I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 39 | Pesta: Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah datang. Berhari-hari menanti—ah, salah. Si kembar sudah mengharapkan hari ini tiba sejak bertahun-tahun silam. Kesabaran mereka ternyata membuahkan hasil, ya.


Sosok yang tidak pernah Jovan dan Jovin kenal kini siap ditemui. Tidak masalah jika Rayhan tidak tahu soal keduanya, yang penting si kembar bisa melihat sang daddy dari jarak sedekat mungkin. Mungkin saja, kan, nanti mereka bisa dapat pelukan seperti pertemuan si kembar dengan grandpa dan grandma-nya kemarin?


Sebenarnya itu yang mereka inginkan!


Jovan siap dengan tuxedo birunya. Ketampanan lelaki kecil itu bertambah beratus kali lipat. Aura penuh kewibawaan mendadak menguar dari tubuh Jovan.



Abaikan aja, ya, wajahnya. Itu bukan visual Jovan. Tapi, kalo mau bayangin, nih, anak jadi visual Jovan, sih, silakan aja, ya😄—Ay.


He’s so cool. Kesan jail yang dimiliki Jovan hilang seketika.


Jovin tidak mau kalah. Dress biru yang dia kenakan benar-benar membuat kegemasannya meningkat drastis. Apalagi tatanan rambut bergelombang yang digerai dengan hiasan bunga semakin mempercantik sosok gadis kecil itu.



Bukan visual Jovin, ya—Ay.


Untuk hari pula, topeng yang dikenakan si kembar berwarna biru. Hiasan kupu-kupu di topeng Jovin sangat memukau.



Kupu-kupu itulah yang menjadi daya tarik utama di topeng Jovin.


Aqilla sendiri juga mengenakan dress biru. Ketiganya memang kompak mengenakan pakaian bertema biru karena sudah sepakat sebelumnya. Kebetulan Aqilla, Jovan, dan Jovin sama-sama pecinta langit. Dan, kita semua tahu, langit identik dengan warna biru.



Bukan visual Aqilla, ya. Ay lagi nyari cewek matanya ungu, susah!—Ay.


Pokoknya semua serba biru, deh.


Kalau Ely memilih warna lain. Dress warna hijau muda. Gadis itu memang menyukai warna yang mendominasi daun tersebut. Untuk fotonya tidak perlu, kan, ya. Dia, kan, cuma pemeran tambahan—bukan yang utama.


Woy! Pilih kasih lo, Ay!!—protes Ely tak terima.

__ADS_1


“Ready, guys?” tanya Ely yang siap menyalakan mesin mobil.


“SIAP, AUNTY ELY!” jawab Aqilla, Jovan, dan Jovin bersemangat.


Acara penutupan drama ini akan segera dimulai. Tunggu kami, Tuan Muda..


...👑👑👑...


“Aqilla mana, ya?” gumam Reva gelisah yang celingukan ke berbagai arah. Pikiran buruk bermunculan di kepalanya, wanita itu takut calon menantunya itu kenapa-napa di pertengahan jalan. Soalnya, dia, kan, mau memperkenalkan Aqilla ke teman-temannya yang lain, hehe.


“Tenang aja, Mi. Kak Qilla pasti lagi di jalan. Sabar aja,” timpal Jessie santai. Ia duduk tenang dengan sang papi di meja khusus keluarga Refalino, fokus menyantap camilan yang disediakan seraya bersandar manja dengan Robert.


Acara perayaan ulang tahun perusahaan RH Group selalu ramai. Hampir seluruh keluarga besar Refalino hadir untuk memberi ucapan selamat atau sekadar menyapa. Mereka tentu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan relasi kerja yang banyak di sini. Pasalnya, semua tamu undangan yang Rayhan datangkan berasal dari pengusaha-pengusaha ternama juga para pegawai kantornya.


Ini merupakan cara tercepat untuk bisa menarik klien baru.


Rayhan sama gusarnya dengan Reva. Berulang kali lelaki itu menatap ke arah pintu masuk, berharap Aqilla akan segera menampakkan batang hidungnya di sana. Namun, hingga acara hampir dimulai, Aqilla masih belum datang.


“Apa dia nggak datang?” gumam Rayhan mulai pasrah. Lagian ia sadar caranya memberi undangan waktu itu sangat tidak elegan, bukan seperti dirinya. “Alvin,” panggil Rayhan lesu.


“Iya, Tuan Muda?” balas Alvin mendekat. Di tangan lelaki itu ada tablet kesayangan, benda yang selalu dibawa ke mana pun Alvin pergi.


Alvin terdiam. Ia menoleh ke arah pintu sebentar dan mengangguk. “Iya, Tuan.”


“Di mana?” Rayhan berubah antusias.


“Nona Aqilla baru saja masuk, Tuan.”


Rayhan langsung menoleh. Maniknya berbinar melihat Aqilla hadir di tengah-tengah keramaian sembari menggandeng dua tangan mungil di kedua sisi. Jantung Rayhan berdebar tiba-tiba. Melihat kedua anak Aqilla membuat hatinya bergetar tanpa tahu alasannya.


Kenapa rasanya kayak aku pernah lihat mereka, ya?


Rayhan buru-buru menggeleng. Mungkin cuma perasaanku aja.


Rayhan memasang senyum terbaik dan berjalan menghampiri Aqilla. Alvin dengan sigap mengikuti sang majikan. Tugasnya di sini, kan, untuk melindungi tuan mudanya. Padahal, ya, si Rayhan ini punya kemampuan beladiri di atas rata-rata. Buat apa dilindungi lagi, toh?


“Kamu datang, Qill,” ucap Rayhan senang.

__ADS_1


Aqilla tersenyum. Lalu, mengangguk pelan.


Rayhan terperangah melihat paras Aqilla yang terpoles make up tipis. Begitu cantik dan menawan kala senyum wanita itu terukir. Jantungnya yang sudah berdebar semakin cepat pergerakannya. Ini bahaya! Bisa-bisa jantungnya mencelos dari posisi.


Rayhan masih belum ingin pergi dari novel ini. Dia, kan, masih belum merasakan kisah asmara yang dirancang oleh sang author untuk dirinya.


Si kembar yang melihat sang daddy tengah berdiri di depan mereka ikut berbinar. Keduanya seolah tak sabar ingin segera memeluk. Namun, Aqilla kembali mengingatkan ketika genggaman tangan wanita itu kian erat. Jovan dan Jovin pun berubah kalem.


“Salim dulu sama Om Ray, Twins,” pinta Aqilla pada kedua anaknya.


Si kembar menurut. Keduanya menyalami tangan Rayhan bergantian sembari memperkenalkan diri dengan gelagat senatural mungkin. Senyum Jovan dan Jovin sama-sama mengembang.


Dan, interaksi itu dilihat oleh seluruh tamu undangan di sekitar. Mereka bertanya-tanya dalam hati mengenai siapa sosok ibu dengan dua anak yang berada di dekat tuan muda keluarga Refalino. Tidak mungkin, kan, calon istri Rayhan?


Masa iya tipe wanita Rayhan yang seperti itu? Nggak mungkin, kan.


Begitulah pikir mereka.


“Hei, Twins.” Rayhan berlutut, tangannya mengusap pipi Jovin lembut. Sementara Jovan diusap kepalanya. “Kalian manis sekali.”


Jovin tersenyum lebar. “Iya dong. Jovin, kan, si imutnya Mommy Qilla, Om.”


Aqilla tergelak pelan. Ia mencubit sebelah pipi Jovin. Rayhan pun sama tertawa. Rasanya begitu gemas dengan anak perempuan Aqilla yang super duper lucu.


Meskipun Rayhan tahu kedua bocah di depannya ini bukan darah dagingnya, entah kenapa hati lelaki itu ikut menghangat melihat senyum si kembar yang melebar. Apalagi ketika sang kakak, Jovan, meledek adiknya yang terlalu narsis. Lalu, dibalas protesan tidak keterimaan dari Jovin.


Perdebatan yang menggemaskan di mata Rayhan.


“Udah, jangan berantem,” lerai Aqilla. Ia menyentil pelan hidung kedua anaknya.


“Ikut Om, yuk.” Rayhan mengulurkan tangan pada kedua anak itu. Tanpa ragu pun Jovan dan Jovin membalas. Mereka berjalan riang seraya menggenggam tangan Rayhan, daddy mereka sendiri.


“Aqilla!”


Merasa dipanggil, Aqilla membalikkan badan. Maniknya membulat, tak percaya akan bertemu lelaki yang sudah ia lupakan bertahun-tahun lamanya.


Sial! Kenapa, sih, harus ketemu dia di sini?!!

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2