I Love You Tuan Muda

I Love You Tuan Muda
Chapter 64 | Aksi si Kembar


__ADS_3

Ddoorrr!


“Aaaaa...!!” Seluruh siswa-siswi berlarian karena ketakutan. Ada lima orang berpakaian hitam keluar dari sebuah mobil sambil menodongkan senjata api. Memangnya siapa yang tidak akan takut kalau situasinya seperti ini?


Hm, mungkin twins saja yang tidak takut, ya. Kedua bocah itu terlihat tenang-tenang saja dari tadi, cenderung tidak peduli malah. Jovan dan Jovin tengah memakan permen lolipop sembari bermain ayunan.


“Hei, kau, Bocah!” seru salah satu pria menunjuk ke arah si kembar.


Jovan dan Jovin menoleh dengan alis mengerut. “Iya, Paman, ada apa?” sahut mereka polos.


Hal tersebut sontak menimbulkan senyum remeh. Pikir mereka, anak sekecil Jovan dan Jovin ini terlihat sangat polos. Pasti mudah ditipu bukan?


“Ayo cepat ikut kami!” perintah pria itu galak.


Jovin menggeleng cepat. “Mommy bilang, kami nggak boleh ikut sama orang asing, Paman. Gimana dong?”


Pria itu berdecak. Kalimat bernada super lugu itu benar-benar membuat jiwa lain dalam dirinya bergejolak. “Cepat ikut! Kalau tidak, aku akan menembak wanita itu!” ancamnya menodongkan pistol pada salah satu guru yang berdiri cukup jauh.


Guru yang ditodong membeku di tempat. Tubuhnya lunglai, sulit digerakkan. Ia kalut memikirkan jika salah satu timah panas itu merasuk ke dalam tubuhnya. Pasti sangat sakit.


“Iya, Paman, kita ikut,” kata Jovan pasrah. Lagian lebih baik seperti ini. Keduanya sama-sama tidak ingin jika ada pertumpahan darah di daerah berbau ilmu ini.


Lantas, tanpa memberontak sama sekali, si kembar masuk ke dalam mobil. Mereka pun pergi dari sana menuju suatu lokasi.


Sementara itu, sepeninggalan para penculik tadi, salah satu guru yang merupakan wali kelas Jovan dan Jovin segera menghubungi ayah si kembar. “Halo?” sapa guru panik.


“Maaf, Nona. Tuan muda kami sedang rap—”


“TUAN! TOLONG!”


...👑👑👑...


Aqilla memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari posisi mobil penculik. Saat ini, dirinya tengah berada di tengah hutan. Di depan sana, ada sebuah bangunan kecil yang terbengkalai, kumuh dan hampir roboh, terakhir pun ada mobil para penculik tadi.


Hei, apa anakku ada di dalam? Iuhh.. pasti Jovin nggak betah tuh.

__ADS_1


Jika kalian mengira kalau Aqilla datang untuk menolong, maka buang jauh-jauh pemikiran itu. Aqilla datang hanya untuk menonton adegan seru, bukan membantu sang anak terbebas dari jeratan penculik.


Dia ini memang ibu yang terlampau unik bin ajaib.


Aqilla memanjat pohon dengan cepat, lalu duduk di salah satu dahan yang kokoh. Dari posisi itu, ia bisa melihat ke dalam bangunan melalui jendela kaca yang sedikit kusam. “Oke, kita lihat, apa beladiri anak-anakku meningkat atau nggak.”


Heran, sih, sama Aqilla. Bukannya bantuin, malah santai-santai aja.


Sementara itu, di dalam bangunan...


Jovan dan Jovin duduk manis di hadapan para penjahat. Tidak seperti kebanyakan anak kecil, kedua bocah itu hanya diam, tidak merengek sama sekali. Para penculik itu pun menjadi lebih tenang. Sebelumnya, mereka berpikir akan berurusan dengan bocah manja yang suka rewel.


Percayalah, mengurus mereka itu perlu perjuangan keras.


“Paman, mau main sama kita tidak?” tanya Jovin dengan aksen menggemaskan.


Para pria itu berdecih. “Lebih baik kalian diam saja! Tidak usah banyak bicara!” bentak salah satu pria.


“Ish, Jovin, kan, cuma mau ngajak main doang,” sungut Jovin dengan bibir mengerucut.


“Kami ini bukan anak kecil!” balas pria 4.


“Heh, bocah! Tutup mulut kamu, ya!” bentak pria 1 mulai kehabisan sabar. Sebelah tangannya melayang, hendak menampar pipi Jovan.


Sayangnya, belum berhasil menyentuh Jovan, tangan pria 1 sudah lebih dulu terpental ke arah lain. Sontak kelimanya menatap ke satu arah dengan sorot tak percaya. Baru saja, Jovin menendang tangan pria 1 dengan keras sampai si empunya terhuyung.


“Jangan sentuh kakakku,” ucap Jovin dingin. Aura yang gadis kecil itu keluarkan membangkitkan bulu kuduk. Aura yang rasanya sama persis seperti milik Aqilla.


Benar-benar keturunan seorang Alzena Aqilla Jonesa.


“H–hei, ka–kamu.. aku tidak menyentuh kakakmu, kok,” bela pria satu merinding sembari melangkah mundur.


Jovin menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Tapi, kalian udah menculik kami. Pasti mommy sama daddy kami khawatir di rumah. Dan, Jovin tidak suka melihat mommy sama daddy sedih, apa kalian tahu itu, hah?!!”


Jovan memutar bola matanya jengah. Jovan yakin demi sekotak donat keju, mommy-nya pasti bodo amat sama kami. Mommy pasti lagi santai-santai aja sekarang.

__ADS_1


Tanpa menanti pergerakan apa pun lagi, Jovin menerjang kelima pria tadi. Ia melompat ke atas, lanjut menendang salah satu pria hingga terpental ke belakang menubruk dinding.


Jovan di posisi tidak diam saja. Menggunakan jam tangan ciptaannya, lelaki kecil itu mengendalikan sepatu Jovin agar adiknya itu bisa melayang di udara dan lebih leluasa menghajar para penculik. Huh, kalo ada tablet Jovan, pasti lebih mudah.


Sepuluh menit...


Dua puluh menit...


Dua puluh tiga menit, kelima pria tadi terkapar di tanah dalam kondisi tidak sadar—alias pingsan. Jovin tersenyum remeh menatap para penculiknya itu. “Badan besar, tapi otot lemah. Cemeenn...” ejek Jovin.


Jovin berbalik, lalu tersenyum lebar menatap Jovan. “Kakak! Adek keren tidak?” tanyanya seraya memeluk tubuh Jovan yang sama kecilnya dengan dirinya.


Jovan mengangguk heboh. “Adek Kakak emang yang terhebat,” pujinya tulus.


Lengkungan di bibir Jovin kian melebar. Keduanya melompat-lompat bersama, merayakan kebebasan mereka. Udah kayak dikurung bertahun-tahun aja sampe dirayain segala.


Braakk!


“Jovan! Jovin!”


Merasa dipanggil, si kembar menoleh. Keduanya tersenyum cerah melihat sang daddy hadir dengan raut khawatir yang kentara. “Daddy!” seru Jovan dan Jovin bersamaan.


Si kembar berlari memeluk Rayhan yang sudah berlutut dan merentangkan tangan. Lelaki itu menghela napas lega karena kedua anaknya baik-baik saja, tidak ada lecet sama sekali. “Are you okay, Son, Girl?” tanya Rayhan memastikan.


Jovan mengangguk. “Kami baik, Daddy,” jawabnya yang mengerti kekhawatiran Rayhan.


Rayhan tersenyum. Lanjut mengecup kening putranya dan mencium pipi putrinya. Paras Rayhan beralih menatap kumpulan pria yang tergeletak di tanah. Wajah kelimanya terhiasi banyak memar dan darah.


“Mereka kenapa, Twins?” tanya Rayhan ingin tahu.


“Jovin udah kalahkan mereka semua, Daddy,” sahut Jovin bersemangat.


“Oh..” Rayhan manggut-manggut. Tiga detik kemudian, sepasang mata lelaki itu membulat menyadari maksud ucapan putrinya. “Kamu yang kalahin, Girl?”


Jovin mengangguk. “Iya dong. Gimana? Keren, kan, Daddy?”

__ADS_1


Rayhan tersenyum paksa. Kemampuan apa yang kamu turunin sama anak kita, Aqilla...


^^^To be continue...^^^


__ADS_2