
“Tuan Muda,” panggil seseorang kepada sosok majikannya.
Pribadi yang disebut tuan muda itu hanya melirik sekilas, pertanda bahwa ia mendengarkan.
“Nona Aqilla ada di Indonesia, Tuan.”
Sang tuan muda menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum miring. Ia baru saja mendapat kabar yang mengejutkan hati dan pikirannya. Tidak disangka-sangka, Aqilla akan nekat datang ke Indonesia setelah diberi ultimatum penuh ancaman.
“Sejak kapan?” tanya tuan muda tersebut.
“Satu bulan yang lalu, Tuan,” jawab asistennya.
“Hm, pergilah.”
Asisten itu membungkuk sebentar, baru keluar dari ruang kerja milik tuan mudanya. Sementara yang berada di dalam, lelaki itu masih nampak santai walaupun sebenarnya hatinya sedikit dongkol.
“Aku nggak nyangka kamu akan ingkar janji, La.. kayaknya, peringatan yang dulu masih belum cukup buat kamu.”
...👑👑👑...
Di Jakarta, Indonesia...
Aqilla duduk termenung di ranjang kamar rumahnya sendiri. Ajakan pernikahan dari Rayhan masih terbayang-bayang di kepalanya. Sudah diusir berulang kali, namun tetap tidak ada hasil. Aqilla sampai lelah sendiri.
“Aku tau, ini pasti terjadi,” gumam Aqilla resah.
Dari awal, Aqilla sudah menebak kalau Rayhan pasti akan mengajaknya menikah. Lelaki itu tentu ingin mengikatnya dengan suatu hubungan yang pasti mengingat keduanya terhubung melalui si kembar. Namun, sebisa mungkin Aqilla harus menolak.
Keberadaan Aqilla, Jovan, dan Jovin di Indonesia sangatlah tidak dibenarkan. ‘Orang itu’ pasti sudah tahu pasal dirinya yang telah nekat datang ke negara kelahiran. Hukuman menanti dirinya di masa depan.
Dan, sebelum itu terjadi, Aqilla harus membuat persiapan matang-matang. Jika ada yang harus dikorbankan, maka biar dirinya saja yang melakukan. Demi kedua buah hatinya, Aqilla rela menerima hukuman apa pun dari ‘orang itu’ asalkan si kembar bisa tetap mengukir senyum bahagia.
Aku, kamu, dan anak-anak. Siapa pun pemenang permainan ini, anak-anakku akan tetap mendapat hasil terbaik, Tuan Muda Sialan.
...👑👑👑...
Sementara itu, di sekolah si kembar, Robert dan Reva menanti kedua cucunya di depan gerbang bersama para orang tua yang lain. Mereka sama sekali tidak peduli dengan tatapan bertanya-tanya dari insan lainnya. Tujuan mereka ke sini, kan, untuk menjemput cucu kesayangan, bukan meladeni omongan netizen.
Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh siswa dan siswi dari berbagai kelas berhamburan keluar, mencari orang tua masing-masing. Beberapa di antaranya ada yang membawa kendaraan sendiri, maksudnya sepeda. Robert dan Reva celingukan mencari si kembar.
__ADS_1
“Jovan sama Jovin mana, ya?” tanya Reva kebingungan melihat begitu banyak anak yang berlarian.
“Mungkin belum keluar,” balas Robert seraya menengok ke sana kemari. Tatapannya berhenti di satu objek, senyum pria itu mengembang. “Nah, itu cucu kita!” tunjuknya.
“Grandma! Grandpa!” teriak Jovin riang. Gadis kecil itu berlari ke arah Robert dan Reva, meninggalkan sang kakak yang masih tetap berjalan santai karena tidak mau berdesakan. Jovin menghambur ke pelukan Robert yang sudah berjongkok menyambut dirinya. “Grandpa sana Grandma nunggu lama, ya?”
“Nggak, Cantik. Baru sebentar, kok,” jawab Robert apa adanya. Ia gemas sekali dengan cucu perempuannya ini.
Jovan tiba dengan senyum lebarnya. Ia mengucap salam dan mencium kedua tangan grandpa dan grandma-nya dengan khidmat. Jovin yang sadar ikut mengucap salam, lanjut menyalami Robert dan Reva dengan senyum malu-malu. Bisa-bisanya dia lupa untuk melakukan itu.
“Mommy nggak ada, Grandma?” tanya Jovan menengok sekitar. Aqilla tidak terlihat radar.
“Nggak, Sayang. Grandma, kan, udah bilang ke mommy kalian kalo hari ini Grandma sama Grandpa yang jemput,” jelas Reva mengusap kepala Jovan.
Jovan manggut-manggut saja.
“Daddy masih kerja, ya, Grandpa? Pulangnya jam berapa?” tanya Jovin ingin tahu.
Robert tampak berpikir sejenak. “Biasanya pulang jam 4 sore atau jam 6, Sayang.”
Jovin merengut. Angan-angan makan siang bersama dengan satu keluarga utuh buyar. Padahal, Jovin sudah request pada sang mommy untuk membuatkan menu spesial siang ini karena dirinya ingin mengajak Rayhan datang ke rumah.
“Assalamualaikum, Daddy, ini Jovan.”
Robert, Reva, dan Jovin menoleh cepat. Jovin melongo melihat Jovan langsung bertindak menelepon Rayhan. Lelaki kecil itu tersenyum miring, mengejek adiknya yang mendadak lola.
“Mommy ngajak makan siang bareng, Dad. Daddy bisa nggak?” tanya Jovan dengan senyum penuh makna. Otak cerdiknya sudah menyusun beberapa rencana untuk menciptakan keluarga lengkap secepatnya.
Harus diberi peluang agar segera terlaksana bukan?
“Oh, Daddy bisa? Oke, langsung ke rumah mommy, ya. Kami juga mau ke sana. Daddy tau, kan, rumahnya?”
“...”
“Siap, Dad. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum.”
Sambungan diputus. Jovan tersenyum puas memandang ponselnya yang mati. Ia beralih menyorot adiknya. “Kita makan di luar, yuk,” ajak Jovan.
“Ha? Bukannya kita makan siang bareng mommy sama daddy?” heran Jovin. Robert dan Reva pun sama bingungnya. Ada apa dengan cucu lelaki mereka ini? Kok, berubah cepat sekali?
__ADS_1
“Biar mommy sama daddy makan berdua, Dek. Kita kasih kesempatan sama daddy biar bisa berduaan sama mommy,” jelas Jovan singkat. Hatinya sangat berharap rencananya ini bisa membuat Rayhan dan Aqilla lebih dekat.
Tidak perlu langsung menikah. Pelan-pelan saja, kedua insan itu akan saling membutuhkan dan berakhir saling suka satu sama lain.
Jovin mengacungkan jari jempolnya untuk ide brilian sang kakak. Benar-benar tidak terpikirkan olehnya. Jovin ikut berdoa di dalam hati agar Rayhan dan Aqilla segera bersatu dan mereka bisa berkumpul layaknya keluarga pada umumnya.
“Grandpa, Jovan boleh minta tolong?” tanya Jovan.
“Minta tolong apa, hm?” Robert tidak akan segan memberi bantuan. Ia juga menginginkan putranya segera melangsungkan pernikahan dengan ibu si kembar. Jika sudah begitu, tidak akan ada yang memisahkan mereka lagi.
“Telpon Om Alvin. Om Alvin nggak boleh sampe ikut ke rumah mommy. Nanti malah daddy sama mommy nggak jadi berdua.”
“Permintaan diterima, Pangeran,” goda Robert sengaja.
Jovan mendengkus. “Nggak grandpa, nggak cucunya, semua sama aja. Sama-sama ngeselin.”
...👑👑👑...
Ting tong...
Aqilla mengukir lengkungan manis melihat menu spesial pesanan si kembar telah siap di meja makan. Tanpa melepas celemek yang menggantung, Aqilla bergegas menuju pintu utama. Ia membukanya dengan senyum lebar.
“Hai.”
Aqilla mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, lengkungan di bibirnya mendatar perlahan. Ia menepuk pipinya sekali, memastikan sosok di depannya ini sungguhan tuan muda yang dia kenal. “Sshh.. bukan mimpi,” gumam Aqilla dengan bodohnya.
Rayhan tergelak. Ia tersenyum tampan dan maju selangkah, menipiskan jarak antara dirinya dengan Aqilla. “Kenapa, hm? Kok, kaget?”
“Ray? Kamu di sini? Terus anak-anak mana?” Aqilla berusaha mengalihkan pandangan. Namun sialnya, bola mata Aqilla masih sesekali melirik ke arah Rayhan. Lelaki itu masih mengenakan setelan kantoran. Hanya saja tanpa jas, cuma kemeja yang telah digulung lengannya hingga ke siku.
Kesannya itu, lho, sexy sekali. Aqilla mana tahan!
“Kenapa aku di sini?” Rayhan bertanya pada dirinya sendiri. “Ya karena aku kangen sama kamu.”
Deg!
What?
^^^To be continue...^^^
__ADS_1