
Suasana ruang makan mansion sedikit-banyak agak mencekam, ya. Jovan dan Jovin sampai berkeringat dingin, lho. Sesekali mata bulat mereka melirik ke arah sang mommy yang masih melayangkan sorot tajam menghunus. Huh, serem.
Semua ini gara-gara kedatangan Aqilla yang tiba-tiba sampai mendengar gosipan si kembar pasal mommy-nya. Biasalah, Jovan sama Jovin, kan, tidak mau disalahkan.
Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie cuma bisa pasrah sekaligus penasaran. Apa interaksi antara ibu dan anak itu memang selalu seperti ini? Unik sekali.
Para pelayan yang bertugas melayani sampai ikut-ikutan tegang. Kenapa pangeran dan tuan putri terlihat lucu sekali ketika tengah gelisah, galau, dan merana begini?
“Wah, Dek, kok, rasanya gerah, ya?” ucap Jovan tiba-tiba. Tangan kecilnya membuat gerakan mengipas-ngipas badannya.
Jovin yang mengerti kode kakaknya langsung mengusap dahinya yang kering—mendramatisir saja dia mah. “Iya, nih, Kak. Panas banget, aduuhh..”
Aqilla tahu anak-anaknya hanya berakting. Mereka hanya sedang mencoba untuk kabur dari ruang makan ini. Personel yang melihat cuma bisa geleng-geleng. Raja dan ratu drama sedang beraksi.
“Ke dapur, yuk, Kakak mau minta dibuatin jus, nih, biar seger,” ajak Jovan mengedipkan sebelah matanya. Jovin mengangguk setuju.
Seketika kedua bocah berbeda gender itu berlari terbirit-birit meninggalkan ruang makan. Si kembar benar-benar merasa tertekan dengan aura kesinisan mommy mereka. Beruntung otak cerdas Jovan bisa diajak bekerja sama dengan baik di situasi darurat sekalipun.
Aqilla memutar bola matanya jengah. “Cih, bilang aja kalo mau kabur,” gumam Aqilla malas. Ia melahap makanan di piringnya dengan keras, menunjukkan bahwa dirinya tengah dirudung rasa kesal yang mendalam.
Sebegitu galaknya dia, kah, sampai si kembar menyebutnya iblis betina?
“Kalo aku iblis betina, berarti mereka anak iblis dong?” gumam Aqilla menyadari sesuatu. Detik berikutnya, seringaian jail terpasang di bibir wanita itu. Ia menepuk tangannya heboh dan berdiri dari duduk. “Saya pamit sebentar, Nyonya, Tuan.”
Tanpa menanti balasan dari siapa pun, Aqilla bergegas keluar mansion. Yang lainnya cuma bisa menatap bingung, ada apa dengan ibu dari dua anak itu?
“Jessie baru tau ada yang beginian, Mi,” celetuk Jessie. “Nggak kayak ibu dan anak, tapi malah kayak temen.”
Reva terkekeh. “Mungkin ini cara Aqilla biar dia bisa deket sama anak-anaknya tanpa canggung.”
Tidak lama, Aqilla kembali dengan tangan kosong. Senyuman masih terukir di bibir wanita itu seolah rencana di benaknya telah berjalan lancar tanpa hambatan. Pokoknya, cuma Aqilla dan author saja yang tahu apa yang ada di otak wanita itu.
Jovan dan Jovin kembali dengan segelas jus di masing-masing tangan. Keduanya duduk di bangku sebelumnya. Dengan gerakan malu-malu, Jovan mendorong salah satu gelas jus yang ia bawa ke arah Aqilla. “Buat Mommy, hehe,” cengir Jovan.
__ADS_1
“Biit Mimmy, hihi,” cibir Aqilla dengan gaya mengejek. “Bilang aja mau nyogok Mommy, kan, biar nggak ngambek?”
Jovan menarik sebelah tangan Robert dan Reva yang duduk mengapit dirinya untuk menutupi wajahnya yang memerah malu. “Iya, Mom. Jangan marah, ya. Jovan keceplosan doang,” kata Jovan pelan. Robert dan Reva sampai gemas sendiri melihat cucu mereka salah tingkah.
Aqilla hampir menyemburkan tawanya hingga Jovin terkikik. Namun, wanita itu segera mengontrol air muka dengan berdeham. “Huh, karena Mommy baik hati dan tidak pendendam, Mommy maafin, deh.” Ia meraih gelas jus pemberian putranya, lalu meneguknya tiga kali.
Hm, enak juga.
Jovan menurunkan tangan grandma dan grandpa-nya cepat. “Beneran, Mom?” pekiknya antusias.
“Iya, Bawel.”
“ALHAMDULILLAH.. JADI, JATAH KUE SAMA COOKIES JOVAN NGGAK DIPOTONG, KAN, MOM?”
...👑👑👑...
“Biar Grandma anter kalian ke sekolah, ya?” pinta Reva sewaktu si kembar tengah memakai sepatu.
Jovan dan Jovin saling melempar pandang, keraguan terpatri jelas di paras mereka. Aqilla sampai mengerutkan dahi tak mengerti. Apa yang mereka pikirin?
Jovan mendongak, menatap Reva yang tampak sedikit kecewa. “Kami bukan mau nolak Grandma, kok. Kami cuma mau nunjukin ke temen-temen kalo kami punya daddy,” tutur Jovan menjelaskan.
Jovin mengangguk pelan. “Jovin nggak mau dikatain anak haram lagi,” lirihnya.
Sontak Aqilla memejamkan mata. Kata-kata itu sepertinya masih belum lepas dari si kembar. Namun, mengingat kalau sekarang dirinya berada di Indonesia—yang memiliki para netizen dengan mulut nyinyir—Aqilla berusaha memaklumi. Tetapi, bukan berarti Aqilla akan melepas mereka dengan mudah.
“Siapa yang bilang kayak gitu sama kalian?” Aqilla menggulung lengan bajunya hingga ke siku. “Tunjukin ke Mommy sekarang, biar Mommy hajar!”
Melihat ekspresi lucu Aqilla membuat si kembar agak terhibur. Keduanya tertawa pelan.
Sayangnya, Aqilla itu benar-benar marah, bukan pura-pura. Begitupun dengan Robert dan Reva. Sepasang suami-istri itu juga terlihat geram.
“Siapa orangnya, Nak? Biar Grandpa balas dia,” ucap Robert menggebu-gebu.
__ADS_1
Reva mengangguk setuju. “Grandma pasti buat mereka jera! Sebutin namanya, Sayang.”
Jovan dan Jovin tersenyum. Mereka tidak menjawab, hanya memperlebar cengiran. Sebenarnya si kembar tidak pernah mempermasalahkan julukan itu karena tidak punya alasan yang logis untuk membantah. Akan tetapi, sekarang situasinya berbeda. Rayhan sudah berada di sisi keduanya.
“Oke, Daddy yang antar kalian,” ucap Rayhan mengakhiri keributan ini. “Kalian pake sepatu dulu, ya. Daddy mau ngomong sama mommy.”
Jovin mengangguk senang, sementara Jovan masih harus menengok ke arah Aqilla yang terlihat tenang-tenang saja. Entah telepati macam apa yang mereka punya, Jovan terlihat manggut-manggut usai memandang lama sang mommy.
Rayhan membawa Aqilla keluar mansion, jauh dari orang-orang. Lelaki itu tak ingin pembicaraan mereka didengar.
“Ada apa, Tuan?” tanya Aqilla ingin tahu alasan tuan muda menggiringnya kemari.
Rayhan berdecak. “Jangan panggil aku tuan muda lagi, Qill.”
“Lah? Terus?”
“Rayhan, panggil Ray.”
Aqilla mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. “Pa–panggil Ray?” beonya tak yakin.
Rayhan tersenyum cerah. “Iya, gitu lebih baik. Lagian.. sikap kamu ke aku juga nggak ada hormat-hormatnya, kan?”
“Iya, sih.” Aqilla manggut-manggut. “Oke, Rayhan.”
Tersenyum tampan. Rayhan senang mendengar namanya disebut oleh bibir tipis menggoda itu. Rasanya semakin lama, jantungnya kian berdebar acap kali berada di dekat Aqilla. Rayhan benar-benar jatuh dalam pesona seorang Alzena Aqilla Jonesa!
“Oh, ya, tadi kamu ngapain bawa aku ke sini?” tanya Aqilla dengan bahasa non-formalnya.
“Ayo kita menikah, Qill.”
“He?” Aqilla cengo. “Ulang, Ray, ulang lagi.”
“Ayo. kita. menikah, Aqilla..” gemas Rayhan. “Wedding, marry, nikah, kawin.”
__ADS_1
“What?! Menikah? Sama kamu?!!”
^^^To be continue...^^^