I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 52 | Perpisahan


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Selama tiga bulan terakhir hidup keluarga Refalino berubah total. Kehadiran si kembar benar-benar membangkitkan suasana hangat hingga terasa lebih manusiawi. Suara canda tawa yang menggelegar sering terdengar dari mansion.


Di saat bersamaan, Aqilla dibuat uring-uringan mengetahui sisa cutinya hanya tersisa dua bulan saja. Wanita itu kesal bukan main mengingat Tuan Ronald telah menghubunginya dan meminta Aqilla bersiap untuk menjalankan misi selepas cuti berakhir. Huh, kayaknya hidup Aqilla nggak akan tenang nantinya.


Malam ini, suasana mansion kembali sepi. Jovan dan Jovin tidak menginap karena keduanya harus menjaga Aqilla di rumah. Ibu dari dua anak itu dinyatakan demam entah karena apa sehingga diwajibkan untuk beristirahat kemarin. Tentu saja Robert dan Reva tidak bisa memaksa si kembar datang. Aqilla juga keras kepala tidak mau tinggal di mansion, padahal sudah dipaksa berulang kali.


“Haahh.. Mami kangen anak-anak,” cetus Reva bersandar lemas di sofa ruang tamu. Robert yang duduk di sebelah istrinya turut mengangguk setuju.


Situasi mansion tanpa si kembar sangat berbeda auranya. Biasanya ruang tamu itu akan ramai dan dipenuhi mainan milik Jovan dan Jovin yang berserakan.


Rayhan yang juga ada di sana cuma bisa tersenyum kecil. Ia pun sama rindunya dengan kedua bocah jail itu. Tapi, ya, dia tidak mungkin, kan, memaksa si kembar tinggal di mansion sementara Aqilla terbaring lemah di rumah sendirian.


Omong-omong soal Aqilla, hubungan Rayhan dan Aqilla ada kemajuan, lho. Bisa dibilang mereka berteman dekat sekarang. Sudah tidak ada kecanggungan sama sekali di antara mereka. Dan, Rayhan sangat senang dengan fakta yang satu itu.


Usaha dan kesabaran lelaki itu membuahkan hasil yang manis.


“Tuan!” Seorang satpam berlari masuk ke dalam mansion dengan napas terengah-engah. Dilihat dari raut wajahnya, petugas keamanan mansion itu terlihat panik.


“Ada apa, Pak?” tanya Robert bingung.


“Di depan..” Menunjuk ke luar mansion. “Di depan ada Nona Aqilla serta tuan kecil dan nona kecil, Tuan Besar,” sambung satpam itu usai menetralkan napas.


Seluruh pasang mata yang mendengar seketika menjadi berbinar. Ketiganya segera bangkit, lanjut berlari cepat keluar mansion. Rasanya tidak sabar untuk menemui si kembar yang katanya suah berada di pekarangan.


“Sayang..” seru Reva antusias. Ia memeluk Jovan dan Jovin dengan erat. “Kalian datang, hm. Grandma kangen banget, lho, sama kalian.”


Kedua anak itu hanya diam, tidak menyahut sama sekali. Merasakan ada keanehan pada cucunya, Reva mengurai pelukan. Ia menatap si kembar yang tampak murung dengan sorot tak paham. Ada apa dengan cucu tampan dan cantiknya ini? Biasanya, kan, Jovan dan Jovin akan mengoceh panjang lebar membalas kata-katanya.


Aqilla datang seraya menarik dua koper kecil di kedua tangan. Ia menyalami Reva dan Robert sebelum menjelaskan maksud kedatangannya. “Nyonya, Tuan, saya ke sini ingin menitipkan mereka selama beberapa hari ke depan.”


Rayhan mengerutkan dahi. “Ada apa, Qill? Apa ada masalah?”


Aqilla menarik napas dalam sebentar. “Aku harus pergi ke Kanada sekarang juga, Ray. Markas pusat IAF diserang sama sekelompok orang. Semua anggota disuruh dateng secepatnya,” jelasnya dengan mimik tenang. Sebisanya mungkin Aqilla tidak terlihat panik karena tidak mau membuat si kembar resah.


Robert, Reva, dan Rayhan terkejut. Tidak ada yang menyangka bahwa akan ada pihak yang berani menyerang markas IAF. Perkumpulan itu dikenal memiliki banyak personel berbakat dengan kemampuan di luar nalar. Orang-orang yang memerangi perkumpulan itu sudah pasti punya masalah dengan otak pemikirannya.


“Mommy..” Jovin menarik-narik lengan Aqilla dengan kaki dihentak-hentak. “Jovin ikut..” rengek anak itu.


Aqilla menekuk kakinya, menyamakan tinggi dengan kedua buah hati. “Kalian di sini aja, ya. Di sana bahaya.”

__ADS_1


“Karena bahaya, kami mau ikut! Nanti kalo Mommy kenapa-napa, gimana? Siapa yang ngurusin?” Jovan ikut-ikutan merengek.


Aqilla menghela napas berat. Kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya.


Acap kali Aqilla mendapat panggilan misi dari pusat, Jovan dan Jovin pasti merengek yang tidak-tidak. Kadang mereka pun melarang Aqilla untuk bergabung dalam sebuah misi. Sebenarnya, maksud si kembar itu baik, kok.


Kedua anak itu sangat membenci setiap mendapat kabar jika sang mommy masuk ke dalam rumah sakit. Pasalnya, Aqilla selalu kembali dengan luka-luka di tubuhnya hasil dari pertempuran. Dan, Jovan maupun Jovin sangat tidak ingin melihat wanita yang melahirkan mereka ini tergores walaupun secuil.


“Mommy bakalan baik-baik aja, Twins. I am promise.” Aqilla berusaha meyakinkan. Walaupun sebenarnya hatinya kurang yakin bisa menepati.


Mengetahui markas pusat diserbu, tentu Aqilla memiliki keyakinan tersendiri bahwa pihak-pihak penyerang itu bukanlah orang biasa. Membawa si kembar ke Kanada tidak akan menjadi keputusan terbaik di situasi semacam ini.


Alhasil, Aqilla memilih untuk menitipkan kedua anaknya di sini. Ia yakin si kembar akan aman bersama daddy mereka.


“Mommy..” Mata ungu Jovan berkaca-kaca. Ia memeluk Aqilla kuat, tidak sanggup merelakan sang mommy pergi. Sementara Jovin, gadis kecil itu sudah sesenggukan sejak tadi di depan Aqilla.


“Mommy, hiks.. di sini aja,” ucap Jovin serak seraya menggoyang-goyangkan lengan Aqilla.


“Mommy keluar aja dari sana. Nanti Jovan minta uang sama daddy biar Mommy nggak usah kerja lagi. Mommy di sini aja, ya,” pinta Jovan di sela tangisannya.


Aqilla tersenyum lembut. Ia menarik kedua anak itu ke dalam pelukan. Sensasinya memang selalu sama. Rasanya berat sekali meninggalkan si kembar. Karena Aqilla sendiri juga tidak tahu apakah ia akan kembali hidup-hidup atau tidak—Tuhan yang menentukan itu. Setiap misi yang dia terima, kan, selalu mempertaruhkan nyawa.


Selepas memeluk si kembar, Aqilla menuntun mereka ke arah Rayhan. Ia meminta lelaki itu menjaga mereka sampai ia kembali.


“Segeralah kembali,” kata Rayhan serius dengan nada tersirat penuh kekhawatiran.


“Aku nggak janji, tapi aku akan berusaha.”


Aqilla berbalik pergi, meninggalkan si kembar yang menangis kencang memanggili mommy mereka. Firasat keduanya sangat tidak nyaman sekarang, seolah menandakan bahwa akan terjadi sesuatu dengan Aqilla. Padahal, biasanya tidak seperti itu.


Aqilla pergi dengan mobilnya. Jovan sampai memberontak ingin mengejar. Namun, Rayhan menahan putranya untuk tetap di tempat. Hatinya ikut tercubit menyaksikan linangan air mata di pipi Jovan. Sementara Jovin juga sama sesenggukannya di pelukan Reva.


“Mommy pasti baik-baik aja, Son,” kata Rayhan menenangkan Jovan.


“Perasaan Jovan nggak enak, Daddy. Jovan takut mommy kenapa-napa, hiks.. Jovan mau ikut mommy..”


Rayhan terpaksa menggendong Jovan. Ia memberi tepukan penenang di punggung lelaki kecil itu. “Daddy akan minta orang-orang Daddy buat nyusul mommy di sana, oke.”


Jovan menatap wajah Rayhan serius. “Hiks.. beneran, Dad?”

__ADS_1


“Iya, Daddy akan telpon orang-orang Daddy sekarang juga. Sekarang Jovan tenang, ya.” Rayhan mengecup kening Jovan sayang. Walaupun masih sedikit tersedu, lelaki kecil tampak lebih tenang. Pun dengan Jovin yang mulai menutup mata karena lelah menangis.


“Mommy nggak kenapa-napa, kan, Daddy?” lirih Jovin sebelum gadis kecil itu benar-benar terlelap.


“Daddy janji, Mommy Qilla pasti pulang dengan selamat.”


...👑👑👑...


Keesokan harinya...


Jovan dan Jovin tidak seceria biasanya. Mereka berdua duduk termenung di meja, menghadap ke arah ponsel dan tablet milik Jovan, menanti panggilan dari Aqilla. Rasanya.. hati mereka tetap gundah jika sang mommy belum memberi kabar.


“Sayang, kita sarapan dulu, ya,” pinta Reva mengusap kepala kedua cucunya yang nampak tidak bersemangat.


“Mommy kenapa belum telpon kami, Grandma?” Bukannya menjawab, Jovin malah menanyakan hal lain. Reva yang ditanyai pun tidak tahu harus mengatakan apa. Si kembar terlalu cerdik untuk ditipu.


“Mungkin mommy kalian lelah, Twins.” Rayhan turun dari lantai atas dengan setelan kerjanya. “Perbedaan waktu Jakarta sama Calgary, kan, beda jauh. Tiga belas jam, lho.”


Kedua bocah itu berpikir sejenak. “Iya juga, sih,” gumam mereka membenarkan.


“Kalian sarapan dulu, habis itu Daddy telepon anak buah Daddy buat tanya mommy kalian, gimana?” tawar Rayhan.


Jovan dan Jovin mengangguk antusias beberapa kali. “Mau, mau, mau!”


“Ya udah, ayo kita sarapan dulu.”


...👑👑👑...


Sesi telepon selesai. Menurut laporan dari anak buah Rayhan, Aqilla belum sampai di Calgary karena masih harus transit di negara lain. Kondisi Aqilla pun baik-baik saja. Wanita itu ditemani Ely juga beberapa anggota IAF yang sedang dalam perjalanan ke Calgary pula.


“Udah puas, hm?” tanya Robert melihat raut wajah si kembar tidak segelisah tadi.


“Iya, Grandpa,” jawab si kembar kompak.


“Ya udah, Daddy kerja dulu, ya. Kalian baik-baik di rumah.” Rayhan berjongkok di depan kedua anaknya.


Jovin mengerjap-ngerjap beberapa kali. “Jovin mau ikut, boleh?”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2