
Enam tahun kemudian....
Cleantha keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia hampir terlambat menjemput putra kecilnya dari sekolah karena terlalu asyik memasak makan siang untuk Alvian.
Selama mengarungi bahtera pernikahan, ia merasakan hidup yang begitu sempurna. Roda hidupnya yang dahulu berada di titik terendah, kini berbalik arah di puncak tertinggi. Rasanya seperti cerita dalam dongeng Cinderella yang menjadi kenyataan.
Alvian adalah suami yang penyayang dan selalu memahami perasaannya. Terlebih sudah ada buah hati mereka, Almero Adhiyaksa, yang membuat kebahagiaan mereka terasa lengkap.
Sang ibu mertua memang tidak terlalu menyukainya. Namun karena kehadiran Almero, sikap Ny. Marina sedikit melunak. Ia sangat menyayangi Almero, karena cucu laki-lakinya itu adalah calon penerus keluarga Adhiyaksa.
"Mommy!" seru Almero menghambur ke pelukan Cleantha.
Cleantha memeluk putra kecilnya itu sambil mengusap lembut pucuk kepalanya.
"Maaf, Miss Eva, saya terlambat menjemput Almero," kata Cleantha merasa tidak enak hati kepada guru kelas anaknya.
"Tidak apa-apa, Mom. Baru sepuluh menit yang lalu kelasnya selesai," kata Miss Eva dengan ramah.
"Terima kasih, Miss. Almero, say bye bye to Miss Eva," kata Cleantha kepada putra kecilnya.
"Bye, Miss, see you tomorrow," ucap bocah kecil itu melambaikan tangan.
Cleantha menggandeng tangan Almero dan mengajaknya menuju ke mobil.
"Mommy, are we gonna to Mall? I want to play in Fantastic Land," tanya Almero memutar bola mata bulatnya.
"Tomorrow you already go there. Now we will go to Daddy's office. Mommy mau mengantarkan makan siang untuk Daddy," kata Cleantha sembari memasukkan tas sekolah Almero ke dalam mobil.
"Horay, I can play with Daddy," kata bocah yang hampir berusia lima tahun itu.
"Next time ya. Daddy sedang kerja. Tidak boleh diganggu, Sayang. Kita antarkan makanan ke kantornya lalu kita pulang. Jam dua kamu ada piano lesson with Miss Fitri," kata Cleantha sembari mencubit hidung mungil putranya.
Almero mencebikkan bibirnya dengan kecewa.
"Okey, Mommy."
Mobil Cleantha melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kantor Adhiyaksa Group.
Melihat kedatangan mobil mewah berwarna metalik itu, security bergegas menyambutnya. Ia tahu bahwa yang datang adalah istri dari CEO Adhiyaksa Group.
"Nyonya, silakan," kata Pak Malik, driver pribadi Cleantha membukakan pintu mobil.
"Terima kasih, Pak. Bapak tunggu disini saja, saya tidak lama kok."
"Baik, Nyonya," kata Pak Malik penuh hormat.
Cleantha membawa Almero masuk ke gedung perkantoran Adhiyaksa Group seraya membawa box makanan di tangannya.
Karena menjelang jam makan siang, para karyawan turun menuju ke lobi. Mereka yang berpapasan dengan Cleantha menyapanya penuh hormat.
Cleantha yang sekarang memang berbeda dengan Cleantha yang dulu. Kini ia adalah seorang wanita dewasa yang anggun, cantik, dan penuh kharisma.
Para karyawan juga berdecak kagum melihat Almero yang ada di samping Cleantha. Bocah kecil itu begitu tampan dan imut, sehingga membuat gemas siapa saja yang melihatnya.
"Siang, Bu," sapa mereka.
__ADS_1
"Selamat siang," sapa Cleantha membalas dengan ramah.
"Clea, Almero."
Cleantha menoleh dan melihat Keyla berjalan menghampirinya.
"Aunty," sapa Almero terlihat ceria.
"Halo, Almero. Kamu sudah pulang sekolah?" tanya Keyla.
"Sudah, Aunty."
Keyla beralih menatap Cleantha.
"Clea, kamu mau menemui Pak Alvian?"
"Iya, aku akan mengantarkan makan siang untuknya."
"Jangan lupa, Clea, dua hari lagi Dimas akan melamarku. Kamu harus datang ke rumah bersama Pak Alvian."
"Maaf, Kak, tapi sepertinya tidak bisa. Suamiku akan pergi ke luar kota besok untuk menghadiri konferensi pengusaha."
Wajah Keyla berubah kesal. Ia berharap bisa memamerkan adik iparnya yang seorang pemimpin perusahaan besar kepada calon mertuanya. Namun sayang usahanya gagal total.
"Ya sudah. Aku pergi makan siang dulu. Dimas sudah menungguku di parkiran," ujar Keyla.
"Bye, Almero."
"Bye, Aunty," balas Almero dengan ekspresi polos.
Cleantha masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka sepuluh.
"Helo, Almero. Mau bertemu Daddy ya?" tanya Ryan, asisten Alvian merundukkan badannya.
"Iya, Uncle."
"Ryan, apa Pak Alvian ada di dalam?" tanya Cleantha.
"Iya, Nyonya, silakan masuk," kata Ryan membukakan pintu.
Almero berlari kecil ke arah Alvian yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya di telpon.
"Daddy!"
Melihat istri dan anaknya datang, Alvian mengakhiri pembicaraannya.
"Baik, Tuan Andrew, kita bertemu lagi Senin depan," ucap Alvian menutup telponnya.
Alvian menggendong Almero dan mencium pipi putranya itu.
"How about your school today?"
"Good, Daddy. Today I draw a rocket in my class and then I learn about pet," kata Almero menceritakan kegiatannya.
"Good boy, you did a great job," puji Alvian.
__ADS_1
Cleantha tersenyum melihat kedekatan ayah dan anak itu. Ia hanya berharap kebahagiaan ini bisa berlangsung selamanya.
Alvian mendudukkan putranya di kursi lalu mendekati Cleantha.
"Sayang, kenapa tidak bilang kalau mau kesini?" tanya Alvian mengecup ringan bibir istrinya.
"Apa aku tidak boleh mengantarkan makan siang untukmu?" tanya Cleantha.
"Tentu saja boleh. Aku baru akan pergi besok siang, tapi kamu sudah merindukan aku. Nanti malam kita masih bisa bersama," kata Alvian menggoda Cleantha.
Cleantha meletakkan box makanan yang dibawanya lalu membuka penutupnya.
"Apa tidak bisa kalau kamu tidak usah menghadiri konferensi itu? Aku khawatir dengan kondisi kesehatanmu, Sayang," ucap Cleantha merasa tidak tenang.
Akhir-akhir ini, Alvian sering mengeluh kelelahan dan Cleantha menjadi cemas karenanya.
"Tidak bisa, Sayang. Sebagai CEO Adhiyaksa Group aku harus hadir. Tidak bisa diwakilkan. Nanti setelah pulang, aku berjanji akan mengajukan cuti. Kita akan liburan bertiga ke tempat yang kamu mau. Sekalian menjalani honey moon kedua," jawab Alvian tersenyum.
"Yeay, Daddy I want go to New Zealand," sahut Almero senang.
"Tidak boleh. Kalau pergi ke luar negri kamu tidak akan bisa istirahat. Sekarang makanlah, Sayang," tegas Cleantha.
"Look your Mommy is angry. Daddy has to eat now," kata Alvian berbicara pada putranya.
Cleantha mengulum senyum. Sebenarnya ia lebih suka bersikap lembut kepada suami dan anaknya. Namun karena mereka kerapkali membandel, terpaksa ia harus sedikit lebih galak.
...****************...
Cleantha membantu membuka kemeja Alvian lalu menyiapkan air hangat untuk suaminya.
"Aku senang dimanjakan seperti ini setiap hari, Sayang," kata Alvian berjalan mengikuti Cleantha ke kamar mandi.
"Kalau kamu pulang tepat waktu, aku pasti akan memanjakanmu. Biasanya kamu selalu pulang malam," jawab Cleantha.
"Hari ini aku sengaja pulang lebih cepat agar bisa menghabiskan waktu denganmu sebelum aku pergi."
"Kalau begitu cepatlah mandi lalu istirahat, Sayang," jawab Cleantha.
Cleantha merebahkan dirinya di tempat tidur sambil menunggu Alvian. Almero sudah tertidur lelap di kamarnya, sehingga ia merasa tenang.
Selesai mandi, Alvian mengenakan piyama tidurnya lalu berbaring di sisi Cleantha. Ia memeluk istrinya itu seolah tidak ingin berpisah darinya.
"Sayang, lebih baik kamu istirahat. Kamu pasti lelah," ucap Cleantha menatap Alvian.
"Tidak, aku masih punya cukup tenaga untuk memberikan adik bagi Almero," goda Alvian.
Alvian membelai rambut Cleantha sambil melanjutkan ucapannya.
"Clea, nanti jika aku pergi jaga dirimu dan Almero baik-baik. Aku sangat menyayangi kalian," bisik Alvian.
Cleantha terhenyak mendengar perkataan Alvian yang terdengar aneh. Firasat buruk tiba-tiba menderanya.
"Kenapa kamu bicara begitu, Al?" tanya Cleantha risau.
"Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku, supaya kamu tahu betapa berharganya kamu dan Almero untukku," jelas Alvian.
__ADS_1
Cleantha membenamkan dirinya di pelukan suaminya. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa sangat takut akan kehilangan Alvian.
BERSAMBUNG