
“Aqilla, bisa kita bicara sebentar?”
“Soal?” tanya Aqilla agak curiga.
Chelsea tampak gundah ingin berkata jujur. Pandangannya tidak fokus, jemarinya saling meremas di depan paha. “Rayhan,” jawabnya lirih.
“Ray?” beo Aqilla merasa tak suka. Topik pembicaraan semacam ini dengan orang yang berasal dari masa lalu terdengar sedikit sensitif, ya. Apalagi sekarang Aqilla berstatus sebagai calon istri Rayhan. “Ada apa dengan CALON SUAMIKU?” tanya Aqilla dengan penekanan keras di kata ‘calon suamiku’.
Chelsea meneguk salivanya susah payah. Aura intimidasi Aqilla mulai terasa. Pantes aja dia jadi polisi yang ditakuti. Ditatap aja merinding..
“Jangan di sini,” cicit Chelsea melirik sekitar yang banyak memperhatikan keduanya.
Aqilla menghela napas. Ia sadar jika membicarakan ini di sekolah Jovan akan menarik atensi banyak orang. Tetapi, wanita itu terlanjur berjanji akan menemani putranya selama ia bersekolah. Jelas Aqilla akan lebih memilih Jovan daripada Chelsea dong.
“Aku nggak bisa ninggalin anakku. Aku udah janji mau nemenin,” kata Aqilla setenang mungkin.
“Mommy?”
Aqilla menoleh bersamaan dengan Chelsea. Ternyata Jovan sudah berada di samping Aqilla entah sejak kapan. “Hei, Boy, kok, udah keluar? Emang udah istirahat?” tanya Aqilla seraya mengamati sekitar. Masih sepi, anak lain belum pada keluar.
“Jovan izin sebentar sama guru, Mom,” balas Jovan menatap Chelsea tajam. “Apa aunty ini ganggu Mommy?”
Aqilla melirik ke arah Chelsea yang tampak gugup. “Nggak, kok, Boy. Oh, ya, Mommy mau ngobrol sama aunty ini, kamu Mommy tinggal sebentar boleh? Nggak jauh, kok.”
Jovan menaikkan sebelah alisnya. “Ngobrol apa?” tanyanya ingin tahu.
Aqilla mencibir. “Urusan orang dewasa dong,” jawab Aqilla menggoda.
Jovan berdecak. Ia mengerucutkan bibirnya ke depan, kesal karena kalimat mommy-nya benar-benar menyindir hingga ke lubuk hati terdalam. “Ya udah, tapi cepet ke sini lagi, ya.”
“Oke. Kamu masuk sana.”
“Iya, Mom. Hati-hati, ya. Awas, jangan sampe digondol tante girang.”
...👑👑👑...
Selepas mendapat izin dari Jovan, Aqilla menjadi jauh lebih tenang untuk berbicara dengan Chelsea. Di sinilah kedua wanita itu berakhir, di cafe yang tak jauh dari sekolah si kembar. Aqilla cukup berjalan 5 menit untuk tiba di cafe.
Aqilla dan Chelsea duduk saling berhadapan di sudut cafe. Minuman dingin tersaji di meja, jaga-jaga kalau semisal Aqilla butuh pendingin kepala karena topik perbincangan ini.
“Jadi, mau ngomong apa?” tanya Aqilla usai menyedot minumannya.
Chelsea menghela napas berat. Ia memberanikan diri untuk menatap Aqilla langsung. “Aku mau minta sesuatu sama kamu.”
“Minta? Heh, kita akrab aja nggak, ngapain kamu minta sama aku?” heran Aqilla dengan sikap Chelsea yang sangat sok akrab dari awal.
“Aku minta ke kamu karena cuma kamu yang bisa kasih ini ke aku,” balas Chelsea menjelaskan.
__ADS_1
“Emangnya apa yang bisa aku kasih?”
“Rayhan.”
Deg!
Aqilla yang hendak meminum kembali ice chocolate miliknya mendadak terdiam. Sorot mata wanita itu berubah menghunus. Apa barusan dirinya tidak salah dengar? Chelsea ingin Aqilla menyerahkan Rayhan?
Wah, cewek ini nggak waras, anjir!
“Kenapa?” tanya Aqilla serius.
Chelsea menggigit bibir bawahnya gugup. “Aku butuh Rayhan, Qill. Aku membutuhkannya..” jawabnya lirih.
Aqilla berdecak keras. “Kamu pikir Rayhan itu barang yang bisa kamu ambil waktu butuh, terus kamu buang kalo udah nggak guna? Gila kamu,” sindir Aqilla sinis.
“Aku butuh Rayhan untuk jadi ayah dari anakku.” Chelsea masih tidak mau kalah. Wanita itu bersikukuh ingin mendapatkan Rayhan kembali.
“Anakmu doang? Anak-anakku gimana? Ada dua, lho.” Aqilla mengacungkan jari tengah dan telunjuknya, mengingatkan bahwa dirinya adalah ibu dari dua anak. “Lagian suami kamu ke mana? Ngapain harus Rayhan yang jadi ayahnya?”
“Ayah anakku itu Rayhan,” kata Chelsea di luar dugaan.
Lagi dan lagi, Aqilla dibuat tercengang. Sedetik kemudian, ia terbahak-bahak sampai menarik perhatian pengunjung cafe lain. “Kamu serius? Rayhan ngelepas perjakanya sama aku, terus sama kamu-nya kapan?” tanya Aqilla di sela tawanya.
Sebisa mungkin, Aqilla menanggapi Chelsea dengan santai tanpa terbawa emosi. Jika itu terjadi, sudah pasti cafe yang disinggahinya ini akan berakhir naas.
“Buktinya mana?” potong Aqilla mengulurkan tangan dengan telapak ke atas. “Kasih aku bukti kalau anak kamu itu anak Rayhan, baru aku pikirin solusinya.”
Chelsea gelagapan. Kepalanya menunduk dalam, tidak berani menyahuti kalimat Aqilla. Aura wanita di depannya ini kian bertambah dingin, tubuhnya serasa mati rasa di sini.
“Heh, takut? Untung fitnah yang kamu keluarin baru aku yang denger. Kalo nggak, ini bisa jadi tindak kriminal pencemaran nama baik dan aku jeblosin kamu ke penjara,” ancam Aqilla tak main-main. “Lebih baik kamu cari ayah kandung anak kamu sana, minta dia tanggung jawab. Rayhan itu udah punya anak, punya.. ehm, calon istri juga. Jadi, jangan diganggu.”
Ah, kenapa Aqilla jadi salah tingkah ketika menyebut dirinya sendiri calon istri Rayhan? Tubuhnya merinding, sumpah!
Chelsea terdiam di posisi, menatap Aqilla yang mulai menjauh dari radar pandangan hingga keluar cafe. Rencana gagal. Ia tidak bisa membalas lebih dari ini.
Aqilla dan Rayhan adalah pasangan tak terkalahkan. Seandainya seluruh dunia tahu, sudah pasti tidak akan ada wanita ataupun pria yang berani mendekati Aqilla maupun Rayhan lagi.
Pasalnya, Rayhan sendiri dikenal sebagai pebisnis handal dengan sifat dingin yang tak tersentuh. Hanya dengan orang-orang terdekatnya saja lelaki itu akan berubah hangat. Sama seperti Aqilla, dia dikenal sebagai polisi dunia, anggota IAF paling berjasa sepanjang masa. Prestasinya di dunia hukum dan usahanya dalam menegakkan keadilan selalu diberi penghargaan oleh banyak pemerintah di berbagai negara.
Dua orang dengan status seperti itu bersatu, tentu saja keduanya akan menjadi pasangan yang fenomenal.
Apa aku menyerah aja, ya? Tapi, gimana sama Angel? Ayah kandungnya sama sekali nggak mau tanggung jawab.
Chelsea resah memikirkan keadaan putrinya itu. Bagaimanapun sifat Chelsea, jika menyangkut sang putri, ia akan berubah lembut layaknya ibu pada umumnya. Chelsea akan melakukan segala cara agar Angel bisa hidup nyaman. Dirinya ingin bekerja, namun citranya di dunia bisnis maupun hiburan terlanjur buruk. Kalau begini, sulit baginya mencari pekerjaan.
“Apa aku minta bantuan Rayhan aja, ya?”
__ADS_1
...👑👑👑...
Aqilla kembali ke sekolah si kembar dengan perasaan dongkol. Ia tidak habis pikir dengan permintaan Chelsea itu. Benar-benar di luar pemikiran manusia normal!
Heh! Enak aja minta Rayhan! Orang aku-nya aja butuh perjuangan jiwa dan raga buat nerima tuh cowok, dia dengan seenak jidat minta Rayhan! Dikira Rayhan barang apa?! Gila kali!
“Mom!”
“Mommy!”
“Hah? Apa?” seru Aqilla terkejut. Kepalanya menunduk ke bawah, melihat Jovan yang sudah berada di depannya. “Eh, kapan kamu di sini, Boy?”
Jovan mengerutkan dahinya. Pasti terjadi sesuatu sampe mommy nggak fokus kayak gini. Hish! Awas aja tuh aunty jelek!
“Baru aja, kok, Mom. Udah selesai ngobrolnya?” tanya Jovan.
Aqilla mengangguk dan berlutut. “Udah.” Ia mendongak, memperhatikan anak-anak lain yang tengah berlarian di lapangan. “Lagi istirahat, ya?”
“Iya, Mom.”
“Kamu nggak ikutan main?”
“Nggak, ah, males. Kayak anak kecil.”
Aqilla mencibir. “Halah.. tubuh kecil kek gini aja ngerasa besar.”
“Mommy!” kesal Jovan. Aqilla tertawa.
Drrtt.. drrtt..
Aqilla merogoh saku. Ada telepon masuk dari nomor tidak dikenal. Merasa bahwa dirinya tidak pernah memberikan nomor ponsel ke sembarang orang, ia pun mengangkatnya. “Assalamualaikum, halo?”
“...”
Tidak ada sahutan. Namun, terdengar hembusan napas dari seberang.
“Halo? Siapa, ya?” ulang Aqilla.
“...”
“Saya anggap salah sambung. Saya tu—”
“Selamat siang, Aqilla...”
Deg!
Tubuh Aqilla menegang. Kenzie...
__ADS_1
^^^To be continue...^^^