I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 46 | Berkumpul Bersama


__ADS_3

Adegan tangis menangis selesai.


Selepas mendapat penawaran mengenai panggilan kesukaan, akhirnya Jovin memilih untuk mendapat julukan tuan putri. Gadis kecil bersorak senang ketika para pelayan menyebutnya tuan putri.


Si penyuka princess emang seaneh itu.


“Kalo gitu, kakakku dipanggil pangeran, ya,” pinta Jovin antusias.


Jovan protes keras. Dari awal, dia tidak mempermasalahkan panggilan apa pun untuknya. Tetapi, jika disebut pangeran-pangeran begini terdengar agak berlebihan.


Sayangnya, Jovan lebih sayang ketenangan. Kalau ia menolak, sudah pasti Jovin akan kesal dan lebih banyak mengoceh. Alhasil, lelaki kecil itu diam saja dengan muka bersungut-sungut.


Jessie spontan menutup mulut, wajah jengkel Jovan sangat menggemaskan. Jangan ketawa, Jess, jangan. Entar keponakan ganteng kamu ngambek.


“Baik, Tuan Putri. Selamat datang, Pangeran.” Para pelayan mengganti panggilan dengan senang hati. Melihat tawa Jovin yang menggema sembari bertepuk tangan riang membuat mereka bahagia.


Syukurlah, Alvin menghubungi kepala pelayan dan memberitahukan bahwa tuan kecil dan nona kecil yang merupakan anak Rayhan akan datang. Jadi, mereka bisa bersiap untuk menyambut walau tidak seluruhnya. Karena beberapa pelayan sudah terlelap karena kelelahan.


Menyaksikan paras si kembar yang seperti duplikat tuan muda mereka saja sudah membuat mereka yakin dengan segenap hati. Kedua anak itu memang benar pewaris keluarga Refalino.


Karena merasa puas, Jovin dengan ceria berlarian mengelilingi mansion. Jovan memekik kaget, ia berteriak meminta sang adik untuk tidak berlari. Jovan tidak mau Jovin jatuh yang mengakibatkan suasana mansion jadi ricuh karena tangisannya.


Plus.. Jovan masih sayang nyawa. Mommy-nya bisa mengamuk kalau tahu dirinya gagal menjaga Jovin.


Kedua anak itu malah berlarian. Kesannya jadi semacam aksi kejar-kejaran. Jovin tertawa riang mengelilingi sofa dan Jovan mengejarnya di belakang.


Reva menyuruh para pelayan beristirahat karena jam kerja telah usai. Seluruh pelayan yang ada membungkuk hormat dan pamit undur diri. Jessie juga izin ke kamarnya untuk rehat. Ia tidak sanggup tertawa lagi. Ulu hatinya agak ngilu.


Jovin masih terus berlari. Hingga tanpa sadar sebelah kakinya menginjak gaunnya sendiri. Tubuh mungil Jovin terhuyung ke depan, gadis kecil itu memekik. “Aaa..!”


“Jovin!” panik Rayhan, Robert, dan Reva.


Jovan mempercepat ayunan kakinya. Ia menangkap tubuh adiknya sebelum terhempas ke lantai. Jika Jovin menghela napas lega karena tidak jadi jatuh, Jovan malah meringis merasakan kakinya yang salah posisi.


“Adek nggak pa pa, kan?” tanya Jovan khawatir. Jovin menggeleng pelan dengan air muka menyesal.


Reva menghampiri cucunya dan memeriksa kondisi Jovin. “Ada yang sakit, Sayang?”


“Nggak, Grandma. Maaf, Jovin nggak dengerin kakak.” Mata bulat berwarna ungu itu mengembun. Ia menatap sang kakak yang mengulas senyum kecil.


“Ya udah, sekarang ganti baju sana. Pasti gerah,” suruh Jovan.


Kali ini Jovin menurut tanpa membantah lagi. Ia pergi dari ruang tamu menuju sebuah kamar ditemani oleh Reva. Sepeninggalan Jovin, Jovan terduduk lemas di lantai. Ia menyentuh kakinya yang ngilu.


“Kenapa, Nak?” tanya Robert khawatir.


“Kaki Jovan kayaknya terkilir, Grandpa.”

__ADS_1


Robert terkejut sesaat. Ia dengan sigap membopong Jovan duduk di sofa. Rayhan pun turut mendekat dan memeriksa kaki putranya. “Yang ini sakit?”


“He’em.”


“Kok, nggak hati-hati, sih, Jovan?” omel Rayhan memijat pelan kaki putranya.


Jovan meringis. “Iya, Daddy, maaf.”


Walaupun khawatir, diam-diam Rayhan merasa bangga dengan perangai Jovan. Lelaki kecil ini rela berkorban demi menyelamatkan adiknya yang hampir jatuh. Cara Aqilla mendidik pasti begitu hebat hingga sosok sekecil ini mengerti arti tanggung jawab.


“Jaga adik, boleh. Tapi, harus hati-hati, Son. Daddy nggak mau kamu terluka kayak gini,” nasihat Rayhan lembut.


“Iya, Dad. Jovan akan ingat pesan Daddy,” balas Jovan seraya menggenggam tangan Robert lebih kencang. Pijitan Rayhan membuat kakinya sakit.


“Udah mendingan belum?” tanya Rayhan.


Jovan menggerakkan kakinya ke kanan-kiri. “Lumayan, Dad. Thank you. Tapi, jangan kasih tau Jovin, ya.”


“Kenapa?” tanya Robert.


“Jovin itu mirip mommy, Grandpa. Kalo ada yang sakit sedikit, langsung panik sampe bawa dokter. Kan, cuma terkilir biasa. Jovan nggak mau Jovin sampe panggil ambulans nanti,” jelas Jovan yang hafal betul karakter adiknya bagaimana.


Pernah suatu hari Jovan tak sengaja menghirup asap. Alhasil, ia terbatuk-batuk hingga tiba di rumah. Aqilla dan Jovin langsung panik tak terkira. Mereka tanpa segan bersepakat membawa Jovan ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan menyeluruh.


Dan, Jovan? Dia cuma bisa pasrah digotong ke sana-sini.


Rayhan terkekeh pelan. “Mereka gitu, kan, karena khawatir.”


Robert dan Rayhan tergelak. Kedua lelaki berbeda generasi itu mengangguk setuju untuk tidak memberitahu Jovin. Yang penting Jovan tidak apa-apa.


“Mau ganti baju?” tawar Robert.


“Boleh.”


...👑👑👑...


Si kembar selesai mengganti tuxedo juga gaun mereka dengan piyama. Warna pink dan biru polkadot yang keduanya kenakan benar-benar membuat Rayhan gemas.


“Daddy!” seru Jovin riang seraya menghambur ke pelukan Rayhan yang juga telah mengganti pakaiannya menjadi lebih santai. “Hari ini, Jovin bobo’ sama Daddy, ya.”


Rayhan mengangguk setuju. Ia menciumi pipi chubby putrinya hingga terkikik geli.



Jovan tak mau kalah. Lelaki kecil itu berpenampilan lucu dengan piyamanya. Berbeda dengan sang adik, figur kakak itu duduk tenang sambil bermanja ria dengan grandma-nya.


__ADS_1


“Jovan tidur sama Grandma mau?” tanya Reva.


“Mau dong.” Jovan tersenyum lebar. Reva ikut terkekeh entah kenapa. Robert yang berada di sebelah istrinya mengulas senyum bahagia.


Suasana mansion seketika berubah dengan kehadiran si kembar. Tidak ada lagi kekakuan, yang ada celoteh manis dari Jovin. Tidak ada lagi wajah cemberut, yang ada senyum lebar menular dari Jovan.


“Grandma bisa nyanyi lagu tidur nggak?” tanya Jovin.


“Lagu tidur?” ulang Reva. Sedetik kemudian, wanita itu meringis mengingat suara emasnya yang selalu sukses memekakkan telinga. “Grandma nggak bisa nyanyi, Sayang.”


Jovan terkikik melihat raut panik grandma-nya. “Kalau Grandpa?”


“Nggak,” jawab Robert cepat.


“Berarti malam ini nggak ada yang nyanyi lagu tidur buat Jovin?” tanya Jovin cemberut.


“Apa mommy sering nyanyi buat kalian, Girl?” tanya Rayhan.


“Iya, Daddy. Mommy sering nyanyi buat kami,” jawab Jovin. “Suara mommy bikin ngantuk soalnya.”


“Udah kayak obat bius,” celetuk Jovan mengumpamakan suara Aqilla yang memang semerdu itu. Makanya, Jovin sekarang memiliki suara emas hingga gadis kecil itu sukses meraih banyak piala kejuaraan.


Drrtt.. drrtt...


Jovan melirik ke arah tabletnya yang tergeletak di meja. Ada panggilan dari Aqilla. “Assalamualaikum, Mommy,” kata Jovan mengangkat panggilan.


“Wa‘alaikumsalam. Kok, belum tidur, sih?”


“Em.. ini mau tidur, Mom,” cicit Jovan yang takut Aqilla marah. Pasalnya, wanita itu sangat tidak suka jika si kembar tidur larut malam. Bagaimanapun, Jovan dan Jovin merupakan anak yang dalam masa pertumbuhan. Mereka butuh istirahat yang cukup.


Aqilla menghela napas sejenak. “Jovin mana?”


“Adek sama daddy, Mom,” jawab Jovan melirik Jovin yang duduk di pangkuan Rayhan.


“Taruh tablet di meja, buat posisi tidur, Mommy nyanyiin lagu tidur dari sini.”


Senyum Jovan merekah. Ia buru-buru meletakkan tabletnya di atas meja usai menyalakan mode speaker dengan volume paling full. Lantas dirinya berbaring beralaskan paha Reva dengan kedua tangan terlipat di perut. Jovin pun ikut berbaring berbantalkan paha Rayhan.


“Kami siap, Mommy!” seru si kembar kompak.


Petikan gitar terdengar. Aqilla menyenandungkan sebuah melodi lembut yang benar-benar membuat si kembar mengantuk dalam sekejap. Rayhan, Reva, dan Robert saja sampai terhanyut.


Sesibuk apa pun Aqilla, kedua anaknya akan tetap jadi prioritas. Wanita itu resah sejak perpisahan mereka. Ia takut, kedua bocah itu sulit tidur atau terjadi sesuatu. Itu naluri alamiah dari seorang ibu.


Para pasukan Aqilla yang berdiri di belakang wanita itu sampai terharu melihat perlakuan ibu yang satu ini. Di tengah ancaman perang pun Aqilla tetap memerankan kewajibannya dengan sempurna. Seakan jarak sama sekali bukan masalah bagi keluarga Aqilla.


Lagu berakhir pun petikan gitarnya. Aqilla tersenyum sewaktu Rayhan berbisik bahwa si kembar telah terlelap.

__ADS_1


“Good night, Twins.”


^^^To be continue...^^^


__ADS_2