I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 97 | Kisah Aqilla-Kenzie


__ADS_3

Acara ulang tahun telah selesai. Satu per satu tamu kembali ke kediaman masing-masing usai berpamitan kepada tuan rumah. Jovan dan Jovin saja sudah terlelap saking lelahnya. Termasuk Arven dan Kia yang tertidur di kamar tamu mansion Refalino karena mengeluh capek.


Sementara para orang tua masih berada di ruang tamu untuk berbincang hangat. Tidak peduli jika hari bertambah larut, percakapan mereka kian seru seiring dengan waktu.


“Kalo boleh tau, gimana caranya Kakak bangun AK Tech?” tanya Rayhan penasaran. Ia tahu betul seberapa berkuasanya perusahaan IT itu. Apa pun produksi dari AK Tech selalu digemari dan dinyatakan sebagai alat terbaik.


Kenzie tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kenangan-kenangan masa lalu berterbangan di kepalanya, membangkitkan memori yang selama ini disimpan baik-baik. “Panjang, sih, ceritanya,” cetus Kenzie penuh makna.


Aqilla tertawa tiba-tiba. “Kalo mau cerita, Kakak harus cerita dari awal kehidupan kita dong?”


Kenzie membenarkan. Dibangunnya perusahaan itu berhubungan dengan masa kecil keduanya. Alasan utama, filosofi, termasuk perjuangan Kenzie dalam mendirikan AK Tech ada kaitannya dengan Aqilla.


“Kalo gitu cerita aja, Kak,” pinta Rayhan semangat. Ini bisa jadi ajang untuk dirinya lebih mengenal calon istri.


Kenzie memasrahkan punggungnya di sandaran sofa. Tatapannya menerawang ke masa lampau, di mana dirinya dan sang adik masih berusia 7 tahun.


“Aku sama Aqilla hidup berdua sejak kecil. Kami hidup sederhana di panti asuhan, beda banget kayak sekarang,” kata Kenzie memulai kisahnya. Ini akan menjadi cerita yang panjang, jadi pahami pelan-pelan, ya.


“Semua berawal dari hari itu...”


...Flashback on....


Bertahun-tahun yang lalu...


“Lala?” panggil Kenzie kecil yang celingukan mencari adiknya, Aqilla.


Kenzie tersenyum melihat sang adik tengah berdiri di depan pagar panti asuhan, kebiasaan yang akhir-akhir ini dilakukan oleh Aqilla. Entah apa keseruannya, Kenzie perhatikan, Aqilla sering melihat keluar panti setiap pagi.


“Lala, Lala ngapain di sini?” tanya Kenzie setibanya di samping adiknya.


Seperti hari-hari sebelumnya, Aqilla hanya diam. Gadis kecil itu memandang keluar dengan sorot sendu. “Kakak..” panggilnya pelan.


“Iya?”


“Lala mau sekolah kayak anak itu.” Aqilla menunjuk ke arah anak kecil yang mengenakan seragam merah-putih. Anak itu tengah tersenyum riang, berangkat sekolah diantar oleh orang tuanya.


Kenzie terdiam. Jadi, ini yang Lala pikirin akhir-akhir ini?

__ADS_1


Mau tak mau, Kenzie ikut mengamati anak kecil yang Aqilla maksud. Ia jadi paham perasaan adiknya itu. Aqilla pasti ingin bersekolah layaknya anak-anak normal lainnya (maksudnya normal dalam hal perekonomian).


“Lala mau sekolah?” tanya Kenzie memastikan.


Aqilla mengangguk pelan dengan sorot tak berubah. Ia menatap iri pada anak di depan sana. Punya orang tua lengkap, uang banyak, dan bisa sekolah. Enak sekali hidupnya.


“Ya udah, Kakak pastiin Lala bisa sekolah secepatnya,” balas Kenzie meyakinkan.


Sepasang mata ungu Aqilla berbinar cerah. Gadis kecil itu memeluk Kenzie dengan erat. “Beneran, Kak?! Lala bisa sekolah??” pekiknya tak percaya.


Kenzie mengangguk mantap. “Bisa dong. Kenapa nggak?”


“Tapi, kan..” Aqilla mendadak berubah murung. “Kita, kan, nggak punya uang, Kak. Gimana Lala bisa sekolah?” cicitnya.


Kenzie tersenyum lembut. Tangan mungilnya bergerak mengusap kepala sang adik pelan. “Impian Lala, impian Kakak juga. Jadi, Kakak akan berusaha wujudin impian Kakak ini.”


Senyum Aqilla mengembang kian lebar. Ia mengeratkan pelukan dengan sejuta kebahagiaan di lubuk hatinya. Tanpa menyadari jika Kenzie tengah mengalami keresahan tanpa batas di dalam benak.


Aku harus gimana..?


...👑👑👑...


Banyak tempat Kenzie kunjungi, namun jarang ada pihak yang mau menerima anak usia 7 tahun sepertinya. Selain karena meragukan hasil kinerja, mereka juga tidak bisa mempekerjakan anak di bawah umur.


Tiba di suatu restoran, Kenzie memohon kepada sang pemilik yang kebetulan datang agar menerimanya bekerja di sana. Ia tidak keberatan disuruh mencuci piring, merapikan meja, atau menjadi pelayan. Apa saja asalkan dirinya mendapat upah.


Karena kasihan dan melihat kesungguhan di mata Kenzie, pemilik itu memberikan Kenzie pekerjaan. Lelaki kecil itu disuruh untuk membersihkan restoran bersama yang lain atau membantu mencuci piring.


Dengan tekad yang kuat, Kenzie bisa melalui semua itu hingga hari-hari ke depannya. Pemilik restoran sampai berdecak kagum menyaksikan kegigihan Kenzie dalam bekerja. Lelaki kecil itu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. Bahkan, tak jarang, Kenzie diminta untuk membantu melayani pelanggan.


Sebulan bekerja, Kenzie mendapat upah layaknya pekerja lainnya. Ia senang bukan main. Esoknya, Kenzie langsung membelikan satu setel seragam ukuran adiknya.


“Mulai besok, kamu bisa sekolah. Kakak udah daftarin kamu di sekolah sana.” Kenzie mengatakannya dengan raut bahagia.


Aqilla menatap kakaknya yang akhir-akhir ini menghilang entah ke mana. “Kok bisa? Emangnya siapa yang bayar uang sekolahnya, Kak?” ragunya.


“Kakak dong!”

__ADS_1


“Emang Kakak punya uang?”


Kenzie mengeluarkan sisa gajinya, menunjukkannya pada Aqilla. “Lihat, Kakak punya uang. Jadi, kamu nggak usah khawatir.”


“Kakak kerja?” tebak Aqilla tepat sasaran. “Lalu, Kakak gimana? Masa’ Lala sekolah sendiri? Lala, kan, maunya sama—”


Kenzie menghentikan kalimat Aqilla dengan menaruh jari telunjuknya di bibir gadis kecil itu. “Kamu nggak usah pikirin itu. Yang harus kamu lakuin cuma satu. Belajar sungguh-sungguh, jangan sia-siain usaha Kakak. Oke?”


Aqilla tersenyum dan mengangguk. “Iya, Kak.”


...👑👑👑...


Aqilla mulai bersekolah, sementara Kenzie bekerja di restoran. Sepulang dari sekolah, Aqilla akan dengan setia menanti kepulangan sang kakak dengan ceria. Malamnya, apa yang Aqilla pelajari di sekolah akan ia ajarkan kepada Kenzie hingga Kenzie bisa membaca, menghitung, dan menulis layaknya anak sekolahan.


Namun, kebiasaan itu berubah suatu hari. Hari itu, hari di mana hidup Aqilla dan Kenzie mulai mengalami perubahan.


Kala itu, Kenzie mendapat surat undangan dari kepala sekolah tempat Aqilla menimba ilmu. Pihak mereka ingin agar wali Aqilla hadir di sekolah. Ketika ditanya, Aqilla menjawab kalau dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun.


Demi menjawab rasa penasaran itu, Kenzie dan ibu panti datang sebagai wali Aqilla. Keduanya tercengang mengetahui bahwa Aqilla akan direkomendasikan ke sekolah yang lebih bagus karena Aqilla memiliki IQ yang tidak normal—jauh lebih tinggi dibandingkan anak seusianya.


Fakta bahwa Kenzie adalah saudara kembar Aqilla membuat guru-guru di sana menerka-nerka bahwa otak Kenzie tak jauh berbeda dengan Aqilla. Alhasil, Kenzie juga diminta untuk melakukan tes IQ.


Hasilnya mencengangkan. Kenzie memiliki kecerdasan di luar nalar yang tersimpan di sudut otaknya. Keduanya resmi menandatangani surat masuk sekolah internasional lewat jalur beasiswa. Waktu itu, si kembar yang satu ini berusia 8 tahun dan sudah masuk ke kelas 6 SD.


Kenzie keluar dari pekerjaannya karena ingin fokus dengan sekolahnya. Untuk mendapatkan uang, lelaki kecil itu bernyanyi di taman setiap akhir pekan bersama sang adik. Orang-orang yang menikmati lagu mereka akan memberi uang seikhlasnya.


Begitulah hari-hari Aqilla dan Kenzie berlalu. Tiba di suatu hari, Kenzie dalam perjalanan pulang dari toko. Ia diminta untuk membeli garam yang habis. Di tengah jalan, Kenzie melihat pria kaya dengan mobil mewahnya membuang sebuah kotak yang bentuknya masih bagus.


Kenzie kecil penasaran. Ia mendekat dan melihat lebih jelas. Itu kotak laptop, alat canggih yang sedang trend. “Paman, kenapa laptopnya dibuang?” tanya Kenzie dengan polosnya.


Pria yang baru saja hendak pergi itu menoleh. “Oh, itu. Laptopnya mulai lemot, Nak. Jadi, Paman buang saja. Paman sudah beli yang baru.”


“Jadi, laptopnya udah nggak dipake, kan?” tanya Kenzie antusias.


“Iya. Memangnya kenapa?”


“Apa boleh buat saya saja, Paman?”

__ADS_1


“Hah..?”


^^^To be continue...^^^


__ADS_2