
"Calista...come with me honey.." rayuan maut sang serigala.
Calista mencoba menutup telinga..
tak ingin terpengaruh.
"fokus...fokus aku harus fokus ...."batin Calista berusaha menenangkan diri.
"Astaga...
mengapa semakin banyak yang mati manusia serigala itu , semakin banyak pula mereka datang ." tertegun.
Calista tak ingin memberitahu dan membuat seisi rumah panik.
ada rasa takut , entah mengapa.
Kebiasaan Calista jika merasa tak nyaman ia akan menggenggam sambil memutar - mutar jari nya .
Hal itu terlihat oleh sang mama. ia tahu jika sang anak mulai ketakutan.
"Miss dan om tentara ayo , kembali siram ." setengah berbisik Calista ke Miss Tety dan tentara yang memegang kendali Drown.
Hanya dibalas anggukkan kepala.
Drown kembali terbuka dan menyiram para serigala itu. terlihat banyak berjatuhan mereka mati dan lenyap menjadi abu kemudian ditiup angin.
Semakin sering menyiram , semakin banyak yang datang.seperti tak ada habis nya.
Melihat itu seisi rumah semakin merinding , ketakutan....
dan berfikir kapan habis nya.
"Kalau begini terus , minyak itu akan habis Calista ." bisik Miss Tety.
Mendengar ucapan Miss Tety , Calista pucat dan berkeringat dingin.tapi ia hanya diam tak ingin memberitahu kedua orang tua dan seisi rumah .
"Huuufff.....
terasa jam sangat lamban berjalan ." batin Calista melirik jam di dinding.
"Kita berdoa lagi ..." tiba - tiba Agnes berbicara.
dibalas anggukan semua.
Baru akan mulai berdoa.
Tiba - tiba .
Bruak...
"To...tolong..tolong." jerit salah satu tentara yang berdiri didepan pintu pagar.
ia berusaha berontak , tapi seperti nya kekuatan serigala yang menyerupai bibi itu lebih kuat dari tentara itu
"Bibiiii...." jerit Calista, Aldi , Agnes dan mamang.melihat bibi sedang mengigit tentara yang sudah tak berdaya.
Dooor..
Tidak ada yang memerintah tentara yang memegang alat pengendali drown itu menembak bibi dan teman nya .
"Maaf saya tak ingin ada korban disini ." ucap nya memandang sesama tentara .
Ia menunduk dihadapan Aldi , Agnes dan Calista . merasa mendahului.
"Tidak apa - apa mas , tindakan anda sudah benar.
"Tutup pintu dapur cepat , sebelum ada yang masuk lagi. " perintah tentara yang menembak bibi dan teman nya.
sang teman sesama tentara dengan cepat menutup pintu dapur .
"Bi...bibi.iks..iks ." tangis Agnes dan Calista , menghampiri bibi. Agnes merasa sangat berdosa melihat bibi yang sedang Antara hidup dan mati.
sedangkan Mamang hanya diam terpaku melihat tulang rusuk nya diujung maut.
"Ti...tidak apa - apa nya , bibi ikhlas ." terdiam dan tak bergerak. dengan jantung tak berdetak lagi.
"bi...bibi mang bibi..bibiiiii
..." jerit Calista sambil menggoyang - goyang kan tubuh bibi.mengejang selama beberapa menit , sebelum kemudian berhenti mengejang untuk selama nya.
Mamang jatuh terduduk melihat belahan jiwa nya sudah tak bernyawa .
"Bu e..."menatap sayu bibi..dengan bibir bergetar.
"Mang...maafkan saya ." ucap Agnes lirih.
"Kenapa nyonya harus minta maaf.." ucap Mamang menatap sedih bibi yang terbujur kaku tiba - tiba menjadi abu.
"Tadi saya...
"Jangan bilang mama yang menyuruh bibi untuk ke dapur ?." tanya Calista memicingkan mata tajam.
__ADS_1
"Kenapa bibi masuk dapur , tadi sudah Calis bilang. jangan ada yang masuk dapur , akhirnya seperti ini ." bentak Calista dengan wajah memerah.
Agnes sangat kaget melihat sang anak membentak nya.
selama ini Calista anak yang penurut tidak pernah sekalipun melawan apalagi membentak.
"Mama tak menyuruh nya ke dapur .
mama hanya berguma haus. tiba - tiba bibi masuk dapur dan mama tidak melihat bibi masuk ..
maafkan mama....maafkan mama.mama tadi tak melihat bibi masuk dapur ." ucap Agnes panjang lebar merasa bersalah.
****
ia tak mengira gumaan nya didengar bibi. dengan setia tanpa melihat keadaan yang berbahaya..bahkan tak berfikir dengan situasi dan kaca dapur
yang sudah pecah.
Ia sangat sedih melihat sang putri membentak nya.
Aldi memeluk sang istri , memberi kekuatan.
"Sabar ya mam , anak mu saat ini sedang stres , papa merasa ada yang disembunyikan nya , entah apa itu ." bisik Aldi. menatap Calista tak berkedip.
yang hanya dijawab anggukkan kepala pelan.
"Dispenser disini ada kan mam ??? ." menunjuk kekiri. dimana dispenser itu diletakkan dan ternyata memang kosong.
Calista menepuk kening nya , mengetahui seisi rumah tak mengetahui air di dispenser sudah habis
padahal air sumber mereka semua.
keteledoran yang sangat fatal.walau hanya air...
Ya walau hanya air.
sebab diantara orang banyak yang bolak balik ambil air di dispenser itu. tak satupun menyadari . jika mereka kehabisan air..
"HM...
sudah nyonya , non...
mungkin ini sudah takdir bibi , tidak perlu diperdebatkan ." dengan wajah sedih , menahan air mata jatuh. berusaha agar Agnes tak terpancing emosi nya
"Mang...." Calista memeluk Mamang.
"Tidak apa - apa non , yang penting kita semua selamat. " ucap Mamang berusaha tegar . berjalan mengambil gelas kosong dan mengumpulkan debu bibi.
Tersadar jika mereka dalam bahaya. semua menundukkan wajah dan berdoa.
Tak terdengar suara serigala itu.
Calista konsentrasi melihat keadaan , apakah memang benar - benar sudah aman atau hanya kamuflase saja.
Mengingat betapa licik nya serigala itu.
****
"Sepi..."guma tentara yang menembak bibi dan teman nya. melihat keluar lewat jendela kaca.
"Lihat di laptop om ." ucap Calista mendekati Miss Tety , yang terlihat mengusap kedua tangan nya.
Miss Tety merasa merinding dengan kesunyian ini.
"Miss..." bertanya tetapi mata nya tetap kedepan.
"Tidak ada yang datang Calis ." jawab Miss Tety tahu dengan maksud Calista.
sama dengan Calista ia pun tak tetap fokus ke layar monitor.
"HM...
saya harap. tetap berdoa sampai menjelang pagi...
ayo semua kita jangan kalah dengan iblis ." ucap Calista kembali ke posisi berdoa.
suasana pun sepi ....hingga tak terasa hari menjelang subuh..
Tetapi seisi rumah masih tetap berdoa menurut kepercayaan mereka masing - masing...
hingga akhirnya...
kok...kok..kukuruyuk...
bunyi ayam berkotek.
"Puji Tuhan ..."ucap Aldi, Agnes , Mamang dan Calista.
Alhamdulillah...ucap para tentara sambil menarik nafas lega.
untuk sementara terbebas dari para serigala buas itu.
__ADS_1
"Jangan dulu buka pintu..."teriak Calista. saat ia melihat ada salah satu tentara yang ingin membuka pintu.
Tentara yang hendak membuka pintu dan keluar menatap Calista dan teman - teman nya.
Terlihat satu tentara yang seperti komandan mereka. menganggukkan kepala , dengan maksud ikutin ucapan Calista.
Ia merasa ada aura dingin , entah apa.
Calista melihat sang mama masih tertunduk menahan tangis nya..sedih.
"Kenapa tak boleh membuka pintu nak ?." tanya Aldi.
"Nanti Pap , tunggu jam 05.00 , Calis merasa mereka masih ada , mengintai kita menunggu kita lengah ." ucap Calis sambil berjalan menghampiri sang mama.
"Mam , maafkan Calis tadi sudah membentak mama , Calis tidak beaksud kurang ajar ." ucap Calist.menyesal menahan tangis. telah bersikap kurang ajar kepada orang yang telah membawa nya kedunia ini.
Terharu , tak sabar Agnes menarik Calista dan memeluk nya. sambil menghapus air mata yang jatuh perlahan.
"Tidak mengapa nak , mama maklum. tapi mama berharap , jika kamu ada masalah atau ada yang kamu pikirkan. jangan kamu pikirkan sendiri . bicarakan dengan kami ya nak ." mengelus dahi Calista .
"Iya mam..
Calista hanya ingin pulang ." ucap nya gamang.
deg...
"Ingin pulang ???." batin Agnes dalam hati.
"Pulang Kemana ?.
Kitakan berada dirumah ." penasaran apa maksud Calista.
Calista tak menjawab ia semakin erat memeluk Agnes .
Menatap sang suami , bertanya lewat tatapan mata. ada apa dengan anak semata wayang nya ?.
Sambil menarik nafas panjang , Aldi mengelengkan kepala .
Tok...tok..tok.
bunyi ketikan pintu yang sangat kencang.
"Siapa yang bertamu subuh - subuh begini ?." tanya tentara yang menembak bibi. sambil mengokang senjata nya .
bersiap - siap jika ada serigala lagu.
tok...tok...tok.
seperti tak sabar.
****
"Sebentar ." teriak Aldi.
"Pak di tanyakan dahulu." ucap tentara yang name tag nya bernama Andrew.
Aldi menganggukkan kepala tanda setuju.
"Siapa ? ." tanya Aldi berdiri depan pintu.
Tok...tok...tok..
"Iya siapa itu ?." mengangkat satu alis nya.
"Simon..."dengan nada yang datar.
"Oh...pak Simon. " ujar para tentara serentak.
tapi tidak dengan Aldi dan Calista.
Aldi dan Calista saling bertatapan.
suara benar suara pak Simon , tapi pak Simon tidak datar...
Menjadi pertanyaan di kepala Calista.
"Pak Simon ??..
Ada apa pak ?." tanya Aldi masih berdiri didepan pintu , tak berusaha untuk membukakan pintu.
"Buka pintu ." dengan suara yang serak , ada suara seperti menahan sakit.
"Buka saja pintu nya pak, jika ada sesuatu , kami siap menembaki nya ." ucap Andre bersiap siaga dengan senapan diarah kan kepintu.
"Ok." jawab Aldi hanya dengan memberi jempol nya tinggi - tinggi.
Dengan berdebar , Aldi membuka pintu .
disini dulu ya...
terimakasih masih mampir dan baca disini.
__ADS_1
like dan coment anda sangat berarti bagi ku