
"kalian jangan lemah, ayo... ". teriak Pake ketika melihat semua nya terpaku diam seribu bahasa.
" Hai..
kenapa diam????....
kembali berdoa ".pakpe nada suara pakpe terdengar mulai tinggi.
" astaga...
ada apa dengan mereka ". bangkit berdiri.
menatap mereka satu persatu.
terlihat mereka sudah mulai hilang harapan.
Menarik nafas panjang Pakpe berdoa...
ia mendoakan seisi rumah yang terlihat mulai putus asa.
Selesai berdoa , pakpe melihat ke Calista.
terlihat Calista gemetar..
"astaga...
kalian semua pegang tubuh Calista ". berjalan mendekati.
sadar tak ada yang merespon.
"Aldi, Agnes, Andrew dan bibi. sadar kalian. Calista membutuhkan kalian saat ini, terutama kedua orang tua nya ". bentak Pakpe hampir putus ada.
bagai patung Aldi, Agnes, Andrew dan bibi masih diam.
"ya Tuhan .... ". jerit Pakpe sadar ada yang tidak benar.
__ADS_1
mereka terlihat diam bagai patung hidup. hampa.
"kalian., kalian dan kamu serta bibi, bangun ".pakpe menepuk pundak mereka.satu persatu.
"Haa... " jerit tertahan dari Aldi, Agnes , Andrew dan bibi.
"cepat kalian kemari, jangan diam saja ". setengah berlari menghampiri Calista.
Terlihat tubuh Calista bergetar.
"Semuanya kenapa kalian terdiam ".sekali lagi Pakpe membentak.
"ada apa dengan mereka, mengapa cetek sekali iman nya ". batin Pakpe dalam hati.
Melihat mereka tak bergeming, sambil memegang kaki Calista. terlihat Pakpe kali berdoa.
Wuuuuuuhhhh.... ia meniup ke arah dimana Aldi, Agnes, Andrew dan bibi hanya terdiam dan melihat Pakpe saja.
"aaah... " teriakan dari Aldi, Agnes, Andrew dan bibi terdengar. bagai tersadar.
Bergegas ke empat orang dewasa beda generasi itu berhamburan menghampiri Calista....
Tubuh Calista bergetar hebat.
"anda Aldi berdoa ditelinga sebelah kiri Calista dan mama nya Bisikan di telinga sebelah kanan Calista kalimat beri semangat. " perintah Pakpe.
Agnes memutar tubuh nya kesebelah kanan, berganti dengan Aldi. karena saat itu ia berada disisi sebelah kiri Aldi.
"semua konsentrasi berdoa... jangan berhenti berdoa jika saya belum bilang Amin ". ucap Pakpe memandang tajam ke arah Calista.
Kembali berdoa.
Sesuai petunjuk Pakpe, Aldi berdoa ditelinga Calista sedangkan Agnes mulai membisikkan ditelinga Calista.
"sayang, anak mama...
__ADS_1
bangun nak, kamu tidak kasian sama mama???..
bangun sayang...
****
"pancing dengan kalimat masa kecil bu ". ucap pakpe membuka mata dan kembali menutup mata berdoa.
" sayang... masih ingatkan boneka kesayangan kamu?...
camilan bronis keju kamu???...
nanti diambil teman kamu dio... dia yang akan mengambil mainan dan camilan kamu...
bangun nak... " Agnes tersenyum getir ketika mengingat masa kecil Calista di Jawa.
Ia yang beda di antara teman - teman nya selalu dibully.. tapi itu tak membuat Calista rendah diri dan takut.
dengan berani dan lemah lembut ia menerima teman nya yang nakal dengan mencoba mengajaknya bermain. walaupun kadang mainan nya mereka bawa pulang, itu tak masalah dengan nya . hingga lambat laun teman nya menerima dengan senang.. dan menjadi akrab hingga sekarang.
"bangun sayang, nanti jika kamu sembuh kita kembali pulang ke Jawa ". Agnes menitikkan air mata mengingat sang anak pernah berbicara jika ia tidak betah disini.
Setiap doa yang mereka ucapkan, akhirnya membuahkan hasil.
badan Calista yang tadi bergetar dan berasa dingin seperti mayat. sekarang terdiam dan badan Calista mulai menghangat.
Menghelai nafas lega sambil mengucap syukur, seisi rumah yang tadi tegang sudah bisa tersenyum.
Pakpe melirik jam di dinding.
jarum jam sudah menunjukkan pukul empat pagi.
"kita sudah bisa istirahat, tapi tetap disini.
saya masih belum percaya ". ucap pakpe.
__ADS_1