
“Kakek Tua bilang apa tentang mommy kami?” ucap Jovan dingin.
Deg!
Ada apa dengan aura anak itu?—batin Nando merinding.
Bukan hanya Nando yang gemetar, Robert dan yang lainnya pun tertegun merasakan aura dingin yang menguar dari tubuh si kembar. Kedua bocah itu sangat tidak suka jika mommy mereka diledek, diejek, ataupun disindir oleh siapa pun.
Bagi si kembar, Mommy Qilla adalah mommy terhebat sepanjang masa.
Aqilla menanggung segala beban sendirian dan selalu bertingkah baik-baik saja dengan tawanya. Senyum yang wanita itu keluarkan kadang menipu, hanya sekadar menutupi rasa lelahnya karena telah menopang cukup banyak rahasia.
Walaupun si kembar tidak pernah tahu rahasia apa itu, tapi mereka tahu bahwa mommy mereka sangat hebat karena selalu membuat suasana rumah ceria, padahal wanita itu sedang merasa sakit. Maka dari itu, si kembar ikut tertawa bersama sang mommy, menyembunyikan rasa khawatir mereka selama ini.
Jovan dan Jovin pun tahu bahwa sikap santai Aqilla selama ini mengandung makna yang berharga. Dari si kembar bangun pagi hingga tertidur pulas di malam hari, Aqilla selalu ada untuk mereka. Menemani bermain, belajar, dan menuruti keinginan mereka. Namun, setelah keduanya tertidur, Aqilla pasti akan keluar rumah untuk pergi bekerja.
Ya, Aqilla lebih sering bekerja di larut malam dibandingkan siang hari. Kenapa?
“Karena aku nggak mau nglewatin satu pun momen si kembar yang lagi tumbuh, El.” Itu yang Aqilla ucapkan pada Ely satu tahun silam ketika si kembar sengaja menguping. Kata-kata yang sukses membuat si kembar merasa haru dengan perjuangan mommy mereka.
“Cih, apa lagi ini? Kalian ingin melakukan apa?” sinis Nando berusaha memendam rasa takutnya. Lagipula kedua manusia di depannya ini hanya anak kecil. Memangnya bisa apa mereka selain merengek pada orang tua?
“Mentang-mentang kalian ngerasa akan jadi anggota keluarga Refalino, kalian jadi besar kepala, ya?” sambung Nando menyindir.
Kini giliran Aqilla yang emosi. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh. Kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan bola matanya yang pasti berubah violet kelam.
Tahan, Qilla. Jangan ngamuk di sini..
Bagaimanapun, objek hinaan Nando itu anaknya sendiri. Anak yang ia perjuangkan hidup dan mati selama 7 tahun ini. Setiap ibu yang mendengar anaknya diledek, tentu mereka tidak akan terima bukan?
“Apa kalian tau, calon daddy kalian ini pria mandul!” sentak Nando yang membuat wajah Rayhan muram seketika. “Dia nggak cocok sama mommy kalian yang subur!”
Rayhan membuang muka ke arah lain, malu karena aibnya kembali diumbar. Apalagi di depan Aqilla, sosok yang dia suka. Apa setelah ini Qilla juga pergi kayak Chelsea dulu..?
__ADS_1
Aura dingin si kembar hilang seketika. Mereka menatap cemas ke arah sang mommy. Gawat! Sisi iblis Mommy bangun!—batin keduanya panik.
Mereka masih belum tahu caranya merendam amarah sang mommy yang meledak-ledak. Pasti setelah ini ada benda yang jadi korban.
Braaakkk!!
Aqilla menggebrak meja di sebelahnya yang merupakan meja milik Alvin. Meja itu hancur terbelah. Nando mundur perlahan merasakan aura Aqilla yang bukan main-main seramnya. Apalagi dia menyaksikan sendiri bagaimana tenaga dalam wanita itu yang tidak bisa diremehkan.
Tuh, kan! Mejanya jadi korban! Padahal, tidak bersalah.
“Anda lancang sekali mengatai Tuan Rayhan seperti itu,” ucap Aqilla dengan mata menggelap dan suara datar.
Rayhan membeku mendengar Aqilla membelanya. Selain keluarga, tidak pernah ada yang berdiri di kubunya untuk membalas sindiran-sindiran itu. Karena faktanya, rumor itu memang benar.
Qilla udah tau..?
Senyum Rayhan mengembang. Sepertinya wanita pilihannya ini memang paling tepat sejagat raya.
Sebelumnya mereka memang belum sempat bertanya pada Aqilla karena lupa. Padahal, jika mereka tahu lebih awal, sudah pasti si kembar akan jauh lebih murka dari Aqilla.
Aqilla tentu tidak terima jika Rayhan disebut mandul. Kalau lelaki itu mandul, bagaimana bisa dia hamil? Masa kecebong yang menghamilinya datang dari langit? Kan, nggak mungkin banget.
Aqilla memiringkan kepalanya. Bibirnya tersenyum miring. Cucu Nando yang merasa tidak nyaman menangis. Ia turun dari gendongan kakeknya, kemudian menghampiri ibunya yang berdiri tak jauh dari sana. Sekarang Nando sendiri, tidak didampingi anak kecil yang membuat Aqilla menahan diri sedari tadi.
“Kalian tidak tau, Twins? Mommy bisa beritahu.” Aqilla menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum sinis. Ia sudah bisa membayangkan seberapa marahnya kedua anak itu. “Orang yang disebut mandul itu tidak bisa punya anak.”
Si kembar melotot. Mereka sontak menatap Nando tajam.
“Kalian kenapa, he? Apa kalian baru tau?” Nando tertawa jahat. “Saya sarankan Anda jangan menerima lamaran dari mereka, Nona. Calon suami yang mereka tawarkan itu tidak akan bisa memberikan Anda keturunan lagi,” sambung Nando menekan rasa takutnya sendiri.
“CUKUP!” bentak Jovan emosi. Dia sangat tidak terima daddy-nya disebut-sebut begitu.
Tanpa aba-aba, Jovan menarik tali topeng hingga terlepas, kemudian membuangnya ke belakang. Melihat aksi sang kakak, Jovin ikut-ikutan membuka topeng birunya.
__ADS_1
Deg!
Semua insan yang melihat si kembar tanpa topeng pun melotot, beberapa dari mereka bahkan membekap mulut saking tidak percayanya. Paras Jovan dan Jovin benar-benar duplikat Tuan Rayhan! Tidak ada celah sama sekali! Hanya bola mata saja yang mengikuti Aqilla.
Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie berdiri dari duduknya. Reva menatap kedua anak kecil di dekatnya dengan sorot berkaca-kaca. Ia seperti melihat Rayhan kecil di sini. Apa ini maksudnya kenapa aku ngerasa selalu deket sama mereka?
“K–Kak Qilla.. me–mereka...” Jessie tak sanggup melanjutkan kalimat. Ini terlalu mengejutkan dan mendadak juga tanpa diduga.
Aqilla menoleh setelah meredakan emosi. “Maaf.” Hanya itu kata yang keluar. Padahal, Aqilla sudah menyusun pidato panjang lebar berisikan permintaan pengampunan kepada keluarga Refalino karena merasa bersalah sudah memisahkan mereka.
Yap, ini yang Aqilla mau. Sebenarnya mereka berencana membongkar semuanya di depan banyak orang tanpa berdebat begini. Tapi, jika dilihat-lihat lagi, semacam ini lebih natural.
Aqilla ingin bukan hanya keluarga Refalino yang tahu. Melainkan seluruh insan yang pernah mencemooh Rayhan. Aqilla benci aksi penindasan.
“N–Nak, kenapa wajah si kembar sama seperti.. putra Mami?” tanya Reva lirih.
“Karena mereka memang cucu Anda, Nyonya.”
Deg!
“Apaa..?”
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Akhirnya! Twins kita udah ketemu sama daddy-nya, guys!
Gimana, ya, reaksi keluarga Refalino setelah ini? Tuan Besar Robert, Nyonya Besar Reva, Tuan Muda Rayhan, Nona Muda Jessica. Kita tunggu chapter selanjutnya, oke?
Bilang makasih dulu dong karena Ay udah double update 😆
See you di chapter selanjutnya:)
__ADS_1