
**Happy Reading My Readers.
Semoga hari kalian penuh cinta sama seperti dunia halu 😍**
"Clea, bisa ikut Mama sebentar?" tanya Ny. Marina mengajak Cleantha ke kamarnya.
"Ada apa, Ma?"
Ny. Marina menatap Cleantha dengan sungguh-sungguh.
"Mama tadi memperhatikan Almero dan Raja. Mereka nampak akrab seperti anak dan ayah. Selama ini Almero sering murung karena merindukan Alvian. Tapi setelah bertemu Raja, dia kelihatan bahagia. Mama pikir Almero membutuhkan sosok ayah dan dia temukan itu dalam diri Raja," kata Ny. Marina membuka pembicaraan.
"Kenapa Mama bicara begitu? Ayahnya Almero adalah Alvian dan tidak ada yang bisa menggantikannya," tandas Cleantha.
Ny. Marina tidak menyangka Cleantha akan bereaksi sekeras itu.
"Iya, Alvian adalah ayah kandung Almero. Tapi Al sudah pergi untuk selamanya. Dia tidak bisa mendampingi kalian lagi. Almero masih kecil, dia membutuhkan orang tua yang lengkap agar bisa tumbuh dengan baik."
"Aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk Almero, Ma," jawab Cleantha meyakinkan ibu mertuanya.
"Kamu memang wanita yang kuat dan mandiri. Tapi menjadi orang tua tunggal tidak semudah yang kamu bayangkan. Mama pernah mengalaminya, Clea. Setelah Wijaya meninggal, Mama harus menjaga keutuhan keluarga Adhiyaksa sekaligus kestabilan perusahaan. Untung saja Alvian dan Raja sudah dewasa sehingga mereka bisa membantu Mama. Tapi keadaanmu berbeda. Almero baru berusia lima tahun."
Dari perkataan Ny. Marina, Cleantha mulai paham kemana arah pembicaraan ibu mertuanya.
"Kamu dan Raja pernah menjadi suami istri. Sekarang kalian berdua berstatus janda dan duda dengan satu anak. Tidakkah kamu berpikir bahwa kalian memiliki nasib yang sama? Mungkin ini bukan suatu kebetulan tapi merupakan takdir."
Ny. Marina memegang tangan Cleantha.
"Clea, pertimbangkanlah untuk menikah lagi dengan Raja. Dari tatapan Raja kepadamu, Mama yakin kalau dia masih mencintaimu. Jika kalian bersama, keluarga Adhiyaksa akan bersatu. Almero punya ayah dan Ivyna punya ibu. Tidak ada yang lebih membahagiakan Mama selain hal ini."
Mendengar permintaan ibu mertuanya, terbersit rasa kecewa di dalam hati Cleantha. Entah mengapa Ny. Marina malah mendorongnya untuk menikah lagi. Padahal sudah jelas ia tidak ingin membagikan cinta kepada pria lain, termasuk Raja.
"Maafkan aku, Ma. Saat ini aku belum bisa memenuhi permintaan Mama."
Cleantha menunjukkan kalung yang dipakainya kepada Ny. Marina.
"Ma, ini adalah kalung love knot yang diberikan Alvian sebelum peristiwa kecelakaan itu. Kalung ini menggambarkan ikatan abadi dari cinta kami. Artinya kami akan saling setia untuk menjaga cinta kami hingga akhir hayat. Aku tidak bisa mengkhianati cinta suamiku dengan menikah lagi. Tolong Mama mengerti perasaanku," pinta Cleantha dengan mata berkaca-kaca.
"Mama tahu kamu sangat mencintai Alvian. Tapi apakah tidak bisa kamu berkorban sedikit saja demi Almero? Mungkin sekarang kamu belum bisa menerima Raja, tapi pernikahan akan membuat hatimu berubah. Raja itu pria yang baik dan bertanggungjawab. Dia akan membuatmu dan Almero bahagia," jelas Ny. Marina.
"Aku belum bisa memberikan jawaban apa-apa, Ma. Boleh aku kembali ke kamar?" tanya Cleantha mengusap air matanya.
"Iya, Clea. Mama mohon pikirkanlah apa yang Mama katakan tadi."
Cleantha beranjak pergi menuju kamarnya sendiri. Ia mengunci pintu lalu menangis tanpa mengeluarkan suara.
Tekanan yang dirasakannya ibarat memakan buah simalakama. Jika mengabulkan permintaan Ny. Marina, artinya ia akan mengingkari sumpah setia kepada Alvian. Sebaliknya bila menolak, Ny. Marina, Raja dan Almero akan kecewa.
__ADS_1
"Al, kenapa kamu harus meninggalkan aku? Jika kamu masih ada bersamaku aku tidak akan mengalami dilema seperti ini,"
batin Cleantha sambil mengelus liontin kalungnya.
...****************...
Tuan Bayu mengunjungi Raja di dalam kamarnya. Ia menunggu anak-anak tertidur pulas untuk membicarakan soal Cleantha.
"Raja, Papa ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kamu masih mencintai Cleantha dan menginginkan dia menjadi istrimu lagi?" tanya Tuan Bayu to the point.
Raja terkejut mendengar pertanyaan dari sang ayah mertua. Tapi dia adalah pria dewasa, bukan anak remaja yang malu-malu mengakui cintanya.
"Iya, Pa."
"Bagus, Papa senang kamu mengakuinya dengan jujur. Sebenarnya Papa dan Marina memang berencana menjodohkan kalian. Kami berpikir jika kalian berdua menikah, semua permasalahan di keluarga Adhiyaksa akan selesai. Marina juga sedang berusaha membujuk Cleantha."
Raut wajah Raja berubah muram.
"Aku yakin Cleantha akan menolak rencana pernikahan ini. Dia hanya mencintai Alvian," jawab Raja.
"Raja, Papa akan memberikan nasehat padamu sebagai sesama pria. Jika seorang istri sangat mencintai suaminya, dia akan sulit melupakannya meskipun sang suami telah meninggal dunia. Hal ini justru pertanda bahwa Cleantha adalah wanita yang setia."
Tuan Bayu mencodongkan tubuhnya.
"Batu sekeras apapun akan terkikis bila terus menerus ditetesi air. Apalagi hati wanita yang lembut. Jika kamu ingin mendapatkan Cleantha, maka hujanilah dia dengan perhatian dan kasih sayang. Misalnya beri dia bunga, ajak makan malam atau lakukan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. Cepat atau lambat, dia akan luluh dan menerima cintamu."
"Cinta tidak mengenal batasan usia. Lagipula kamu itu masih muda."
"Apa kamu ingat apa saja yang dilakukan Alvian sehingga Cleantha jatuh cinta padanya?" sambung Tuan Bayu dengan wajah serius.
"Alvian bersikap lembut pada Cleantha. Selalu berusaha melindungi dan memperhatikannya. Alvian juga lebih romantis dalam mengekspresikan perasaannya daripada aku," jawab Raja jujur.
"Pantas saja kamu kalah dari adikmu. Karena itu tirulah cara-cara Alvian mulai saat ini. Perlakukan Cleantha sama seperti Alvian menyayanginya. Kamu akan melihat hasilnya nanti."
Nasehat Tuan Bayu memantik kembali api semangat dalam diri Raja.
"Baik, Pa. Doakan aku supaya berhasil."
...****************...
Usai berlibur di vila, Cleantha kembali pada aktivitasnya. Setelah mengantar Almero ke sekolah, Cleantha bergegas datang ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Ketika memasuki ruangannya, Cleantha terkejut mendapati buket mawar merah yang terletak di atas mejanya.
"Bunga dari siapa in?"
Cleantha mengambil secarik kartu yang tersemat di buket mawar itu. Ia membaca isi pesan dari si pengirim, tapi tidak ada nama siapapun yang tercantum disana.
__ADS_1
"Seperti mawar merah yang menjadi perlambang cinta, itulah isi hatiku. Aku selalu ingin mencintai dan menjagamu. Semoga harimu berjalan indah dan menyenangkan."
Tebakan Cleantha langsung mengarah kepada Raja. Namun apa mungkin pria itu berubah sedemikian romantis hingga mengirimkan bunga sebagai ungkapan cintanya.
"Halo, Ryan. Apa kamu tahu siapa yang mengirimkan bunga mawar ini?" tanya Cleantha dari interkom.
"Kurir dari toko bunga Tulip yang mengirimkan kesini, Bu. Tapi dia tidak memberitahukan siapa pengirimnya."
"Oke, terima kasih, Ryan."
Cleantha menutup telponnya dan meletakkan bunga mawar itu di sudut meja.
Bila dilihat dari dekat, bunga itu sangat cantik dan cocok menghiasi ruangannya. Jadi dia memutuskan untuk tidak mempermasalahkan siapa pengirimnya.
Cleantha kembali berkutat dengan pekerjaan hingga tiba waktunya makan siang.
"Tok, tok, tok." Terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk saja Ryan."
Asisten setia Cleantha itu masuk dengan membawa kotak besar di tangannya.
"Maaf Bu, ini ada kiriman makan siang untuk Ibu."
"Dari siapa, Ryan?" tanya Cleantha keheranan.
"Dari pelayan Tuan Raja, namanya Mbak Narti. Katanya makanan ini dibuat khusus untuk Ibu. Semua bahannya organik."
"Terima kasih, Ryan. Letakkan saja di meja."
"Baik, Bu. Selamat makan, saya permisi."
Untuk kedua kalinya Cleantha dibuat tercengang oleh kejutan dari Raja.
Ia berjalan menuju ke meja dan membuka kotak makanan itu.
"Ini...semua makanan kesukaanku. Dulu aku sering meminta Mbak Narti menyiapkannya. Ternyata diam-diam Tuan Raja memperhatikan aku,"
pikir Cleantha mengambil sendok untuk mencicipi makanan itu. Rasanya masih lezat, tidak ada yang berubah.
Saat Cleantha masih menikmati makan siangnya, ponselnya bergetar tiga kali.
Ia meraih ponselnya dari meja dan melihat nama Raja di bagian pesan masuk. Cleantha segera membaca isi pesan tersebut.
"Apa kamu menyukai mawar dan makanan yang aku kirimkan? Kalau kamu tidak bersedia menerimanya, tolong jangan dibuang. Kembalikan saja ke ruanganku, dengan syarat kamu harus datang sendiri untuk menemuiku. Jika kamu tidak datang sampai jam satu siang, aku menganggap kamu tidak menolak pemberianku."
Cleantha tersenyum sendiri membaca tulisan Raja. Sungguh siapapun tidak akan percaya jika pesan ini dikirimkan oleh CEO Adhiyaksa Group yang terkenal sedingin es di kutub utara.
__ADS_1
BERSAMBUNG