
“Wake up, Girl,” pinta Aqilla seraya menggoyang pelan tubuh Jovin.
Gadis kecil itu melenguh pelan dan menggeliat. “Lima menit lagi, Mom. Jovin lelah habis main kemarin,” lirih Jovin.
Aqilla berdecak. “Udah salat Subuh belum kamu?”
“Udah, Mom. Tadi salat sama kakak, kok.”
Aqilla menghela napas panjang. Lantas ia berdiri dan pergi meninggalkan putrinya yang kembali lelap. Niat dia membangunkan memang karena tidak ingin anaknya terlambat menunaikan ibadah. Tapi, kalau sudah melaksanakan, ya sudah, deh.
Sekarang giliran kamar Jovan yang dikunjungi. Sama seperti Jovin, lelaki kecil itu sedang terlelap. Hanya saja, kakinya masih dibalut sarung dan di lantai masih ada sajadah yang tergelar.
Yaah.. kayaknya mereka emang udah salat.
Kalau begini, kan, Aqilla jadi tenang.
Selepas dari kamar Jovan, Aqilla masuk lagi ke kamarnya sendiri. Kalian jangan tanya soal Ely, ya. Gadis yang sudah beranjak dewasa itu masih berleha-leha di tempat liburan.
Niat Aqilla yang ingin bermain ponsel di ranjang buyar seketika ketika matanya menangkap beberapa barang berbau make up berjejer rapi di meja rias. Seringaian jail terpasang, ide keusilan tercetus di kepala.
Tanpa banyak tanya, Aqilla menyambar alat make up-nya, kemudian kembali ke kamar Jovan.
Beberapa menit, Aqilla selesai dengan Jovan. Ia beralih ke kamar sang putri dan bermain dengan rencananya di sana.
Siap-siap headset, nih. Pasti suara mereka keras banget nanti, hehe..
...👑👑👑...
Di Mansion Refalino...
Alvin tiba di sana dengan data yang tuan mudanya mau. Di tangannya ada map berisikan laporan mengenai Aqilla. Walaupun sebenarnya secara pribadi Alvin kurang puas dengan hasilnya, tapi memang cuma ini yang bisa ia dapatkan.
“Tuan Muda,” sapa Alvin ketika berjumpa dengan Rayhan di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga.
Rayhan menoleh. “Sudah bawa data-datanya?”
“Sudah, Tuan.”
“Berikan.” Rayhan menadahkan tangannya.
Dengan keraguan besar, Alvin memberikan map yang dibawa pada Rayhan. Tuan mudanya itu langsung membuka. Namun, sedetik kemudian, suara Rayhan menggelegar dengan emosi yang meledak.
“Apa-apaan ini, Alvin?! Kenapa datanya sedikit sekali?!” protes Rayhan tidak terima.
Alvin membungkuk cepat. “Maafkan saya, Tuan Muda. Data milik Aqilla sangat dilindungi dan tidak bisa ditembus. Saya bahkan meminta tim IT untuk membantu, namun mereka juga tidak bisa membobol perlindungan tersebut.”
Rayhan menghela napas kasar. Ia meraup wajahnya frustrasi. Sejak tujuh tahun lalu, berita mengenai Aqilla selalu membuatnya uring-uringan. Wanita itu entah bagaimana selalu lolos dari genggamannya.
__ADS_1
Seolah ada dinding tak kasat mata yang berperan menjauhkan Aqilla darinya.
“Ada apa ini, Ray?”
Rayhan menoleh. Ia mendapati sang papi mendekat dengan raut bingung. “Ini, Pi, data yang Ray minta, Alvin cuma kasih dikit banget. Katanya nggak bisa ditembus.”
Robert menatap Alvin dengan alis terangkat sebelah. “Tumben sekali, biasanya Alvin selalu bisa melakukan apa pun.”
Lagi-lagi Alvin membungkuk. “Maafkan saya, Tuan Besar.”
“Ya sudah, nanti aku akan coba untuk retas sendiri. Kamu udah sarapan?” tanya Rayhan.
Mendengar hal itu, Alvin tersenyum tipis. Inilah mengapa ia begitu setia dengan sosok Rayhan juga keluarga Refalino. Mereka selalu menghormati para bawahan dan jarang bertindak semena-mena. Kecuali jika memang orang lain yang mencari masalah duluan, keluarga Refalino juga tidak akan segan menghukum dengan cara yang menakjubkan.
Rayhan mungkin terlihat tegas dan galak. Tapi, sebenarnya, lelaki itu begitu perhatian. Lelaki yang tahun ini berusia 29 itu selalu memperhatikan orang di sekitarnya. Katanya, sih, untuk membalas jasa mereka.
“Belum, Tuan,” jawab Alvin.
“Sarapan dulu sana. Aku udah minta pelayan buat nyiapin makanan. Aku nggak mau kerjaan kamu keganggu kalo kamu sampe sakit.”
Alvin menundukkan kepalanya sejenak. “Terima kasih, Tuan Muda. Saya permisi sebentar.”
“Hm.”
Alvin pergi. Rayhan pun membaca data yang Alvin bawa walaupun sangat sedikit. Di sana tertulis kalau Aqilla memiliki 2 anak. Ada foto terlampir yang menggambarkan sosok Jovan dan Jovin yang mengenakan topeng bersama Aqilla.
“Gimana hasilnya?” tanya Robert yang sudah duduk di sebelah Rayhan.
Rayhan melirik papinya sekilas. “Nggak memuaskan, Pi. Di sini cuma ada identitas Aqilla sama Ely, sahabatnya Aqilla. Terus.. ada tulisan kalau Aqilla punya 2 anak. Udah gitu aja.”
“2 anak? Wow.” Ya, begitu saja tanggapan Robert. Soalnya dia takjub dengan fakta itu. Aqilla sudah punya 2 anak, padahal umurnya masih muda. “Nggak ada data soal anaknya?”
“Nggak ada, Pi. Tapi.. ini ada fotonya.”
“Mana?”
Rayhan pun menyerahkan map di tangan. Robert memperhatikan sosok kedua anak Aqilla. Dari tulisan di bawah foto, sumber gambar itu berasal dari media sosial milik Aqilla sendiri.
“Kayaknya, sih, mereka kembar, Pi,” celetuk Rayhan mengemukakan pendapatnya.
Robert mengangguk setuju. Pria itu terus mengamati wajah Aqilla beserta kedua anaknya yang sedang berpose menggemaskan ke arah kamera. Tanpa Rayhan sadari, Robert tersenyum miris. Ia mengusap foto si kembar dengan sorot sendu.
Seandainya aku punya cucu selucu mereka.. pasti menyenangkan, kan..
“Papi?” panggil Rayhan menyadarkan Robert dari lamunannya.
“Eh, iya, kenapa?”
__ADS_1
“Papi kenapa? Kok, diem aja?” heran Rayhan.
Robert tersenyum tipis. “Nggak pa pa, Ray. Cuma merhatiin wajah anak Aqilla yang emang mirip. Papi juga penasaran, kenapa mereka pakai topeng begini.”
Rayhan mengedikkan bahu. “Ray juga nggak tau, Pi.”
Tapi, entah kenapa... wajah anak Aqilla agak familiar, ya?
...👑👑👑...
“MOMMY!!”
“KYAAA!!! MUKA JOVIN KENAPAAA?!!”
Aqilla yang duduk di ruang tamu dengan camilan di tangan terbahak kencang. Wanita itu sampai menepuk-nepuk pahanya dramatis. Sudah pasti kedua anaknya terkejut melihat riasan yang Aqilla buat di wajah mereka.
Braakk!
Jovan keluar dengan riasan cantiknya. Namun, sorot matanya terlihat nyalang. Sial, dia marah!
“Ini pasti ulah Mommy, kan?” tuduh Jovan segenap keyakinan.
Aqilla pura-pura terkejut. “Ya ampun, mukamu kenapa, Boy?”
Brakk!
“MOMMY! MOMMY JAHAT BANGET SAMA MUKA IMUT JOVIN!” pekik Jovin dengan riasan ala anak metalnya.
Aqilla cekikikan melihat keduanya. “Salahnya sendiri nggak bangun-bangun. Ya udah, Mommy kerjain aja.”
Jovan mendengkus kesal. “Nggak gini juga, Mom. Jovan anak cowok, masa iya dirias jadi anak cewek?!”
“Hish! Tangan Mommy usil banget, sih,” kesal JOVIN merengut.
Aqilla terkekeh. “Udah, udah, mandi sana. Habis ini kita mau ke sekolah buat ngurus pendaftaran kalian.”
Jovan dan Jovin tidak terima. Mereka berjanji dalam hati akan membalas perbuatan Aqilla lebih gila dari ini.
“Punya mommy, kok, jail banget sama anak sendiri,” gerutu Jovan. Sepanjang ia mandi hingga berpakaian, bibir kecilnya terus mengoceh kesal. Bahkan, otaknya sudah bekerja keras memikirkan cara terbaik untuk membalikkan keadaan.
Ketika Jovan ingin keluar kamar, sepasang matanya menangkap kelipan lampu merah dari komputernya yang selesai dirangkai semalam. Dengan bantuan Aqilla, seluruh komponen komputer miliknya siap digunakan dalam sekejap.
“Ini kenapa?” gumam Jovan bingung. Ia mendekati komputernya dan menyalakan benda itu.
Manik bulat Jovan semakin membulat melihat tanda peringatan yang terpampang di layar.
Siapa, sih, yang mau retas data kami? Apa orang jahat?
__ADS_1
^^^To be continue...^^^