Indigo Diperkebunan Tebu

Indigo Diperkebunan Tebu
di balik suasana mencekam


__ADS_3

Dengan berdebar Aldi membuka pintu.


Krrreeeekkkk....


Perlahan Aldi membuka pintu. alangkah terkejutnya Aldi ketika secara tiba - tiba.


Simon menyembulkan kepala nya diantara pintu masuk .


Terlihat Simon berdiri dengan gagah.


Tapi tidak dengan Calista..


Calista mendekat Andrew.


"Om...ini tidak benar.."Calista geleng - geleng kepala.


"Pap cepat tutup pintu." pekik Calista.


Mendengar Calista berteriak , spontan Aldi menutup pintu.


"Mengapa serigala itu masih kuat pada pagi hari ." batin Calista dalam hati. sambil berjalan mengambil minyak itu di meja makan.


yang memang tersedia banyak.


Terlambat Simon sudah masuk kedalam dengan santai. kaki nya menahan pintu dengan kuat , agar Aldi tak dapat menutup nya.


"Grrrrr...." geraman Simon perlahan.menatap tajam Aldi.


"Seperti nya pak Simon , mengincar pak Aldi ." bisik Andrew kepada sang komandan.


"Ya...siap - siap apapun yang terjadi ." mengambil senjata kecil di saku celana nya.


"Pak Simon seperti.... " batin Aldi dalam hati, mundur perlahan kebelakang.


"Pak Simon , anda dari mana saja ?." tanya Andrew berusaha akrab .


mendekat masih memegang senjata .


"Om siaga ." pekik Calista memandang Simon curiga.


"Grrrr....


"Ha...


pak Simon apa yang telah terjadi ?." tanya Aldi tak sengaja ia melihat ada gigitan dileher Simon.


Diam bagai patung , dengan tiba - tiba Simon memutar badan nya ke arah Calista yang sedang berdiri di samping meja.


Grrr...grrrr..arrrrg


suara yang membuat bulu kuduk merinding.


"Kenapa Simon berjalan kearah Calista, ya TUHAN anak ku incaran nya ." batin Aldi berdiri hendak menghampiri Calista. tetapi ...


Byuuurr..


Tanpa dikomando sekali lagi Andrew bertindak..ia menyambar botol minyak itu dan menyiram Simon.


Door...


sekali tembak tepat di kening Simon..


tubuh Simon jatuh tergeletak seketika terdiam dan tak bernafas selama nya.


perlahan tubuh itu hancur dan menjadi abu.


"Maaf pak Aldi , sekali lagi saya tak ingin ada korban berjatuhan semakin banyak ." ucap Andrew terlihat gemetar.


Ia cukup melihat kejadian bibi dan teman nya. itu saja sudah membuat nya mengeluarkan keringat dingin.


Calista berjalan mendekati abu Simon.


Meletakkan tangan di atas abu itu.


Terlihat Simon sedang menangis melihat rumah nya kosong. sang anak yang sedang kuliah di pulau Jawa.


menghubungi nya dan ingin pulang.tapi tidak diperbolehkan.


Menangis putus asa kehilangan orang yang disayangi nya , ia berjalan .


tidak mengetahui jika jendela kamar nya pecah akibat para serigala yang menerobos masuk dan mengigit Hana istri Simon.


Masuk kedalam kamar nya..


menatap tempat tidur nya , saat mereka berdua..mengenang sang istri.


Tidak tahu jika ada dua ekor serigala yang bersembunyi dibalik pintu dan diluar jendela kaca yang pecah.


Asik mengelus tempat tidur ia dan sang istri . perlahan serigala itu membekap Simon dari belakang dan mengigit nya.


serigala yang berada diluar jendela kaca pun tak mau ketinggalan , masuk dan ikut mengigit Simon.


"Aakkh..to..tolong.." jerit tertahan Simon dan terdiam.


Simon yang sudah berubah menjadi serigala , membuka mata.


dan berjalan keluar. dimana beribu serigala menunggu nya.


Sang pemimpin memandang licik Simon.


"Kamu kesana jemput Calista ." perintah nya nya.menunjuk rumah Aldi.


Bagai kerbau dicucuk hidung nya Simon berjalan perlahan menuju rumah Aldi.


Tetapi sayang , ayam mulai berkokok. menunjukkan jika pagi pun tiba.


Perlahan tapi pasti serigala itu satu persatu , memutar tubuh mereka dan pergi.


Tinggal Simon yang sudah setengah serigala berjalan menuju rumah Aldi.


"Kasihan om Simon. ' batin Calista dalam hati.


"Pap...tolong cari tahu nomor handpone anak om Simon , beritahu ia.."Calista menarik nafas panjang.


Tak menjawab ucapan Calista , Aldi menghubungi bagian HRD , untuk menghubungi anak Simon.


****


"Sudah nak kamu istirahat , sebentar lagi masuk sekolah ." Agnes mengelus pundak sang anak.

__ADS_1


"Iya..mama juga ." memandang sang mama terlihat lelah dan hitam di lingkar mata nya, kurang istirahat.


"Pak kami ingin bicara ." ucap salah satu teman Andrew.


"Ya.." Aldi.mengamgkat satu alis nya.


"Kami pulang saja pak , sebab yang memangil kami sudah tidak ada ." ucap sang komandan menundukkan kepala.


"Huuufff...." Aldi menarik nafas panjang , tak tahu harus bagaimana.


Ingin menahan mereka , tapi ia tidak punya kuasa. tapi jika dipikir , seorang tentara tanpa diminta mereka akan stay jika melihat suasana seperti ini.


"Kalian mengapa ingin pulang ??.." tanya Andrew tanpa sungkan ia berbicara dengan sang komandan , sungguh ia tak mengerti.


"Suasana seperti ini , lebih baik perang beneran dengan memakai strategi kita , tapi ini ??.dengan sombong mengangkat kedua tangan nya.


"Iy..iya tapi...


"Sudahlah pak Andrew jangan tahan kami ." memotong ucapan Andre , sambil berjalan keluar. diikuti teman nya yang lain.


"Ya terserah...kalian lupa dengan janji kita sebagai tentara , pengecut , dimedan perang lebih sulit dan kita pun akan mati disana ." teriak Andrew marah.


"Sabar nak , saya memaklumi itu . jika kamu ingin pulang silahkan ." ucap Aldi. tak ingin menahan mereka dan tak ingin menahan Andrew...


"Posisi seperti ini saya maklum nak.." menatap Andrew sedih . ia belum bisa menyelesaikan masalah ini..


"Tapi sebagai tentara tentu nya sudah tau...di Medan perang pun sama seram nya ." terdengar nada suara Andrew jengkel dengan teman nya.


"Tidak apa - apa , ayo kita istirahat ." Aldi menatap kedepan , para tentara satu persatu meninggalkan tempat tingal Aldi.


"Kamu mau pulang ." menatap tajam teman disebelah kiri dan kanan nya .


"Siap tidak , kami akan disini. menumpas kejahatan walau kejahatan secara goib ." ujar mereka lantang . sambil memberi hormat.


"Mengapa kamu bicara sambil hormat , saya bukan komandan kalian ?." tanya Andrew heran.


"Anda saat ini komandan kami , komandan seperti dia . tidak pantas ." ucap kedua teman nya masih dalam posisi hormat dan beberapa detik merwka menurunkan tangan nya.


"Ah...sudah lah , kita bareng menghadapi ini semua..saya belum pantas di sebut komandan.


saya tetap teman kalian ." ucap Andrew rendah hati.


"Ya sudah , kalian beristirahatlah ." sekali lagi Aldi mengingatkan sambil berjalan kekamar .


sejak kejadian ini , ia sering lupa untuk yang nama nya tidur..


Tidur adalah barang mahal bagi Aldi dan keluarga nya. saat ini .


Aldi berhenti ketika tak sadar ujung mata nya melihat Mamang.


Mamang berjalan menunduk , sambil membawa mangkok yang berisi abu sang istri.


Aldi berjalan menghampiri Mamang.


"Maafkan kami mang ." Aldi menepuk pelan pundak Mamang .


Seperti terkejut Mamang menengadah kan wajah nya.


"Tidak apa - apa tuan ." lirih.


"Ini sebuah musibah yang mau tak mau saya harus terima ." Mamang kembali menunduk kan kepala. menyembunyikan kesedihan nya.


Tak menjawab perkataan Aldi , Mamang berjalan perlahan keluar melalui dapur. menuju kamar nya.


"Lebih baik kaca jendela itu dibenarkan ." bisik Andrew kepada teman nya.


"Pake apa ?." melihat kekanan dan kiri .


"Kita cari kebelakang...". mempunyai inisiatif , serentak Andrew dan kedua teman berjalan keluar. mencari ada tidak nya bahan untuk menutup kaca jendela yang pecah .


Akhirnya Andrew dan kedua teman nya menemukan papan. dengan bergotong royong mereka menutup kaca jendela yang pecah.


"Air mineral ini ada 2 galon.sebaik nya kita letakkan di ruang tamu , agar tidak ada kejadian seperti semalam dan nanti aku akan membeli air mineral. rupa - rupa nya tuan rumah lupa , karena terlalu sibuk dan takut ". guma Andrew . membawa air mineral kedalam.


****


Pagi menyingsing cahaya matahari yang hangat menyinari bumi ini.


Calistaaaa..


Calistaaa....


Terbelalak Calista membuka mata nya.


"Siapa yang memanggilku ." batin Calista . mata nya melirik ke kanan dan kiri . serta ke atas.


"Calistaaaa sayang...aku menunggu mu ." suara yang sangat menggoda .


"Huf...siapa itu.." teriak Calista putus asa. selalu mendengar ada yang memangil tapi tak tampak rupa .


Calista sayang , aku merindukan mu ." lagi - lagi suara itu memangil.


"Aakkkk...." teriak Calista putus asa sambil mengacak- acak rambut nya.


"Cobaan apa ini .."menutup mulut nya agar tak berteriak kencang , agar tak terdengar kedua orang tua nya.


"Calista Nak...jangan hiraukan om harap jangan hiraukan konsentrasi dan berdoalah ." tiba - tiba terdengar suara Pakpe dari kejauhan mengingatkan nya.


"Iya om...." menarik nafas panjang merasa aga tenang ada yang mengingatkan nya.


Mulai berdoa....


"Aku harus kuat dengan situasi ini ." batin Calista dalam hati. sambil mengambil handset di nakas.


Tak ingin diganggu tidur nya. Calista memakai handset dan mendengarkan lagu. hingga ia tertidur pulas , tanpa mendengar suara apa pun.berharap esok adalah hari yang baru dan baik. dengan kisah baru yang lebih membahagiakan dan melegakan.


Sementara disana.


"Huff...mudah - mudahan Calista tak mendengar dan menolak suara yang selalu memangil nya. jika tidak !!!...


"saya tak tahu harus bagaimana ." batin Pakpe membuka mata. menarik nafas panjang , iya tak dapat pergi ke tempat Aldi berada , karena kesibukan yang tak dapat ditinggalkan. sebenarnya ia merasa bersalah juga. tidak bisa datang kesana. hanya bantuan jarak jauh yang bisa ia lakukan.


"Pap , apa kita pulang ke Jawa saja Pap ." ucap Agnes sambil membantu memakai dasi Aldi.


Deg...


Mendengar itu sesaat Aldi terdiam.


"Selesai ." ucap nya dan ia pun mulai berdandan.

__ADS_1


"Bagaimana Pap , kalau kita pulang ke Jawa saja...


mama takut melihat semua ini , takut mama , papa ,mama atau Calista menjadi korban keganasan serigala itu , mama tak ingin Pap ." tangan yang tadi mengoles wajah nya itu pun berhenti memandang sang suami yang terdiam.


"Apa dengan pulang ke Jawa , masalah akan selesai mam ??..


"Tidak bukan ??...


Bisa jadi manusia serigala itu menyusul , karena menurut papa ia mengincar anak kita Calista .


UPS ." Aldi keceplosan. ia lupa pesan Pakpe agar tak memberitahu sang istri .dikhawatirkan akan menjadi beban ia dan Calista..


takut mental Agnes goyah.


"Apa ????...


"Apa yang papa bilang ???." tanya Agnes dengan mata memerah menahan tangis.


"IKS...IKS...papa bilang apa tadi ???." jerit Agnes histry.


"Sudah mam...sudah ..sst, nanti Calista dengar....." memeluk sang istri. salah tingkah dan merasa bersalah.


"Ais...kenapa harus keceplosan seperti ini..." batin Aldi menepuk jidat nya.


"Pap...mama takut...


"Kita pasrah mam , sama TUHAN.


IA pasti membuka jalan ." ucap Aldi merasa bersalah.


"Kapan semua ini akan berakhir..


tau seperti ini , aku tak mau menerima tawaran untuk bekerja disini ." keluh Agnes menghapus air mata nya dengan kasar.


"Sudahlah mam , mungkin ini jalan nya untuk kita agar kita semakin kuat dan berserah kepada NYA...


IA pasti akan menuntun kita ." ucap Aldi panjang lebar. tak ingin sang istri stres memikirkan nya. cukup ia saja.


"Kapan ini berakhir pap , sedang kan pihak perusahaan mengandalkan kita. kita bisa apa ??." nada kecewa Agnes .


"Perlahan mam...badai pasti berlalu ." Aldi mengelus pundak Agnes memberi ketenangan. ia sendiri tidak tahu , kapan berakhir . hanya bisa berharap semua cepat berlalu.


"Ayo kita sarapan dan berangkat kerja.


mungkin Calista sudah menunggu kita ." bujuk Aldi menatap sang istri.


"Cup ..."mencium Agnes lembut.


****


Calista yang ingin memanggil kedua orang tua nya. terhenti saat mendengar ucapan sang papa . tak terasa air bening menetes di pipi.


Dengan kasar Calista menghapus nya cepat - cepat agar tak ada yang melihat nya.


pura - pura tidak terjadi apa pun , ia duduk di sofa menunggu kedua orang tua nya..


"Huuuuf , sampai kapan akan seperti ini , mengapa aku selalu diincar mahkluk astral ??..." guma Calista geleng kepala.


"Ada apa dik ?." tanya Andrew melihat Calista seperti habis menangis.


"Ga ada apa - apa om ." berusaha tersenyum.


"CK...om , aku belum tua Calista ." canda nya mencairkan suasana.


"Baru baru dua puluh dua ." setengah berbisik mengoda Calista.


"Heee...abis apa dung ." menahan tawa.


"Kakak lah ..."kedua tangan di dada.menunggu jawaban Calista.


Adik kecil yang cantik , saat Mandang nya hati nya selalu berdesir entah mengapa.


"Hehehe...iya kak..." melihat ke meja makan sudah tersedia nasi goreng .


"Wah...nasi goreng , siapa yang masak ni ?." tanya Calista ia sangat menyukai nasi goreng.


terlebih buatan bibi.


"Kaka yang masak , ayo kita sarapan bareng..


cobain deh masakan kakak. pasti enak." promosi nya.


"Kakak yang masak ???..."melihat kedapur.


"Iya kakak , ga percaya ???.


"Engak !!..." menutup mulut nya menahan tawa.


"Ish...tanya aja Mamang ." ucap nya ketika melihat mamang masuk kedalam .


"Iya non , om tentara ini yang masak.mamang tadi mau masak nasi goreng kesukaan non. tapi tidak boleh sama om tentara ini , katanya biar saya yang masak." masih terlihat wajah Mamang yang sedih , walau ia berusaha tersenyum.


Calista hanya fokus melihat wajah mamang, ucapan mamang tadi ia respon dengan memberi jempol. tanpa sedikitpun melihat Andrew.


"Pagi..."sama Aldi dan Agnes . berusaha untuk selalu ceria.


"Pagi...


"Wah sudah ada sarapan dimeja ??..


Mamang yang masak ?." tanya Agnes heran , sebab Mamang masih berduka . ia merasa bersalah bangun kesiangan.


"Bukan nyonya , om tentara ini." menunjuk sang tentara dengan jempol nya.


"Oalah...sudah ganteng . pintar memasak ." mengoda Andrew .


"Terima kasih nak sudah repot memasak , maaf ya. kami merepotkan ." timpal Aldi..


"Gr nanti dia Pap." setengah berlari menuju meja makan. mendekati sang mama.


"Ayo semua kita makan bareng , mang ayo sarapan ." ucap Aldi.


Andrew ingin membalas ucapan Calista tak jadi . dengan rasa sungkan duduk di meja makan.


"Ayo...kita makan jangan sungkan , la wong yang masak nak Andrew." ajak Agnes menetral suasana..


hi guys


terima kasih masih mau baca novel ku yang selalu telat upgrade.

__ADS_1


__ADS_2