I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 29 | Belanja


__ADS_3

Pendaftaran dan administrasi selesai diurus kemarin. Termasuk ujian kelulusan naik kelas agar si kembar bisa lompat kelas sesuai keinginan. Pihak sekolah yang melihat hasilnya dibuat terperangah.


IQ Jovan dan Jovin sangat jauh di luar nalar. Kepala sekolah saja sampai yakin 500% kalau si kembar tidak perlu masuk SD. Bisa langsung SMP.


Namun, Jovan dan Jovin menolak dengan halus walaupun tergiur dengan penawaran itu. Mereka tidak mau membuat mommy mereka cemas karena meninggalkan keduanya di kelas yang bukan seharusnya. Kendatipun sebenarnya mereka sudah masuk ke dalam program belajar khusus anak genius, tapi tetap saja si kembar merasa tidak enak hati.


Setelah pengakuan Aqilla kemarin mengenai rasa bersalahnya, si kembar jadi berubah dan sedikit lebih menurut. Seakan rasa sayang mereka kepada Aqilla diberi tambahan amunisi agar kian membara. Benih cinta di hati kedunya semakin besar hingga berbuah dan menciptakan benih baru.


Ternyata, dibalik sikap jail sang mommy, Aqilla menyimpan sejuta rahasia yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun.


“Siap ke sekolah, Twins?” tanya Aqilla yang melihat kedua anaknya sudah siap dengan setelan seragam baru mereka.


Jovan dan Jovin kompak mengangguk. Mereka duduk di kursi makan dan mulai sarapan untuk menyambut hari dengan tenaga yang cukup.


“Aunty Ely kapan pulangnya, Mom? Udah beberapa hari, lho, ini,” tanya Jovin yang penasaran dengan nasib Ely di luar sana.


Aqilla mengedikkan bahunya. “Mommy nggak tau kapan dia pulang, Girl. Lagi keenakan di Bali kali,” balasnya.


Ya, Ely saat ini sedang berlibur ke Bali—sendirian. Gadis itu sangat menikmati cuti panjangnya dengan segenap jiwa. Setiap detiknya dimanfaatkan untuk bersenang-senang. Uang yang bertahun-tahun dia tabung, sekarang terpakai.


Huh, rasanya nikmat sekali.


“Ck, liburan, kok, sendirian aja,” desis Jovan sebal. Dia, kan, pengin ikut juga.


“Biarin, Boy. Kali aja nanti ada bule yang nyantol. Kasian, aunty kalian udah jomblo dari lahir,” celetuk Aqilla enteng. Si kembar tertawa cekikikan mendengar itu, membenarkan dalam hati kalau aunty mereka, Ely, tidak pernah memiliki pasangan.


Katanya, sih, mau fokus kerja dulu.


Beberapa menit berlalu, ketiganya selesai sarapan. Tanpa menunggu lagi, Aqilla langsung membawa kedua anaknya menuju sekolah dengan mobilnya.


“Ayo kita berangkat!” ajak Aqilla.

__ADS_1


“Let’s go!”


...👑👑👑...


“Kami sekolah dulu, Mom,” pamit Jovan juga Jovin sebelum keduanya memasuki pekarangan sekolah. Paras mereka tertutupi topeng, seperti biasa. Malahan manik ungu mereka terlihat menonjol dan memukau kalau sedang berpenampilan begini.


Aqilla berjongkok dan mengusap kepala mereka. “Inget, cari teman nggak perlu banyak-banyak.”


“Kok, gitu?” Jovin dibuat keheranan. Harusnya, kan, mommy-nya ini berpesan agar mereka mencari banyak teman. Kenapa jadi begini nasihatnya?


“Cari teman itu nggak perlu banyak-banyak, Girl. Sedikit aja, yang penting mereka tulus temenan sama kamu,” jelas Aqilla.


“Kayak Mommy sama aunty?” sahut Jovan.


Aqilla mengangguk. “Iya, kayak Mommy sama aunty. Dari dulu, teman Mommy yang paling deket cuma aunty kalian. Tapi, Mommy udah ngerasa cukup, kok.” Aqilla berdiri dari posisinya. “Mending punya satu temen. Daripada banyak, tapi munafik, buat apa?”


Sontak Jovan dan Jovin mengangkat jari jempol mereka, takjub dengan kalimat legendaris milik Aqilla yang pasti akan mereka ingat sepanjang usia. Motto hidup Aqilla selama ini memang unik semua. Beberapa ada yang aneh, tapi sebenarnya sangat sesuai dengan kenyataan.


Memastikan anaknya tak nampak lagi, Aqilla baru masuk ke dalam mobil. Ia harus pergi ke supermarket untuk mengisi kebutuhan dapur juga beberapa perlengkapan lainnya. Sekalian menambah stok keperluan khusus wanitanya yang mulai menipis.


Sayangnya, di pertengahan jalan, Aqilla terpaksa berhenti karena jalanan macet. Memang, sih, Jakarta selalu identik dengan kendaraan yang berjejer begini. Menyebalkan!


Kalo bukan karena urusan genting, aku milih pulang terus tidur, huh.


Maklumi semua, Aqilla kita sedang mendapat tamu bulanannya.


...👑👑👑...


Aqilla tiba di mall besar yang ada di Jakarta. Supermarket yang dia maksud memang tempat khusus belanja yang ada di mall. Soalnya, kalau di sini kualitasnya terjamin, tidak abal-abalan. Aqilla harus memastikan setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh anaknya memiliki nutrisi yang cukup dan jauh dari kata kotor—pokoknya harus higienis.


Ditemani sebuah troli, Aqilla menyusuri setiap rak dengan saksama. Diambilnya keperluan mandi, kebutuhan dapur, bahan makanan, buah-buahan, sayur-sayuran, lalu terakhir stok camilan. Aqilla akui, dirinya juga si kembar sangat suka ngemil di sela waktu.

__ADS_1


“Kalo buat cake, kayaknya enak, nih,” gumam Aqilla. Wanita itu manggut-manggut, setuju dengan idenya. Lantas ia mendorong trolinya berbalik menuju rak yang berisikan bahan kue. Bukan yang instan, kok.


Troli Aqilla menggunung karena terlalu banyak isinya. Di dalamnya, kan, berisi kebutuhan tiga orang, jadi wajar, kan, ya?


Orang-orang yang melihat, menatap Aqilla heran. Namun, Aqilla tidak memedulikannya. Anggap saja angin lalu. Toh, apa salahnya dia belanja banyak? Ini, kan, demi keberlangsungan hidup tiga orang.


“Ah, iya, es krimnya lupa.” Ia menepuk kepalanya jengkel. Bagaimana bisa ia lupa dengan camilan keramat itu? AQILLA ITU PENCINTA ES KRIM SEJATI! HARUS STOK BANYAK DONG!


Selepas mengecek daftar belanjaan, Aqilla menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Kasir yang bertugas sampai dibuat takjub dengan banyaknya belanjaan Aqilla. Setiap barang pilihan pelanggan ini juga merupakan kualitas terbaik dari merek terkenal. Alhasil, nominal harga total yang tercetus juga lumayan fantastis.


“Terima kasih. Silakan datang kembali, Kak,” ucap sang kasir ramah, berharap agar pembeli semacam Aqilla akan kembali ke tempat ini untuk berbelanja. Gajiku bisa naik, nih, kurang lebih begitulah isi pikiran pekerja tersebut.


Aqilla tersenyum ramah. Ia mengangkat lima kantung plastik besar tanpa keberatan sama sekali, hanya sedikit repot karena tangannya tidak sebesar yang diharapkan.


“Ck, tanganku kecil amat, sih,” dumel Aqilla memarahi tangannya sendiri. Kepalanya tertunduk ke bawah, fokus membenarkan posisi kantung plastik bawaan agar tidak merosot dari tangan sambil berjalan pelan.


Brukk!!


“Aw..”


Aqilla menabrak seseorang. Tapi, wanita itu hanya bergeming di posisi, tidak jatuh ataupun terhuyung. Berbeda dengan nasib gadis di depannya yang malah tersungkur di lantai. Rambutnya yang terurai menutupi wajah gadis itu.


“Kenapa kamu diem aja, sih? Aku jatuh, lho, kok, nggak diban—” Gadis itu terdiam ketika melihat paras Aqilla, paras yang ia rindukan selama tujuh tahun ini.


“Kak Qilla!” pekik gadis itu sumringah.


^^^To be continue...^^^


...👑👑👑...


Siapa gadis yang ditabrak Aqilla? Keknya, sih, kalian udah pada bisa nebak, kan, ya? Wkwkwk.. Ay payah kalo buat teka-teki.

__ADS_1


See you di chapter selanjutnya:)


__ADS_2