
Sebulan lebih Jovan dan Jovin bersekolah. Keduanya tampak nyaman-nyaman saja di sana. Selain karena suasanya yang menyenangkan, orang-orang di sana juga baik pada si kembar.
Bahkan, Jovin sekarang punya satu teman baik yang merupakan adik kelasnya, tapi berumur lebih tua darinya. Haha, kedengeran aneh, ya?
Intinya, sih, teman Jovin ini berjenis kelamin perempuan, namanya Cindy. Dia itu kelas 4 SD, umurnya 8 tahun. Karena Jovin sudah kelas 6 SD, maka Cindy adalah adik kelasnya.
Tapi, sebagai bentuk penghormatan, Jovin tetap memanggilnya ‘kakak’, kok.
“Mommy!” teriak Jovin sewaktu Aqilla datang menjemput. Ia berlari memeluk kaki Aqilla yang terbalut celana panjang. Jovan yang melihat bodo amat. Bocah lelaki itu tingkahnya lemas sekali, seperti kehabisan energi.
Aqilla berjongkok dan mengusap pipi Jovin. “Kakakmu kenapa, Girl?” bisiknya.
Jovin mendekatkan bibirnya ke telinga sang mommy. “Kakak ngantuk, Mom. Pelajaran hari ini emang malesin, untung aja nggak ketiduran di kelas.”
Aqilla manggut-manggut saja. Ia beralih menatap putranya yang lesu bukan main. Jalannya saja terseok-seok begitu. Karena terlalu lambat, Aqilla langsung menggendong tubuh Jovan dan menyandarkan kepala Jovan di bahunya.
“Kita pulang, yuk,” ajak Aqilla yang diangguki Jovin.
Tidak butuh waktu lama, Jovan terlelap di jok tengah. Sepanjang perjalanan, hanya ada suara Aqilla dan Jovin yang terus mengoceh bak burung beo. Kedua perempuan beda generasi itu membicarakan pengalaman bersekolah si kembar dengan intensitas tak terbatas.
Aqilla memang membiasakan kedua anaknya untuk menceritakan apa pun yang dialami. Supaya kelak di masa depan, jika terjadi sesuatu, si kembar tidak akan ragu untuk bercerita karena Aqilla selalu membuat suasana curhat yang menyenangkan.
“Mommy, kapan Jovin ketemu sama daddy?” tanya Jovin tiba-tiba melenceng dari topik pembahasan.
Aqilla terdiam jadinya. Benar saja, sebulan ini si kembar pasti sudah sangat bersabar untuk menanti momen pertemuan itu. Tapi, ya, Aqilla juga sedang mencari kesempatan yang bagus. Bukan hal yang mudah untuk memperhadapkan mereka semua di satu tempat pada detik yang tepat.
“Mommy udah jalanin rencana kita, Sayang. Yang sabar, ya,” pinta Aqilla merasa bersalah. Tujuh tahun mereka terpisah, sekarang Jovin harus menunggu lagi.
Hah, semoga anakku mau mengerti..
Sebenarnya, Jovin kesal karena sebulan ini tidak kemajuan sama sekali. Namun, ia tidak mau membebani Aqilla dengan protesannya nanti. Jadi, yang bisa Jovin lakukan hanyalah menarik napas dalam-dalam, lalu pasrah pada keadaan.
Merasakan aura keceriaan yang berangsur menghilang, Aqilla langsung mengerti bahwa putrinya sedang murung. Untuk itu, tanpa ragu wanita itu memutar balik setir, hingga berhenti di KFC, kedai makan ayam yang terkenal di banyak negara.
__ADS_1
“Pesan yang kamu mau, Girl,” kata Aqilla.
Senyum Jovin mengembang. Kalau ditawari makanan begini, si kecil itu langsung menuntaskan acara ngambeknya. Lantas, ia segera memesan semua menu yang diinginkan dengan masing-masing berjumlah dua porsi—untuk kakaknya juga dong. Salah satunya, es krim cokelat dan juga strawberry.
Usai melakukan transaksi pembayaran, Aqilla melajukan mobilnya ke arah yang berlawanan dari rumah. Jovin yang sibuk merasai es krim strawberry-nya tidak sadar jika jalur yang dilalui bukan mengarah ke rumah.
Mobil berhenti.
Jovin mengernyit menyadari kawasan ini bukan area rumahnya. “Mommy, ini di mana? Kenapa kita berhenti di sini?” tanyanya tak mengerti.
Aqilla menunjuk bangunan di depan. “Itu RH Group, perusahaan daddy.”
Makin melebar saja lengkungan bibir Jovin. Gadis kecil itu memekik heboh melihat betapa megahnya tempat bekerja Rayhan. Ah, tidak, itu bangunan milik Rayhan.
“Wah, keren,” kagum Jovin. Ia segera menoleh ke jok tengah. “Kakak, bangun! Lihat, nih, kita ada di perusahaan daddy!” serunya.
Jovan menggeliat pelan, kemudian membuka paksa matanya yang terasa lengket. “Apa, sih, Dek?” kesalnya.
Jovin menunjuk-nunjuk bangunan di luar jendela mobil. “Itu, Kak! Kita ada di RH Group, tempat daddy kerja!”
“Ini, Boy.” Aqilla menyerahkan burger, kentang goreng, dan minuman jus bagian Jovan pada pemiliknya. “Sambil makan, ya, biar kalian nggak laper.”
Tidak ada bantahan sama sekali. Si kembar fokus berceloteh sembari memakan jatah masing-masing. Tiba di suatu waktu, Jovin memekik semangat melihat Rayhan dan asistennya keluar dari perusahaan.
“Kakak, lihat! Itu daddy kita!” seru Jovin bahagia.
Jovan mengangguk. “Iya, Dek. Itu daddy.”
Saking senangnya, mata ungu keduanya berkaca-kaca. Si kembar begitu mengharapkan hari di mana mereka bisa bergandengan tangan layaknya anak lainnya bersama Rayhan. Aqilla hanya diam dengan burger di tangan, ia tidak mau merebut momen ini dari kedua anaknya.
Sementara itu, di seberang sana, tepatnya di pekarangan RH Group, Rayhan yang hendak memasuki mobil mendadak menghentikan pergerakan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Kepalanya menoleh ke berbagai arah, mencari sesuatu yang terus menarik atensi hatinya.
Rayhan seperti merindukan sesuatu, menginginkannya, namun tak tahu apa itu.
__ADS_1
“Ada apa, Tuan Muda?” tanya Alvin yang melihat gelagat aneh tuannya.
Rayhan terus mencari ke berbagai sudut, namun tidak menemukan apa-apa. Ia menghela napas berat. “Bukan apa-apa,” jawabnya. Lalu, dirinya masuk ke dalam mobil diikuti sang asisten.
Aqilla menghela napas lega mengetahui Rayhan tidak melihat apa-apa. Beruntung dirinya cepat tanggap dan menutup jendela mobil tepat waktu.
“Kita pulang, ya. Mommy nggak mau rencana kita berantakan, dan itu bisa buruk buat kita semua,” ucap Aqilla seraya menyalakan mesin mobil.
“Okay, Mom.”
...👑👑👑...
Aqilla, Jovan, dan Jovin sampai di rumah dengan selamat sentosa. Ketiganya masuk, lalu—
“TWINS!”
Aqilla dan si kembar terperanjat. Mata ketiganya membulat melihat sosok di depan mereka.
“Aunty?!” pekik Jovan juga Jovin.
“Ely?!” seru Aqilla.
Pandangan mereka berbinar cerah melihat sesuatu. Lantas ketiganya berlari menghampiri Ely yang sudah merentangkan tangan, berharap mendapatkan sambutan hangat setelah kepergiannya selama satu bulan ini.
Sayangnya, harapan itu hanya angin lalu yang tidak dihiraukan.
Jovan dan Jovin berlari melewati Ely dan berteriak heboh melihat tumpukan oleh-oleh yang tertata di belakang Ely. Mereka sama sekali tidak mengindahkan tatapan kecewa dari sang aunty.
Salahnya sendiri liburan nggak ajak-ajak, ya, kan?
“Kalian nggak kangen Aunty, Twins?” Ely sungguh kasihan air mukanya. Aqilla sampai tidak kuat menahan tawa.
Dengan penuh rasa simpati, Aqilla menepuk bahu Ely dramatis. “Yang sabar, ini karma. Salahnya sendiri liburan nggak pake ultimatum.”
__ADS_1
Ely mendengkus. “Dikata ini perang pake ultimatum segala?” desisnya kesal.
^^^To be continue...^^^