I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 91 | Kebenaran (2)


__ADS_3

“Mas Kenzie itu lagi bimbang sama hati dan otaknya. Dia tenggelam sama kekalutannya sendiri sampe ngebuat hatinya salah paham.”


Aqilla mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti maksud Alysa. “Maksud Kakak? Salah paham sama apa?”


Alysa tersenyum. “Sebenarnya, Mas Kenzie itu nggak marah sama kamu ataupun sama adik ipar.”


Pernyataan yang Alysa kemukakan sukses membuat setiap insan kebingungan. Termasuk Robert, Reva, Rayhan, dan Jessie. Padahal, sebelumnya, keempatnya sudah memaklumi tindak-tanduk Kenzie yang memang terbilang wajar.


Kakak laki-laki mana yang akan membiarkan adik perempuannya dilecehkan?


Cerita bahwa Kenzie berhasil menguasai diri hanya karena janji yang Aqilla ucapkan saja sudah membuat Rayhan tidak percaya. Seandainya dirinya yang berada di posisi Kenzie, Rayhan akan langsung menghabisi laki-laki yang sudah menodai adik perempuannya sekalipun kondisi mereka sewaktu ‘berhubungan’ sama-sama sadar.


“Maksud Kakak apa? Kak Ken nggak marah sama Lala?” tanya Aqilla bingung.


Alysa tersenyum maklum. Saat ini, wanita yang berstatus sebagai istri Kenzie itu tengah berusaha menjadi pihak netral, tidak memilih kubu mana pun untuk dibela. Karena sebagai seorang psikolog yang secara langsung mempelajari pola pikir manusia, Alysa memiliki persepsinya sendiri.


Hanya saja, Alysa sulit untuk mengungkapkan. Pasalnya, sang suami begitu kukuh dengan kesimpulan yang dibuatnya sendiri. Di mata Alysa, Kenzie dan Aqilla sama-sama keras kepala.


Alysa memilih untuk duduk di sebelah Aqilla. Ia sekilas melirik ke arah keluarga Refalino yang sepertinya juga penasaran dengan penjelasannya. “Menurut Kakak, Mas Kenzie nggak marah sama siapa pun, Adikku Sayang.”


“Terus sama siapa?” tuntut Aqilla.


“Sama dirinya sendiri.”


Hening mendera. Aqilla membisu mendengar kalimat kakak iparnya. Kenzie marah pada dirinya sendiri? Jujur, sih, Aqilla kurang paham.

__ADS_1


“Kalian berdua tinggal sama-sama sejak kecil, Lala. Dari dulu, Mas Kenzie selalu mengutamakan kamu dalam konteks apa pun. Kakak ingat waktu itu, kalian cuma punya uang sedikit. Kamu mau makan cilok, tapi karena harus berhemat, kamu nggak jadi beli.”


Alysa tersenyum mengingat kenangan mereka sewaktu SMA. “Mas Kenzie tanpa ragu langsung nyanyi di depan banyak orang, cari uang lewat belas kasih orang-orang. Lalu uangnya untuk belikan kamu cilok. Ingat nggak?”


Aqilla mengangguk. Kejadian itu adalah salah satu kenangan indah miliknya yang tak akan pernah terlupakan. Kenzie yang selalu menjaganya di mana pun, saat apa pun, dan kapan pun. Aqilla selalu merasa beruntung memiliki Kenzie.


“Dari dulu, di mata Mas Kenzie, kamu itu permatanya, La. Bagi Mas Kenzie, kamu segalanya karena memang kamu satu-satunya keluarga yang dia punya. Mas Kenzie mencintai kamu lebih dari dirinya mencintai Kakak. Percaya, deh.”


Aqilla hanya diam, ia mendengarkan semua kata-kata Alysa dengan serius.


“Kakak kenal banget gimana sifat kamu sama Mas Kenzie. Kalian itu sering cekcok, sering beda pendapat. Kalo udah begitu, damainya susah karena sifat kalian yang sama-sama keras kepala,” ucap Alysa melanjutkan tuturannya.


“Di mata Kakak, Mas Kenzie sama kamu punya jatah kesalahannya masing-masing.” Alysa beralih menatap Rayhan. “Termasuk adik ipar juga.”


Alysa terkekeh melihat raut bingung Aqilla. “Porsi kesalahan adik ipar, ya karena dia nggak bisa menahan na*sunya sendiri. Kakak paham kalo laki-laki punya batasan na*sunya masing-masing. Kadang, kalau memang mereka digoda, ya laki-laki bisa tergoda.” Alysa tersenyum kecil. “Tapi, laki-laki yang baik itu laki-laki yang bisa menahan na*sunya jika memang situasinya salah.”


“Adik Ipar harus tau, di masa depan nanti, kamu akan jadi kepala keluarga. Kamu akan memimpin istri sama anak-anak kamu ke jalan yang benar. Kalau kamu nggak bisa memimpin diri sendiri untuk tetap berprinsip teguh, gimana sama keluarga kamu nanti, hm?”


Kalimat Alysa benar-benar menohok hati Rayhan hingga ke titik terdalam. Lelaki itu termenung, memikirkan rentetan kata itu hingga otak dan hatinya membenarkan dalam diam.


“Terus, porsi kesalahan Mas Kenzie itu, ya soal persepsi yang dia buat, Sayang. Mas Kenzie berpikir bahwa apa yang dia simpulkan, itu yang benar. Padahal, kan, manusia itu tempatnya salah dan dosa. Ada saat di mana Mas Kenzie salah, ada saat di mana Mas Kenzie benar.” Alysa menghirup napas sejenak. “Di mata kalian, Mas Kenzie marah sama kalian, benar?”


Aqilla mengangguk patah-patah.


“Padahal, nggak, Sayang. Mas Kenzie nggak pernah marah sama kamu.” Alysa merapikan anak rambut adik iparnya yang sedikit berantakan. “Mas Kenzie kecewa sama dirinya sendiri. Dia jauh lebih merasa marah sama dirinya sendiri ketimbang sama kamu dan adik ipar. Karena apa?”

__ADS_1


Semua orang diam, tidak berani menginterupsi.


“Karena Mas Kenzie merasa dia nggak becus jagain kamu, Sayang,” lanjut Alysa seraya mengusap pipi Aqilla.


Deg!


“Pertama kali dengar soal berita kamu sama adik ipar, Mas Kenzie syok. Dia mengurung dirinya sendiri di dalam kamar. Kakak lihat dengan mata kepala Kakak sendiri, bagaimana Mas Kenzie terus mengigau orang tua kalian. Mas Kenzie bilang, ‘Maaf, Bunda. Maaf, Ayah. Kenzie gagal jagain Lala’. Itu yang dia bilang setiap malam, Sayang.”


“Mas Kenzie jatuh sakit selama berhari-hari karena tubuhnya kurang asupan. Sorot matanya kosong. Dia sering melukai dirinya sendiri karena kalut.”


Alysa menghentikan ceritanya sejenak. “Tapi, semua berubah setelah Mas Kenzie tahu kalau kamu lagi hamil, La. Mas Kenzie marah, dia berteriak akan membunuh adik ipar. Di mata Mas Kenzie, adik ipar yang salah karena dia sudah menodai kamu. Kalau ada kasus pelecehan, pihak laki-laki selalu disalahkan. Itu hal lumrah karena waktu itu Mas Kenzie belum tahu cerita sebenarnya.”


“Mas Kenzie syok setelah tahu cerita sebenarnya. Tapi, tetap, karena rasa kecewa pada dirinya sendiri juga sama kamu membuat Mas Kenzie nggak bisa berpikir jernih. Dia akan ngelakuin apa pun asalkan bisa menghilangkan rasa kecamuk di hatinya. Dan, cara yang dia tahu adalah dengan membunuh Rayhan.”


“Selama ini, bukan cuma kamu yang merasa bersalah, La. Mas Kenzie juga. Dia selalu mengawasi kamu sama anak-anak kamu. Diam-diam tanpa sepengetahuan kamu, Mas Kenzie menyewa bodyguard untuk anak-anak kamu kalau kamu sedang pergi. Itu sebagai bentuk usahanya untuk menghilangkan rasa bersalahnya, Sayang.”


“Mas Kenzie seorang ayah, dia tahu persis bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua karena memang dirinya mengalami secara langsung. Mas Kenzie memperhatikan semua yang kamu lakuin. Termasuk rencana kamu untuk datang ke Indonesia, La.”


Deg!


Aqilla menatap Alysa tak percaya. “Kak Kenzie tau kalo aku mau ke Indonesia, Kak?”


Alysa mengangguk tegas. “Iya, dia tau dari awal, La.”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2