Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 74 Dia juga Mencintaiku


__ADS_3

Teperangkap dalam dilema besar, tiba-tiba Cleantha merasa perutnya bergejolak.


Entah mendapat kekuatan dari mana, Cleantha melepaskan kedua tangannya dari Keyla maupun Raja. Berlari cepat ke dalam lobi sebelum ia memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya.


Cleantha melewati Zevira dan Ayesha yang masih memandangnya dengan penuh kebencian.


"Clea, mau kemana kamu? Taksinya akan berangkat," seru Keyla hendak mengejar Cleantha. Namun Raja menghadang langkah Keyla.


"Kamu tidak pantas menekan adikmu seperti itu. Sekarang aku tahu kenapa Clea bersikeras ingin berpisah dariku. Ternyata kamu penyebabnya," ujar Raja geram.


"Lalu bagaimana dengan Anda? Anda juga membuat Cleantha menderita. Anda menjadikannya istri kedua secara sembunyi-sembunyi. Tidak memberitahukannya kepada saya dan Ayah saya sebagai keluarga Cleantha. Anda juga membiarkan Cleantha dianggap sebagai perusak rumah tangga orang lain. Jika Anda peduli padanya, seharusnya Anda ceraikan dulu istri pertama Anda," ucap Keyla tidak terima.


Makian dari Keyla membuat Raja terhenyak.


Tak dapat dipungkiri bahwa ia telah memperlakukan Cleantha secara tidak adil. Bahkan tidak mau mengakui statusnya sebagai istri sah di hadapan umum.


Dan soal Zevira, ia masih belum menceraikan wanita itu karena mencemaskan kondisi mental Ivyna. Terlebih lagi Zevira belum sembuh dari kelumpuhannya.


"Kamu memang pandai bermain kata-kata. Sekarang aku akan menanyakan sendiri pada adikmu apa dia masih mau menjadi istriku," ucap Raja meninggalkan Keyla.


Supir taksi yang melihat kejadian itu pun kebingungan.


"Non, bagaimana ini? Anda jadi naik taksi atau tidak?"


"Jadi, Pak. Ayo kita pergi," ucap Keyla masuk ke dalam taksi.


Di lobi, Cleantha tergesa-gesa menuju ke toilet wanita. Merasakan gejolak di perutnya makin tak terkendali. Akhirnya ia muntah di dalam toilet hingga perutnya terasa lega.


Sambil bersandar pada dinding, Cleantha menekan tombol flush.


"Aku belum pernah muntah-muntah begini sebelumnya. Apa aku terserang penyakit maag karena terlambat makan? Atau aku muntah karena terlalu stress?"


...****************...


Raja mempercepat langkahnya ke dalam lobi. Mencari-cari dimana sekiranya Cleantha berada. Ia bertekad menemukan Cleantha. Meminta istrinya itu untuk mengambil keputusan mengenai kelanjutan rumah tangga mereka.


Namun rombongan pengusaha yang keluar bersamaan dari ballroom, menghalangi pandangan Raja


Sebagian dari mereka berhenti untuk menyapanya.


"Bi Dewi, bawa kursi rodaku mendekat kepada Raja," ucap Zevira memanfaatkan kesempatan untuk memisahkan Raja dari Cleantha.


"Raja, ayo kita pulang. Kepalaku pusing dan badanku menggigil. Sepertinya aku kelelahan karena acara ini," kata Zevira berbicara dengan suara keras di hadapan para relasi bisnis Raja.


"Raja, kelihatannya istrimu sedang sakit," kata Tuan Marcel.


"Ayo, Sayang, aku butuh istirahat," rengek Zevira mencari simpati.


"Cepat pulanglah, Raja. Kasihan Vira," sambung Tuan William.


"I..iya, Om. Saya permisi," jawab Raja tidak bisa menolak keinginan Zevira di depan umum.


"*B*esok aku akan ke rumah Cleantha untuk bicara langsung dengannya,"


pikir Raja keluar dari lobi bersama Zevira.


...****************...


Melihat orang-orang keluar dari ballroom, Cleantha sengaja menyembunyikan diri. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun.


"Aku akan menunggu sampai lobi sepi. Aku ingin pulang sendirian saja supaya lebih tenang,"


batin Cleantha.


Setelah beberapa menit berdiam diri, perut Cleantha kembali mual.


Cleantha berlari ke toilet, membiarkan dirinya muntah untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Semoga setelah ini aku tidak muntah lagi,"


gumam Cleantha sambil berjalan pelan-pelan.


Suasana di lobi mulai lengang. Tampaknya para tamu dan karyawan sudah meninggalkan hotel itu.


Cleantha pun memberanikan diri untuk berjalan keluar. Namun ia mendengar suara pertengkaran antara pria dan wanita dari sampingnya.


"Al, aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Kamu lebih memperhatikan Cleantha, si pelakor itu daripada aku. Apa maumu sebenarnya?" ucap Ayesha menghardik Alvian.


"Ayesha, nanti kita bicara lagi di dalam mobil. Apa kamu tidak malu dilihat orang? Ayo pulang," ajak Alvian.


"Wait, itu dia si wanita pelakor," ucap Ayesha melihat kehadiran Cleantha.


Dengan kasar, Ayesha menarik tangan Cleantha dan memaksanya menemui Alvian.


"Clea, kenapa kamu masih ada disini? Aku kira kamu sudah pulang bersama Kak Raja. Dan kenapa wajahmu pucat?" tanya Alvian terkejut.


"Justru bagus wanita ini belum pulang. Sekarang aku tanya padamu. Siapa yang kamu pilih, dia atau aku?" tunjuk Ayesha kepada Cleantha.


"Ayesha jangan bersikap kekanak-kanakan! Apa masih belum cukup kamu mempermalukan Cleantha di acara tadi? Jangan pikir aku tidak melihat perbuatanmu," tegas Alvian.


"Oh begitu. Sekarang kamu menyalahkan aku. Cepat putuskan siapa yang kamu pilih. Jika kamu memilih pelakor ini, artinya hubungan kita berakhir sampai disini!" tantang Ayesha.


Tuduhan demi tuduhan yang dilontarkan Ayesha, membuat Cleantha tidak tahan.


Dengan sekali sentak, Cleantha menghempaskan cengkeraman tangan Ayesha pada lengannya.


"Nona Ayesha, saya tidak akan membiarkan Anda terus menghina saya. Saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Pak Alvian. Jaga saja tunangan Anda baik-baik dan jangan libatkan saya!" ucap Cleantha berlalu pergi.


"Berani sekali dia! Aku akan membuat dia jera!" desis Ayesha semakin murka.


Ayesha hendak menyusul Cleantha, tapi Alvian dengan cepat mencegahnya.


"Hentikan, Ayesha! Kamu gadis berpendidikan tapi kelakuanmu sangat memalukan. Jangan menyakiti Cleantha lagi!"


Ayesha melipat tangannya di depan dada. Sementara suaranya serak karena menahan amarah.


"Baiklah. Kamu sendiri yang memintanya," jawab Alvian bergegas pergi.


Genangan air mata memenuhi pelupuk mata Ayesha. Sebenarnya ia ingin Alvian memohon padanya agar tetap mempertahankan hubungan mereka. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Alvian langsung menyetujui berakhirnya hubungan mereka.


...****************...


Alvian mengejar Cleantha ke depan pintu lobi dan meraih tangannya. Merasakan telapak tangan Cleantha yang begitu dingin.


"Clea, ikut aku! Aku akan mengantarmu pulang ke rumah Kak Raja."


"Bapak tidak perlu mengantar saya. Saya bisa pulang sendiri. Urusi saja Nona Ayesha," tolak Cleantha berusaha melepaskan tangannya.


"Tanganmu dingin, kamu pasti sedang kurang sehat. Gaunmu juga robek, tapi masih saja keras kepala. Kali ini aku akan memaksamu," ucap Alvian melingkarkan lengannya yang kokoh di pinggang Cleantha. Menggiring gadis itu ke area parkir hotel.


"Pak, jangan begini. Nanti Nona Ayesha semakin membenci saya," ucap Cleantha berusaha melepaskan diri dari Alvian.


"Diamlah dan tidak perlu memikirkan Ayesha. Dia sudah bukan tunanganku lagi. Kami baru saja putus," kata Alvian tidak menghiraukan permintaan Cleantha.


Cleantha terdiam sejenak. Entah pendengarannya salah atau tidak. Yang jelas ia mendengar Alvian sudah memutuskan pertunangannya dengan Ayesha. Dan ia pasti akan dituduh sebagai penyebabnya.


"Masuklah," kata Alvian menyuruh Cleantha masuk ke mobilnya.


Alvian menutup pintu mobil lalu duduk di belakang kemudi.


"Tunggu, Pak. Kenapa Bapak menambah masalah saya?" tanya Cleantha tiba-tiba.


"Masalah apa?" tanya Alvian tidak mengerti.


"Selama ini saya menderita karena menjadi orang ketiga dalam pernikahan Tuan Raja. Saya mendapat cap buruk sebagai perebut suami orang. Sekarang Bapak malah menambah beban saya dengan memutuskan pertunangan dengan Nona Ayesha. Semestinya Bapak bersama dengan wanita yang Bapak cintai."

__ADS_1


"Tapi aku tidak mencintai Ayesha," ucap Alvian meninggikan suaranya.


"Lalu kenapa Bapak mempedulikan saya? Perhatian Bapak hanya akan semakin menyakiti saya," ucap Cleantha dengan mata berkaca-kaca.


Tidak tahu apa sebabnya, Cleantha merasa sangat sensitif dan sentimental malam ini.


"Karena kamu kakak iparku," jawab Alvian singkat.


"Saya sudah bilang berulang kali, saya bukan kakak ipar Bapak lagi. Biarkan saya pergi," kata Cleantha.


Tanpa diduga Cleantha, Alvian mendadak menggenggam tangannya.


"Bagaimana kalau aku punya alasan lain. Kenapa aku peduli padamu," kata Alvian menatap langsung ke mata Cleantha.


Tatapan tajam Alvian membuat Cleantha salah tingkah. Namun ia tetap berusaha menguasai diri di depan atasannya itu.


"A...apa alasannya, Pak?"


"Karena aku...mencintaimu. Apa kamu puas sekarang?" seru Alvian menahan emosinya.


Pengakuan Alvian itu membuat Cleantha tertegun. Hatinya serasa tersengat ribuan ekor lebah.


Ia tidak menyangka bila ada pria yang mengungkapkan cinta padanya secara terang-terangan. Dan pria itu adalah Alvian Adhiyaksa. Bukan Raja yang menjadi suaminya.


Alvian menarik nafas dalam-dalam, seakan menyesali kalimat yang terlepas begitu saja dari bibirnya.


"Tanganmu masih dingin. Biar aku membantumu," kata Alvian menggosok-gosok telapak tangan Cleantha agar menghangat.


Sejurus kemudian, ia melepaskan jasnya dan mengenakannya pada Cleantha.


"Pakai ini sampai kita tiba di rumah Kak Raja."


Tanpa bicara lagi, Alvian menjalankan mobilnya keluar dari hotel.


Meskipun tidak saling bicara, namun Cleantha merasa perasaannya terombang-ambing. Entah mengapa ia merasa bahagia mengetahui ada seseorang yang tulus mencintainya.


Selama ini dia hanya menerima kebencian dan rasa marah dari orang-orang terdekatnya. Tak jarang juga ia diperlakukan kasar dan dipaksa untuk menuruti kemauan mereka.


Namun berbeda dengan Alvian. Pria itu selalu bersikap baik padanya, melindunginya dan selalu ada untuknya di masa yang sulit.


"Tidak usah memikirkan perkataanku tadi. Kita sudah sampai. Turunlah dan temui Kak Raja. Lepaskan juga jasku agar Kak Raja tidak memarahimu," kata Alvian membuka pintu mobilnya.


Cleantha mengembalikan jas Alvian dengan ragu-ragu.


"Tapi Pak, saya...."


"Cleantha, aku tidak pernah meminta balasan apapun darimu. Hanya saja jika kamu sedikit menghargai perasaanku, maka kembalilah pada kakakku. Sesekali pikirkanlah kebahagiaanmu sendiri. Bagiku sudah cukup bila melihat orang yang kusayangi bahagia," kata Alvian sebelum menutup jendela mobilnya.


Ia segera mengemudikan mobilnya dan meninggalkan Cleantha.


Sementara Cleantha memandangi kepergian Alvian dengan tatapan nanar.


"Ada apa denganku? Kenapa aku sedih saat Pak Alvian pergi meninggalkan aku?"


gumam Cleantha menahan air matanya.


...****************...


"Nyonya, Anda mau masuk ke dalam?" tanya security yang menjaga gerbang rumah Raja.


"I..iya, Pak. Apa Tuan Raja ada?"


"Iya, Nyonya. Silakan masuk," kata security itu membukakan gerbang.


Cleantha melangkah memasuki pekarangan rumah besar itu. Kedatangannya membuat terkejut para pelayan di rumah Raja.


"Nyonya Cleantha, akhirnya Anda kembali. Tuan Raja ada di kamarnya, baru saja pulang dari pesta. Apa Nyonya mau saya antarkan?" tanya Pak Darma turut merasa senang.

__ADS_1


"Tidak usah, Pak. Saya akan kesana sendiri," kata Cleantha melangkah menuju ke kamar Raja.


BERSAMBUNG


__ADS_2