
Dua manusia berbeda jenis kelamin berada di satu ruangan adalah hal yang wajar bukan? Tapi, itu berlaku jika keduanya merupakan pasangan kekasih ataupun pasangan suami-istri.
Lalu, kalau dua insan beda gender berada di dalam kamar seharian tanpa hubungan pasti, mereka sedang apa, ya?
Itulah yang menjadi pertanyaan bagi seluruh anggota keluarga Refalino. Bukan hanya Robert, Reva, dan Jessie saja yang penasaran, tetapi juga para pelayan yang ada. Pokoknya, semua makhluk hidup di mansion besar itu keheranan dengan sikap Rayhan dan Aqilla. Bahkan, cicak-cicak yang bertebaran turut tak mengerti dengan jalan pikiran kedua insan itu.
Rayhan maupun Aqilla sama sekali tidak keluar dari kamar. Bukan cuma satu atau dua jam, tetapi setengah hari ini, guys!
Sejak pagi menjelang hingga detik ini, jam makan siang, keduanya tidak menunjukkan batang hidung setitik pun. Si kembar sampai keheranan sendiri. Sejak kapan orang tua mereka akur? Biasanya, kan, Aqilla sering membuat kegaduhan bersama Rayhan.
Akan tetapi, hari ini, suasana mansion tenang-tenang saja. Tidak ribut.
“Grandma, daddy sama mommy, kok, nggak keluar-keluar, sih?” tanya Jovin yang penasaran dengan kelakuan Rayhan dan Aqilla di dalam.
“Em.. Grandma juga nggak tau, Sayang. Pagi tadi, Grandma coba panggilin, tapi daddy sama mommy Jovin nggak nyahut,” jawab Reva berdusta. Padahal, ia tahu persis apa yang dilakukan putranya di dalam pagi tadi.
“Mereka ngapain, ya, di dalem?” gumam Jovan yang masih bisa didengar Reva dan Robert.
Di dalam pemikiran si kembar, kedua orang tuanya pasti merencanakan sesuatu yang keren dan tidak mau melibatkan mereka. Atau mungkin menyembunyikan makanan enak dan tidak ingin berbagi?
Wah, Jovan dan Jovin jelas tidak terima. Mereka, kan, ingin makan juga.
Itu, sih, pemikiran otak polos anak kecil ataupun remaja yang masih suci otaknya. Tentu sangat berbeda dengan spekulasi para orang dewasa yang sudah mengarungi belasan tahun kehidupan.
Pikir mereka, Rayhan dan Aqilla tengah memadu kasih di dalam, saling mengenal dan mendekatkan diri satu sama lain. Dan, di mata Robert dan Reva, keduanya senang bukan main karena akan segera memiliki cucu baru. Makanya, pasangan suami-istri paruh baya itu berusaha keras untuk mencegah Jovan dan Jovin mengganggu aktivitas orang tua mereka di dalam kamar.
Entah sebenarnya apa yang terjadi di dalam kamar, hanya author, Rayhan, dan Aqilla saja yang mengerti.
“Kalo gitu, kita makan duluan aja, ya,” pinta Jessie membuka suara.
Setelah mendapat bujuk rayu dari berbagai keluarga, si kembar akhirnya mau makan siang. Soalnya, mereka ngotot ingin menanti daddy dan mommy mereka yang entah kapan akan keluar.
Kira-kira kedua anak Adam itu sedang apa, ya, di dalam kamar?
...👑👑👑...
__ADS_1
Malamnya...
Ceklekk..
Rayhan membuka pintu kamar pelan. Suasana mansion masih terang karena ini masih pukul 7 malam. Lelaki itu celingukan ke sana ke sini, takut dirinya tertangkap basah keluar dari kamar Aqilla.
Lelaki itu tidak tahu saja kalau dirinya dan Aqilla tengah menjadi perbincangan hangat di mansion tersebut. Banyak para pelayan yang bergosip ria mengenai Rayhan yang katanya sedang bermesraan dengan Aqilla di dalam kamar. Beberapa dari mereka ada yang iri dan ada yang memuji-muji—di mata mereka, Rayhan dan Aqilla adalah pasangan serasi.
Yang satu kuat, yang satu hebat. Beuhh!
Selepas memastikan semua baik-baik saja, Rayhan keluar dari sana. Ia langsung menuju ruang makan, tidak mengindahkan tatapan memuja dari para pelayan yang kebetulan ada di sekitar.
“Daddy?” sebut Jovan dan Jovin. Sontak membuat atensi Reva, Robert, dan Jessie teralihkan.
“Daddy, kok, baru keluar, sih?” dumel Jovin kesal. Padahal, gadis kecil itu ingin menunjukkan sesuatu kepada sang daddy juga mommy-nya setelah pulang sekolah.
Rayhan tersenyum tipis. “Em.. nggak pa pa, Sayang.”
Kelakuan Rayhan menjadi sorotan utama. Lelaki itu mengambil dua piring dan mengisinya dengan berbagai makanan lengkap sama lauk-pauknya. Lanjut menuang air di dua gelas dan menata semuanya di nampan. “Daddy ke kamar sebentar, ya,” pintanya ingin pamit.
Tatapan penuh kecurigaan dilayangkan. Semua orang berusaha memberikan aura intimidasi agar Rayhan mau mengaku.
Sayangnya, Rayhan hanya tersenyum lebar. “Nggak pa pa, Son.” Sudah, sebatas itu saja jawabannya. Lanjut pergi meninggalkan setiap insan yang menatapnya aneh di ruang makan.
Ceklekk..
Rayhan kembali menenggelamkan diri di dalam kamar Aqilla.
Reva geleng-geleng melihat tingkat putranya. Astaga, dia main berapa ronde sampe baru keluar sekarang? Kasihan banget Aqilla..
Robert menghembuskan napas kasar. Itu anak nekat banget ‘main’ seharian..
“Grandma sama Grandpa tau nggak daddy sama mommy ngapain?” tanya Jovan dengan rasa penasaran tingkat tinggi. Jovin mengangguk, setuju dengan pertanyaan sang kakak.
“Mommy sama daddy kalian lagi buatin adik,” celetuk Robert begitu saja. Reva melotot kepada sang suami. Sontak Robert membekap mulutnya yang sukses memancing kemarahan istrinya.
__ADS_1
Sepasang mata si kembar berbinar cerah. “Adik? Kami mau punya adik, Grandpa?” seru keduanya antusias.
Robert cengengesan sewaktu melihat pelototan maut istrinya. Ia bingung ingin menjelaskan dengan cara apa. Ini gara-gara mulutnya yang berkata tanpa filter!
“Em.. kayaknya, sih,” balas Robert ragu.
“Jovin mau liat, ah, cara buatnya,” kata Jovin senang. Ia turun dari kursi dan berlari ke arah kamar mommy-nya. Jovan yang sama ingin tahunya mengikuti adiknya.
Robert dan Reva panik. Mereka berdua segera menyusul cucu mereka yang hampir mengetuk pintu kamar. “Jangan, Twins. Biarin aja, ya,” kata Reva berbisik.
“Tapi, Grandma, Jovin penasaran cara buat dedek bayi,” kata Jovin dengan bibir merengut.
“Nanti kalo kalian masuk, dedek bayinya nggak jadi-jadi, soalnya keganggu. Udah, ya, biarin aja,” bujuk Robert dengan cara terakhirnya. Dia pasrah akan menerima amukan sang istri. Yang penting, mata si kembar tidak boleh terkontaminasi dulu.
Akhirnya, Jovan dan Jovin berhasil dibujuk. Mereka berempat kembali ke ruang makan.
Namun, si kembar saling melempar pandangan. Sedetik kemudian, keduanya tersenyum miring. Otak mereka seolah menyatu hingga bisa berkomunikasi satu sama lain tanpa bersuara.
Terobos kamar mommy nanti malam, mau?—tanya Jovan dalam hati.
Jelas maulah, Kak!—sahut Jovin senang.
...👑👑👑...
Pukul 23.19
Si kembar mengendap-endap mendekati kamar mommy mereka. Keduanya mengedarkan tatapan ke sekitar, takut jika ada yang memergoki. Tiba di depan kamar Aqilla, Jovan siap memutar kenop pintu.
“Ayo, Kak, cepet!” pinta Jovin berbisik.
Jovan mengangguk. Dengan perlahan, ia mendorong pintu hingga membuka celah.
Si kembar terkejut melihat apa yang terjadi di dalam. “Mommy? Daddy?” gumam keduanya.
^^^To be continue...^^^
__ADS_1