
Hari berlalu. Seluruh anggota keluarga Refalino terlelap sepanjang malam dengan hati bahagia. Reva senang bisa memeluk Jovan yang dengan tenang tidur diapit olehnya dan Robert. Pun dengan Rayhan yang mendapat pelukan erat dari putrinya sepanjang malam.
Ini seperti mimpi yang jadi nyata.
Ketika hari masih gelap, Reva bergerak gelisah. Tangannya meraba-raba samping, kosong, tidak menemukan apa pun.
Sepasang mata Reva terbuka. Wanita itu resah menyadari Jovan tidak ada di posisi. Ia menoleh ke sana-sini, mencari sosok cucunya yang entah di mana. Termasuk kamar mandi juga tidak lupa dicek.
Apa kejadian kemarin cuma mimpi?
Reva takut. Ia takut bahwa peristiwa di pesta hanya halusinasi belaka. Reva tidak sanggup jika itu sungguh terjadi.
“Papi, bangun, Pi. Bangun..” Reva mengguncang bahu suaminya yang masih terlelap. “Papi..”
Robert terduduk dengan muka bantal. Ia mengusap-usap matanya dan menatap istrinya yang tampak cemas. “Mami kenapa?” tanyanya dengan suara serak.
“Jovan, Pi. Jovan nggak ada,” jawab Reva.
Seketika Robert turut panik. Pria itu celingukan, mencari cucunya yang tidak ada di tempat. Sorot matanya berhenti pada jam yang menggantung di dinding, pukul setengah lima pagi.
“Kita cari di bawah, Mi,” ajak Robert. Reva mengangguk setuju.
Sepasang suami-istri itu keluar dari kamar. Bertepatan dengan Rayhan yang juga keluar dari biliknya. Lelaki itu pun turut cemas karena Jovin tidak ada di sebelahnya.
“Nak, kamu udah bangun?” tanya Reva menghampiri putranya.
Rayhan mengangguk. “Iya, Mi. Ray kaget Jovin nggak ada di kamar. Di kamar mandi juga nggak ada.”
Reva menggigit bibir bawahnya gelisah. Ke mana kedua cucunya pergi? Tidak mungkin, kan, kejadian semalam hanya mimpi?
“Jovan juga nggak ada di kamar Papi,” sahut Robert memberitahu.
Ketiganya pun sepakat mencari si kembar di lantai bawah. Setiap pelayan yang berpapasan ditanyai. Namun, mereka menjawab tidak tahu. Hingga akhirnya ada satu pelayan yang mengatakan bahwa dirinya tahu tuan kecil dan nona kecilnya di mana.
“Pangeran dan tuan putri ada di kamar tamu sebelah sana, Nyonya, Tuan,” jawab pelayan tersebut.
Walaupun ketiganya dilanda kebingungan, mereka tidak memedulikannya sejenak. Yang harus mereka pastikan terlebih dahulu adalah keberadaan si kembar. Ketiganya pun bergegas menuju kamar tamu yang dimaksud.
“Say—”
__ADS_1
Reva, Robert, dan Rayhan tertegun menonton pemandangan di depan. Entah bagaimana, hawa hangat merasuki hati ketiganya. Ternyata benar si kembar ada di kamar itu.
Jovan dan Jovin tengah bersujud, salah satu gerakan dalam salat. Dengan Jovan sebagai imam, Jovin menirukan gerakan sang kakak duduk tasyahud akhir. Setelah membaca doa sesuai bagian, Jovan melakukan gerakan salam diikuti oleh adiknya.
Belum selesai di sana, keduanya berdzikir. Lanjut berdoa, berharap bahwa kebersamaan mereka dengan keluarga besar tidak pernah terpisahkan lagi. Reva yang mendengar sampai menangis haru mendengar doa tulus kedua anak itu.
Salat selesai. Jovin menyalami kakaknya, dibalas dengan kecupan penuk makna oleh Jovan di kening Jovin. Tindakan kecil yang sejak lama Aqilla tanamkan pada mereka.
Mereka selesai menunaikan ibadah Salat Subuh.
“Oh, Daddy? Grandpa? Grandma? Kok, di sini, sih?” heran Jovin. Ia melepas mukenanya dan menghampiri Rayhan. Mata ungunya memperhatikan paras Rayhan dengan saksama. “Daddy bangun tidur mukanya kusut, hehe.”
Rayhan terkekeh. Ia menggendong putrinya dan mencium pipinya. “Kok nggak bangunin Daddy, hm?”
“Maaf, Daddy. Jovin takut ganggu,” cicit Jovin.
Jovan menjadi pendengar setia saja. Ia sibuk membenahi sarung dan mukena Jovin yang ditaruh begitu saja tanpa dilipat. Udah gitu ditinggal pula. Selepas semuanya rapi, Jovan memasukkan semuanya di paper bag. “Yang pagi-pagi manja, bisanya pamer doang,” sindir Jovan keras.
Jovin melirik kakaknya sinis. “Sirik aja bisanya.”
“Yang satu lupa lagi kalo anaknya dua, nggak satu doang,” sindir Jovan lagi. Ia menatap Rayhan jengkel yang malah tertawa gemas.
Tidak ingin membuat putranya merajuk, Rayhan menurunkan Jovin, kemudian menghampiri Jovan. “Iri, ya?” ejek Rayhan. Ia pun mengangkat tubuh mungil Jovan yang terasa begitu ringan.
“Iri? Hahaha.. Jovan, kok, iri.” Raut wajah Jovan berubah datar. “Jealous aja,” gumam Jovan sambil menyeringai kecil.
Rayhan tertawa lepas. Ia mengajak Jovan berputar-putar. Gelak keduanya menggema. Jovin malah bersorak senang meminta daddy-nya tidak berhenti biar kakaknya pusing.
Reva tersenyum teduh melihat tawa putranya yang sudah lama tidak ia dengar. Tolong jangan ambil kebahagiaan ini dari kami, Ya Allah...
...👑👑👑...
“Grandma!” panggil Jovin riang. Di tubuh kecilnya sudah melekat seragam sekolah dengan rapi. Hanya rambut Jovin saja yang masih belum tertata.
“Wah, udah siap sekolah, Cantik?” tanya Reva seraya berjongkok di depan Reva. Ia mencubit pipi cucu perempuannya yang begitu lucu.
Jovin tersenyum cantik. “Grandma, Jovin minta tolong boleh?”
“Minta tolong apa, Sayang?”
__ADS_1
“Jovin mau rambutnya dikuncir dua. Grandma bisa nggak?” Jovin menunjukkan dua kuncir lengkap dengan bando hitamnya.
“Bisa dong, Sayang. Sini duduk.”
Kedua perempuan itu pun hanyut dalam aktivitas masing-masing. Reva membuat kunciran lucu dari rambut panjang cucunya sambil mendengarkan celotehan gadis kecil itu tentang sekolahnya. Robert yang datang saja tidak dihiraukan.
“Tadaaa...”
Abaikan wajahnya, ya. Ay cuma lihat tatanan rambutnya aja, hehe. Walaupun sebenarnya dia imut.
Jovin bertepuk tangan heboh melihat rambutnya. Ia sampai memeluk Reva girang untuk berterima kasih.
Tidak lama, Jovan datang bersama Rayhan. Sama seperti sang adik, Jovan mengenakan seragam yang sama. Sementara Rayhan menggunakan pakaian kerjanya—kemeja dan jas.
“Uwaw,” decak Jovan melihat tatanan rambut adiknya. “Kunciran rambut Grandma bagus.”
“Makasih, Sayang,” balas Reva.
“Kalo mommy mah mana bisa buat beginian,” timpal Jovin mematut dirinya di cermin yang sempat dibawa. Ia sangat suka dengan tatanan ini.
“Iya, mommy biasanya cuma disisir, kan?” sahut Jovan.
“Biasa, mommy, kan, beda dari yang paling beda,” balas Jovin terkikik. Karena tidak ada Aqilla, jadi mereka bebas membicarakan—
“Oh, lagi ngebicarain Mommy, ya?”
Deg!
Tubuh Jovan dan Jovin menegang. Keduanya berbalik ke arah pintu utama, menengok ke arah Aqilla yang ternyata berdiri di sana dengan tangan berkacak pinggang.
“Aduh, gawat. Iblis betina datang,” pekik Jovan dan Jovin kompak. Sedetik kemudian, keduanya membekap mulut menyadari bahwa bibir mungil mereka telah berkhianat.
“Mommy, iblis betina?” Aqilla menatap kedua anaknya tajam. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum miring. “Wah, wah, wah, ternyata ada yang pengin dihukum, nih.”
Huaa... selamatkan hamba imut-Mu ini, Ya Allah...
To be continue...
__ADS_1