I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 38 | Grandpa, Grandma (2)


__ADS_3

Halo, halo, halo!!


Ay datang lagi, nih. Ini part bonus sebagai permintaan maaf karena kemarin harusnya Ay double update. Eh, malah nggak jadi. Ay ganti hari ini, ya.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


“Assalamualaikum, Nyonya, Tuan.” Aqilla menyalami Robert dan Reva dengan sopan. Dibalas salam yang sama oleh mereka.


“Kamu di sini, Nak? Sedang apa?” tanya Reva meraih tangan kanan Aqilla, lalu menggenggamnya.


“Saya—”


“Mommy!”


Aqilla, Reva, dan Robert menoleh bersamaan. Jovan datang sendirian. Manik ungu lelaki kecil itu membulat dibalik topengnya. Jantungnya berdebar melihat dua sosok yang selama ini dirindukannya berdiri di depan dengan tatapan mengarah pada dirinya.


Grandpa.. Grandma...


Sekuat tenaga Jovan memasang raut bingung, bertingkah seolah dirinya tidak mengenali dua insan di depan. Sayangnya, hati Jovan terlalu lemah untuk melakukan itu. Mata ungunya berkaca-kaca tanpa diduga.


“M–Mommy, Mommy ngobrol sama s–siapa?” tanya Jovan dengan suara sedikit serak.


Aqilla yang mengerti perasaan anaknya segera menjawab, “Ah, ini.. Nyonya Reva dan Tuan Robert, orang kenalan Mommy.”


Jovan mengangguk dengan senyum tipis. Setelah menghirup napas dalam-dalam, lelaki kecil itu memberanikan diri untuk mendekat. Lantas menyalimi Robert dan Reva dengan khidmat. “Saya Jovan, Opa, Oma, anak Mommy Qilla.”


Reva tersenyum gemas. Ia berlutut dan mengusap pipi Jovan yang tidak tertutupi topeng. “Kamu lucu banget, sih,” gemasnya.


Perasaan Jovan sangat tidak karuan sekarang. Namun, dia tetap senang karena bisa bertemu grandma dan grandpa-nya lebih awal. Ini sangat di luar rencana memang.


“Kakak!” pekik Jovin dari dalam toko boneka. Gadis kecil itu kesal karena menanti terlalu lama. Sebelumnya, Jovan keluar mencari sang mommy karena pembayaran boneka harus segera dilaksanakan. Jadi, Jovan berniat memanggilnya. Sayangnya, situasi di luar sangat tidak diduga.


“Ah, iya, Dek. Mom, Jovin udah selesai pilih bonekanya. Mommy disuruh bayar,” kata Jovan pada Aqilla.


Usai mengatakan hal tersebut, Aqilla memberikan gold card miliknya dan meminta Jovan pergi ke dalam. Ia tahu benar kalau Jovan pasti merasa tidak tahan sekarang—tidak tahan ingin memeluk sosok grandpa dan grandma-nya.


“Anakmu menggemaskan sekali, Nak,” puji Reva. “Tapi, kenapa dia pakai topeng?”


Aqilla tersenyum maklum. Hampir semua orang yang melihat si kembar dengan topeng, mereka selalu bertanya hal yang sama. Kenapa paras menawan mereka ditutupi dengan topeng itu.

__ADS_1


“Saya punya banyak musuh, Nyonya. Mereka mengenakannya untuk menyembunyikan identitas saja, hanya itu,” jawab Aqilla lancar.


Reva dan Robert manggut-manggut.


Tidak lama, si kembar muncul dari dalam toko. Keduanya bergandengan tangan dengan boneka ukuran sedang di tangan Jovin. Sama seperti reaksi Jovan sebelumnya, Jovin pun sama mematungnya. Jantung gadis kecil itu berdebar melihat Robert dan Reva.


“Mommy..” lirih Jovin. Aqilla menggeleng pelan, kode agar Jovin tidak membongkar lebih awal. Rencana mereka bisa gagal nanti.


Paham akan kode tersebut, Jovin menggelengkan kepalanya kuat, mengenyahkan rasa rindu yang mendera. Bibir Jovin melebar, ia pun berlari menghampiri sang mommy yang sudah berjongkok. “Jovin udah beli bonekanya dong,” katanya antusias.


Beneran, deh. Akting Jovin patut diberi penghargaan. Gadis kecil itu bisa merubah raut wajah dalam hitungan detik.


“Udah dibayar?” tanya Aqilla.


“Udah,” jawab Jovin sumringah.


“Kartu Mommy mana?”


“Tuh, dibawa kakak.”


Jovan mendekat, lalu menyerahkan gold card milik mommy-nya.


Sama seperti sebelumnya, Aqilla mengenalkan Jovin pada Robert dan Reva. Jovin pun sama menyalimi kedua orang tua itu dengan khidmat sembari mengenalkan diri. Jika tadi Reva yang berlutut, sekarang Robert. Pria paruh baya itu sangat menyukai Jovin walaupun ini pertemuan pertama mereka.


“Halo, Cantik,” sapa Robert.


Robert tergelak. Ia mencubit pelan pipi chubby Jovin. Ketika ditanya apa boleh memeluk, Jovin langsung mengiyakan dengan semangat. Kapan lagi, kan, bisa direngkuh grandpa-nya sendiri?


Jovan iri dong. Dia merengut tidak terima ketika Jovin tertawa senang di pelukan Robert.


Aqilla melirik wajah masam putranya. Lucu. Rasanya ingin tertawa saja. Jovan cemburu, guys.


“Maaf, ya, Tuan. Saya yatim piatu sejak kecil, jadi mereka tidak punya kakek,” kata Aqilla sok merasa bersalah. Padahal, dia senang melihat putrinya sumringah di pelukan Robert.


Robert tidak mempermasalahkan. Ia malah senang bisa dekat dengan putri Aqilla yang suka sekali berceloteh riang. Sementara Reva hanya memperhatikan, sesekali melirik ke arah Jovan yang cemberut.


“Ini kenapa, hm?” tanya Reva berlutut di depan Jovan.


Jovan menggeleng pelan. “Nggak pa pa, Oma,” cicitnya pelan.


“Mau dipeluk juga?” Reva merentangkan tangan.


Tanpa diminta, senyum Jovan merekah. Lelaki kecil itu langsung menghambur ke rengkuhan hangat Reva. Rasanya tidak bisa dideskripsikan. Intinya, tubuh Jovan seolah bereaksi menerima tanpa dipaksa. Reva sendiri ikut senang karena mendapat pelukan itu.


Aqilla terkekeh saja. Ia tidak mencegah kedua anaknya karena tahu bahwa mereka sudah sangat lama menunggu hari ini. Jadi, biarkan saja, asalkan topeng mereka tidak terlepas dulu.

__ADS_1


“Twins, udahan, yuk. Kita jalan, hm,” pinta Aqilla ingin menyelesaikan temu-kangen ini.


Jovan dan Jovin ingin protes, tidak terima hanya diberi waktu singkat untuk menikmati kebersamaan. Namun, mengingat mereka punya rencana jalan-jalan lain hari ini membuat si kembar tidak bisa mengeluarkan kalimat demo.


“Iya, Mom,” jawab Jovin lesu.


“Kalian mau ke mana, Nak?” tanya Reva yang sama tak relanya berpisah dengan si kembar. Entah mengapa, ia seolah merasakan sebuah ikatan dengan kedua anak kecil itu. Ikatan kuat yang membuat dirinya tidak sanggup melepas.


“Kami mau liburan, Nyonya, family time. Kebetulan mereka juga lagi libur sekolah, makanya jalan-jalan,” jawab Aqilla.


Robert tetap tidak melepas tangan kecil Jovin. Sampai Aqilla membawa si kembar pergi bersama seorang wanita bernama Ely, barulah genggaman Robert terputus. Seketika ada kekosongan yang dirasakan. Pria itu sadar bahwa dirinya benar-benar sangat menyukai sosok si kembar.


“Semoga nanti bisa ketemu lagi,” gumam Robert yang bisa didengar oleh Reva.


Istri Robert itu tersenyum maklum. Ia pun sama seperti suaminya yang begitu menginginkan anak kecil dalam pelukan.


Semoga Aqilla beneran mau nikah sama Ray, biar si kembar jadi cucuku.


...👑👑👑...


“Kita nggak jadi beli bahan makanan, Mom?” tanya Jovan ketika Aqilla menggiringnya ke parkiran.


Aqilla mengangguk. “Jadi, Boy. Tapi, di mall lain aja, jangan di sini.”


“Kenapa, Mom? Apa karena ada grandma sama grandpa?” lirih Jovin.


Aqilla menatap kedua anaknya sendu. “Makin lama kalian deket, perasaan kalian makin nggak karuan nanti. Tunggu, ya, besok rencana puncak kita dimulai, kok.”


“Kamu nangis, Van?” ledek Ely sengaja.


Jovan mendengkus. “Dih, mana ada!” bantahnya.


Aqilla dan Ely terkikik. Lantas keduanya berjalan cepat menuju mobil yang terparkir. Lanjut pergi dari mall tersebut.


...👑👑👑...


“YEEE... PANTAI...” seru Jovin heboh.


“Hahaha..” tawa Jovan senang.


Keduanya berlarian di tepi pantai yang sepi pengunjung. Kata Aqilla, sih, area pantai ini memang kawasan villa-nya, jadi tidak sembarang orang boleh masuk.


Aqilla tersenyum tipis melihat kedua bocah itu tertawa kencang sewaktu bermain air. Mendadak rasa bersalah yang mencuat kembali redup karena tingkah si kembar yang menjadi alasan hatinya tenang.


Besok, Qill.. satu bebanmu akan terangkat.. sabarlah..

__ADS_1


Anakmu akan bertemu dengan daddy mereka..


^^^To be continue...^^^


__ADS_2