
“Ray? Kamu di sini? Terus anak-anak mana?” Aqilla berusaha mengalihkan pandangan. Namun sialnya, bola mata Aqilla masih sesekali melirik ke arah Rayhan. Lelaki itu masih mengenakan setelan kantoran. Hanya saja tanpa jas, cuma kemeja yang telah digulung lengannya hingga ke siku.
Kesannya itu, lho, sexy sekali. Aqilla mana tahan!
“Kenapa aku di sini?” Rayhan bertanya pada dirinya sendiri. “Ya karena aku kangen sama kamu.”
Deg!
What?
Aqilla cengo. Jawaban Rayhan sangat tidak diduga otak cemerlang Aqilla. Wanita itu sampai tidak sadar dengan jarak yang kian berkurang. Hembusan napas hangat Rayhan-lah yang membangkitkan Aqilla dari lamunan.
“Kamu terlalu deket, Ray, jauhan dikit.” Aqilla melangkah mundur seraya menahan dada Rayhan dengan jemari telunjuk.
Sayangnya, bukan Rayhan namanya jika ia menurut tanpa sedikit perlawanan. Lelaki itu mempersempit batas aman, tak mau berhenti sekalipun keduanya kini bertambah mundur hingga terjerembab ke sofa. Posisi yang pas dengan Rayhan berada di atas.
Aqilla merutuki kebodohannya. Sudah tahu di belakang tubuh isinya sofa untuk menerima tamu, ia malah berjalan ke sana dan memberi kesempatan kepada Rayhan untuk lebih mengintimidasi. Saat ini pun rasanya Aqilla seakan kehilangan kekuatannya. Aura Rayhan sukses menghipnotis tubuh dan pancaindra.
“Ray, jangan aneh-aneh, ya. Nanti kalo anak-anak lia—”
Cup!
Aqilla membelalakkan mata merasakan sebuah kecupan mendarat di bibirnya. Sementara Rayhan tersenyum puas melihat semu merah mulai muncul di pipi wanitanya. Demi kacang yang tumbuh jadi keledai, ini Aqilla gemesin parah! Rayhan terkam sekarang boleh tidak, ya?
“Ray, kamu—”
Cup..
Rayhan menjatuhkan bibirnya tepat di atas birai ranum Aqilla. Tidak hanya kecupan manis, namun juga sedikit lu*atan memabukkan yang sukses membuat Aqilla menegang di tempat. Otaknya sudah memprotes keras, tapi tubuh Aqilla seolah menerima setiap perlakuan Rayhan.
Dasar pengkhianat! Tubuh apaan ini?!!
Mengetahui sang wanita tidak memberontak, tentu saja membuat pihak lelaki lebih bersemangat. Rayhan meraih pinggang Aqilla hingga keduanya berpindah posisi. Tubuh ramping nan semampai itu kini terduduk di pangkuan Rayhan.
Hingga detik ini, Aqilla hanya diam. Jantung wanita itu berdegup kencang, entah karena apa. Pikirnya, mungkin karena adegan tak senonoh ini.
__ADS_1
“Qill,” panggil Rayhan berbisik tepat di depan wajah Aqilla. Kening keduanya beradu, napas mereka sama terengah-engahnya. Ada kabut tak kasat mata di binar Rayhan yang bisa Aqilla lihat.
“I love you..” bisik Rayhan lagi.
Deg deg..
INI TIDAK BENAR!!! AAAAA!!!!
...👑👑👑...
“Ayo kita masuk, Grandma, Grandpa,” ajak Jovin riang. Ia menarik tangan Robert dan Reva memasuki rumah Aqilla. Jovan, sih, ngikut aja sembari memasang senyum penuh arti.
Semoga daddy bisa bertindak dengan baik.
Satu jam lebih Jovan juga yang lainnya membiarkan Rayhan dan Aqilla berdua. Entah apa yang kedua manusia berbeda gender itu lakukan di dalam, bagi Jovan asalkan bisa membuat keduanya lebih dekat, ia tidak masalah. Lelaki kecil itu tidak tahu saja kalau wanita dan pria yang berada dalam satu ruangan adalah suatu yang dilarang.
Ceklekk..
“Mommy? Daddy?” panggil Jovin menggema.
Jovin bingung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok—tidak usah dicari! Mata Jovin terbelalak melihat penampakan lelaki tengah tergeletak tak berdaya di ubin dingin rumah.
“DADDY!” pekik Jovin. Ia buru-buru menghampiri Rayhan yang hanya diam mendengar panggilannya. Kakinya ditekuk, posisi berlutut di samping Rayhan. “Daddy? Daddy kenapa?”
Rayhan membuka mata. Ia tersenyum kecil melihat putrinya memasang raut cemas. “Daddy fine, Girl.”
“Terus ngapain bobo’ di lantai?” tanya Jovin dengan polosnya. Menyaksikan Rayhan berbaring di bawah, tentu saja otak genius Jovin berpikir kalau daddy-nya tengah tidur di sana. Dia masih polos, jadi jangan dicemari otaknya.
“Nggak pa pa,” jawab Rayhan sedikit meringis. Padahal, ada sesuatu yang ada apa-apa di tubuhnya. Dan, semua ini gara-gara Aqilla yang tiba-tiba mengamuk dan meninggalkan dirinya dengan perintah tak terbantahkan.
“Kamu ngapain di lantai?” heran Robert. “Udah kayak babu aja.”
Rayhan menghela napas berat. Emang habis jadi babu, Pi.
“Baju Daddy, kok, basah, sih?” Jovan ikut-ikutan bertanya. Pakaian Rayhan basah total, udah kayak orang habis kecemplung sumur gitu. “Daddy habis main hujan-hujanan, ya?” tuduh Jovan sengit. “Kok, nggak ajak-ajak, sih?!”
__ADS_1
Tuh, kan. Otak si kembar masih polos sekali. Reva dan Robert saja sampai tidak sanggup menahan tawa.
“Daddy kalian tadi baiiiiikk banget sama Mommy, Twins,” timpal Aqilla yang tiba-tiba muncul entah dari mana. “Tadi Daddy Ray bantu Mommy bersih-bersih rumah, pokoknya Mommy seneng banget.”
Si kembar tersenyum lebar. Melihat senyum mommy mereka yang tampak tidak dibuat-buat membuat keduanya berpikir bahwa hubungan Aqilla dan Rayhan kian dekat. Hati kelewat lugu itu bersorak senang.
Berbeda dengan Robert dan Reva yang refleks menutup mulut, tak kuasa menahan tawa lagi. Sepertinya sepasang suami-istri paruh baya itu mengerti maksud Aqilla.
Rayhan baru saja disiksa habis-habisan untuk membersihkan rumah ini—yang ukurannya juga terbilang lumayan luas.
Rayhan menghembuskan napas panjang. Sampai kapan penderitaan ini berlanjut, Ya Allah.. luluhin satu hati ajaaa.. susahnya minta ampun.
...👑👑👑...
Malamnya...
Robert dan Reva pamit pulang. Keduanya sengaja memberi kesempatan pada Rayhan, Aqilla, Jovan, dan Jovin untuk berkumpul bersama. Kalau Ely?
Gadis itu jangan ditanya. Sehari setelah pesta perayaan ulang tahun, Ely pamit untuk pergi ke Korea Selatan untuk menghadiri konser idolanya. Laknat banget jadi sahabat.
Rumah Aqilla semakin terasa hangat suasananya. Hadirnya Rayhan di tengah-tengah canda tawa mereka menambah kesan kekeluargaan yang kental. Aqilla bahkan sampai sedikit merasa berdebar dengan situasi ini.
Rasanya sudah seperti keluarga kecil yang bahagia.
Jovan dengan antusias menunjukkan beberapa alat ciptaannya yang dibawa ke Indonesia kepada Rayhan. Lelaki dewasa itu sempat terkejut mengetahui putranya yang baru berusia 6 tahun dapat membangun robot canggih dengan program khusus.
Sedikit di luar nalar seandainya Aqilla tidak menjelaskan dengan runtut.
Sedangkan Jovin menceritakan soal pengalamannya mengikuti lomba bernyanyi di berbagai negara. Rayhan sesekali terkekeh ketika Jovin mengisahkan momen-momen lucu mengenai dirinya atau sang kakak.
Aqilla menatap ketiganya dengan perasaan campur aduk. Terselip kebahagiaan tersendiri di sudut hatinya. Namun, mengingat apa yang akan menanti di depan jika Aqilla bertindak lebih ceroboh, Aqilla berusaha menahan diri. Ia tidak mau masalah ini bertambah rumit.
Bahkan, titik terfatalnya, akan ada pertumpahan darah jika Aqilla salah melangkah. Tidak, ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Seandainya aku egois sedikit saja.. apa ‘dia’ akan membenciku? Aku ingin tetap seperti ini..
__ADS_1
^^^To be continue...^^^