
“Nyonya Yuni Tamara, saya membawa surat perintah untuk menangkap Anda.”
Yuni membelalakkan matanya. “APA?!” Berdiri dari duduk dengan tangan mengepal. “Atas dasar apa kamu menangkap saya?! Saya tidak salah apa-apa!!” serunya tidak terima dalam bahasa Indonesia. Pasalnya, wanita berjubah putih itu menggunakan bahasa yang sama.
Wanita itu tidak menjawab. Tangannya bergerak ke atas, memberi jentikan jari yang seketika menghadirkan sosok lain.
Seorang lelaki berjas hitam elegan dengan topeng serupa masuk ke dalam. Di tangannya terdapat sebuah tablet yang menyimpan sejuta rahasia. Kendatipun suasana menegang, rasa ingin tahu terselip di hati mereka. Siapa sebenarnya kedua sosok bertopeng itu?
“Siapa kalian?” tanya Richard membuka suara.
Tanpa banyak bicara lagi, tangan keduanya terangkat, meraih topeng dan melepas benda tersebut. Bola mata ungu mereka terekspos, bibir menyunggingkan senyum miring.
Sontak Kalina menutup mulut dengan kedua tangan, menyorot tak percaya ke arah dua sosok misterius tadi. Tak jauh berbeda dengan reaksi Richard. Pria paruh baya itu menegang di tempat, tatapannya begitu lekat pada dua orang di depan.
“Anak-anakku..” lirih Kalina sendu. Tanpa disadari, wanita itu melangkah lebih dekat. Sebelah tangannya terulur mengusap pipi wanita berjubah putih dengan air mata berlinang. “Putriku..”
Wanita berjubah itu memandang Kalina dengan sorot tak terartikan. Ia balas menggenggam tangan Kalina yang berada di pipinya, lantas tersenyum manis. “Hai, Bunda.”
Tangis Kalina pecah. Wanita itu menghambur ke pelukan wanita berjubah yang tak lain adalah Aqilla. Kedua wanita beda generasi itu saling menumpahkan rasa di dada masing-masing, meleburkan rasa rindu juga rapuh yang selama ini bersemayam.
“K–kalian... Kenzie? Aqilla?” tanya Richard tak percaya. Anak yang hilang bertahun-tahun kembali ke hadapan. Bahkan, proporsi tubuh keduanya menunjukkan jika selama ini mereka baik-baik saja.
“Iya, Ayah. Ini kami,” sahut Kenzie yang sedari awal memirsa sang bunda.
Pertemuan penuh haru itu menghadirkan rasa bahagia di hati seluruh anggota keluarga Jonesa. Mereka tersenyum, menyambut kedatangan Kenzie juga Aqilla ke dalam hunian.
“T–tapi, bukannya kalian sudah.. meninggal? Bagaimana bisa?” Richard masih linglung sejujurnya. Pria itu sangat percaya selepas melihat Kenzie dan Aqilla. Hanya saja, rasa penasaran itu tidak bisa dipungkiri tetap ada.
Lalu, apa yang terjadi di masa lampau? Mengapa Kenzie dan Aqilla bisa hilang dari pengawasan ketat mansion Jonesa?
Kenzie melirik ke arah Yuni yang berkeringat dingin. Tatapannya sinis, sebelah sudut bibirnya ditarik ke atas. “Kenapa Ayah nggak tanya sendiri sama Bibi Yuni, apa yang udah dia lakuin sama kami dulu,” kata Kenzie.
Tubuh Yuni menegang. Bahkan, sepasang kakinya mendadak berubah bagaikan jelly, tidak sanggup menopang bobot badan—atau mungkin tidak cukup kuat menampung segala dosa yang ia lakukan selama ini.
“Y–Yuni?” lirih Kalina di sela tangisnya. Wanita itu kini berada dalam pelukan sang putra yang sesekali mengecup kepalanya. Melalui sudut mata, ia menatap ke arah adik iparnya itu. “Kenapa sama dia, Nak?”
Kenzie terkekeh. “Bibi mau cerita sendiri, atau keponakan baik Bibi ini yang cerita?” tawar Kenzie berbaik hati.
__ADS_1
Yuni tidak menyahut. Lidahnya kelu hanya untuk sekadar digerakkan. Yang jelas, dari binar mata wanita beranak satu itu, terpancar dengan kentara jika ia tengah ketakutan.
“Oke, biar Kenzie yang cerita.” Lelaki itu menaruh tabletnya di dekat televisi. Entah dari mana, Kenzie mendapatkan kabel data dan menghubungkan kedua benda elektronik.
Lantas, Kenzie menekan beberapa kali hingga sebuah video muncul di layar televisi.
...•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
“Sayang, cukup!” bentak Aquino. “Jangan ganggu kehidupan kakakku! Sebenarnya apa yang kamu mau, hah? Apa kemewahan yang aku kasih masih kurang?”
Yuni menggebrak meja. Posisi mereka saat ini tengah berada di ruang tamu. “Diam kamu, Aquino! Aku cuma mau ambil bagian kita dari kekayaan kakakmu itu!” belanya tidak mau kalah.
Aquino terperangah. “Yuni, semua kekayaan milik Kak Richard itu miliknya sendiri! Dia bekerja buat dapetin itu semua! Jelas kita nggak hak buat minta ke mereka! Jangan ngelakuin hal yang bikin aku malu, Yun!”
“Aku nggak peduli, Quino! Apa yang aku mau, pasti aku dapetin!” tekad Yuni menggebu-gebu. Wanita itu berlari keluar, tidak mengindahkan panggilan Aquino.
...•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
“Wah, bibi kita ternyata nggak punya urat malu, ya?” ejek Aqilla dengan senyum sinis. “Udah dikasih tau suami, eh, malah ngelunjak.”
Yuni mengepalkan tangan, menyalurkan kekesalan yang menyelimuti hati. Sementara Aquino menunduk dalam, merasa bersalah karena gagal menuntun sang istri ke jalan yang benar. Sedangkan Vivian tidak tahu apa-apa. Gadis polos itu memandang kedua orang tuanya bergantian.
...•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
“Kasih racun ini ke makanan Richard sama Lina, paham?” titah Yuni dengan seringaian jahat. Pelayan yang diminta mengangguk patuh.
Sepeninggalan sang pelayan, Yuni tertawa bengis dengan suara tertahan. Ia tidak mau jika sampai ada pihak lain yang mendengar kata-katanya. “Setelah kalian mati, harta Kak Richard akan berpindah ke suamiku. Otomatis aku juga akan menikmati itu semua.”
Usai memastikan tidak ada yang mendengar, Yuni pergi dengan hati riang. Tanpa diketahui oleh wanita tersebut, Kenzie nampak keluar dari kolong meja. Lelaki kecil berusia 4 tahun itu menatap sang bibi tajam.
Kenzie tidak mengatakan apa pun. Dirinya melenggang pergi, meninggalkan area dapur.
Tiba masanya makan malam, suasana tampak tenang seperti biasa. Ada Richard, Kalina, Kenzie, Aqilla, Aquino, dan Yuni. Mereka berdoa bersama sebelum memulai acara makan.
Kenzie berdiri di kursi, berusaha meraih lauk di dekat piring Kalina. Dengan sigap, Kalina mengambilkan lauk tersebut untuk putra kesayangan. Sayangnya, ketika Kenzie hendak duduk, tanpa sengaja lelaki kecil itu menyenggol gelas air hingga isinya tumpah ke piring Kalina.
Kenzie memekik kaget. “Bunda, maaf. Ken nggak sengaja,” sesal Kenzie karena tidak berhati-hati.
__ADS_1
Kenzie ingin meraih tisu, namun lelaki kecil itu malah menginjak taplak meja hingga seisi gelas berserakan. Sontak Kenzie menangis, takut dimarahi oleh orang tuanya. Apalagi Aqilla ikut kaget karena makanannya digenangi air.
“Sayang, udah, ya. Nggak pa pa, kok,” pinta Kalina menenangkan putranya.
“Maaf, Bunda, hiks.. ini salah Kenzie, huhu..” isak Kenzie.
Richard, Kalina, dan Aquino nampak biasa saja. Ia tidak mempermasalahkan insiden tersebut. Berbeda dengan Yuni yang menggeram marah karena rencananya rusak akibat ulah keponakannya.
Kenzie melirik ke arah Yuni. Diam-diam ia tersenyum miring.
...•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
“Wow, ada yang berniat jahat, nih,” ledek Kenzie.
Seluruh pasang mata yang ada beralih menatap Yuni. Mereka semua menyorot dengan hunusan tajam. Termasuk Aquino, suami Yuni sendiri.
“Next aja, Kak. Biar sekalian,” celetuk Aqilla yang sudah duduk di sofa dengan gaya elegan.
...•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Bugh! Bugh!
Yuni memukul Kenzie dan Aqilla hingga pingsan. Padahal, kedua bocah itu tengah bermain. Wanita itu menggendong keponakannya dan diserahkan kepada dua orang berpakaian serba hitam. “Buang atau bunuh mereka. Anak ini selalu menggagalkan rencanaku,” gerutu Yuni sebal.
“Kami harus membuangnya ke mana, Nyonya?” tanya salah satu pria.
Yuni mengibaskan tangan. “Aku tidak peduli. Yang penting, dia jauh dari dariku, paham?”
“Paham, Nyonya.”
...•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•...
Hanya sebuah video singkat. Namun, sukses menyusun setiap kepingan puzzle hingga tertata sempurna. Kunci atas semua jawaban yang ada, Yuni-lah pelaku penculikan Kenzie dan Aqilla.
Pantas saja, Kalina merasa aneh. Pengawasan dan keamanan mansion mereka sangat ketat. Bahkan, siapa pun tamu yang hadir pasti akan melewati beberapa prosedur. Namun, jika pelaku berasal dari keluarga sendiri, tentu saja itu akan mempermudah sistem.
“Yuni, jadi selama ini, kamu—”
__ADS_1
“Hahahaha...” Yuni tiba-tiba tertawa jahat. “YA, AKU PELAKUNYA! AKU YANG NGEBUANG MEREKA DI INDONESIA DULU!”
^^^To be continue...^^^