I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 22 | Dia Daddy Kami!


__ADS_3

“Mau ke kamu, El?” tanya Aqilla dengan sorot sinis.


Ely yang tertangkap basah hendak kabur dari rumah langsung memasang cengiran terlebarnya. Mengurus si kembar di pagi hari itu hanya akan meruntuhkan mood karena tingkah jail mereka. Jadi, setiap pagi, Ely akan memilih segera keluar diam-diam.


“Aku mau.. em.. kerja, hehe.” Cengengesan dia.


“Aku mau kerja,” cibir Aqilla dengan nada meledek. Ia memutar bola matanya jengah, tahu betul apa alasan Ely pergi sepagi ini. “Kamu siap-siap kalo mau ikut aku sama anak-anak.”


“Hah? Ikut ke mana?”


“Indonesia.”


“Indonesia...” lirih Ely tak percaya. “Kamu mau.. buat anak-anak ketemu sama Tuan Muda Rayhan, Qill?”


Aqilla mengangguk enteng. “Iya, itu keputusan aku.”


“Kamu serius, Qill? Gimana kalo—”


“El,” potong Aqilla dengan air muka paling serius. “Aku cuma mau anak-anak bahagia, El. Biar aku yang tanggung risikonya nanti.”


Ely sebenarnya ingin memprotes sesuatu yang mengganjal di hatinya. Akan tetapi, melihat raut tak main-main dari Aqilla membuatnya bergeming. Gadis itu memilih diam dan membiarkan sahabatnya melakukan apa pun yang dirasa benar.


“Oke kalo gitu. Aku ikut kamu, lumayan bisa minta cuti nanti, hehe.” Dan, Ely memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa berlibur dengan tenang.


Aqilla terkekeh, membenarkan dalam hati kata-kata Ely. “Kalo gitu, bisa bantuin urus kepindahan sekolah si kembar, El? Nanti untuk urusan cuti, aku yang urus.”


Mendengar hal itu, mata Ely berbinar cerah. Aqilla sampai kesilauan sendiri. “Siap, Qill!” serunya bahagia.


“Sekalian urus dokumen si kembar buat masuk ke sekolah internasional program anak genius cabang Indonesia, oke?”


“Siap, Ibu Negara!”


...👑👑👑...


“Hah? Kami pindah sekolah, Mom?” tanya Jovin bingung. Jovan yang ada di sampingnya juga ikut kebingungan. Kenapa tiba-tiba sekali Aqilla memindahkan sekolah mereka? Padahal, si kembar sangat menyukai sekolah itu karena para guru begitu memuja kegeniusan mereka.


Di sana, tidak ada satu pun orang yang mencela keduanya karena sudah naik kelas walaupun masih berumur 6 tahun.


Aqilla tersenyum saja. Ia berjongkok di depan kedua anaknya yang masih terbalut piyama kusut dan rambut acak-acakan. Maklumi, mereka baru aja bangun tidur.

__ADS_1


Bukannya menjelaskan alasan kepindahan anak-anak, Aqilla malah menyerahkan dua lembar foto kepada keduanya. Jovan dan Jovin menerimanya dengan tanda tanya besar di kepala.


“Ini...” Aqilla menunjuk Rayhan yang berdiri gagah dengan setelan jasnya. “Daddy kalian.”


Kedua mata Jovan dan Jovin sama-sama terbula lebar. Nyawa yang sebelumnya berpencar seketika tertarik masuk ke dalam tubuh mereka. Sontak keduanya menatap sosok Rayhan dengan cermat. Senyum mereka merekah begitu lebar sampai-sampai Aqilla merasa kian yakin dengan keputusannya.


“Ini daddy kami, Mom?” tanya Jovin antusias.


Aqilla mengiyakan. “Ini Tuan Robert, granpa kalian. Ini Nyonya Reva, granma kalian. Yang ini Nona Jessica, aunty kalian, adiknya daddy.” Aqilla menjelaskan sembari menunjuk satu per satu sosok yang ada di foto.


Jovin terus menatap foto itu dengan manik berbinar. Ia bahkan tanpa ragu mencium foto tersebut tepat di wajah Rayhan. “Daddy kita tampan sekali!” pujinya sepenuh hati. “Iya, kan, Kak?”


Jovan mengangguk. “Wajah daddy mirip kita, Dek.”


Aqilla terkekeh melihat keantusiasan kedua anaknya. Ia pun mendorong pelan tubuh anaknya menuju sofa di ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang keluarga di rumah mereka. “Kalian mau ketemu sama daddy?” tanya Aqilla yang seketika semakin mencerahkan binar mata Jovin.


“Mau, Mom! Mau!” seru Jovin girang.


“Daddy ada di Indonesia, Girl,” kata Aqilla lagi. “Mommy udah minta Aunty Ely buat urus kepindahan sekolah kalian. Mommy juga akan minta cuti dari markas. Habis itu, kita ke Indonesia, oke?”


Jovan dan Jovin sama-sama mengangguk kuat. “Kapan, Mom, kita ke Indonesia?” tanya Jovan yang juga sama bahagianya dengan sang adik.


Ternyata usahaku semalam nggak sia-sia, hihi..


Jovin melompat ke pangkuan Aqilla dan mengecup pipi mommy-nya. “Mommy janji, kan, secepatnya?” Ia menyodorkan jari kelingking kecilnya.


Aqilla menyahut dengan cepat. Ia menautkan jari kelingkingnya di jemari mungil Jovin. “Pasti, Mommy akan urus secepatnya. Jadi, kalian bisa mulai kemas-kemas barang yang mau dibawa hari ini.”


“Berapa lama kita di sana, Mom?” tanya Jovan.


“Kayaknya, sih, sangattt.. lama. Mommy sekalian ambil job di Indonesia, biar kita bisa lebih leluasa di sana.” Aqilla tersenyum melihat kedua anaknya memancarkan aura hangat yang begitu kentara. Kebahagiaan mereka inilah yang akan menjadi sumber kekuatan Aqilla nantinya.


Nggak pa pa aku yang berkorban, asalkan mereka bisa terus sebahagia ini.


...👑👑👑...


Setelah mandi dan sarapan bersama, Aqilla pamit untuk mengurus surat-surat penting yang dibutuhkan. Jovan dan Jovin ditinggal sendirian di rumah—bukan hal yang baru, kok. Mereka sering di rumah tanpa Aqilla dan Ely.


Saat ini, kedua bocah itu sibuk mengemasi pakaian mereka ke dalam koper. Di tengah kesibukan, Jovin memilih pergi ke kamar kakaknya. Di tangan gadis kecil itu masih ada selembar foto pemberian Aqilla pagi tadi.

__ADS_1


Seolah enggan berpisah, Jovin terus membawa foto itu ke mana-mana. Rasa senangnya yang begitu besar membuat Jovin semakin ingin melihat langsung sosok daddy-nya.


Tok tok tokk..


“Kakak? Adek masuk, ya?” pinta Jovin meminta izin.


“Iya, Dek.”


Setelah mendapat izin, Jovin membuka pintu. Ia melihat Jovan juga sedang sibuk memilah pakaian yang akan dibawa. “Masih banyak, ya, Kak?” tanya Jovin yang sudah duduk di tepi ranjang kakaknya.


“Iya, nih, Dek. Kakak pilih baju-baju kesukaan Kakak sama baju yang sering dipake aja. Sisanya ditinggal, nggak muat kalo dibawa semua,” jawab Jovan tanpa mengalihkan konsentrasinya dari tumpukan pakaian yang ada di depan. “Adek udah selesai?”


“Belum, sih. Adek ke sini mau liat Kakak dulu.” Jovin mendadak berubah jadi anak baik sekarang. Duduk diam dan memperhatikan pergerakan Jovan. Namun, setelahnya gadis itu memilih mengamati paras daddy-nya yang terpampang di foto. “Pantes aja muka kita nggak mirip sama mommy,” celetuk Jovin.


Jovan mengangguk setuju. “Iya. Ternyata muka kita duplikatnya daddy.”


“Apalagi sama Kakak. Wajah Kakak bener-bener kayak fotokopiannya daddy!” seru Jovin heboh. Ia bahkan membandingkan paras Rayhan dengan Jovan. Memang mirip dan hampir 100% sama.


Jovan tersenyum saja. “Dan, setelah ini, nggak akan ada yang ejek kita anak haram. Kita punya daddy yang tampan.”


Jovin mengangguk. “Bener, Kak.” Ia beralih menatap komputer milik Jovan yang ada di meja belajar. “Kak, Kakak nggak bisa cari tau lagi soal daddy pake komputer? Adek mau tau lebih banyak.”


Jovan ikut-ikutan menatap komputernya. “Bisa, Dek. Tapi.. jarak Calgary sama Indonesia jauh banget. Takutnya, nanti malah ketahuan. Kakak nggak berani. Nanti aja, ya, waktu kita udah sampe.”


Merasa perkataan kakaknya benar, Jovin pun tidak lagi meminta. Ia menurut saja baiknya bagaimana.


“Adek jadi penasaran, kalo daddy kita masih ada, kenapa mommy sama daddy nggak sama-sama kayak orang tua temen kita yang lain, ya, Kak? Kan, mommy sama daddy mereka tinggal serumah.”


Mendengar itu, Jovan jadi sama penasarannya. Ia bergumam sejenak, memikirkan jawaban dari pertanyaan Jovin yang tidak terdaftar di ruang penyimpanan otaknya. “Cuma mommy yang tau.” Hanya sekadar seperti itu jawaban Jovan.


Jovin manggut-manggut. Mereka kembali berceloteh dengan Jovan yang sibuk mengemasi pakaiannya.


Dan, topik mengenai Rayhan, sang daddy, terus menjadi kesukaan si kembar. Kedua anak itu tidak sabar untuk bisa segera tiba di Indonesia dan bertemu dengan Rayhan.


^^^To be continue...^^^


...👑👑👑...


Wah, si kembar mau terbang ke Indonesia, nih. Ada yang bakalan ketemu, huhu..

__ADS_1


Semoga kalian selalu suka, ya.


See you di chapter selanjutnya:)


__ADS_2