I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 41 | Pesta: Pencari Masalah


__ADS_3

“Jangan ganggu mommy-ku!” ucap Jovan dengan raut dingin.


Glek!


Stevan merinding. Aura yang putra Aqilla keluarkan benar-benar membangkitkan bulu kuduknya. “Nak, Om cuma—”


“SoS signal!” pekik Jovan tanpa diduga.


Jam tangan di pergelangan Jovan berkedip merah. Bagian kaca atas terbelah dan membuka celah. Alat super kecil keluar dari sana, berterbangan mengelilingi Jovan.


Stevan melangkah mundur secara bertahap. Alat-alat tadi mengeluarkan moncong pistol dengan lampu merah yang berkedip, siap menembakkan isi amunisi yang di dalamnya.


“Menjauh dari mommy-ku, atau Om keluar dari sini hanya tinggal nama,” dingin Jovan dengan mata ungunya yang menggelap dibalik topeng.


Aqilla menghela napas berat. Jovan memang selalu seperti ini. Siapa pun yang mengusik dirinya ataupun Jovin, lelaki kecil itu tidak pernah tinggal diam. Jovan pasti bertindak sembunyi-sembunyi. Namun, Aqilla selalu tahu apa saja yang putranya lakukan.


Aqilla pernah melihat Jovan membuat seseorang terkapar di rumah sakit menggunakan alat ciptaan Jovan sendiri. Namun, ketika lelaki kecil itu tiba di rumah, Jovan seketika berubah ceria.


Aqilla jadi sering curiga kalau Jovan punya semacam kepribadian ganda atau alter ego. Perubahan suasana hati Jovan terlalu drastis kecepatannya!


Aqilla mengusap kepala putranya. “Matikan alatmu, Boy,” pintanya lembut.


Jovan mendongak, menatap mommy-nya yang tersenyum dengan sorot teduh. “Iya, Mommy,” jawab Jovan patuh. Ia menekan sebuah tombol di jam tangan miliknya, alat-alat yang berterbangan tadi masuk ke dalam jam hingga tak bersisa.


Inilah salah satu cara Jovan melindungi diri sendiri ataupun orang kesayangannya. Ia menciptakan alat pertahanan yang berguna dengan penyamaran terbaik.


Lihat saja jam tangan Jovan. Terlihat seperti jam pada umumnya. Tapi, kenyataannya memiliki sejuta kemampuan lain yang pasti akan membuat orang lain menganga. Belum juga alat lain yang menempel di tubuh Jovan.


Lelaki kecil itu jangan pernah dipercaya, oke.


“Nona.”


Aqilla dan Jovan menoleh ke arah Alvin yang datang bersama tiga anggota The Refyls. Tangan kanan Rayhan itu langsung berdiri di depan Aqilla beserta anaknya. “Jangan ganggu nona kami,” tutur Alvin mendadak jadi bodyguard untuk Aqilla.


“He?” Aqilla bingung. Nona mereka? Aku?


Stevan hendak maju, namun sorot mata Jovan yang super tajam membuat lelaki itu mengurungkan niat. Dengan perasaan kesal, Stevan pergi dari sana. Aqilla pun jadi lega. Walaupun ia bisa menghadapi Stevan, tapi, kan, ia malas.


Huh, lelaki itu terlampau menyebalkan.


“Terima kasih, Tuan Alvin,” kata Aqilla.


Alvin mengangguk sopan. “Tidak perlu memanggil saya sesopan itu, Nona.”


“Terus?”

__ADS_1


“Anda bisa memanggil saya dengan nama saja.”


Aqilla manggut-manggut. “Baiklah,” balasnya tanpa membantah sama sekali. “Ya sudah, ayo kita kembali.”


...👑👑👑...


“Kakak pergi ke toilet mana, sih? Sampe ke Mesir kali, ya, makanya lama banget,” dumel Jovin kesal. Gadis kecil bersungut-sungut di kursinya. Robert dan Jessie yang duduk mengapit Jovin sampai terkekeh gemas.


Tak lama, Alvin datang menggandeng tangan kecil Jovan. Ia juga membantu Jovan duduk di kursinya semula.


“Terima kasih, Om,” pinta Jovan tulus pada Alvin.


“Kakak! Kakak pergi ke toilet yang ada di Surabaya, ya? Lama banget, sih,” gerutu Jovin sebal.


Jovan memutar bola matanya malas. “Urusan cowok, cewek nggak perlu tau.”


“Ish! Adek, kan, jadi penasaran!”


“Lah? Urusan Kakak apa kalo kamu yang penasaran?”


“Ih! Sebel!”


“Hati-hati. Entar jadi tua, lho,” sindir Jovan sengaja. Jovin seketika melotot, emosinya udah naik sampai ke ubun-ubun.


“Tadi mommy ketemu sama temen lamanya. Katanya, sih, temen SMA. Jadi, Kakak disuruh ke sini duluan,” jawab Jovan sembari menikmati sisa cheesecake miliknya.


“Oh, gitu..” Jovin manggut-manggut.


Rayhan yang mendengar Aqilla kembali sibuk dengan orang lain cuma bisa menghela napas panjang. Hari ini ia benar-benar tidak diberi kesempatan untuk mengobrol berdua dengan Aqilla—sosok yang diam-diam sudah masuk ke dalam hatinya.


Haahh.. apa emang aku sama Aqilla nggak berjodoh?


...👑👑👑...


“Ya udah, aku ke sana, ya.” Ely melambaikan tangan, kemudian menjauh dari Aqilla. Gadis itu memilih untuk bergabung dengan teman-temannya daripada bersama Aqilla. Lagian sahabatnya itu harus segera melangsungkan rencana.


Aqilla kembali menuju tempat duduk keluarga Rayhan. Di sana, selain Robert, Reva, Rayhan, Jessie, Jovan, dan Jovin, ada pria lain dengan setelan jas resmi tengah menggendong balita. Aqilla mengerutkan dahinya melihat aura sekitar yang mendadak mencekam. Mereka lagi cekcok, ya?


Karena kepo, Aqilla mendekat. Pada jarak yang tepat, ia bisa mendengar percakapan mereka. Kedua tangannya terkepal.


Dasar pria tua! Udah bau tanah aja masih belagu!


Aqilla menghirup napas dalam-dalam, lanjut memasang senyum terbaiknya. Kakinya berayun mendekati meja tersebut. “Maaf, saya terlambat.”


Pria itu menoleh dan menatap sinis Aqilla yang terlihat tengah menyapa si kembar. “He, beginikah tipe wanita Anda, Tuan Muda? Seorang janda?” ejek pria bernama Nando. Dia merupakan rival Robert sejak lama, entah dalam bisnis ataupun hal lainnya.

__ADS_1


Aqilla mengerutkan dahinya tak mengerti. Sementara Rayhan mengepalkan tangannya di bawah meja. Sayangnya, dia tidak tahu bagaimana membalas Nando dengan kata-kata. Sepengetahuannya, Aqilla memang janda dan dia menyukainya.


Tapi, apa itu salah? Menjadi janda bukan dosa, kan?


“Mommy,” panggil Jovin dengan tampang polosnya. “Mommy bilang, manusia itu wajib menuntut ilmu, apalagi orang Islam. Bener, kan?”


“Iya, benar,” jawab Aqilla yang tidak tahu arah perbincangan putrinya.


“Tapi, kok, kakek ini nggak keliatan pinter, ya? Mulutnya ceplos-ceplos kayak admin lambe turah. Iya, kan, Kak?”


Jovan mengangguk setuju.


Sontak Jessie membekap mulutnya, menahan tawa karena kalimat Jovin terasa begitu menusuk.


“Apa Kakek nggak pernah belajar di sekolah, ya?” celetuk Jovan menimpali.


Tawa Robert menggema. Benar kata si kembar, Nando terlihat bodoh sekali dengan kalimat-kalimat sindiran itu. Seperti orang yang tidak pernah dididik di sekolah.


Nando menggeram. Pelukannya terhadap balita yang merupakan cucunya sendiri mengerat. “Harusnya saya yang tanya kalian! Apa mommy kesayangan kalian ini menyekolahkan kalian dengan benar, hah?! Benar-benar tidak punya sopan santun!”


Jovin menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Kakek Tua, mommy bilang, hidup itu seperti rumus fisika.”


“Hukum Newton ketiga yang berbunyi, ‘setiap ada aksi, maka akan ada reaksi’,” timpal Jovan.


“Kalau mau dihormati, ya, hormatin orang lain dulu,” sahut Jovin.


“Apalagi kita, kan, anak kecil. Orang TUA harusnya jadi contoh dong,” sindir Jovan terang-terangan.


Makin geram saja si Nando. Apalagi ketika seluruh anggota Refalino menertawainya, emosi Nando naik ke puncak. Bahkan, beberapa orang yang menyaksikan ikut terkekeh pelan. Tentu saja mereka tertarik ingin menonton drama pertengkaran antara Nando dan Robert.


“KALIAN ITU YANG TIDAK PUNYA TATA KRAMA!” sentak Nando marah.


“IBU DAN ANAK SAMA SAJA! IBU NGGAK BENER! ANAKNYA IKUTAN NGGAK BENER!”


“PASTI MOMMY KALIAN, KAN, YANG NGAJARIN BEGINIAN, HAH?!!”


Aura Jovan dan Jovin seketika mendingin. Mata ungu keduanya langsung menggelap. Mereka menatap Nando tajam.


“Kakek Tua bilang apa tentang mommy kami?” ucap Jovan dingin.


Deg!


Ada apa dengan aura anak itu?—batin Nando merinding.


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2