
Rayhan membawa si kembar kembali ke kediaman, sementara Alvin dan anggota The Refyls tetap di lokasi untuk menyelidiki lebih lanjut. Rayhan memerintahkan agar dalang dari penculikan ini harus ditemukan secepatnya.
Sebelum benar-benar pergi, Jovin berteriak sembari melambaikan tangan, “Om Alvin, Paman semua, semangat kerjanya, ya!”
Jujur, sih, para bawahan Rayhan itu sangat-sangat menyukai nona kecil mereka yang kelewat menggemaskan itu. Apalagi tuan kecil mereka yang benar-benar ramah terhadap sesama. Bahkan, lelaki kecil itu tak segan-segan menyalami mereka tiap bertemu.
Semua orang mengakui kalau pendidikan karakter yang Aqilla tanamkan pada si kembar memang sehebat itu.
Jika Jovin menyemangati Om Alvin dan yang lainnya, Jovan malah terfokus menatap salah satu pohon. Ia bisa merasakan kehadiran sang mommy sejak awal. Dan, benar saja, Aqilla tengah duduk manis di salah satu dahan pohon, melambaikan tangan dengan ceria ke arah sang putra.
Heh, udah Jovan bilang, mommy pasti biasa-biasa aja kalo kami diculik—dumel Jovan sebal.
Namun, tak urung senyum tipis terukir di bibir Jovan. Tapi, sih, selama ini, mommy selalu ada di tempat buat mastiin kami baik-baik aja. Mau khawatir aja pake gengsi, huh, dasar mommy!
Sepeninggalan mobil Rayhan, Aqilla turun dari pohon dan menghampiri Alvin. “Kak Alvin!” panggil Aqilla riang.
Alvin terkejut. “Nona, Anda mengagetkan saya,” katanya.
Aqilla terkekeh. “Kakak, kok, masih di sini? Nggak ikut pulang?”
Jangan heran dengan panggilan yang Aqilla sematkan pada Alvin. Wanita itu sendiri yang memaksa ingin menyebut seperti itu. Pasalnya, diam-diam Aqilla mengagumi sosok tangan kanan Rayhan itu.
Di mata Aqilla, Alvin nampak keren dengan setelan resminya. Ditambah lagi kecekatan lelaki itu dalam menyelesaikan pekerjaan membuat Aqilla menyukai pribadi Alvin.
Tapi, jangan bilang-bilang sama Rayhan, ya. Aqilla cuma kagum, kok, bukan cinta, hehe.
“Tidak, Nona. Saya masih harus menyelidiki siapa bos mereka.”
Aqilla manggut-manggut. “Aku ikut, deh.”
“Tapi, Nona—”
“Ini menyangkut anak-anakku juga. Memangnya salah kalau aku mau mastiin sendiri?”
Kalimat Aqilla sukses membuat Alvin tidak bisa lagi mencegah. Lagipula ia tahu kalau calon nyonya mudanya ini memiliki kemampuan beladiri di atas rata-rata. Jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Pernah suatu hari Aqilla mengajak Rayhan dan Alvin beladiri. Katanya, sih, untuk berlatih bersama. Hanya dalam hitungan menit, kedua lelaki itu kalah. Seluruh anggota The Refyls yang menyaksikan dibuat terperangah dengan sosok Aqilla.
Pergerakan wanita itu sangat cepat dan lincah. Mereka yang menonton saja sulit membaca arah serangan, apalagi Rayhan dan Alvin yang menjadi objeknya.
Alhasil, Aqilla dan Alvin masuk ke dalam bangunan tadi. Atas perintah Aqilla, kelima pria yang masih belum sadar tadi diikat di pohon oleh anggota The Refyls. Sementara Aqilla pergi mengambil sesuatu di mobilnya sebagai perlengkapan interogasi yang bagus.
Member The Refyls menyiram para penculik dengan air. Yang mana membuat kelimanya terbangun karena luka di tubuh mereka memerih. “S–siapa kalian?! Lepaskan kami!” kata pria 1 gugup.
Aqilla muncul dengan sebuah tongkat besi, sebuah alat canggih yang khusus diciptakan untuk situasi semacam ini. Wanita itu menyeringai sinis. “Kalian mundur, biar aku yang urus,” titah Aqilla.
Alvin dan yang lainnya dengan patuh melangkah mundur. Mereka sama-sama penasaran dengan apa yang akan Aqilla lakukan kepada para penculik itu dengan... tongkat?
__ADS_1
“Ingin tau siapa aku?” tanya Aqilla dengan aura dinginnya.
Glek!
Kelima pria tadi menatap Aqilla takut-takut. Sensasi yang mereka rasakan begitu menyeramkan.
“Aku Qaill, Dewi Kematian kalian.”
Sontak mereka berlima melotot. Tidak disangka jika sosok di hadapan mereka adalah orang hebat yang disegani seluruh dunia. Prestasi yang Qaill dapatkan di berbagai negara telah menyebar ke berbagai pelosok.
Mungkin, untuk orang-orang yang tidak pernah menyinggung seorang Qaill pasti akan mengaguminya karena Qaill dikenal akan kedermawanannya. Namun, itu sebaliknya bagi orang-orang yang bermasalah dengan sosok hebat itu.
Sudah pasti Aqilla tidak akan mengampuni siapa pun yang mengusiknya.
“N–Nona Qaill,” cicit pria 3 gemetaran.
Aqilla menyeringai. “Kalian tau, anak-anak yang kalian culik tadi adalah anakku.”
Deg!
Gawat! Matilah aku!—batin pria 4.
Apa ini hari terakhirku di dunia?—batin pria 5 pasrah.
Sial! Kalau dari awal aku tau lawanku Nona Qaill, aku nggak mau nerima misi ini!—gerutu pria 2.
“Silakan dipilih, ingin cara baik-baik atau cara kasar?” tanya Aqilla dengan sorot datar.
Kelimanya terdiam, tidak sanggup menjawab ataupun sekadar mengeluarkan suara.
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Aqilla.
“N–Nona Keyla yang menyuruh kami, Nona Qaill,” jawab pria 5.
Pria 1 sampai 4 membelalakkan mata, tak percaya jika pria 5 akan memberitahu dengan semudah itu. “Kenapa dijawab?!” desis pria 1.
Aqilla mengerutkan kening. Keyla? Cewek yang kemarin itu? Haduuhh.. masalah apa lagi, sih?
“Nona bisa membunuh saya, tapi tolong selamatkan istri dan anak saya dari Nona Keyla. Dia menculik keluarga saya, Nona, saya mohon,” pinta pria 5 dengan berlinangan air mata. Inilah yang menjadi alasan utama pria-pria itu menerima misi.
Dengan kejamnya, Keyla menculik keluarga mereka dan mengancam akan menyiksa hingga mati jika kelimanya tidak menuruti perintah. Mau tak mau, kelima kepala keluarga itu patuh, tidak ingin jika keluarga kesayangan mereka kenapa-napa.
Sama seperti pria 5, pria 1 sampai 4 pun sejujurnya sama-sama khawatir. Mereka takut jika seandainya misi gagal atau identitas tuan mereka bocor, keluarga mereka yang jadi ancaman. Itulah sebabnya, mereka tidak ingin menjawab sebelumnya.
Namun, mengingat jika sosok di hadapan mereka jauh lebih berpengaruh, sepertinya bisa menjadi solusi terbaik apabila meminta bantuan pada Aqilla.
“Hm? Jadi, Keyla menculik keluarga kalian?” tanya Aqilla.
__ADS_1
“B–benar, Nona,” jawab pria 3 mulai melunak.
“Kami terpaksa melakukan ini, Nona. Sebelumnya, kami adalah pelayan di mansion keluarga Qian. Tapi, Nona Keyla memaksa kami untuk melakukan penculikan ini. Kami diam sejak tadi karena takut imbasnya akan pada anak-anak kami, Nona,” papar pria 1 dengan kepala menunduk.
Aqilla menghela napas berat. “Kak Alvin, kurung mereka! Jangan apa-apakan sampai aku datang.”
“Nona ingin ke mana?” tanya Alvin ingin tahu.
“Menyelamatkan keluarga mereka.”
...👑👑👑...
Di mansion Refalino...
“Sayang, kalian baik-baik saja, kan?” tanya Reva cemas. Ia mengecek setiap bagian tubuh Jovan, memastikan tidak ada luka.
Robert pun tak kalah khawatir. Ia memeriksa cucu perempuannya dengan saksama. “Ada yang sakit, Sayang?”
Jovin tersenyum lebar. “Nggak, kok, Grandpa. Kami, kan, kuat, mereka nggak akan bisa lukain kami,” katanya bangga.
Robert dan Reva menghela napas lega. Atensi mereka beralih ada Rayhan. “Lalu, gimana sama para penculiknya? Apa udah diurus?” tanya Robert yang mulai tersulut emosi.
“Alvin sedang mengurusnya, Pi. Papi tenang aja, Ray nggak akan lepasin siapa pun dalang dari penculikan ini,” geram Rayhan dengan mata memerah.
Robert mengangguk setuju. “Bagus itu. Papi sendiri yang akan menghabisinya nanti. Berani sekali menyentuh cucu kesayanganku.”
...👑👑👑...
Malamnya...
Aqilla tiba di mansion Refalino. Langkah kaki wanita itu begitu cepat. Ia sama sekali tak menghiraukan tatapan bingung dari orang-orang sekitar.
“Jovan, Jovin,” panggil Aqilla sewaktu tiba di ruang keluarga. Ia menarik tangan kedua anaknya menjauh dari keluarga itu. “Kita pulang hari ini.”
Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie berdiri seketika. Mereka bingung dengan sikap Aqilla yang seperti orang kesetanan. “Qill, kamu kenapa?” tanya Rayhan hati-hati.
Aqilla menatap Rayhan tajam. “Mulai hari ini, jangan dekati anak-anakku!” tegasnya.
Deg!
Hening. Seluruh anggota keluarga Refalino terkejut bukan main dengan deklarasi tiba-tiba dari Aqilla.
“Nak...” lirih Reva.
“Aku tidak mengizinkan siapa pun dari kalian untuk menemui si kembar mulai detik ini!” seru Aqilla lantang.
^^^To be continue...^^^
__ADS_1