
“Oh, itu. Laptopnya mulai lemot, Nak. Jadi, Paman buang saja. Paman sudah beli yang baru.”
“Jadi, laptopnya udah nggak dipake, kan?” tanya Kenzie antusias.
“Iya. Memangnya kenapa?”
“Apa boleh buat saya saja, Paman?”
“Hah..?” Pria itu memandang Kenzie aneh. “Kamu mau laptop rusak itu?”
Kenzie mengangguk berkali-kali. “Iya, Paman. Boleh, kan?”
“Boleh aja, sih. Saya, kan, sudah buang,” gumam pria itu. Namun, suaranya masih bisa didengar oleh Kenzie. Bocah kecil itu memungut kotak tadi tanpa ragu. Usai mengucapkan terima kasih, Kenzie pergi dari sana. Pria tadi cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah anak 7 tahun itu.
“Anak jaman sekarang..”
...👑👑👑...
Tiba di panti asuhan, Kenzie mengobrak-abrik isi kotak. Senyumnya melebar melihat laptop berwarna silver dalam kondisi bagus berada di dalamnya. “Orang kaya emang hobinya buang-buang uang,” decak Kenzie keheranan.
Nanti kalo aku jadi orang kaya, aku nggak akan buang-buang uang kayak paman itu. Rusak dikit, kan, bisa dibenerin.
Aqilla keheranan melihat kakaknya duduk di lantai dengan laptop di pangkuan. “Kakak, itu punya siapa?”
“Punya Kakak dong,” jawab Kenzie sok sombong. Ia menaik-turunkan alisnya, menggoda sang adik yang mendengkus sebal.
“Kakak beli? Bukannya laptop mahal, ya?”
“Kakak dikasih.” Kenzie bicara tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop barunya. “Tadi ada paman-paman yang buang laptop ini karena rusak. Kakak minta aja, deh.”
“Kalo rusak, ngapain diambil? Kan, nggak bisa dipake,” heran Aqilla. Sekolah mereka memang mulai mengajarkan hal-hal berbau teknologi. Kakaknya ini merupakan salah satu siswa yang antusias mempelajari itu.
Bahkan, saking sukanya dengan teknologi masa depan, Kenzie masuk ke dalam ekstrakurikuler IT. Lelaki kecil itu diajarkan apa saja kegunaan, fungsi, dan bagaimana kinerja alat-alat canggih.
“Kakak mau coba perbaiki kalo bisa,” cetus Kenzie tanpa diduga.
__ADS_1
Aqilla sedikit ragu. Walaupun sudah dipelajari di sekolah, bukan berarti keduanya menjadi sangat memahami hingga tahu seluk-beluk rangkaian komponen laptop. Namun, yang Aqilla bisa lakukan saat ini hanyalah memberi dukungan kepada sang kakak.
...👑👑👑...
Satu minggu, satu bulan, hingga tiga bulan kemudian, Kenzie disibukkan dengan laptop itu. Setiap pulang sekolah, Kenzie akan berkutat dengan laptopnya. Aqilla sampai kesal sendiri karena waktu mainnya bersama sang kakak jadi sangat berkurang.
Aqilla melihat Kenzie membongkar totalitas laptop itu. Katanya, ia mau merakit ulang dengan desain dan rangkaian baru. Aqilla juga sering melihat Kenzie berkeliling mencari barang-barang elektronik yang terbuang; seperti ponsel, laptop, atau mungkin televisi.
Lumayan banyak orang kaya yang melakukan itu. Mereka menganggap barang yang sudah lama atau rusak bisa diganti dengan yang baru. Untuk apa repot-repot memperbaiki.
Penantian panjang dan usaha tanpa batas itu usai. Berbekal ilmu dari guru-guru di sekolah yang Kenzie tanyai secara langsung, lelaki kecil itu berhasil merakit ulang laptop dan beberapa alat lainnya menjadi alat baru. Bentuknya jadi seperti tablet, tipis layaknya ponsel.
Senyum Kenzie mengembang. Buru-buru ia menghampiri sang adik untuk memberitahu penemuannya. Tidak tahu apakah alat itu berfungsi atau tidak, Kenzie ingin menunjukkannya lebih dahulu. Namun, yang ia dapat malah hal lain.
“Kamu kenapa, La?” tanya Kenzie sendu. Aqilla mengacuhkannya. Adiknya itu sama sekali tidak mau melihat ataupun berbicara satu patah kata pun.
“Lala nggak pa pa,” jawab Aqilla datar. Sejatinya, sepasang manik gadis kecil itu berkaca-kaca. Ia rindu masa di mana kakaknya menggendongnya, lalu diajak berkeliling panti asuhan. Atau rutinitas keduanya yang bernyanyi di jalan untuk mendapat uang.
Namun, karena terlalu fokus dengan dunianya, Kenzie mengabaikan Aqilla. Tanpa sadar, lelaki kecil itu membuat sang adik terluka.
Kenzie sadar, ia salah. Berhari-hari ke depan, lelaki kecil itu mencoba membujuk. Ia membuatkan sarapan spesial (maksudnya dengan lauk telur ceplok), mengajak adiknya jalan-jalan, dan pergi ke taman di akhir pekan. Aqilla memaafkan pada akhirnya. Namun, sikap Aqilla berubah. Tidak seceria dulu. Sekarang adik Kenzie itu hanya bicara seperlunya.
Demi apa pun itu, Kenzie merasa bersalah. Ia melupakan alat barunya dalam sekejap. Tidak peduli jika benda itu akan rusak dimakan waktu. Dunia Kenzie hancur melihat adiknya sering mengacuhkannya.
Aqilla lebih sering bermain dengan teman baru, meninggalkan Kenzie sendirian di panti asuhan. Lelaki kecil itu sedih karena sekarang dirinya bukan prioritas bagi sang adik.
Malam itu, Kenzie mengambil semua barang-barang yang telah dipungutnya ke dalam kardus. Ia berniat membuang semua alat-alat itu. Belum sempat niat itu direalisasikan, Aqilla mencegah sang kakak.
“Kenapa dibuang? Bukannya Kakak udah susah-susah buatnya?” heran Aqilla.
Kenzie menatap Aqilla dengan bola mata bergetar. “Kakak lebih milih buang semua ini daripada dijauhin sama Lala. Sekarang Lala jarang main sama Kakak. Kakak, kan, udah minta maaf.”
“Lala main sama orang lain karena nggak mau ganggu Kakak,” balas Aqilla mengeluarkan isi kepalanya. “Kakak buat aja, Lala nggak pa pa.”
“Tapi, kan—”
__ADS_1
“Lala nggak main sama Kakak bukan berarti Lala marah atau ngambek. Lala tau, Kakak lagi usaha. Lala cuma nggak mau ganggu aja, makanya Lala main sama yang lain.” Aqilla tersenyum lebar. “Jangan buat usaha Kakak tiga bulan ini berakhir sia-sia dengan buang semuanya, Kak. Bisa aja, kan, ini jadi awal buat Kakak biar bisa dapat uang.”
...👑👑👑...
Hubungan kakak-beradik itu kembali menguat. Aqilla mendukung penuh Kenzie untuk merakit alat-alat canggih itu. Ia tahu, itu merupakan kesukaan kakaknya. Aqilla tidak akan menghalangi. Ia akan menjadi orang yang terus mendorong Kenzie agar saudara kembarnya itu bertambah sukses.
Alat telah diuji coba. Setelah melalui proses perbaikan yang berulang-ulang, alat pertama Kenzie berhasil dicetuskan. Dengan program aplikasi tambahan dan beberapa fungsi lainnya yang tidak ada di laptop biasa, alat itu sukses menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kenzie. Aqilla turut senang melihat keberhasilan sang kakak.
Tanpa keraguan sama sekali, Kenzie mendatangi sebuah perusahaan diam-diam—tanpa sepengetahuan Aqilla. Ia memohon agar bisa bertemu dengan CEO di sana. Perusahaan itu bergerak di bidang IT, hasil rekomendasi sekolah yang memang menyarankan Kenzie untuk memperkenalkan alat ciptaannya ke perusahaan.
Resepsionis di sana melarang dengan tutur kata halus agar tidak menyakiti perasaan anak sekecil Kenzie. Namun, lelaki kecil itu kukuh ingin bertemu sang CEO.
“Ada apa ini?”
^^^To be continue...^^^
...👑👑👑...
Halo, Ay udah lama nggak sapa kalian.
Gimana flashback cerita Aqilla sama Kenzie? Kesannya agak mengada-ada, ya? Apa ada yang berpikir ‘masa anak sekecil itu bisa ngelakuin itu semua, sih?’ kayak gitu nggak?
Kalo ada, Ay maklumi, kok.
Bukan mengada-ada. Alasan kenapa anak-anak Aqilla sama Kenzie bisa segenius itu karena memang orang tua mereka punya kapasitas otak yang jauh di atas rata-rata. Kepintaran itu menurun sama anak-anak mereka.
Ditambah lagi, Aqilla punya anak sama Rayhan (yang juga genius karena putra sulung dari keluarga Refalino). Jadi, Jovan sama Jovin bisa sepintar itu walaupun masih kecil. Gen genius Aqilla sama Rayhan menyatu sempurna di tubuh si kembar (Jovan sama Jovin). Jadi, kesannya jadi lebih masuk akal kalau anak sekecil itu bisa segenius ini karena turunan dari kedua orang tuanya, bukan cuma salah satu aja.
Arven sama Kia nggak kalah pintar, kok. But, cerita ini fokusnya ke keluarga kecil Rayhan sama Aqilla, ya. Jadi, kisah Kenzie sama Alysa hanya pemanis saja.
Lalu, kenapa karakter Aqilla sama Kenzie Ay buat segenius itu? Kenapa Kenzie bisa ciptain alat di umurnya yang ke-7 dengan kondisi keuangan yang minim?
Alasan kenapa Kenzie dan Aqilla bisa genius akan diterangkan di chapter-chapter selanjutnya. Masih banyak rahasia yang belum diungkapin di cerita ini. Tetep tunggu, ya.
Terus, alasan Kenzie bisa nyiptain alat di umur sekecil itu dengan keuangan yang minim karena emang dia dasarnya udah pintar. Plus, Ay sering banget liat orang-orang kaya atau minimal yang perekonomian stabil suka buang-buang barang. Ay cantumin, deh, di sini. Itu beneran ada, lho, yang buang laptop cuma karena kegores. Relate banget sama dunia nyata. Heran Ay mah. Kenzie di sini cuma memanfaatkan keadaan aja.
__ADS_1
Duh, panjang banget curhatnya. Udahan, ya. See you di chapter selanjutnya:)