Indigo Diperkebunan Tebu

Indigo Diperkebunan Tebu
kembali mencekam


__ADS_3

"ma.... maksudnya, maksud nya apa Pakpe ??. " tanya Andrew kebingungan.


tak mengerti apa maksud ucapan Pakpe.


tak menjawab pertanyaan Andrew, pandangan mata Pakpe menatap tajam kearah kamar Calista.


perlahan Pakpe memejamkan mata. merasakan


ada yang memandang nya tajam dari dalam kamar.tapi tak terlihat, hanya ia yang dapat melihat.


mata merah, Memandang pakpe dengan tatapan membunuh.


Seakan berkata ". enyah kau.


Pakpe menarik nafas panjang, mulai konsentrasi.


Beberapa menit kemudian.


"haaaiiiiiiid ". teriak Pakpe dengan tangan terulur kedepan .mengeluarkan semua tenaga menghadapi srigala jadian ini.


Tanpa diduga Pakpe melakukan tindakan seperti itu.


Ada getaran yang kuat kearah pintu kamar Calista.


gerakan yang tak terlihat oleh mata.


tiba -tiba...


duaaaarrrr....


seperti suara bom meledak menghancurkan pintu kamar Calista.


"auuuuuuuuhhh.....auuuuuuuuuuuuuum ".jerit kesakitan sang Srigala. tak lama kemudian tak terdengar lagi suara sang serigala jadian.


seisi rumah hanya terdiam melihat pintu kamar Calista jebol, shok.Agnes memeluk Aldi, Andrew mematung. bibi terlihat gemetar.


" hmm.... ". guma Pakpe memicing kan mata.


"rupanya ada yang sudah masuk kedalam kamar nak Calista dan kita tak menyadari nya. " Pakpe geleng - geleng kepala mengapa bisa kecolongan seperti ini.


Ada yang diam - diam masuk kedalam kamar Calista dan mencoba macam-macam.


Dan heran nya ia tak merasakan nya, apa karena terlalu fokus dengan Calista yang masih betah memejamkan mata, atau memang iblis itu pandai memanfaatkan situasi????...


Atau apa entah lah...


semakin pucat wajah Aldi dan Agnes mendengar ucapan Pakpe.


" setuju tidak setuju, kamu orang harus mengikuti saran saya, jika nak Andrew berkenan. untuk menikah dengan nak Calista...


dan ini hanya untuk mengusir mahkluk asral itu saja. saya mohon ". ucap Pakpe panjang lebar. ia yang tak biasa berbicara panjang lebar, mengapa malam ini terlihat banyak bicara.memandang Andrew penuh harap.


"ta- tapi pak!!!... " Agnes tak berani melanjutkan ucapannya. menunduk tak enak hati untuk berdebat dengan Pakpe. walau disisi lain ia sangat penasaran apa maksud Pakpe.


"ini hanya bersifat ...

__ADS_1


Pura - pura ". ucap Pakpe tak terdengar suara, hanya gerakan bibir nya saja.


Dan itu sudah membuat Aldi,Agnes,Andrew dan bibi mengerti. mengerti dengan gerakan bibir, walau tak mengerti apa maksud dengan pernikahan pura - pura dan mengapa Pakpe berbicara dengan hanya mengerakan bibir nya.


"mengapa pernikahan itu, bukan pura - pura.


"pernikahan sangat sakral...


pernikahan hanya sekali dalam seumur hidup


mengapa Pakpe menganggap pernikahan seumur hidup dan sakral harus pura-pura. ", batin Aldi dan Agnes dalam hati tak habis pikir.tak berani mengutarakan.


"cepat... " setengah mendesak Pakpe, memandang Andrew yang mematung, bibir keluh tak dapat bicara.


"nak Andrew ". Pakpe menyentuh pundak Andrew.


"haaa..


I - iya Pak, saya setuju. " ucap Andrew terengah, plus terkejut, seperti habis lari jarak yang sangat jauh. sama dengan Aldi dan Agnes, ia tak mengerti maksud nya pernikahan pura -pura. ia hanya mengiyakan saja. Emergency pikirnya.


"Nanti bisa ia akan tanyakan mengapa harus pura-pura, andai harus menikah beneran aku tak akan menolak". batin Andrew sekali lagi hanya dalam hati, tak berani bertanya.


"kalian siapkan acara pernikahan ini, walau dibuat sederhana ". ucap Pakpe dengan agak mengeraskan suara seperti sengaja.


****


" siap???....


siapkan apa Pak??? . ..


" Ya siapkan sebagaimana pernikahan ". Pakpe menggeleng kan kepala bingung.


ia harus bicara apa, kepada suami istri itu.


Pakpe memandang Agnes penuh harap, agar segera dilaksanakan.


Bingung dengan tatapan mata Pakpe, dengan terpaksa.


 setengah berlari Agnes masuk kedalam kamar,mengambil baju pengantin nya dulu.


Baju pengantin dress panjang berwarna putih . yang tersimpan rapi.


Membuka lemari dan mengambil dress itu, ia memandang tersenyum sedih.


Tersenyum saat mengingat, waktu ia menikah dulu.pernikahan yang penuh dengan senyum bahagia.


sedih, melihat kenyataan anak semata wayang nya harus menikah dalam keadaan seperti ini.


tak ada senyum bahagia,tidak ada pesta. kemeriahan. bahkan sang putri masih tertidur. menikah dalam posisi memejamkan mata.


masih betah menutup mata.


susah dibayangkan. ,


sambil berjalan keluar, Agnes menatap sedih baju pengantin nya dulu. dulu ia memakai baju ini tersenyum bahagia, begitu juga dengan kedua orang tua nya.

__ADS_1


dengan setengah memaksa kaki melangkah, ia masuk kedalam kamar Calista. sudah ada bibi disana. pintu yang tadi jebol sudah diganti dengan kain selebar dan sepanjang pintu untuk menutupi. saat Calista akan berganti pakaian.


Dibantu bibi, Agnes menganti pakaian yang dipakai Calista dengan dress pengantin nya.


Selesai memakai kan pakaian dan mendandani nya, menatap anak semata wayang nya.


"cantik sekali kamu sayang ". puji Agnes tak henti.


" ia bu, non cantik sekali ". puji Bibi. sambil mengelus pundak Agnes yang terlihat menahan tangis.


"ya... anakku cantik sekali ". tersenyum, menghapus genangan air yang akan jatuh di pipi nya.


"ma... Calista sudah siap?. " tanya Aldi dengan suara yang serak. sama seperti Agnes, Aldi pun manahan tangis nya.tak ingin sangat istri melihat nya menangis.menyimpan tangis nya.


"sudah pap ". Agnes cepat menghapus air mata . sama ia pun tak ingin sangat suami sedih melihat nya menangis.


Biasanya pengantin berjalan diiringi kedua orang tua nya, saat ini berbeda, Agnes dibopong dalam keadaan tertidur. dibopong oleh Pakpe dan Aldi.


Calista dan Andrew duduk di sofa. ibarat pengantin beneran duduk dipelaminan.


Karena Calista masih memejamkan mata. tak dapat duduk dengan benar, ia diikat di pinggang agar dapat duduk tegak.diikat kebelakang sofa.


takut Calista jatuh, walau ia diikat Aldi memegang tangan Calista.


"kita mulai pernikahan ini ". sambil tersenyum melihat Andrew yang terlihat gugup.


Ia gugup sebab ini perkawinan nya yang pertama.


tiba - tiba....


Wuish.... wuisssh..


Angin kencang masuk kedalam rumah.


bagai angin topan, meniup seluruh ruang. Aldi dan Agnes berpelukan sambil memeluk jendela , hingga separuh tubuh kedua nya keluar dari jendela. rumah berantakan.


lampu yang bergelantungan bergoyang kekanan dan kiri. kipas angin serta tivi jatuh.


sofa bergeser tak menentu.


Bibi entah sudah berada dimana terbawa angin reflek Andrew memeluk Calista. seakan tak ingin gin berpisah.


Yang di heran kan, Calista tak bergeming sedikit pun. tetap duduk dengan manis nya, seakan tak ada kejadian apa pun saat ini.


"Pakpe...


tolong.... " jerit Agnes tak kuat lagi dengan tubuh nya yang tertiup angin.


"kalian semua berdoa... apapun terjadi tetap berdoa ". suara Pakpe parau karena menahan tiupan angin itu. ia berusaha konsentrasi agar tak goyang iman nya.


"kalian dengar saya tidak ....


Terima kasih


sudah mau mampir disini, selamat membaca. like dan coment anda sangat berarti.

__ADS_1


__ADS_2