I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Bonus Chapter 5


__ADS_3

Satu minggu mendapat perawatan terbaik, Aqilla diizinkan pulang. Dijemput langsung oleh sang suami juga kedua anaknya, Aqilla didorong menggunakan kursi roda atas permintaan Rayhan. Ketiga bayinya digendong oleh Rayhan dan Aqilla sendiri. Mereka juga membawa stroller khusus jika kesulitan nanti.


“Baby Rora gemes banget, Mom,” kata Jovin mengecup pipi adik pertamanya yang fokus menatap Aqilla.


Aqilla tersenyum saja. “Gemesin, kan? Anak siapa dong?” bangganya.


Jovan berdecih. Namun, tak urung mengiyakan dalam hati. Adik-adiknya benar-benar menggemaskan.


Iya, gemesin karena masih bayi. Nanti kalo udah agak besaran, pasti repotin.


Tiba di mansion Refalino, orang-orang yang hadir menyambut kedatangan bayi triplets. Apalagi Reva dan Kalina, kedua wanita ini yang paling heboh. Dua bayi di gendongan Aqilla langsung diambil alih.


Seluruh keluarga besar hadir. Tidak perlu disebutkan, kita tahu mereka siapa saja.


...🎊 Welcome Baby Triplets 🎊...


Oh, ya. Nama baby triplets-nya yaitu,


Aurora Haqill Refalino


Aurelia Haqill Refalino


Alaska Haqill Refalino


Triplets A. Haqill → Rayhan Aqilla.


“Cucu Grandma.. ululu..” kata Reva menimang Alaska yang akan dipanggil Aska. Bayi laki-laki itu mengerjap-ngerjapkan mata, melirik ke sana kemari. Bola mata ungunya begitu jernih, tampan tanpa dosa.


“Daddy, Jovin mau gendong Dede’ Rere,” rengek Jovin menunjuk-nunjuk Aurelia yang berada di pangkuan Rayhan.


Rayhan beralih menatap mami dan bunda, meminta persetujuan. Pasalnya, ia kurang yakin jika Jovin bisa menahan bobot Rere. Takutnya nanti jatuh.


Tidak sesuai bayangan, Kalina memperbolehkan. Wanita itu mengajari Jovin cara menggendong bayi dengan benar, namun harus dalam posisi duduk, Jovin tidak diizinkan berdiri. Gadis berusia 8 tahun itu memekik senang melihat Rere dalam pangkuan.


Rere nampak diam, mengamati Jovin selama beberapa detik. Lanjut tersenyum lebar dengan mata menyipit.


“Iih.. Rere senyum, Oma,” kata Jovin senang.


“Dia pasti seneng digendong sama kakaknya,” balas Kalina semakin memperlebar senyum Jovin.


Aurora atau Rora sendiri sudah terlelap di box bayi setelah mendapat jatah ASI. Box bayi dengan desain mewah didatangkan dari Singapura, khusus untuk ketiga anggota baru keluarga Refalino. Bermacam-macam hadiah menumpuk di kamar, entah dari keluarga ataupun klien yang sudah mengetahui perihal kelahiran baby triplets.


“Nanti kalo udah besar, Kakak ajak kamu main sama-sama, ya,” pinta Jovin senang.

__ADS_1


“Nanti Abang ajarin main komputer,” sahut Jovan tak kalah antusias. “Nanti Aska belajar beladiri juga biar bisa lindungi mommy sama yang lain.”


“Wih, nama Mommy disebut,” kata Aqilla menaik-turunkan alisnya.


Jovan terkekeh, tidak mengelak ledekan sang mommy. “Iya dong. Harus bisa jaga Mommy nanti.”


“Iya. Harus bisa jaga Mommy,” sambung Rayhan dengan senyum tampannya.


...👑👑👑...


Satu tahun kemudian...


“Rere, jangan main itu. Nanti pecah,” kata Rayhan mencegah Aurelia mengambil vas. Lantas dirinya menjauhkan benda itu dari jangkauan putrinya.


Rora, Rere, dan Aska sekarang berusia 1 tahun, masa di mana mereka sedang aktif-aktifnya—hiperaktif sekali. Bahkan, ketiganya sudah bisa duduk dan merangkak. Saat ini dalam masa belajar berjalan.


Rere tersenyum lebar. Menggunakan kedua tangan dan kakinya, batita itu merangkak mendekati daddy-nya. “Dii.. dii..”


“Iya, Sayang.” Rayhan membawa Rere ke pangkuan usai mengecup keningnya.


Hidup lelaki itu berubah total. Bukan lagi penuh cemoohan, namun canda dan tawa dari istri juga anak-anak. Aqilla benar-benar membawa warna baru di kehidupan Rayhan. Apalagi Jovan, Jovin, Rora, Rere, dan Aska. Senyum merekalah yang menjadi penguat Rayhan kala lelah.


“Sayang, aku titip Rora juga, ya.” Aqilla datang membawa Aurora. Batita itu baru saja selesai dimandikan. Aurelia juga sudah, kok. Karena Aqilla ingin memandikan Alaska, makanya Rora dan Rere dititipkan pada Rayhan. Ini, kan, akhir pekan.


“Abangmu mana, Kak?” tanya Rayhan seraya meladeni Rere.


“Abang di kamarnya, Dad. Nggak tau lagi ngapain.” Jovin menjawab sembari menggelitiki Rora.


Rayhan manggut-manggut. Ia paham betul dengan kegemaran putranya. Pasti sedang merakit alat. Lelaki yang sekarang berusia 9 tahun itu bertambah mirip dengan Rayhan.


“Dii.. dii..” Rere menyerahkan potongan mainan puzzle-nya kepada Rayhan. Lanjut menggerakkan kedua tangannya heboh sambil berteriak senang.


Rayhan tergelak. Entah apa yang membuat putrinya senang, lelaki itu turut bahagia.


Tidak lama, Aqilla dan Alaska menyusul. Bocah laki-laki itu terlihat tampan dengan pakaiannya ditambah senyum lebar. Kaki dan tangan Aska bergerak semangat, sebanding dengan senyum cerahnya.


“Hei, anak Daddy ganteng banget, sih,” gemas Rayhan mengulurkan dua tangan, hendak mengambil alih Aska dari Aqilla. Batita itu menurut. Ia menyambut tangan Rayhan dengan sukacita.


“Dii.. dii...” oceh Aska yang dilanjut dengan bahasa bayinya yang berbunyi, “tatata.. baba..”


“Kamu ngomong apa, sih?” bingung Rayhan.


“Aska minta diambilin mainan warna biru, Dad.” Jovan menyahut. Lelaki itu masuk dengan gaya cool, tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Walaupun begitu, senyum Jovan tidak akan pudar. Ia tumbuh menjadi sosok yang ramah.

__ADS_1


“Abang tau dari mana?” tanya Aqilla curiga.


Jovan mengerutkan dahi. “Kan, Aska yang bilang, Mom.”


“Tatataata... bubu.. tatata..” oceh Aska girang.


“Tuh, Aska ngeluh laper. Belum Mommy kasih makan, ya?” tuduh Jovan berlagak tahu apa yang dikatakan adik bungsunya.


“Iya, sih, Mommy belum kasih makan,” gumam Aqilla membenarkan. “Ya udah, deh, Mommy mau—LHO?! ABANG BISA BAHASA BAYI?!!”


Jovan nyengir. “Bisa, kok, Mom. Gampang.”


“Heh?! Kok bisa?!” seru Aqilla tidak terima. Dia yang ibunya saja butuh waktu untuk memahami maksud putra-putrinya. Tapi, Jovan bisa menebak dengan mudah.


Jovan mengedikkan bahu. “Entah. Udah bisa dari awal, kok.”


Rayhan yang mendengar sedikit syok. Namun, ia mengusir jauh-jauh perasaan itu. Senyum bahagia kembali terukir di bibirnya kala melihat perdebatan antara istri dan putra sulungnya.


Suami dari Aqilla itu mengedarkan pandangan, menyorot satu per satu anggota keluarganya. Pemandangan yang dulu ia pikir hanya akan menjadi angan-angan, bukan realita, kini terpajang di hadapan. Bahkan, dirinya di sini bukan sebagai penonton, melainkan pemeran utama.


Terima kasih untuk segala pemberian-Mu, Ya Allah.. Hamba janji, hamba akan menjaga titipan dari-Mu sebaik mungkin—batin Rayhan penuh haru.


“Thank you for everyone yang udah mau baca kisah kami. Terima kasih buat kalian yang kasih like and sering comment,” ucap Rayhan dengan senyum tampannya.


“Hayoo, guys, komen ILY TM season 2 yang banyak! Biar didengar suara kita sama si author, hehe.” Aqilla menyeringai lebar.


“Makasih, Aunty, Uncle, Kakak-Kakak cantik dan ganteng yang mau baca kisah ini. I lope you..” seru Jovan dan Jovin kompak.


“TATATATATATATAAAAAA......” sahut Rere antusias.


“BUBUBUUU...” sahut Aska.


“Daaaa...” Rora melambaikan tangan.


^^^– Bonus Chapter 5 Finish –^^^


...👑👑👑...


Halo semuanya. Kita sudah sampai di akhir cerita. Novel ini sudah tamat.


Aahh.. rasanya nggak rela, deh. But, kalo kepanjangan, ceritanya bakalan bosen nanti. So, sampai di sini aja, ya.


Mau season 2? Mau kisah siapa? Jovan sama Jovin, kah? Komen yuk!

__ADS_1


See you di lapak lainnya😄


__ADS_2