
“Aaarrggh!”
Rayhan memekik kuat mendapati komputernya berubah haluan. Layarnya menampilkan garis-garis hitam putih, lalu mati tanpa nyawa.
Alvin yang berada di sana juga tak kalah kaget. Ini pertama kalinya ia melihat tuan mudanya kalah dalam pertarungan virus komputer. “Tidak bisa dinyalakan, Tuan?”
Rayhan berdecak keras. Komputernya mati total. Tidak mau menyala sekalipun ia berusaha sekuat tenaga. “Siapa yang berani melakukan ini, hah?!” geram Rayhan marah.
Brakk!
“Tuan Muda! Ini darurat!”
Rayhan menatap dingin sosok lelaki yang barusan mendobrak pintu ruang kerjanya. Lelaki yang ditatap meneguk salivanya susah payah. Ia berdeham singkat sebelum menjelaskan kondisi siaga yang dialami timnya, “Ada pihak asing yang berhasil meretas data kita, Tuan. Sebagian data sudah tercuri. Kami sudah berusaha untuk mempertahankan, tapi—”
“CUKUP!” bentak Rayhan yang seketika menghentikan kalimat lelaki itu. “Keluar dari sini, dan umumkan pada seluruh anggota IT untuk rapat! Kita perlu membangun sistem keamanan baru yang lebih kuat!”
Lelaki itu menunduk hormat. “Baik, Tuan Muda.”
Sepeninggalan lelaki itu, Rayhan mengacak rambutnya frustrasi. Ia tidak peduli dengan pribadi Alvin yang masih ada di ruangannya, melihat setiap pergerakannya.
Siapa pun orang itu, aku bersumpah akan membalasnya. Berani-beraninya dia mencari masalah denganku, cih!
...👑👑👑...
Sangat berbeda dengan kondisi RH Group, di kamar Jovan, kedua bocah berbeda gender itu tengah bersorak bahagia. Mereka berpelukan sambil meloncat-loncat dengan happy-nya.
“Kakak menang, Dek!” senang Jovan.
Jovin mengangguk-angguk di pelukan Jovan. “Iya! Kakak emang hebat!” pujinya sepenuh hati.
Aqilla yang sedari tadi mengintip melalui celah pintu tertawa tanpa suara. Ia sampai membekap mulutnya sendiri, takut suaranya tersembur dan mengacaukan kebahagiaan anak-anaknya di dalam sana. Kasian banget, sih, tuan muda. Kalah sama anaknya sendiri, haha..
Puas menertawakan, Aqilla kembali ke dapur untuk menunaikan tugasnya.
Back to kamar, Jovan dan Jovin selesai dengan acara kemenangan mereka. Keduanya kembali duduk manis di depan komputer, bersiap untuk membaca hasil data curian mereka. Keduanya sama sekali tidak tahu kalau ulah mereka ini menimbulkan kekacauan di seluruh perusahaan. Yang mereka tahu, Jovan berhasil menang dari sang daddy, udah gitu aja.
“Wah, ini ada profil daddy, Dek.” Jovan menunjuk ke arah layar.
__ADS_1
Jovin mengangguk-angguk semangat. Mereka berdua pun larut dalam bacaan. Tiba di satu kata, Jovan dan Jovin sama-sama mengernyitkan dahi.
“Mandul? Mandul itu apa, Kak? Kenapa daddy diberitakan mandul?” tanya Jovin yang tak mengerti.
Jovan menggeleng. “Kakak juga nggak tau, Dek. Nanti kita tanya mommy.”
Kata mandul dilewati, mereka lanjut membaca. Bukan hanya data daddy saja yang didapat, tapi juga Robert, Reva, dan Jessie. Tak lupa, data milik para pengikut daddy-nya—salah satunya adalah Alvin sebagai tangan kanan Rayhan.
“Wah, jadi RH Group itu punya daddy?” Jovin berdecak kagum. Apalagi ketika ia melihat deretan prestasi yang sudah dicapai perusahaan itu membuatnya semakin takjub. Daddy-nya sangat keren!
“Aunty kita cantik, ya,” celetuk Jovan yang memperhatikan potret Jessie. Jovin mengangguk setuju.
“Pasti seru kalo kita udah kumpul bareng-bareng, kan, Kak?” Jovin berandai-andai. Dia tidak sabar untuk menjalankan rencana mommy-nya dan segera bertemu dengan Rayhan. Bercanda dan tertawa bersama keluarga besar, itu impian yang ingin Jovin wujudkan secepatnya.
“JOVAN! JOVIN! ADA YANG BARU, NIH! TURUN HAYUK!” teriak Aqilla dari dapur.
Si kembar saling bersitatap, lalu tertawa bersama. Mommy mereka memang kadang suka melawak begini. Makanya, kedua anak Aqilla tumbuh dengan segudang kejailan di otak mereka.
Mommy-nya saja seperti itu, sudah pasti anaknya seperti ini.
Usai mematikan komputer, Jovan dan Jovin pergi ke ruang makan. Mereka bersorak melihat omelette keju susu, lauk favorit mereka, tersedia di meja makan. Ditambah ada sosis goreng sebagai pelengkap juga nasi goreng ayam. Huh, mommy-nya memang patut diacungi jempol dalam urusan memasak.
“Udah, ayo makan. Kita harus ke sekolah kalian buat daftar.”
Jovin yang sedang mengambilkan nasi goreng untuk sang kakak mendadak berhenti dan menatap Aqilla. “Bukannya udah diurus sama aunty, Mom?”
“Udah, sih. Kita ke sana cuma buat cari kelas kalian sama urus administrasi.” Jovin manggut-manggut saja.
Seperti biasa, Jovin akan mengambilkan makanan untuk Jovan terlebih dahulu, setelah itu baru dirinya. Aqilla selalu mengajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua, salah satunya adalah membiarkan mereka makan dahulu dan melayani mereka dengan sepenuh hati.
Walaupun selisih umur Jovan dan Jovin hanya delapan menit, tapi Aqilla bisa memanfaatkan perbedaan itu dengan baik. Lihat saja kedua anak itu, mereka tidak akan menyentuh makanan sebelum melihat Aqilla makan atau setidaknya Aqilla sendiri yang menyuruh mereka makan duluan.
“Jovan, pimpin doa,” suruh Aqilla seraya duduk di kursi utama meja makan.
Jovan mengangguk. Ia mengucapkan dengan lantang doa sebelum makan, hal kecil yang selalu Aqilla biasakan.
“Selamat makan!” sorak ketiganya senang.
__ADS_1
...👑👑👑...
“Mom,” panggil Jovan.
Aqilla yang tengah berkonsentrasi dengan kemudi cuma bisa melirik sekilas. “Kenapa, Boy?”
Saat ini, ketiganya berada di dalam mobil, siap meluncur ke sekolah baru si kembar selama mereka di Indonesia. Jovan duduk di belakang, sementara Jovin duduk di sebelah Aqilla.
“Jovan nggak mau masuk ke kelas 5 lagi,” rengek lelaki kecil itu.
Aqilla mengernyitkan dahi. “Terus?”
“Kami bosan, Mom. Di kelas itu, kami udah paham semua pelajarannya. Bisa nggak kita lompat kelas lagi?” timpal Jovin membantu kakaknya bicara.
Aqilla mengangguk-angguk. “Bisa aja. Tinggal ikut ujian kelulusan, terus naik kelas, deh.”
“Yes!” pekik si kembar. Inilah yang mereka suka dari Aqilla.
Mommy-nya itu tidak pernah melarang keinginan mereka. Apa pun dituruti, asal itu dalam konteks baik.
“Jovan boleh tanya, Mom?” pinta Jovan.
Aqilla terkekeh. “Sejak kapan kamu nanya pake ijin dulu, Boy? Biasanya langsung nanya, kan?”
Jovan ikut tertawa. “Iya, ya.” Lelaki itu tersenyum. “Kenapa Mommy selalu dukung keinginan kami? Padahal, kan, kami bisa aja diejek sama orang-orang karena udah naik kelas, tapi umur kami masih kecil.”
Aqilla tampak berpikir. “Gimana, ya, jelasinnya.” Ia melirik ke arah kedua anaknya yang ketara penasaran. “Tujuh tahun, Twins. Tujuh tahun Mommy hidup dalam rasa bersalah. Mommy merasa bersalah karena udah misahin kalian dari daddy kalian, dari granma, dari granpa. Dengan Mommy nurutin keinginan kalian begini, rasa bersalah Mommy sedikit berkurang.”
Hening.
Jovan dan Jovin tertegun mendengar alasan mommy mereka. Ternyata selama ini Aqilla memendam semua rasa itu sendirian. Pasti sangat tersiksa bukan?
“Lagian, Mommy nggak akan nurutin terus, kok. Kalo permintaan kalian aneh-aneh dan nggak wajar, ya, Mommy pasti larang,” lanjut Aqilla. Ia berusaha mencairkan suasana. Aura kedua anaknya terasa sedikit mendung.
“Apalagi, kan, sekarang dunia ini itu kekurangan orang-orang genius yang berhati malaikat. Jadi, yang Mommy lakuin sekarang itu adalah salah satu cara untuk melestarikan bumi!” celetuk Aqilla lagi.
Jovan dan Jovin tertawa. Mau tak mau Aqilla ikut tertawa.
__ADS_1
Apa pun Mommy lakuin buat kalian, Twins. Kalian alasan terbesar Mommy bisa sampai di titik ini..
^^^To be continue...^^^