
Akhir pekan tiba. Hari yang si kembar nanti-nanti sejak lama. Pasalnya, dua hari sebelumnya, Rayhan berjanji pada mereka akan mengajak jalan-jalan satu keluarga ke berbagai tempat. Tentu saja sebagai anak berusia 6 tahun keduanya antusias bukan main.
Tidak hanya Robert, Reva, Jessie, dan Rayhan saja yang hadir. Aqilla, Ely, dan Alvin akan turut meramaikan suasana. Khusus untuk Ely dan Alvin, itu usul dari Jovin. Gadis kecil itu bilang, aunty-nya cocok jika disandingkan dengan om Alvin. Alhasil, mereka ingin berubah profesi menjadi mak comblang untuk kedua insan tersebut.
Berdoa saja agar niat si kembar berjalan lancar tanpa hambatan.
“Yeayy.. jalan-jalan!!” seru si kembar senang. Anak-anak itu sampai tidak bisa diam sepanjang perjalanan. Padahal, sesuai kesepakatan, mereka hanya akan pergi ke mall untuk bermain wahana, kemudian ke tempat wisata lainnya di Jakarta.
Namun, bukan jalan-jalan itu saja yang membuat Jovan dan Jovin bahagia. Kebersamaan merekalah yang ingin dirasakan si kembar. Keduanya tidak sabar menghabiskan waktu bersama layaknya keluarga pada umumnya.
“Kakak, nanti kita naik roller coaster sama daddy, ya,” pinta Jovin riang.
Jovan mengangguk antusias. “Iya! Kakak mau naik komidi putar juga!”
“Habis itu kita main capit boneka, lempar bola, tembak-tembakan..” Semua permainan disebutkan. Jovin sangat tidak sabaran menanti scene selanjutnya. Pasti seru sekali, kan?
Aqilla dan Ely sampai geleng-geleng sendiri. Permainan yang disebutkan si kembar adalah wahana yang sering mereka mainkan dahulu—saat mereka di Kanada maupun di Indonesia. Namun, jika dibandikan intensitas kegembiraannya, kedua bocah itu jauh lebih antusias sekarang.
“Yang seneng mah beda, ueyy.. senyum teroooss..” sindir Aqilla sengaja memancing kericuhan. Memang, sih, ibu yang satu ini kurang suka kalau anaknya akur. Maunya berantem, wkwkwk..
Jovin melirik mommy-nya sinis. “Mommy, nggak bisakah Mommy kasih kesempatan biar kita seneng gitu? Julid banget, sih, heran Jovin tuh.”
Aqilla balik melotot tak terima. “Dih, mana ada Mommy julid!” bantahnya.
“Lah? Itu apa dong kalo bukan julid?”
“Nyinyir!” ketus Aqilla ikutan kesal.
“Awas, Mom, nanti monyong tuh bibir,” ancam Jovan sok serius. “Soalnya, tangan Jovan gatel banget pengen gampar, hehe.”
Sial! Niat hati ingin membuat anaknya sebal dan kesal hingga terjungkal, gagal total. Aqilla sendiri yang dibuat jengah. Memang, sih, kedua anak ini sungguh-sungguh bibitnya yang sedikit kurang berkualitas. Mulut mereka itu, lho, kok, hobi banget ngejawab orang tua.
__ADS_1
“Awas kamu, ya.” Aqilla meraih tubuh mungil Jovan dan menggelitikinya.
“Hahaha... Mommy.. ampun.. hahaha.. udah, Mom..” Jovan tergelak kencang. Mobil yang dikemudikan oleh Alvin itu sampai sedikit terguncang karena tubuh Jovan yang menggeliat, berusaha menghindari Aqilla yang tanpa henti menyerangnya.
Mengetahui sang kakak telah tertangkap, Jovin melompat ke arah Rayhan, bersembunyi agar tidak ikut digelitiki. “Ahahah.. ayo, Mommy.. terus.. serang kakak!”
Posisi mereka di mobil; Alvin dan Ely duduk di depan; Rayhan, Aqilla, Jovan, dan Jovin di jok tengah; sedangkan Reva, Robert, dan Jessie di belakang. Walaupun sempit, namun mereka senang. Kebahagiaan mereka saat ini tidak akan pernah terganti oleh apa pun.
Aqilla memberhentikan pergerakannya secara tiba-tiba. Jovan terengah-engah di pangkuan wanita itu. Raut wajah Aqilla berubah sepersekian detik, lanjut kembali tersenyum lebar kala melihat Jovin yang duduk meringkuk di pangkuan Rayhan. “Sekarang giliran Jovin..” ucap Aqilla menyeringai.
Jovin memekik. Gadis kecil itu memeluk erat lengan Rayhan, tidak ingin ditarik oleh Aqilla. Sayangnya, wanita itu merupakan akar dari segala kejailan di otak si kembar. Ia tidak akan pernah kehabisan ide.
Tanpa harus menarik, Aqilla menggelitiki pinggang putrinya. Tawa Jovin seketika menggema. Namun, tidak berlangsung lama.
Jovan menyerang Aqilla balik. Jovin melepaskan diri dan membantu sang kakak. Aqilla terkikik pelan saja, merasa lucu dengan tingkah kedua anaknya.
Tik tok.. tik tok.. tik tok..
“Sorry, ya, Twins, mau kalian gelitikin Mommy sampe lebaran haji tahun depan, Mommy nggak akan kegelian. Mommy nggak mudah geli, oke,” tutur Aqilla dengan senyum penuh kemenangan.
Si kembar mendengkus. Lantas keduanya duduk bersebelahan dengan tangan bersidekap. Bibir mereka maju hingga beberapa senti ke depan, menggemaskan sekali.
Alhasil, sekali lagi mobil itu dipenuhi tawa dari semua orang. Raut wajah si kembar sukses diabadikan menggunakan ponsel Aqilla. Sumpah, sih, ini momen terhebat dari segala insiden di hidup Aqilla. Entah mengapa, keputusannya ini juga membawa warna baru bagi hidupnya.
Apa aku kedengeran egois kalo aku minta waktu berhenti sebentar aja? Aku ingin seperti ini..
Selamanya...
...👑👑👑...
Mobil berhenti di pekarangan mall. Jovin bersorak heboh. Ia langsung menarik tangan daddy-nya agar segera masuk ke dalam, tidak sabar ingin bermain banyak hal dan memborong barang.
__ADS_1
Sama halnya dengan si adik, Jovan menarik lengan Reva dan Robert agar mau cepat-cepat menapakkan kaki ke dalam, tidak mau kalah dari Jovin. Aqilla sendiri, sih, berusaha maklum karena peristiwa semacam ini lumayan jarang terjadi.
Sebelumnya, Rayhan selalu sulit mengatur jadwal agar memiliki waktu senggang untuk kedua buah hatinya. Jika Rayhan luang, maka Aqilla yang sibuk. Begitupun sebaliknya.
Sampai akhirnya, hari di mana Aqilla dan Rayhan free bersamaan tiba. Keduanya sama-sama merasa tidak tega jika menolak keinginan sederhana si kembar yang berangan jalan-jalan bersama keluarga lengkap. Jovan dan Jovin tidak pernah meminta sesuatu yang mahal—walaupun kalau dikasih benda-benda mahal pun keduanya tidak akan menolak dengan alasan menghargai pemberian. Sekalinya meminta, si kembar hanya menginginkan something yang simpel dan mudah didapat.
“Mereka keliatan seneng banget,” celetuk Ely yang menyejajarkan langkahnya dengan Aqilla.
Aqilla mengangguk setuju. “Iya, sekarang rasa bersalahku karena udah misahin mereka bener-bener hilang, El. Rasanya lega banget. Bukan cuma Twins yang bahagia, tapi Tuan dan Nyonya juga.”
Perbincangan kedua perempuan itu tidak didengar oleh Reva, Robert, Jessie, dan Rayhan. Keempatnya sibuk menuruti si kembar yang semakin tidak sabaran ingin ke lantai permainan. Sampai-sampai meninggalkan Aqilla, Ely, dan Alvin di barisan belakang.
Bicara soal Alvin, lelaki itu mendengar seluruh percakapan Aqilla dan Ely karena posisinya berada di barisan paling belakang. Dalam hati, Alvin turut membenarkan kata-kata Aqilla. Tuan besar, nyonya besar, dan tuan muda sangat-sangat bahagia semenjak kehadiran Aqilla pun si kembar.
“Kalo kamu sendiri?” tanya Ely mendadak.
“Hm?” Aqilla tidak paham.
“Apa kamu bahagia juga di sini? Di antara mereka?”
Aqilla terdiam. Sangat sulit untuk memberikan jawaban pasti atas pertanyaan yang Ely lontarkan barusan. Nyatanya, tiga bulan kebersamaan mereka memang turut membawa warna baru di hidup Aqilla. Apalagi kehadiran Rayhan yang suka sekali merecokinya, namun juga memberikan perhatian.
Intinya, Aqilla menyukai semuanya.
“Mungkin.. bahagia(?)” Agak ragu didengar dari nada bicara. Aqilla sedikit kurang yakin dengan perasaan hatinya sendiri.
“Gimana soal tuan muda?” tanya Ely menatap Aqilla penuh arti. “Apa kamu cinta sama dia?”
Deg!
^^^To be continue...^^^
__ADS_1