Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 84 Tiba Tiba Merindukannya


__ADS_3

Cleantha hanya membeku dalam pelukan Alvian. Entah mengapa ia tidak bisa berhenti menangis, malah air matanya kian deras mengalir. Mungkin saat ini kemeja Alvian sudah basah oleh air matanya.


"Kalau masih ingin menangis, menangislah sepuasmu supaya perasaanmu lega. Tapi setelah ini jangan tertekan lagi. Ingat bayi yang ada di dalam kandunganmu," ucap Alvian dengan suara lembut.


Ia melepaskan Cleantha dan mengambil tissue dari mejanya.


"Hapuslah air matamu, kita pulang sekarang."


Lidah Cleantha terasa kelu.


Sesudah meluapkan emosi yang menyesakkan dadanya, ia tidak ingin mengucapkan sepatah kata pun.


Alvian membimbing Cleantha keluar dari ruangannya menuju ke dalam lift. Ia bisa merasakan tubuh gadis itu gemetaran karena menahan kepedihan.


Setibanya di area parkir, Alvian mengajak Cleantha masuk ke mobilnya. Ia tidak mengindahkan sekian pasang mata yang menyaksikan kedekatan mereka.


"Pak, kenapa berbuat begini lagi? Apa Bapak ingin gosip tentang hubungan saya dan Bapak semakin berhembus kencang?" tanya Cleantha dengan suara parau.


"Aku tidak peduli tentang gosip itu. Karena tidak lama lagi aku akan membuatnya jadi kenyataan," kata Alvian mengemudikan mobilnya.


Cleantha tidak tahu kemana Alvian membawanya, namun lelaki itu menghentikan mobilnya di salah satu restoran ayam bakar.


"Ayo kita turun. Kamu harus makan dulu supaya badanmu tidak lemas."


Mereka masuk ke dalam restoran itu dan duduk di salah satu meja.


"Silakan Tuan dan Nona. Anda ingin pesan apa?" tanya pelayan restoran menyerahkan buku menu dan selembar kertas orderan.


"Kami akan memilih makanan dulu. Nanti saya akan memanggil Mbak lagi," jawab Alvian.


"Baik, Tuan."


Alvian menuliskan pesanannya lalu menyerahkan kertas orderan kepada Cleantha.


"Clea, pesanlah sesuai keinginanmu. Aku tidak tahu apa makanan kesukaanmu. Tapi seingatku kamu pernah memesan ayam bakar saat kita makan malam bersama. Karena itu aku membawamu kesini. Kalau kamu ingin makan yang lain, pesan saja semuanya. Ibu hamil membutuhkan banyak nutrisi," kata Alvian menutup buku menunya.


Ia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan kepada seseorang.


Dari kursinya, Cleantha bisa mendengarkan percakapan yang dilakukan Alvian.


"Selamat malam, Ibu Rosalia. Ini saya Alvian. Maaf saya menelpon di luar jam kerja."

__ADS_1


"Selamat malam, Tuan Alvian. Tidak apa-apa, saya masih ada di kantor, Tuan."


"Bu, saya ingin membahas soal Cleantha. Cleantha harus tetap bekerja sebagai staf petty cash di divisi finance. Tidak boleh ada yang memaksanya untuk mengundurkan diri," tegas Alvian.


"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya hanya menjalankan perintah yang disampaikan Tuan Dion. Dia mendapat instruksi langsung dari Tuan Raja untuk menyuruh Cleantha mengundurkan diri dari perusahaan."


Alvian menekankan intonasi suaranya.


"Ibu Rosalia, apa Anda mau menentang perintah saya? Saya adalah pemimpin divisi finance sekaligus juga owner dari perusahaan ini. Cleantha merupakan bawahan saya dan berada dalam wewenang saya. Tidak ada yang bisa memecatnya atau mengusiknya tanpa seizin saya. Jadi saya tegaskan sekali lagi, batalkan keputusan itu. Jika CEO keberatan, minta saja dia untuk menghubungi saya secara langsung."


Suara Ibu Rosalia terdengar merendah. Nampaknya ia sedang bingung keputusan siapa yang harus diturutinya. Keputusan Raja sang CEO atau Alvian sang Direktur Keuangan. Terlebih mereka sama-sama pemilik perusahaan Adhiyaksa Group.


"Tuan Alvian, saya perlu menjelaskan kepada Anda mengenai situasi yang dialami Cleantha. Dia diduga sedang hamil. Padahal statusnya belum menikah, jadi...."


"Cleantha hamil atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Dan mengenai statusnya, Anda tidak tahu apa-apa, jadi jangan berasumsi sembarangan," sahut Alvian marah.


"Baik, Tuan, saya minta maaf."


"Saya tegaskan sekali lagi, tidak ada manajer maupun karyawan yang boleh mengusik Cleantha. Jika ada yang berani melakukan hal itu, maka dia akan berhadapan dengan saya. Selamat malam," ucap Alvian mengakhiri panggilan telponnya.


Cleantha terkejut mendengar pernyataan keras dari Alvian. Tapi dia enggan untuk bertanya lebih lanjut. Sesungguhnya ia malas sekali berbicara dengan orang lain. Karenanya ia memilih menyantap makanannya dalam keheningan.


...****************...


Alvian sesekali melirik ke arah Cleantha, namun ia tidak menanyakan apapun mengingat suasana hati Cleantha yang buruk.


Ia fokus menyetir mobil menembus hingar bingar jalanan ibu kota. Hingga akhirnya mereka sampai di kompleks rumah Cleantha.


"Kita sudah sampai. Istirahatlah dan jangan memikirkan apa-apa. Besok kamu bisa bekerja seperti biasa," ucap Alvian membuka pintu mobilnya.


"Terima kasih, Pak," jawab Cleantha singkat.


Ia melangkah keluar dari mobil. Namun Ana tiba-tiba menghampiri Cleantha dengan menenteng tas besar di tangannya.


"Clea, akhirnya kamu pulang. Katanya kamu mau meninggalkan rumah ini setelah pulang kerja. Tante bawakan tasmu supaya kamu bisa lebih cepat pergi. Tidak perlu masuk rumah agar ayahmu tidak melihatnya."


"Tenang saja, Tante. Aku akan pergi," ucap Cleantha menerima tasnya.


Ana berhenti dan beralih memandang mobil Alvian. Dengan penuh semangat, ia menghampiri Alvian. Siapa tahu ia bisa mendapatkan keuntungan dari pemuda kaya itu.


"Malam, Tuan Alvian. Senang sekali bisa melihat Anda."

__ADS_1


"Malam Tante," sapa Alvian memandang Ana


"Saya hanya ingin bertanya, apa Tuan suaminya, Cleantha? Jika iya, tolong jangan ceraikan anak tiri saya ini. Kalau dia hamil tanpa suami, orang-orang akan menggunjingkannya. Saya terpaksa memintanya pergi dari rumah demi menjaga nama baiknya," ucap Ana pura-pura sedih dan memperhatikan Cleantha.


"Bawa saja Cleantha ke rumah Tuan. Jagalah dia sampai melahirkan. Tuan tahu sendiri bahwa keluarga kami miskin. Jika Cleantha tetap disini hanya akan menambah beban kami. Kecuali jika...Tuan mau memberikan tunjangan khusus untuk kami setiap bulannya," sambung Ana memamerkan senyum liciknya.


Mendengar perkataan Ana, Alvian yakin jika ibu tiri Cleantha itu adalah perempuan mata duitan.


Selama ini Cleantha hanya dikelilingi oleh manusia-manusia picik dan egois. Pantas saja hidupnya selalu dilanda kesusahan, karena tidak ada yang menyayanginya dengan tulus. Bagaimanapun Cleantha harus segera dibebaskan dari lingkungan yang beracun ini.


"Tante tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Cleantha untuk seterusnya. Dia tidak akan kembali kesini lagi," balas Alvian ketus.


Alvian keluar dari kursi kemudinya dan menarik Cleantha kembali ke dalam mobil.


"Ayo, Clea, ikut aku pergi," kata Alvian tanpa menoleh lagi kepada Ana.


"Tapi, Pak, saya perlu mencari kost untuk tempat tinggal saya," tolak Cleantha.


"Tidak perlu. Mulai hari ini kamu akan tinggal di apartemenku. Tenang saja, aku tidak bermalam disitu. Kamu bisa beristirahat tanpa gangguan siapapun," kata Alvian menjalankan mobilnya.


...***************...


Raja menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Ia merasa suntuk setelah dihadapkan pada banyaknya pekerjaan di tengah masalah rumah tangganya. Bahkan ia kurang bisa berkonsentrasi saat melakukan meeting dengan Mr. Zhang.


Di kala letih dan berbeban berat, ia membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya dan menguatkannya.


Uang, kekuasaan, dan kekayaan ternyata tidak mampu menghibur hatinya yang sedang porak poranda. Yang ia butuhkan saat ini adalah kasih sayang. Dan entah mengapa bayangan Cleantha yang muncul pertama kali di benaknya.


Tiba-tiba saja, ia merindukan istrinya itu. Ingin memeluknya dan membelai bayi yang sedang bertumbuh di dalam rahimnya.


"Dion."


"Iya, Tuan."


"Besok, tolong cari seorang informan untuk melacak keberadaan Fendi di Singapura. Jika dia berhasil menemukan saudaraku yang brengsek itu, cepat beritahu aku. Aku akan menemui dia secara langsung. Aku harus memaksanya menjelaskan detail peristiwa penjebakan itu," tukas Raja.


"Baik, Tuan, akan segera saya laksanakan."


BERSAMBUNG


Jangan lupa tinggalkan komen, like, dan votenya.

__ADS_1


Happy Weekend


__ADS_2