I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 103 | Kembali Bersama


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya...


Aqilla termenung di kamar selepas mendengar keseluruhan cerita Kenzie. Berulang kali dirinya menghembuskan napas berat, berusaha mengurangi kecamuk di dada. Sayangnya, itu tidak berguna sama sekali.


Perasaan Aqilla tetap kacau.


Tok tok tokk..


“Qilla? Kamu udah tidur?”


Aqilla melirik ke arah pintu sekilas. “Belum, Ray,” jawabnya.


Ceklekk...


Rayhan mendorong bingkai hingga membuka celah. Lelaki itu masuk ke dalam dan menutup pintu. Bahkan, mengendap-endap mengunci pintu supaya tidak ada yang mengganggu waktu mereka.


“Kenapa, Qill? Kok murung? Harusnya, kan, kamu seneng, orang tua kamu masih hidup,” tutur Rayhan seraya mendekat dan duduk di sebelah calon istrinya. Walaupun masih harus meraih restu dari calon mertua, Rayhan tak masalah. Apa pun yang terjadi, Aqilla akan tetap menjadi teman hidupnya kelak.


Rayhan telah mengklaim Aqilla sebagai miliknya.


Aqilla menggeleng pelan. “Aku nggak tau kenapa. Rasanya.. campur aduk, Ray. Aku seneng, tapi juga.. entahlah, aku bingung jelasinnya,” lirih Aqilla tak mengerti dengan emosi di hatinya sendiri.


Sebelah tangan Rayhan terulur melewati bahu Aqilla, menarik Aqilla ke dalam rengkuhan dan meletakkan dagunya di puncak kepala wanita itu. “Apa pun yang terjadi nanti, kita cukup percaya kalo ini rencana Tuhan yang paling indah. Jovan yang bilang gitu, lho.”


Aqilla tersenyum tipis. Kedua tangannya membalas pelukan Rayhan, melingkari pinggang lelaki itu. Lantas kepalanya mendongak, menatap binar teduh Rayhan yang selalu sukses menggetarkan hati.


Entah siapa yang memulai, bibir kedua insan tersebut menyatu. Saling mengecap satu sama lain, mengais rasa manis yang tertinggal. Li*ah Rayhan beraksi, menelusup ke dalam mulut Aqilla.


“Hmm...” gumam Aqilla merasakan sensasi remang di tubuhnya. Sentuhan Rayhan benar-benar membuatnya terlena.


Pa*utan terlepas. Bola mata ungu berpadu cokelat terang itu saling bersitatap, lanjut mengukir senyum di ranum masing-masing.


“I love you,” bisik Rayhan tepat di depan wajah Aqilla.


Aqilla terkekeh pelan. “Me too.”

__ADS_1


Setelah itu, sesuatu terulang kembali. Dan, kali ini, Rayhan ingin menyimpannya sendiri. Cukup dirinya, Aqilla, dan author saja yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi di kamar Aqilla malam itu.


...👑👑👑...


Seoul, Korea Selatan...


“Hahahaha...” Yuni tiba-tiba tertawa jahat. “YA, AKU PELAKUNYA! AKU YANG NGEBUANG MEREKA DI INDONESIA DULU!”


Suasana menegang seketika. Tidak ada yang menyangka jika sosok Yuni bisa setega itu terhadap keponakan sendiri. Sekalipun tidak ada hubungan darah yang mengikat, namun mereka, kan, satu keluarga. Bagaimana bisa Yuni menjauhkan anak usia 4 tahun dengan orang tuanya?


“YUNI! APA KAMU BILANG?!!” bentak Aquino murka. Cukup sudah! Pria itu tidak akan tinggal diam. Bertahun-tahun bungkam, Aquino sudah tidak tahan dengan kelakuan istrinya yang di luar batas. Istrinya benar-benar keterlaluan!


Yuni menyorot sang suami tajam. “Ya! Aku buang mereka karena mereka terus-terusan hancurin rencanaku! Aku nggak terima! Mereka itu—”


PLAAKK!!


Kepala Yuni tertoleh ke samping. Sensasi panas menjalar dari pipi menyebar ke segala arah. Sebelah tangannya meraba pipinya yang berubah warna kemerahan. Baru saja wanita itu mendapat sebuah tamparan telak.


Spontan Yuni menatap si pelaku tajam. “Kamu—”


Yuni menggeram. Tangannya terangkat ke atas, hendak menampar Kalina balik.


Bugh!


“Oh my! Kakiku kram, Kak!” pekik Aqilla dramatis. Ia menyentuh kakinya yang dibalut celana putih panjang, bersamaan dengan bibirnya yang menyunggingkan senyum mengejek. “Yaaahh.. Bibi jatuh. Sakit nggak?”


Dengan sengaja, Aqilla menendang Yuni yang ingin melayangkan tamparan. Tubuh wanita paruh baya itu sampai terjatuh ke lantai dengan gaya tak elit.


Kenzie yang melihat tingkah bar-bar adiknya cuma bisa geleng-geleng. Ia jadi penasaran, sebenarnya sikap Aqilla ini berasal dari mana? Turunan dari siapa? Ayah atau bunda?


Bukannya marah, Richard tersenyum puas. Pria itu mengacungkan jempol kepada putrinya. Dibalas cengiran tak berdosa dari Aqilla. Cukup seperti itu saja, Kenzie bisa menyimpulkan jika sifat bar-bar adiknya berasal dari pihak ayah.


“Kalian masuk!” seru Kenzie setengah berteriak. Tidak lama, sekumpulan polisi masuk ke dalam. “Tangkap dia!” titah Kenzie menunjuk Yuni yang menahan nyeri di pinggang.


“Apa-apaan ini?!! Lepas! Lepaskan aku! Quino!! Bantu aku!” teriak Yuni meronta-ronta. Ia memberontak kala petugas kepolisian membawa paksa dirinya keluar mansion. Sampai-sampai Aqilla geram sendiri dan memukul tengkuk Yuni hingga pingsan.

__ADS_1


“Nah, kan, gini lebih enak. Bawa sana,” suruh Aqilla.


“Baik, Nona.”


Suasana hening sepeninggalan para polisi. Satu per satu penghuni yang ada di mansion pamit pergi, mereka ingin memberi waktu untuk keluarga kecil Richard yang sempat terpisah tersebut. Kenzie dan Aqilla saling menatap dengan Richard juga Kalina. Seolah hanya dengan menyatukan pandangan, keempatnya bisa menyampaikan rasa masing-masing.


Tiba-tiba Richard merentangkan tangan. “Kamu nggak mau peluk Ayah, Nak?” tanyanya menatap Aqilla.


Aqilla menatap sang ayah haru. Ia melepas topi kebanggaan dan menghambur ke dekapan Richard, sebuah pelukan yang memiliki ribuan rasa. Hangat, nyaman, aman, dan penuh cinta.


“Maaf, maaf, maaf,” lirih Richard mengecupi puncak kepala Aqilla. “Maaf, Ayah udah cari kamu sama Kenzie. Tapi, nggak pernah ada hasil, Nak. Seandainya Ayah lebih berusaha, mungkin kita udah berkumpul dari dulu.”


Aqilla menggeleng dalam pelukan. “Rencana Allah adalah rencana terbaik. Jangan sesali apa yang udah terjadi, Yah. Cukup pikirkan masa depan, jadikan masa lalu pelajaran,” balas Aqilla dengan kalimat yang biasa ia ajarkan kepada si kembar.


Richard tersenyum. Walaupun tanpa bimbingan, kedua anaknya tumbuh dengan baik. Ia bangga memiliki putra-putri yang hebat seperti Aqilla dan Kenzie.


Kalina dan Kenzie hanya memperhatikan dengan posisi Kenzie memeluk bundanya. Keluarga mereka sudah lengkap sekarang. Segala rasa, rahasia, dan niat telah terlaksana. Kini, mereka cukup menanti akhir cerita sesuai dengan apa yang Tuhan rencanakan.


“Tunggu bentar.” Mendadak Aqilla melonggarkan rengkuhan. “Kok Ayah sama Bunda tau nama kami?” tanyanya bingung.


Kalina terkekeh bersama Richard. “Bryan Kenzie Jonesa sama Alzena Aqilla Jonesa, itu nama yang kami kasih, Nak,” jawab Kalina menuntaskan rasa penasaran putrinya.


“Kalo nama kami sama, kenapa Ayah sama Bunda nggak bisa nemuin kami?” tanya Aqilla lagi. Berbeda dengan sebelumnya, Richard dan Kalina terdiam. Keduanya tidak memiliki jawaban yang tepat untuk kalimat tanya satu ini.


“Oh, Kakak yang sembunyiin data kita, La,” sahut Kenzie tiba-tiba. “Kakak pikir, Ayah sama Bunda bisa selesain masalah di sini sendiri. Setelah semua selesai, Kakak berniat bawa kamu ke sini. Eh, Ayah sama Bunda malah hampir kalah sama si uler keket itu.”


“Lagian, kalo mau ke sini, kita harus pastiin kalo kita bener-bener kuat. Bisa-bisa si bibi malah manfaatin kita atau singkirin kita lagi nanti,” tambah Kenzie masuk akal.


“Terus, Kak—”


“Ekhemm...”


“Bagian kami kapan, sih, sebenarnya?”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2