
Jovin tersenyum lebar. “Ayo kita susul daddy!”
Jovan melotot seketika, terkejut mendengar usulan sang adik yang tidak terduga. “Nyusul daddy?!” pekik Jovan. “Jangan aneh-aneh, Dek. Nanti kita gangguin daddy meeting.”
Membayangkan dirinya masuk ke dalam ruangan berisikan laptop dan berkas menggunung juga orang-orang penting membuat Jovan mual. Pasti di sana sangat membosankan bukan?
Jovin menggeleng cepat, membantah argumen yang Jovan lontarkan. “Kakakku Sayang, daddy nggak akan keganggu sama kita. Malahan.. daddy seneng kalo kita temenin! Kita, kan, anaknya,” papar Jovin bangga.
Jovan hendak menyahut lagi, namun diurungkan. Ia tidak mau jika Jovin sampai merengek hingga menarik perhatian orang banyak nantinya. Huh, adiknya ini ratu drama kalau kalian tidak tahu.
“Ya udah, terserah.” Pada akhirnya, Jovan pasrah. Lelaki kecil itu diam saja sewaktu Jovin menarik tangannya keluar ruangan.
Dengan diantar oleh salah seorang karyawan perusahaan, si kembar tiba di depan ruang rapat. Keduanya berterima kasih kepada karyawati tersebut sebelum menghampiri Alvin yang entah sedang apa tengah berdiri di depan pintu ruang rapat.
“Om!” panggil Jovin riang. Ia bahkan tanpa sungkan memeluk kaki jenjang Alvin.
“Tuan Putri? Tuan Putri di sini?” Alvin nampaknya terkejut. Ia sedikit lupa jika kedua majikan kecilnya tengah berada di perusahaan.
“Bukannya di dalem lagi meeting, ya, Om?” Alvin mengangguk, membenarkan pertanyaan Jovan. “Terus ngapain Om di luar? Om diusir, ya?” tanya Jovan dengan polosnya.
Alvin buru-buru menggeleng. “Bukan, Pangeran. Hanya saja.. tuan muda sedang marah di dalam. Saya diminta untuk mengambil berkas di ruangan.”
”Daddy marah, Om? Marah kenapa?” tanya Jovin penasaran.
“Ada karyawan perusahaan yang korupsi, Tuan Putri. Tapi, orang itu tidak mau mengaku,” jelas Alvin singkat, namun dengan pilihan kata terbaik agar mudah dipahami oleh anak kecil berumur 6 tahun.
Jovan dan Jovin manggut-manggut paham. Keduanya saling melempar pandangan sejenak, lanjut mengukir senyum jail dengan tampang antusias. Sepertinya, mereka akan mendapat pertunjukan yang keren setelah ini.
“Kalo gitu, biar kami yang bantu, Om.” Jovin menepuk dada dengan bangga.
“Hm?” Alvin kebingungan.
“Kami punya ide biar orang itu bisa ngaku tanpa dipaksa, Om.” Jovan menyeringai. Ternyata keputusannya datang kemari membawa kesenangan tersendiri untuk otak dan hatinya.
Waktunya main!
...👑👑👑...
Rayhan mengepalkan tangan di bawah meja. Sorot matanya begitu tajam mengarah pada seorang pria paruh baya yang juga balas menatapnya berani. Pria itu bernama Jaya, orang yang sudah melakukan korupsi di perusahaannya.
Berulang kali Rayhan menyindir Jaya. Namun, pria itu sama sekali tidak merasa. Entah karena memang tidak peka atau tidak merasa bersalah, Rayhan tidak peduli. Ia sudah tidak tahan dengan tindak-tanduk pria itu.
Pada akhirnya, Rayhan menunjukkan bukti-bukti bahwa telah terjadi korupsi di perusahaan. Tetapi, dia masih belum menyebut nama Jaya. Rayhan ingin tahu apa pria itu akan mengaku atau tidak.
Tapi, kok, semakin ke sini, Rayhan makin kesal.
Ceklekk..
Pintu dibuka tanpa diketuk. Baru saja Rayhan ingin menyemburkan kata-kata mutiara, namun suaranya tersedot seketika. Senyum dan binar lelaki itu berubah dalam hitungan detik.
Rayhan turun dari kursi utama dan berlutut, menyambut pelukan kedua anaknya. Ya, Jovan dan Jovin-lah yang masuk ke dalam ruang rapat bersama Alvin.
__ADS_1
Seandainya itu orang lain, sudah pasti Rayhan akan memecatnya di tempat.
“Daddy!” sorak si kembar senang.
Sementara itu, karyawan yang berada di ruangan yang sama tercengang. Ini pertama kalinya bagi mereka melihat rupa kedua anak tuan muda mereka. Hampir 100% mirip. Tidak ada cela sama sekali. Hanya bola mata si kembar saja yang berwarna ungu, unik dan cantik.
“Kalian ke sini, hm?” tanya Rayhan lembut. Jika Jovan dan Jovin senang, para karyawan malah tercekat napasnya. Ini pertama kalinya bagi mereka mendengar alunan nada kalimat yang begitu lembut dari seorang Rayhan Albar Refalino.
Jovin mengangguk dengan bibir mengerucut. “Daddy, sih, lama banget,” sungutnya sebal.
Rayhan terkekeh. “Maaf, Sayang. Rapatnya belum selesai.”
“Kami mau di sini aja, Daddy. Janji nggak ganggu, kok.” Jovan memeluk lengan Rayhan manja. Padahal, di tangan Jovan ada sekotak susu cokelat.
Alhasil, si kembar duduk di kedua sisi Rayhan. Mereka duduk diam, memperhatikan jalannya rapat dengan tenang sembari meminum susu kotak. Untungnya, Jovin juga membawa susu kotak strawberry sebagai camilan.
“Saya tanya sekali lagi, apa ada di antara kalian yang korupsi?!” tanya Rayhan dengan emosi yang mulai memuncak.
“Bukan saya, Tuan Muda.”
“Saya juga tidak, Tuan Muda.”
Suara mereka bersahutan, saling membela diri sendiri karena tidak mau terkena karma. Termasuk Jaya yang masih merasa di atas angin. Pikirnya, Rayhan belum tahu siapa pelaku korupsi itu. Makanya, dia bertanya di sini.
“Ya ampun, Daddy, ada yang korupsi di sini?” pekik Jovin terkejut dengan akting sempurna. Mungkin jika bukan di depan banyak orang, Alvin akan mengacungkan jempol pada tuan putri kecilnya itu.
Rayhan menghela napas berat. “Iya, Girl. Ada yang korupsi di sini. Daddy pusing sekali. Perusahaan Daddy rugi banyak.”
“Mommy?” beo Rayhan tak mengerti.
“Iya, mommy, kan, anggota IAF. Urusan kayak begini mah keciiiillll...” Jovin membuat gerakan mendramatisir dengan jari telunjuk dan jari jempolnya🤏
Seluruh member rapat menegang. Mereka terkejut mendengar pekerjaan mommy si kembar. Anggota IAF? Itu artinya wanita yang menjadi ibu dari si kembar sangat tidak bisa diremehkan!
Bahkan, Jaya ikut membeku di tempat.
“Tapi, kan, mommy kalian—” Kata-kata Rayhan terpotong.
“Daddy nggak usah takut, pasti mommy bantu. Mommy nggak akan keberatan, kok, Daddy.” Jovan semakin memanas-manasi keadaan. “Kamu ingat nggak, Dek, waktu kita di Calgary dulu?”
“Yang mana, Kak?”
“Waktu mommy ngebantu Aunty Blessy ngurusin orang yang korupsi di perusahaannya?”
Jovin menjentikkan jarinya. “Ingat, Kak! Waktu itu, kan, kita ikut sama mommy!” Jovin tersenyum lebar. “Walaupun Adek nggak ngerti gimana caranya mommy nemuin orang itu, tapi Adek seneng waktu liat mommy bisa nemuin orangnya dalam waktu sepuluh menit doang!”
Percayalah. Jaya sudah berkeringat dingin di kursinya. Kakinya gemetaran, kedua tangannya saling bertaut. Memikirkan si kembar yang akan menghubungi mommy mereka membuat ia ketar-ketir.
Alvin yang melihat gelagat Jaya sampai menahan tawa sekuat tenaga. Tuan putri dan pangeran benar-benar bisa membuatnya ketakutan tanpa mengintimidasi sama sekali.
“Tapi, Kakak nggak suka sama cara mommy hukum orang itu, Dek,” sungut Jovan kesal. Ia melipat kedua tangan kecilnya di depan dada.
__ADS_1
“Iya! Masa cuma dicambuk 20 kali, sih? Heran Adek tuh.” Jovin ikut-ikutan tak terima.
Glek!
Cambuk?!—pekik seluruh karyawan dalam hati. Cuma dicambuk?!!!
Rayhan melirik ke arah Jaya yang semakin gelisah. Ia tersenyum tipis, sadar kalau kedua anaknya hanya sedang bermain kata untuk mempermainkan perasaan si pelaku korupsi.
“Kenapa cuma 20 kali, Twins?” protes Rayhan turut berakting. “Harusnya lebih dong.”
Jovin menatap Rayhan sok serius, padahal jadi kelihatan imut. “Harusnya 50 kali, Daddy. Tapi...”
“Tapi kenapa?” tanya Rayhan karena Jovin sengaja menggantung kalimatnya.
“Orangnya mati duluan,” jawab si kembar kompak.
Brukk!!
“T–Tuan.. s–saya pelakunya! Jangan cambuk saya! Jangan, Tuan. Saya siap mengganti rugi dan masuk penjara. Tapi, tolong.. jangan lakukan itu pada saya.” Jaya bersimpuh di depan Rayhan dengan tiba-tiba.
Si kembar tersenyum penuh kemenangan. Cerita yang mereka buat hanya rekayasa saja. Tidak pernah terjadi. Tapi, sukses membuat siapa pun yang mendengar gentar.
Rayhan terkekeh sewaktu melihat Jovan dan Jovin bertos ria di bawah meja. Mereka memang anak-anak yang pintar.
Kamu hebat bisa mendidik anak kita sampai seperti ini, Qill.
...👑👑👑...
Si kembar tertawa puas kala mereka sudah berada di ruangan sang daddy. Rayhan yang juga ada di sana ikut tersenyum. Ia senang melihat kedua anaknya tertawa seperti ini.
“Daddy liat, tadi paman itu sampe pucet, lho, mukanya.” Jovin bertepuk tangan heboh.
“Hahaha.. Jovan yakin, kalo dia denger lebih lama, pasti ngompol di celana.”
Tawa keduanya bertambah menggelegar.
“Makasih, ya, udah bantu Daddy. Tadi Daddy cuma mau mancing apa dia mau ngaku. Eh, malah diem aja.” Rayhan memberi alasan.
“Iya, tadi Om Alvin udah jelasin, kok, Dad.” Jovin tersenyum manis. Ia beralih duduk di pangkuan Rayhan seraya tersenyum penuh arti. “Karena udah dibantuin, ada hadiahnya nggak?”
Rayhan tergelak. “Mau hadiah apa, sih?”
“Ayo makan steak di luar, Daddy!” jawab si kembar antusias.
“Okay! Menu makan siang kita hari ini adalah steak!”
“Yeaayy..” sorak si kembar bahagia.
Bahagia mereka itu sederhana. Cukup dikasih perhatian plus makanan, mereka udah seseneng ini.
^^^To be continue...^^^
__ADS_1