
Hilang!
Satu beban Aqilla benar-benar hilang tak bersisa. Tujuh tahun digelayuti rasa bersalah membuat hidup wanita itu sedikit muram. Memisahkan dua keluarga bagi Aqilla merupakan kesalahan besar yang menyiksa batinnya selama ini.
Namun, malam ini semua terbayar lunas.
Kegembiraan Jovan dan Jovin melenyapkan segala ketakutan Aqilla. Tawa keduanya yang begitu ceria menghangatkan hati kecil Aqilla. Ditambah senyum bahagia Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie menambah kesempurnaan suka cita Aqilla.
Aqilla telah menunaikan salah satu tugasnya sebagai seorang ibu, mommy dari si kembar genius itu.
Semoga anak-anakku selalu bahagia kayak gini—harap Aqilla dalam hati.
“Daddy suka keju juga?” tanya Jovin cemberut. Bibir gadis kecil itu semakin mengerucut ke depan sewaktu Rayhan mengiyakan pertanyaannya. “Kok, kesukaan Daddy sama kayak Kakak? Kenapa nggak sama kayak Jovin?”
Rayhan terkekeh. Ia mencubit pipi chubby putrinya yang tengah berada di pangkuan. “Daddy suka keju dari kecil, Princess.”
“Ulululu... ada yang iri, nih? Inget, iri tanda tak mampu,” ledek Jovan yang tampak nyaman di pangkuan Rayhan pula. Kedua bocah itu memang duduk di paha Rayhan dengan posisi bersebelahan.
Ini momen perdana mereka sekaligus perjumpaan pertama. Tentu saja harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena sesuatu yang dilakukan atau diberikan pertama kali akan selalu berkesan dalam memori.
Jovin membelalakkan matanya. “Iri Kakak bilang?! Hah!! Adek mana iri! Fitnah itu! Fitnah!” bantahnya kesal. “Kakak tuh yang aneh!” balas Jovin dengan senyum mengejek.
“Kakak aneh? Kakak kenapa?” tanya Jovan bingung.
“Katanya udah besar, kok, masih dipangku, sih,” cibir Jovin seraya melirik sang kakak sinis.
Jovan sontak memperhatikan dirinya yang duduk di pangkuan sang daddy. Mata ungunya menatap Rayhan sejenak, kemudian kembali pada Jovin. “Biasa aja kali. Khusus hari ini, Kakak mau jadi anak kecil.”
Aqilla dan Ely yang mendengar kompak berdecih. “Jiaahh... anak kecil,” ledek mereka. Lantas keduanya terbahak bersama sampai menepuk bahu satu sama lain selepas melihat ekspresi kesal dari lelaki kecil itu.
Jovan berkacak pinggang pada kedua wanita kesayangannya itu. “Mommy, Aunty, nggak baik ngejek cowok ganteng kayak Jovan. Nanti Mommy sama Aunty nggak bisa dapet jodoh, lho.”
Bungkam seketika!
__ADS_1
Aqilla dan Ely mengusap tengkuk belakang mereka yang terasa dingin. Kenapa ancaman Jovan terdengar menakutkan sekali, sih? Ucapan itu bisa jadi doa bukan? Makanya, mereka sedikit ngeri.
Kalau sungguhan tidak dapat jodoh, nasib mereka bagaimana dong?
Membayangkan sepanjang sisa hidup mereka, keduanya akan terus menjomblo membuat Aqilla dan Ely refleks menggeleng-gelengkan kepala. Tidak! Mereka tidak mau!
Kini giliran si kembar yang tertawa puas karena berhasil mengerjai dua wanita meresahkan itu. Kedua bocah itu bertos ria. Robert dan Reva yang melihat tertawa gemas menyaksikan kejailan cucu mereka.. Sepasang suami-istri itu bergantian mencium pipi chubby si kembar.
Keluarga itu mendadak berubah suasana menjadi ceria bukan main. Kemuraman hati akibat kekakuan keluarga habis tak bersisa. Kehadiran si kembar benar-benar merubah segalanya.
Perdebatan si kembar yang terbilang unik selalu mengundang gelak tawa. Maka dari itu, Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie langsung menyukai darah daging mereka yang super menggemaskan itu.
...👑👑👑...
Acara pesta ulang tahun selesai ketika hari menjelang larut. Para tamu mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik untuk perkembangan perusahaan RH Group ke depannya. Satu per satu dari mereka meninggalkan aula hotel yang dijadikan tempat pesta. Sebagian kembali ke rumah, sisanya memilih untuk menginap di hotel.
Karena memang beberapa dari tamu undangan berasal dari luar kota atau bahkan dari luar negeri.
Setelah memastikan semua baik-baik saja dan para tamu tidak ada yang tersisa, keluarga besar Refalino memutuskan untuk pulang ke kediaman masing-masing. Termasuk keluarga Robert dan yang lainnya.
Tapi, yang dipanggil malah fokus menatap ponsel. Raut wajah Aqilla sangat serius seakan tengah melihat sumber masalah di sana.
“Nak Aqilla,” panggil Reva sekali lagi seraya menyentuh bahu Aqilla.
Wanita itu terlonjak kaget. Ia menatap Reva dengan senyum manisnya. “Iya, Nyonya? Ada apa, ya?”
Reva tertawa pelan. “Nggak apa-apa, Nak. Mami cuma mau minta satu hal sama kamu.”
“Minta apa, Nyonya? Jika saya bisa, saya akan memberikannya dengan senang hati.”
Reva tersenyum cerah. Tangannya terulur mengusap kepala Jovin yang anteng di gendongan Rayhan. Sejak tadi, gadis kecil itu selalu menempel dengan sang putra, menunjukkan rasa sayangnya juga rindu yang tersimpan dengan tidak mau berpisah.
“Menginaplah di mansion kami, Nak,” pinta Reva penuh harap.
__ADS_1
Aqilla terdiam. Bukan karena ingin menolak. Namun, karena perihal lain. “Saya tidak bisa, Nyonya,” tolak Aqilla sehalus mungkin.
Bukan hanya Reva yang berubah sedih, tapi juga si kembar. Mereka mengerucutkan bibirnya ke depan, kurang menyukai keputusan mommy mereka kali ini. Padahal, kan, keduanya masih ingin berkumpul bersama.
“Tapi, kenapa, Mommy? Jovin masih mau sama daddy,” ucap Jovin sendu. Ia mengeratkan lingkaran tangannya di leher Rayhan yang turut menatap Aqilla sendu.
Aqilla tersenyum kikuk. “Mommy nggak bisa karena harus perbatasan sekarang.”
“Perbatasan?” beo semua orang.
“Iya, ada ******* masuk di sana. Mommy mau ke sana, Twins. Jadi, kalian aja yang nginap, Mommy nggak.”
Si kembar tersenyum cerah. “Jadi, kami boleh ikut daddy, grandma, sama grandpa, Mom?” seru mereka girang.
Aqilla mengiyakan.
Jovan dan Jovin bersorak senang. Jika Jovin bertepuk tangan antusias karena tengah berada di gendongan Rayhan, Jovan melompat-lompat senang di sebelah Jessie. Lelaki kecil itu sampai berputar-putar karena terlampau bahagia. Yang lain cuma bisa menanggapi dengan tawa gemas.
Apa pun yang dilakukan si kembar memang benar-benar memiliki kegemasan tingkat dewa.
“Tunggu, ya.” Aqilla berlari kecil menuju mobilnya. Ia membuka bagasi dan mengambil empat paper bag dari sana. “Nih,” katanya menyerahkan paper bag itu pada Jovan.
“Ini apa, Mom?”
“Piyama kalian, mukena Jovin, sarung Jovan, seragam sekolah, sama tas sekolah yang isinya udah lengkap sama buku-buku,” jelas Aqilla bangga. Dia sendiri, lho, yang menyiapkan. Aqilla sudah bisa menduga bahwa si kembar pasti ingin menginap di mansion keluarga Refalino. Makanya, untuk berjaga-jaga, wanita itu sudah mengumpulkan barang-barang kebutuhan si kembar untuk satu malam.
“Satu lagi.” Aqilla merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan kunci. “Ini kunci cadangan rumah. Besok setelah pulang sekolah, langsung masuk aja. Kalian ambil baju, oke? Mommy belum tau pulang kapan soalnya.”
“Siap, Bu Bos!” pekik si kembar penuh hormat.
“JANGAN PANGGIL BOS BISA NGGAK?” seru Aqilla ngegas.
Si kembar nyengir. “Maaf, khilaf,” balas mereka lugu.
__ADS_1
Aqilla mencibir. “Khilaf, kok, setiap hari.”
^^^To be continue...^^^