I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 61: Jalan-Jalan Keluarga (3)


__ADS_3

“Udah, udah mainnya.. Mommy capek,” keluh Aqilla mendudukkan diri di samping Ely yang sibuk mengunyah jajanan. Tanpa minta izin, wanita itu merampas minuman milik Ely dan menenggaknya hingga tandas.


“Heh! Itu punyaku!” protes Ely menyambar balik botol minumannya yang telah kosong. “Anj—kamu abisin, Qill?!!”


Aqilla nyengir. “Sorry.” Ely balas mendengkus kesal.


Mau tak mau, Jovan dan Jovin menghentikan aktivitas mereka. Keduanya pun paham kalau grandpa, grandma, daddy, mommy, juga aunty mereka sudah kelelahan karena menuruti keinginan si kembar. Lagian kedua anak itu sudah puas bermain hingga menghasilkan banyak hadiah.


Untungnya, sih, mall ini salah satu properti milik keluarga Refalino. Jadi, staf yang bekerja di zona permainan ini tidak akan takut rugi akibat si kembar yang sukses memenangkan banyak permainan.


“Sekarang kita ke mana, Grandpa?” tanya Jovin yang menggandeng tangan Robert erat.


“Kita makan!” jawab Aqilla antusias. “Iya, kan, Ray?”


Rayhan terkekeh pelan. “Iya, kita makan.”


“Yes!” pekik Aqilla, Jovan, dan Jovin kegirangan. Kalau soal makan, mereka bertiga memang juaranya.


“Sushi, ya,” pinta Aqilla memelas.


“Ih, nggak! Jovin mau makan chicken katsu!” seru Jovin tak terima.


“Tapi, Jovan mau makan sate,” sahut Jovan tidak mau diam saja.


Ketiga insan itu saling bertatapan, menghunus tajam ke arah satu sama lain. Rayhan, Robert, dan Reva sampai khawatir kalau mereka sampai bertengkar nantinya. Sayangnya, pemikiran mereka terlalu jauh dari ekspektasi.


“Kertas, batu, gunting!” seru Aqilla, Jovan, dan Jovin bersamaan. Aqilla batu, Jovin kertas, dan Jovan batu.


“Hahahaaa... Jovin menang!” Gadis kecil itu bergoyang heboh. Tidak peduli jika tingkah menggemaskannya itu sukses menarik perhatian seluruh pengunjung di lantai mall tersebut.


“Itu Tuan Muda Refalino sama keluarganya, kan?”


“Iya! Jadi, itu anak-anak Tuan Rayhan?”


“Anaknya lucu, ya. Kembar lagi.”


“Rumor kalau tuan muda mandul, salah dong?”


“Aih, kalau tahu begitu, aku juga mau.”

__ADS_1


“Iya, tampan, mapan, siapa yang nggak mau coba?”


Bisik-bisik orang terdengar dari segala penjuru. Beberapa dari mereka ada yang berdecak iri, sisanya fokus mengamati putra-putri Rayhan yang memiliki tampang menawan, seperti daddy-nya. Benar-benar duplikat yang sempurna.


Udah kayak cetakan fotokopian aja.


“Daddy! Ayo kita makan chicken katsu!” kata Jovin antusias seraya menarik-narik tangan Rayhan.


Lelaki itu tertawa. Lantas dirinya membawa sang putri ke dalam gendongan sebelum mengecup pipi gembulnya. “Oke, kita makan chicken katsu!”


“Yeaayy...”


...👑👑👑...


Faktanya, apa pun menu hidangannya, Aqilla pasti doyan. Asalkan bukan menu yang berpotensi membuatnya alergi, wanita itu pasti senang-senang saja. Apalagi ini gratis, lho. Siapa, sih, yang nggak suka gratisan?


Alvin dan Ely turut dibelikan. Keduanya memilih untuk duduk terpisah dari keluarga Refalino, tidak mau mengacau suasana kekeluargaan yang begitu kentara di antara mereka. Lihat saja tuh bagaimana harmonisnya mereka.


Jovan menggunakan sendok bekas miliknya tengah menyuapi Reva sesekali. Reva pun sama sekali tidak keberatan. Ini adalah momen yang selalu dia inginkan sejak lama, merasakan kasih sayang yang luar biasa dari cucunya.


Sementara Jovin menyuapi Robert yang tampak menurut saja. Pria itu terlihat bahagia jika dilihat dari binar matanya. Situasi ini sangat baik untuk kondisi jantung dan hatinya.


Walaupun iri, Rayhan memilih bungkam. Lelaki itu makan dengan sorot terpaku pada sosok kedua malaikat kecilnya. Anak genius yang selalu bisa membuatnya merasa bangga dengan segala sikap dan sifat mereka.


But, itu adalah sifat yang disukai keluarga Refalino dari Aqilla. Wanita itu tidak akan segan menunjukkan sifat aslinya. Bagaimanapun kondisinya, Aqilla akan bertingkah layaknya dirinya sendiri, tidak berpura-pura ataupun cosplay menjadi orang lain.


Because she is love himself.


“Mommy, Jovin boleh beli es krim nggak?” pinta Jovin dengan puppy eyes andalan. Kedua tangannya berposisi menangkup pipinya sendiri, mata gadis kecil itu sampai mengeluarkan kemerlip cantik entah dari mana.


“Haisshh.. stop, Jovin! Iya, iya, boleh,” jawab Aqilla pasrah. Toh, yang penting putrinya sudah makan makanan berat. Jadi, menyantap satu cup es krim bukanlah masalah besar.


Gadis kecil itu bersorak. Dibantu oleh sang daddy, Jovin memesan dua porsi es krim rasa vanilla dan cokelat. Katanya, yang satu untuk Jovan. Padahal, lelaki kecil itu sama sekali tidak meminta.


“Mom, Jovan ke sana, boleh?” Jovan menunjuk ke arah arena bermain yang tersedia di dekat food court. Di sana ada perosotan besar yang khusus diperuntukkan anak kecil.


Aqilla mengerutkan dahi. “Tumben, Boy. Biasanya kamu nggak suka diejek anak kecil, kan?” heran Aqilla.


Jovan mengalihkan pandangan, menghindari tatapan curiga dari mommy-nya. “Em.. lagi pengen aja,” cicit Jovan malu-malu.

__ADS_1


Iya, Jovan tidak suka disinggung pasal umur ataupun disebut anak kecil. Tapi, sekarang, tingkah bocah itu udah kayak bocah sungguhan.


“Ya udah, sana. Tapi, hati-hati, ngerti, kan, maksud Mommy?”


“Ngerti, Mom.”


...👑👑👑...


“Nak Aqilla,” panggil Reva kala si kembar telah pergi ke arena bermain.


Aqilla memalingkan wajah dari arena bermain “Iya, Nyonya.”


“Ray udah cerita. Katanya, dia ngelamar kamu, tapi kamu nolak. Bener?”


Aqilla terdiam seribu bahasa. Bola matanya bergerak melirik ke arah lelaki yang dimaksud, namun tidak dipedulikan. Menghela napas sejenak sebelum menjawab, “Iya, Nyonya.”


“Kenapa kamu nggak terima, Nak? Apa anak Mami masih kurang sesuatu?” tanya Reva ingin tahu. Setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki keberanian untuk bertanya mengenai hal ini.


Padahal, kejadiaannya sudah tiga bulan yang lalu. Benar, kan?


Sejujurnya, wanita sering sekali menuntut Rayhan untuk segera meresmikan hubungan. Tapi, putranya itu selalu berucap, “Iya, Mi, nanti juga nikah, kok. Jangan terburu-buru."


Entah apa maksudnya, Reva tidak paham.


“Em.. saya.. nggak juga, sih, Nyonya. Anak Nyonya udah pas, kok. Cuma...” Aqilla menjeda kalimatnya. “Sayanya nggak cinta. Saya—”


“Kamu bukannya nggak cinta sama aku, Qill,” potong Rayhan tiba-tiba. “Kamu cuma belum cinta sama aku. Itu beda arti.”


“Yang bilang itu ‘sama’ siapa, sih, Ray?” sewot Aqilla kesal. Ini dia terus dipojokkan hingga ke sudut, lho. Lama-lama Aqilla tidak bisa mengelak lagi, nih.


“Ayolah, Kakak Ipar, Kak Qilla nikah aja sama Kak Ray. Dijamin bahagia, kok, soalnya udah bergaransi,” ucap Jessie menggebu-gebu. Rayhan yang mendengar cengo sendiri.


Maksudnya udah bergaransi apa, wehh?! Kalo Aqilla nggak seneng, aku dikembaliin gitu?!!


“Sebenarnya, saya itu—”


“Rayhan? Ini kamu, kan?”


Robert, Reva, Rayhan, Jessie, dan Aqilla menoleh ke sumber suara bersamaan.

__ADS_1


Hm, siapa dia?


^^^To be continue...^^^


__ADS_2