
“Sayang, udah siap belum?” teriak Rayhan dari lantai bawah.
“Sayang! Tolong ke sini sebentar!” balas Aqilla dari dalam kamar.
Robert, Reva, Rayhan, Jessie, Jovan, dan Jovin saling melempar pandang, sama-sama memaklumi. Sejak hamil, Aqilla benar-benar sensitif terhadap penampilan. Wanita itu sering sekali memperdebatkan pasal bentuk tubuh yang berisi. Padahal, itu, kan, wajar untuk bumil.
Termasuk dalam memilih pakaian, Aqilla pasti sanggup menghabiskan waktu berjam-jam. Untungnya, tidak pernah ada yang mempermasalahkan. Mereka berusaha mengerti dengan hormon wanita berbadan dua itu.
Rayhan memutuskan untuk menyusul sang istri, memasuki kamar mereka. “Kenapa, Sayang? Belum siap?” tanyanya dengan nada lembut.
Bibir bawah Aqilla menekuk ke atas, sepasang maniknya berkaca-kaca. “Aku keliatan gendut, Ray,” keluh Aqilla menghentak-hentakkan kaki ke lantai.
Rayhan tersenyum tipis mendengar hal tersebut. “Sayang, kondisi kamu sekarang itu wajar. Kamu, kan, lagi hamil dede’ kembar, udah 6 bulan juga. So, itu nggak masalah, Sayang.”
Aqilla melotot. “Nggak masalah gimana?!! Aku gendut, lho!”
“Emang kenapa? Kamu tetep cantik, kok, di mata aku.” Rayhan merengkuh tubuh istrinya erat, menaruh dagunya di puncak kepala. “Enak banget buat dipeluk.”
“Nanti kalo kamu lirik cewek lain gimana?” Bibir Aqilla maju hingga beberapa senti. Mengundang gelak tawa dari Rayhan. Lelaki itu sampai terbahak-bahak saking gemasnya dengan tingkah sang istri. “Iiih.. kok malah ketawa, sih?” rajuk Aqilla.
Cup!
Satu kecupan mendarat sempurna di bibir Aqilla. Rayhan benar-benar tidak tahan untuk tidak mencium istri cantiknya ini. “Sayang, denger, ya.” Rayhan mengubah posisi supaya keduanya berhadapan. Jemari lelaki itu bergerak menyentuh dagu Aqilla. “Nggak akan pernah ada perempuan lain di hidup aku, Sayang. Karena cuma kamu perempuan yang mau terima aku apa adanya, cuma kamu yang aku cinta, dan cuma kamu yang aku sayang.”
Semburat merah berangsur-angsur muncul di pipi Aqilla. Wanita itu tersipu!
“Lihat, Sayang, anak kita sebagai bukti cinta kita. Kamu nggak perlu khawatir sama apa pun, Qill. Sama seperti kamu yang terima aku apa adanya, aku juga akan terima kamu apa adanya. Semua kelebihan dan kekurangan kamu pasti aku terima,” jelas Rayhan memberi pengertian.
Aqilla tersenyum lebar. Wanita itu masuk ke dalam rengkuhan sang suami, mencari kenyamanan untuk dinikmati. “Thank you, Hubby.”
...👑👑👑...
Pernikahan Alvin dan Ely digelar besar-besaran. Banyak tamu yang diundang hadir ke acara resepsi pernikahan. Salah satunya keluarga Refalino dan Jonesa yang dinyatakan sebagai keluarga kedua mempelai sebab Alvin maupun Ely sama-sama anak yatim piatu.
__ADS_1
Dengan senang hati, Robert dan Reva mendaftarkan diri sebagai orang tua Alvin. Sejak dahulu, sepasang suami-istri ini memang sudah menganggap Alvin sebagai putra kedua. Sementara Richard dan Kalina menjadi keluarga Ely, sahabat putri mereka.
“Selamat, El,” ucap Aqilla kala dirinya dan sang suami naik ke atas pelaminan untuk memberi selamat. Kedua wanita itu saling berpelukan walaupun perut Aqilla sedikit menghalangi.
“Makasih, Qilla. Kamu jangan sampe kecapekan, lho. Nanti ponakan aku kenapa-napa.” Meskipun bahagia karena kedatangan sahabatnya, Ely tetap merasa khawatir akan kondisi Aqilla. Bagaimanapun juga Aqilla itu sedang hamil. Ia takut jika sampai terjadi sesuatu.
Aqilla mengiyakan.
“Selamat, Alvin. Akhirnya kamu jujur sama perasaan kamu,” ledek Rayhan.
Alvin tersenyum saja. Percayalah, mengakui perasaan tidak semudah bayangan kita. Alvin butuh banyak persiapan dan mental yang kuat. Kecemasan karena takut akan penolakan kadang membuat lelaki itu mengurungkan niat. Usai penantian yang panjang, Alvin pun memberanikan diri berucap sesungguhnya di hadapan Ely.
“Terima kasih sudah datang, Tuan Muda,” balas Alvin tulus. “Keluarga Anda juga—”
“Hei, Al, bukannya aku udah pernah bilang kalau aku anggap kamu saudaraku.” Rayhan tersenyum. “Jangan berterima kasih. Ini tugasku sebagai saudaramu.”
Alvin tersenyum haru. Walaupun dirinya tahu jika seluruh keluarga Refalino memiliki sifat baik, Alvin tidak menyangka jika tuan mudanya sangat memperhatikan dirinya, seorang bawahan. “Terima kasih, Kak,” katanya.
Mau tak mau, Aqilla, Ely, dan Alvin dibuat tertawa atas perkataan Rayhan yang memang ada benarnya. Sedikit menggelikan mendengar Alvin menyebut kata ‘kakak’.
Aqilla mengedarkan pandangan. Seketika pandangannya jatuh ke satu titik, sorot wanita itu berubah datar. Itu, kan...
“Qill, kamu liat apa?” tanya Ely penasaran. Lantas dirinya beralih ke arah pandang Aqilla, memfokuskan maniknya ke objek yang sama. Sayangnya, Ely tidak menemukan sesuatu yang janggal di depan sana. “Nggak ada apa-apa tuh.”
Aqilla menarik jas Rayhan dengan postur manja. “Ray, laper,” rengeknya. “Mau kue keju yang di sana.”
Rayhan mengangguk. Keduanya pun pamit turun, hendak mencari makanan untuk sang istri. Tiba di dekat bagian meja penuh makanan, Rayhan tertegun melihat Chelsea datang di acara.
“Hai, Ray,” sapa Chelsea dengan senyum mengembang. Di samping wanita itu ada Angel, putrinya, yang sibuk mengunyah kue strawberry.
“Oh, hai.” Rayhan menyapa balik dengan kikuk. Ia melirik sekilas ke arah Aqilla, istrinya tampak tidak terpengaruh. Malahan wanita itu sibuk menguyel-uyel tangannya. “Alvin ngundang kamu, Chel?” tanya Rayhan penasaran.
“Hm.. iya, Ray. Kamu.. keberatan, kah?” tanya Chelsea melirik sekilas ke arah Aqilla.
__ADS_1
Rayhan menggeleng. “Nggak, sih. Ini, kan, bukan acara aku.”
Aqilla manggut-manggut setuju. Walaupun nampak tidak peduli, telinganya terpasang dengan baik. Aqilla mendengar semuanya dengan jelas. Lantaran dirinya saja yang malas menanggapi Chelsea—yang bisa ditebak tengah caper pada suaminya.
“Ayah Angel mana?” tanya Rayhan celingukan.
Chelsea berubah murung. Kepalanya menggeleng dua kali. “Dia nggak ada, Ray.”
“Maksudnya?”
“Ayah Angel nggak mau tanggung jawab. Dia pergi ninggalin kami gitu aja,” curhat Chelsea berharap Rayhan akan menaruh iba. “Aku single parents.”
Bukannya bersimpati, Rayhan mengerutkan dahi. “Berarti.. Angel anak di luar nikah?” tanyanya dengan nada lebih pelan. Ia tidak mau jika telinga suci Angel yang masih berada di samping Chelsea sampai terkontaminasi kalimat tak bermutu.
Chelsea gelagapan. Ia bingung ingin menjawab seperti apa. Bibir bawahnya digigit kuat, menyalurkan rasa panik di kepalanya.
“Ray, tadi katanya mau ambil cheesecake.” Aqilla merengek. Ia menggoyang-goyangkan lengan Rayhan. “Aku udah laper, lho.”
Rayhan tersentak. Ia baru ingat akan niat awal mereka. Karena tidak ingin membuat Aqilla dan calon anaknya menunggu lebih lama, Rayhan pamit kepada Chelsea. Namun, Aqilla meminta Rayhan saja yang mengambilkan, sementara dirinya duduk di kursi. Pasalnya, Aqilla mengeluh capek. Bobot badannya sudah tidak seringan dulu.
“Ya udah, duduk di situ aja. Aku nggak lama, kok.” Rayhan menunjuk ke arah kursi tak jauh dari mereka. Selepas melihat anggukan setuju dari Aqilla, Rayhan pergi ke bagian tatanan kue, memilah cheesecake di antara ratusan kue lainnya.
Sepeninggalan Rayhan, Aqilla menatap Chelsea dingin. Wanita itu bergerak maju, mendekati Chelsea yang menegang di tempat. “Sekali lagi kamu berusaha deketin suamiku..”
Aqilla menyeringai bengis. “Aku jamin, hidup kamu akan sangat sengsara, Nona Chelsea.”
Glek!
Chelsea merinding. Bulu kuduknya berdiri, menari-nari di atas ketakutan yang mendera. Entah tengah berbadan satu, dua, atau tiga, sosok Qaill dalam diri Aqilla akan tetap ada sebagai tameng terkuat.
Aqilla akan selalu menyeramkan jika ketenangannya diusik.
^^^– Bonus Chapter 3 Finish –^^^
__ADS_1