggak dipeluk, nih?” Richard merajuk. Kedua tangan dilipat di depan dada.


Richard menunjuk Kalina dengan dagu. “Tuh, dibawa Bunda-mu.”


Aqilla memekik girang. Ia bergerak mendekati bundanya. Kedua tangannya menengadah, meminta pesanan dengan sorot berbinar. “Mana, Bun, duriannya?”


Kalina menyerahkan kantung plastik berisikan durian. “Tapi, inget, Sayang, nggak boleh banyak-banyak. Sisanya biar—”


“Ayah yang makan!” sambung Richard tak kalah antusias.


Kalina berdecak menonton aksi ayah dan anak satu ini. Aqilla dan Richard benar-benar memiliki kesamaan yang cukup banyak. Bahkan, diperhatikan lamat-lamat pun Aqilla memang jauh lebih mirip dengan Richard, bukan Kalina.


Rayhan terkekeh melihat mulut istrinya yang belepotan durian. Satu kotak mika berukuran sedang durian ludes disantap Richard dan Aqilla.

__ADS_1


“Mami sama papi-mu ke mana, Nak?” tanya Kalina kepada Rayhan.


Rayhan tersenyum tipis. “Mami, Papi, Jessie, sama si kembar pergi bantu-bantu acara pernikahan Alvin, Bun.”


“Oh, iya. Asisten kamu mau menikah, ya, sebentar lagi.” Kalina manggut-manggut. Wanita paruh baya itu sempat lupa mengenai fakta satu itu. “Nanti kamu dateng sama Qilla?”


“Ray maunya, sih, nggak, Bun. Qilla gampang kecapekan kalo aktivitas berat. Tapi, Qilla maksa mau dateng. Ini, kan, pernikahan sahabatnya juga,” papar Rayhan.


Iya, iya, iya, Alvin, si asisten cepat tanggap, akan menikah sebentar lagi. Dengan siapa? Sahabat Aqilla dong, Elysia Lusiana.


Usai menyatakan perasaan, Alvin langsung melamar Ely tanpa ada acara pacar-pacaran segala. Ternyata.. diam-diam dua insan yang cukup sering mengobrol itu saling memendam rasa satu sama lain.


“Ray,” panggil Aqilla mendekati suaminya. “Aku ngantuk, mau tidur.”


Rayhan tersenyum gemas melihat tatapan sayu Aqilla. Selain manja, Aqilla jadi lebih mudah tidur. Wanita itu sanggup terlelap berjam-jam lamanya, lalu tidur di sembarang tempat asalkan nyaman. Untungnya, jika diberi nasihat, Aqilla akan tetap mendengarkan.


Sewaktu diberi anjuran agar lebih banyak bergerak, Aqilla melaksanakan dengan baik. Ia mengikuti kelas senam ibu hamil, sering jalan-jalan di pagi hari, atau memasak di mansion. Intinya, Aqilla hanya diizinkan melakukan sesuatu yang tidak berat.


“Ini udah 5 bulan, ya, La?” tanya Kalina mengusap perut Aqilla. “Kok besar banget, ya?”


“Kan, bayi kembar, Bun,” jawab Aqilla pelan. Maniknya mengerjap-ngerjap, perlahan menutup. Tubuhnya bersandar nyaman di dada sang suami.


“Perasaan Bunda waktu hamil bayi kembar nggak sebesar ini, deh,” heran Kalina.


Tidak ada yang menyahut. Kalina dan Rayhan geleng-geleng melihat Aqilla telah terbang ke alam bawah sadar. Dengkurannya terdengar cukup jelas walau tidak terlampau keras. Bibir wanita itu melengkung tipis, kedua tangannya melingkari tubuh Rayhan.


Satu kecupan mendarat di kepala Aqilla. Rayhan tersenyum melihat istrinya begitu damai dalam lelapnya.


Semoga semua berjalan lancar sampai kelahiran anak kami, Ya Allah. Tolong jangan ambil kebahagiaan ini dari hamba..

__ADS_1


^^^– Bonus Chapter 2 Finish –^^^


__ADS_2