
“SEMUANYA, SERANG NONA ITU!!!”
Tanpa ragu, dua puluh dua orang tadi menyerang Aqilla dengan segenap kekuatan. Yang diserang malah kelihatan santai-santai saja, seakan itu bukan masalah besar. Reva dan teman-temannya-lah yang merasa ngilu. Mereka khawatir dengan situasi Aqilla yang berbahaya.
Setiap serangan yang didapat, Aqilla menangkisnya dengan mudah. Kemudian membalas lebih keras dan kuat.
Qaill, kok, disinggung. Yang lawannya dapat pasti cuma kekalahan yang memalukan.
Iya dong. Lelaki yang kalah dalam pertarungan melawan wanita pasti merasa malu. Si wanita lalu berkata dengan penuh keyakinan bahwa lelaki itu tidak akan berani menampakkan batang hidungnya.
Dalam kurun waktu sebentar, keduapuluh orang telah tumbang di jalanan. Hanya tersisa dua orang saja, si ketua dan satu anak buahnya. Karena perkelahian itu, banyak orang-orang yang memperhatikan mereka. Posisi mereka, kan, berada di depan mall, jadi wajar aja kalau ramai.
Ketiga anggota The Refyls melongo melihat kemampuan Aqilla yang luar biasa hingga bisa menumbangkan semua pria itu. Bahkan, Aqilla terlihat biasa saja, maksudnya tidak lelah ataupun ngos-ngosan. Satu bulir pun keringat tidak tercipta dari paras cantik wanita itu.
“Masih mau maju?” tanya Aqilla berbaik hati.
Kedua pria yang tersisa bergidik ngeri. Lantas tanpa aba-aba, keduanya berlari terbirit-birit meninggalkan rekan-rekannya. Masa bodoh dengan misi mereka. Aqilla terlalu berbahaya untuk ditaklukkan.
Aqilla terkekeh. Ia melihat orang-orang yang berhasil dia lumpuhkan. Mereka tidak sadarkan diri.
Aqilla berbalik menghampiri Reva. “Sudah selesai, Nyonya,” ucapnya seraya tersenyum lebar.
Spontan Reva memeluk Aqilla erat. Rasa khawatirnya benar-benar membuncah tadi. Ia takut wanita yang menjabat sebagai calon ‘calon menantunya’ ini terluka. Bisa dipastikan Reva tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Aqilla sampai tergores.
Si empunya tubuh membeku. Rengkuhan yang ia rasakan membuat sekujur badannya menghangat, ada aura keibuan yang menggetarkan hatinya. Ini beneran nyaman banget.
“Ekhem, Ny–Nyonya, Anda baik-baik saja?” Aqilla mencoba untuk mendorong perlahan, tidak mau menyakiti Reva.
Reva menatap Aqilla tajam. “Kenapa kamu maju gitu aja, hah?! Gimana kalau kamu kenapa-napa, Nak? Mami bener-bener akan merasa bersalah,” serunya galak.
Aqilla tersenyum tipis menyadari maksud kalimat Reva. “Maaf sudah membuat Anda khawatir, ya,” pinta Aqilla tulus.
Reva berhasil ditenangkan. Aqilla pun mengantar semua teman-teman Reva hingga ke mobil masing-masing. Kemudian ia menyertai Reva hingga wanita itu tiba di mansion dengan selamat. Pasalnya, ketiga pengawal Reva hendak mengurus orang-orang tadi untuk dilaporkan pada tuannya.
“Makasih udah anter Mami, Nak,” ucap Reva ketika mobil Aqilla berhenti tepat di depan gerbang mansion Refalino.
“Sama-sama, Nyonya.”
“Kamu mau mampir dulu?” tanya Reva penuh harap.
“Maaf, Nyonya. Anak-anak saya sebentar lagi pulang, saya harus menjemputnya di sekolah. Mungkin lain kali,” tolak Aqilla halus.
Karena mengerti alasan Aqilla, Reva pun tidak memaksa. Dia kagum dengan sosok wanita ini, Aqilla begitu tangguh mengurus kedua anaknya sendiri tanpa suami. Single parents yang hebat.
“Kalau begitu hati-hati, ya, Nak,” pinta Reva tulus.
“Iya, Nyonya. Saya permisi. Assalamualaikum.”
“Wa‘alaikumsalam,” jawab Reva lirih. Bibirnya melengkung tipis. Dia memang menantu idamanku..
...👑👑👑...
“Mommy!” pekik si kembar kesal. “Lama banget, sih!”
Aqilla nyengir. Urusan di mall juga Reva lalu jalanan yang macet membuatnya terlambat menjemput sang anak. Hampir 16 menit kalau tidak salah.
“Ya maaf, Twins. Mommy, kan, banyak urusannya,” bela Aqilla.
Jovan mencibir. “Kayak orang penting aja, padahal lagi cuti dan nganggur, kan?”
Skak mat!
Aqilla hanya bisa memasang senyum sejuta watt, berharap dengan begitu kedua anaknya mau memaafkan. Sayangnya, aksi ngambek-ngambekan ini masih berlanjut hingga ketiganya tiba di rumah.
__ADS_1
“Permisi!”
Aqilla refleks menoleh ke arah pintu rumahnya. Begitupun dengan kedua anaknya yang ikut memutar leher. Kegiatan makan siang mereka terganggu karena panggilan itu.
“Siapa, ya?” tanya Aqilla entah pada siapa.
Jovan dan Jovin kompak mengedikkan bahu bersamaan.
Daripada terus-terusan diterpa rasa penasaran, Aqilla memutuskan untuk keluar. Sewaktu matanya melihat lambang tecno juga paket laptop yang dibawa membuat wanita itu teringat. Sebelumnya, kan, dia membeli 2 laptop baru.
“Ini pesanan Anda, Nona,” kata si pengirim ramah.
Aqilla berterima kasih. Ia juga memberi uang tip pada lelaki pengantar barang itu.
Setelah memastikan orang tadi pergi, Aqilla membawa dua kotak berisikan laptop ke dalam rumah. Si kembar yang penasaran mendekat.
Mata Jovan seketika berbinar melihat gambar laptop yang terpasang di kotak. Ia memekik girang menghampiri salah satu kotak. “Mom, ini laptop baru buat Jovan, kan?” tanyanya antusias.
“Iya, tadi Mommy ke mall beli laptop baru. Lumayan buat dimodifikasi,” jawab Aqilla.
Jovan segera membongkar isi kotak di sofa ruang tamu. Sementara Aqilla masih tetap di posisi. Tubuhnya merinding merasakan tatapan Jovin yang menghunus tajam.
“Em, kenapa, Girl?” tanya Aqilla yang tidak mengerti arti tatapan sang putri.
“Kakak doang? Buat Jovin mana? Masa Jovin nggak dibeliin apa-apa, sih?” protes gadis kecil itu.
Aqilla meneguk salivanya kuat. Sial, aku lupa beliin Jovin sesuatu. Marah pasti, nih, anak..
Mommy si kembar meringis. “Maaf, ya,” katanya singkat.
Tapi, dengan satu kalimat maaf saja sudah membuat emosi Jovin memuncak. Secara tidak langsung Aqilla membenarkan praduganya. Sang mommy lupa membelikan sesuatu untuk dirinya, putrinya yang paling imut.
“Mommy.. kok, gitu, sih, sama Jovin?” rengek Jovin tidak terima.
Tawaran yang menggugah hati Jovin. Gadis kecil itu berubah sumringah. “Beneran, Mom?”
“Iya.”
“Janji?” Jovin menyodorkan jari kelingking mungilnya.
Aqilla menautkan kelingkingnya pula. “Mommy janji.”
Di belakang mereka, Jovan sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Lelaki kecil itu fokus mengotak-atik laptop barunya.
Ini keren sekali...
...👑👑👑...
“Mami diserang?!” pekik Rayhan kaget.
Reva mengiyakan. Rayhan dan Jessie langsung mencercai Reva dengan pertanyaan beruntun. Mami mereka diserang, tapi keduanya tidak tahu apa-apa. Rasanya tidak berguna sekali sebagai anak.
Tapi, bukan salah Rayhan juga, sih. Lelaki itu sibuk mengurus proyek baru perusahaan. Makanya, tidak bisa mengontrol orang-orang di sekitarnya dengan cermat.
Robert yang sudah tahu hanya diam. Pengawal Reva sudah menceritakan keseluruhan rentetan kejadian tanpa pengecualian, termasuk aksi Aqilla yang melawan penjahat-penjahat itu hingga Reva baik-baik saja—tidak terluka sama sekali.
Reva mulai bercerita heboh. Rayhan dan Jessie mendengarkan dengan saksama. Hingga akhir cerita, tidak ada satu pun yang menginterupsi. Reva sampai kelelahan sendiri karena terus mengoceh.
“Mami tenang aja, Ray akan cari tau siapa dalang dari penyerangan ini. Jadi, sementara ini, Mami di mansion aja, ya,” kata Rayhan meyakinkan.
Walaupun agak tidak terima, namun Reva tahu Rayhan mencemaskan dirinya. Alhasil, wanita paruh baya itu cuma bisa mengangguk pasrah, tidak ingin mendebat putra sulungnya itu.
“Terus Kak Qilla baik-baik aja, kan, Mi?” tanya Jessie yang khawatir dengan kondisi calon kakak iparnya.
__ADS_1
“Dia baik-baik aja, kok, nggak terluka sama sekali,” jawab Reva apa adanya. “Oh, ya, Jess, kamu ada nomor ponselnya Aqilla nggak?”
“Hm? Ada, Mi. Kenapa?”
“Telponin dia, Sayang. Mami mau undang dia ke mansion buat makan siang bareng.”
Jessie tersenyum lebar. “Itu ide bagus, Mi! Nanti Jessie telponin.”
“Kenapa nanti? Kenapa nggak sekarang aja?” heran Rayhan.
“Kakak, ini itu siang hari. Pasti Kak Qilla sibuk ngurus anaknya, kalo nggak dia lagi istirahat karena capek. Kan, Kak Qilla habis berantem. Masa gitu aja nggak ngerti, sih?”
Rayhan terdiam. Iya juga, ya.
...👑👑👑...
Malamnya...
“Assalamualaikum, Nona. Ada apa, ya?” tanya Aqilla yang mengangkat telepon dari Jessie. Ponselnya ditaruh di meja dengan mode speaker karena dirinya sibuk memasak makan malam.
“Kak, Kakak sibuk nggak besok?”
“Besok, ya?” Aqilla tampak berpikir, namun tangannya terus bergerak memotong bahan makanan. “Nggak, sih, Nona. Memangnya ada apa?”
“Besok makan siang bareng mau nggak, Kak?”
“Makan siang?” beo Aqilla. “Di mana?”
“Di mansion, Sayang.”
Aqilla menegang sesaat. Itu suara Reva. “Ehm, maksud Anda.. saya diundang makan siang bersama, Nyonya?”
“Iya, Nak. Kamu bisa, kan? Anggap aja ini cara Mami berterima kasih sama kamu.”
“Saya—”
“Mommy!” pekik Jovin seraya menghampiri Aqilla di dapur. “Belum jadi masakannya? Jovin udah lapar, lho.”
Aqilla terkekeh. “Sebentar, Girl. Mommy lagi angkat telpon, nih.”
“Oh, siapa?”
“Em.. gimana, ya, nyebutnya?” Aqilla jadi bingung sendiri. “Pokoknya ada, deh.”
Dari seberang telepon, Reva, Rayhan, Robert, dan Jessie yang mendengar percakapan Aqilla dengan putrinya terdiam. Jika Reva dan Robert merasa iri, Rayhan malah terhanyut dengan suara Jovin.
Entah mengapa, suara gadis kecil itu sukses mendebarkan hati Rayhan. Seperti ada ikatan tak kasat mata yang terjalin.
“E.. A–Aqilla?” panggil Reva lagi.
“Eh, iya, Nyonya. Maaf, putri saya datang tadi.”
Reva tersenyum miris. “Iya, Nak, nggak pa pa. Jadi, bisa nggak dateng ke sini besok?”
“Saya tidak bisa makan siang di sana, Nyonya. Kalau saya makan di sana, anak saya gimana? Saya cuma punya waktu luang kalau mereka sekolah. Sisanya.. saya main sama mereka.”
Reva tersenyum lembut. “Kalau begitu, habis antar anak kamu, kamu ke sini, ya.”
“Em.. boleh, deh. Nanti saya datang setelah mengantar anak say—JOVIN! ALLAHUAKBAR! ITU TEPUNGNYA KENAPA DITUMPAHIN?!”
Bukannya marah karena tidak ditanggapi, Reva malah tertawa. Apalagi mendengar suara si kecil yang terus membela tidak sengaja menyenggol baskom terdengar menggemaskan.
Seandainya aku punya cucu.. pasti semenyenangkan itu, kan..
__ADS_1
^^^To be continue...^^^