I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 56 | Fathur?


__ADS_3

“Kalian mencari masalah dengan orang yang salah,” kata Aqilla mengintimidasi. Satu per satu dari mereka ditatapi. “Qaill bukan orang yang cocok untuk dijadikan musuh, Bodoh!”


Glek!


Setiap insan yang mendengar meneguk saliva kuat-kuat. Bulu kuduk mereka berdendang seketika. Ternyata.. kalimat yang bertebaran di segala penjuru dunia bukan rumor belaka. Melainkan kenyataan mengerikan yang kini harus mereka hadapi secara langsung.


Aqilla dengan auranya adalah perpaduan terbaik untuk meraup habis-habisan oksigen di udara. Rasanya napas mereka sesak di ruangan seterbuka ini. Padahal, luas rumah ini terbilang lumayan, lho. Tapi, mereka merasa sempit sekali.


Namun, memilih mundur pun tidak bisa. Tuan mereka pasti akan melayangkan banyak makian dan protesan jika sampai mereka mengalah. Jadi serba salah, kan? Maju mati, mundur pun hangus.


Tidak ada yang benar!


“Kenapa diam? Ayo maju, aku pasti lawan, kok.” Aqilla merenggangkan lehernya hingga bunyi ‘krek krek’ menggema. Cukup! Begitu saja mereka merinding bukan main. Apalagi kalau lebih?


Ah, tidak-tidak. Mereka masih cukup waras untuk tidak mengajak penjelmaan malaikat maut bermain kucing-kucingan. Lalu, mereka harus apa sekarang?


Prok prok prokk...


Seberinda atensi tertarik. Tiap pribadi menatap ke satu arah, tepat kepada sosok lelaki dengan setelan jas resminya yang bertepuk tangan seorang diri. Aqilla memandang lelaki itu tajam. Tanpa dijelaskan sekalipun, ia mengerti kalau lelaki itulah yang bertanggung jawab atas insiden ini.


“Kamu—” Aqilla geram setengah mati. Syukurlah hanya Fathur, bukan ‘dia’..


Lelaki yang disebut Fathur itu menyunggingkan senyum miring, puas melihat figur Aqilla berada di kediamannya. “Lama nggak ketemu, ya, Qill,” ucap Fathur ramah.


Aqilla berdecih. “Tidak usah bertingkah seolah-olah kita akrab, Tuan Fathur. Anda tidak lebih dari sekadar ‘mantan sahabat’ bagi saya.”


Dia adalah Fathur, Fathur Avie Holle, sahabat Aqilla dan Ely dahulu. Hubungan ketiganya dimulai kala Aqilla menolong Fathur yang masih belum menguasai betul beladiri tengah dianiaya oleh beberapa pihak yang merupakan musuh Fathur. Sejak hari itu, hari-hari mereka lewati bersama.


Tak jarang, Ely ataupun Aqilla menjadikan Fathur tempat curhat. Alasannya karena lelaki itu memiliki otak yang cerdas dan bijak. Kata-kata saran yang Fathur berikan selalu menjadi solusi terbaik untuk Aqilla dan Ely, menenangkan hati dan mengantar kedamaian jiwa.


Sayangnya, hubungan ketiganya kandas sewaktu Fathur memaksakan kehendaknya untuk menikahi Aqilla dan Ely. Ya, lelaki itu ingin kedua sahabatnya berada di sisinya, sebagai istri. Fathur bahkan tanpa segan menyatakan perasaannya kepada Aqilla juga Ely.


Aneh bukan?

__ADS_1


Aqilla saja merinding membayangkan dirinya berbagi suami. Alhasil, Aqilla menolak keras. Namun, Fathur tetap memaksa. Ia pernah nekat menculik Aqilla dan Ely ke KUA untuk dinikahi tanpa seizin pemilik tubuh. Tetapi, Aqilla berhasil melepaskan diri waktu itu.


Sikap dan sifat Fathur berubah entah karena apa. Mungkin itu terjadi karena kedekatan Fathur, Aqilla, dan Ely yang melebihi sahabat. Tidak ada yang tahu bagaimana cara berpikir Fathur sampai lelaki itu bertekad menjadikan Aqilla dan Ely istrinya.


Jika kasusnya Fathur menyukai salah satu di antara Aqilla atau Ely, mungkin itu terdengar wajar, kan? Tapi, dia ingin dua-duanya, lho. Maruk banget jadi cowok.


“Aqilla, kenapa kamu jadi kayak gini? Kamu berubah!” seru Fathur tidak terima. Tiga tahun berlalu semenjak kandasnya hubungan persahabatan mereka. Akan tetapi, Fathur tidak pernah melupakan dua sosok wanita yang mengisi hari-harinya itu.


Yang Fathur inginkan hanyalah dirinya, Aqilla, dan Ely selalu bersama—tidak pernah terpisahkan. Itu saja.


“Kamu yang berubah, Fathur!” desis Aqilla.


“Aku? Berubah? Aku masih sama, Qilla. Aku masih sayang sama kamu, sama Ely.” Fathur tersenyum manis. Ia mendekati wanitanya dan tanpa aba-aba menarik pinggang Aqilla hingga tubuh keduanya menempel. “Aku cinta sama kamu,” bisik Fathur dengan suara serak di depan paras Aqilla.


Aqilla balas menatap tajam. Berbanding terbalik dengan binar teduh dari Fathur. Seakan tengah berperang sorot, keduanya hanyut dalam permainan itu.


Braakk!


Aqilla terjingkat. Ia menoleh cepat ke arah pintu utama yang barusan didobrak paksa. Rayhan berdiri mematung di sana, menatapnya dengan sorot kekecewaan.


Buru-buru Aqilla mendorong tubuh Fathur hingga rangkulan lelaki itu terlepas. Aqilla hendak melangkah, namun lengannya dicekal. “Lepas, Fathur!” bentak Aqilla mulai kehabisan stok sabar.


“Nggak, Qill! Aku nggak akan lepasin kamu lagi!” tekad Fathur tak ingin kalah.


Rayhan menghampiri keduanya dengan langkah cepat. Emosinya sudah naik ke puncak. Ia menepis tangan Fathur dan menarik Aqilla ke dalam pelukan. “Jauhi calon istriku,” ucap Rayhan penuh penekanan.


Fathur membelalakkan matanya. “Calon istri?” lirihnya. Mengalihkan pandangan pada Aqilla. “Apa itu benar, Qill?”


“Iya, dia calon suamiku,” sahut Aqilla tegas dengan penuh keyakinan. Tanpa ragu pun ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rayhan.


Rayhan yang mendengar jadi tersenyum tipis. Sementara hatinya mengaminkan kata-kata Aqilla agar segera menjadi kenyataan.


Semoga kita emang jodoh dan bisa bersatu, Qill..

__ADS_1


Bukannya ucapan itu doa?


...👑👑👑...


Ely berlari mendekati Alvin. Selepas mendapati jarak sudah aman dan terjangkau, gadis itu menepuk bahu Alvin tanpa menyapa. Lelaki itu terkesiap sesaat, lantas membalikkan badan dan menatap Ely tajam.


“Berhentilah mengageti saya, Nona! Saya masih belum ingin tiada karena terkena serangan jantung,” seru Alvin kesal.


Mimik serius Ely tidak berubah setitik pun. Gadis itu menatap Alvin dengan penuh tuntutan. “Di mana sahabatku?” tanyanya.


“Maksud Anda.. Nona Aqilla?” terka Alvin.


Ely mengiyakan dengan cepat.


“Nona Aqilla menghilang dan tidak ada kabar sama sekali selama satu minggu ini. Sekarang, tuan muda sedang menuju ke lokasi terakhir mengikuti alat pelacak yang ada pada Nona Aqilla,” jelas Alvin singkat, padat, dan jelas.


Ely menggigiti bibir bawahnya gelisah. Jika tidak salah, tepat sebelum dirinya pingsan di kejadian hari itu, Ely mendengar suara seseorang yang familiar di benaknya. Orang yang hingga kini masih berada di antara memori otak Ely.


“Lalu, Tuan kenapa di sini? Kenapa tidak ikut tuan muda?” tanya Ely penasaran.


“Saya diminta untuk membantu tempat ini, Nona.” Hanya sebatas itu penerangan Alvin. Lelaki itu tidak ingin berucap terlalu panjang. “Apa Anda ingin mengatakan yang lain, Nona?”


“Susul mereka, Tuan! Dalang dibalik semua ini bukan orang biasa,” ucap Ely yang khawatir dengan kondisi Aqilla di luar sana. Seandainya tahu posisi akurat sang sahabat saat ini, mungkin Ely akan bergegas ke sana sendiri tanpa meminta bantuan siapa pun.


Mendengar penuturan Ely, tubuh Alvin menegang di tempat. Apa benar musuh kali ini memiliki kemampuan tidak biasa?


“Siapa yang Anda maksud, Nona?”


Ely menghela napas pelan. “Jika tidak salah, dia... Fathur, Fathur Avie Holle.”


“Tuan.. Fathur?” lirih Alvin tak percaya.


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2