
Setelah turun dari bus, Cleantha langsung menuju ke rumah sakit. Ia ingin berpamitan kepada ayahnya sekaligus meminta doa restu untuk menjalani proses seleksi.
"Clea, malam-malam begini kamu baru pulang dari Bogor?" tanya Ana terkejut.
"Iya, Tante, aku kesini karena ingin pamit pada Tante dan Ayah."
"Pamit? Besok kamu mau pergi lagi?"
Mendengar suara Cleantha, Tuan Sigit berusaha memanggil putrinya itu.
"Cle...aaa," gumam Tuan Sigit terbata-bata.
Melihat sang ayah bersusah payah menyebutkan namanya, Cleantha merasa tersentuh. Ia menunduk dan mencium tangan ayahnya sambil berlinang air mata.
"Yah, maafkan Clea. Selama beberapa hari ke depan, Clea tidak bisa menemani Ayah disini. Clea harus menginap di Bogor untuk mengikuti kompetisi. Doakan Clea supaya bisa memenangkan hadiahnya," ucap Cleantha terisak.
Meskipun ayahnya dulu sering berlaku kasar, namun Cleantha tidak menyimpan dendam. Rasa sayangnya sebagai anak tidak pernah berkurang. Apalagi dalam kondisi tak berdaya seperti sekarang, ia tidak tega meninggalkan ayahnya seorang diri.
Tuan Sigit mengangguk perlahan. Matanya nampak berkaca-kaca menahan keharuan.
Beberapa kali ia mendengar pembicaraan antara Cleantha dan Keyla. Dari situ ia mengetahui bahwa putri bungsunya rela berhutang pada rentenir demi membiayai pengobatannya.
Ana maju ke depan dan menarik tangan Cleantha.
"Clea, kalau kamu menginap artinya Tante yang harus menjaga ayahmu setiap hari?"
"Iya, Tante. Aku mohon Tante bersedia menolongku. Aku diharuskan menginap di vila untuk menjalani tahap selanjutnya. Kalau tidak datang aku dianggap gugur, Tante."
Bibir Ana terangkat sedikit ke atas, menunjukkan bahwa ia menyangsikan kemampuan Cleantha.
"Apa kamu yakin akan bisa keluar sebagai pemenang? Tante tidak mau berkorban untuk sesuatu yang sia-sia. Sekali kamu pergi, kamu harus mendapatkan uang seratus juta itu."
"Aku akan berusaha sekuat tenaga, Tante."
"Lalu bagaimana kalau kamu kalah? Kamu harus tetap memberikan kompensasi kepada Tante dalam bentuk uang. Jika tidak, lebih baik kamu tidak usah pulang ke rumah," ancam Ana.
"Iya, aku janji, Tante. Aku tetap akan memberikan uang pada Tante bagaimanapun caranya."
"Tante pegang janjimu itu. Awas kalau kamu bohong!" ucap Ana berapi-api.
Cleantha kembali memandang wajah ayahnya.
"Clea pamit, Yah," ucap Cleantha memeluk ayahnya.
Entah mengapa ia merasa akan berpisah dengan ayahnya dalam waktu lama.
"Tante, aku pergi sekarang."
"Kenapa kamu tidak berjaga menggantikan Tante untuk malam ini saja?"
"Maaf, Tante, aku harus pulang ke rumah untuk menyiapkan baju. Besok pagi-pagi sekali aku langsung berangkat naik bus."
"Kamu memang paling pintar mencari alasan. Sekali ini Tante akan mengalah."
Langkah Cleantha terasa berat ketika harus meninggalkan ayahnya yang masih terbaring sakit. Namun apalah dayanya selain harus terus berjuang hingga titik terakhir.
Sesampainya di rumah, Keyla langsung menanyai Cleantha bak seorang detektif yang melakukan interogasi.
"Bagaimana dengan kompetisi itu? Apa kamu diterima?" tanya Keyla melihat raut wajah adiknya yang terlihat lelah.
"Aku sudah mengikuti wawancara hari ini, Kak. Aku dinyatakan masuk ke sepuluh besar. Mulai besok aku akan menginap di vila Tuan Raja bersama peserta lain."
__ADS_1
"Syukurlah. Tampaknya nasib sialmu sudah berganti dengan keberuntungan."
Keyla mengikuti Cleantha masuk ke dalam kamar.
Ia mengamati adiknya yang sibuk memasukkan baju dan beberapa barang pribadi ke sebuah tas berukuran besar.
"Berapa hari kamu akan menginap?"
"Aku belum tahu, Kak. Pihak panitia tidak mengatakan apa-apa."
Keyla mengernyitkan dahinya.
"Kenapa kamu tidak menanyakannya kepada mereka?Memangnya siapa panitia kompetisi itu?"
"Bu Siska, Kak. Ada juga asisten Tuan Raja, namanya Tuan Dion."
"Hmmm, Bu Siska? Dia itu salah satu petinggi di Adhiyaksa Group. Artinya Tuan Raja menganggap kompetisi ini sangat penting, sehingga dia mengutus orang-orang kepercayaannya. Kamu harus berhati-hati, Clea. Jangan sampai melakukan kesalahan."
"Iya, Kak."
"Ingat jangan sebut-sebut namaku di hadapan mereka. Aku tidak ingin berada dalam kesulitan."
Cleantha hanya mengangguk, pertanda memahami peringatan dari kakaknya. Ia tahu bahwa Keyla sangat takut kehilangan pekerjaan di perusahaan sebesar Adhiyaksa Group.
...****************...
Begitu tiba di vila Chrysant, para peserta diminta menunggu di ruangan yang sama seperti hari pertama.
Tak lama, Bu Siska datang membuka pintu dengan gaya berjalan bak seorang bangsawan.
"Selamat pagi semuanya. Saya senang kalian datang tepat waktu. Sebelumnya harap serahkan ponsel kalian. Selama menjalani proses seleksi, kalian dilarang untuk berkomunikasi dengan siapapun," tegas Bu Siska.
Satu per satu nama peserta dipanggil oleh Bu Siska, termasuk Cleantha. Dengan patuh, mereka semua menyerahkan ponselnya tanpa ada yang berani membantah.
Para pelayan bergerak cepat mengantarkan gadis yang menjadi tanggungjawab mereka.
Seorang pelayan bertubuh mungil mengantarkan Cleantha ke dalam kamar paling ujung.
Bersama Cleantha, ada seorang gadis manis yang sebaya dengannya. Nampaknya gadis itu akan menjadi teman sekamar Cleantha.
"Silakan simpan barang-barang Anda di lemari, Nona. Mohon diperhatikan saat ada bunyi bel, Anda semua diharuskan keluar dari kamar dan berkumpul di ruangan tadi. Saya permisi," ucap pelayan itu sebelum meninggalkan mereka.
Usai pelayan itu pergi, Cleantha meletakkan tasnya di atas lantai. Ia segera membongkar isi tas tersebut agar bisa merapikan baju-bajunya.
Berbeda dengan gadis yang menjadi teman sekamarnya. Gadis itu justru terlihat santai dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Halo, siapa namamu?" tanya gadis itu kepada Cleantha.
"Saya Cleantha," jawab Cleantha sembari memasukkan kaosnya ke dalam lemari.
"Tidak usah bicara formal, kita sama-sama peserta disini. Aku Miranda. Panggil saja Mira. Semoga kita bisa cocok satu sama lain karena kita akan tidur sekamar."
"Iya, Mira, terima kasih. Kamu bisa memanggilku Clea."
"Kamu rajin sekali, Clea. Apa kamu sudah berpengalaman menjadi baby sitter?" tanya Miranda mencari tahu.
"Belum. Sebenarnya aku baru saja lulus kuliah, belum ada pengalaman kerja. Kalau kamu, Mira?" tanya Clea balik melemparkan pertanyaan.
"Sama. Aku juga tidak pernah menjadi baby sitter. Latar belakangku adalah seorang model. Aku ikut kompetisi ini sekedar iseng. Tidak disangka aku lolos," tutur Miranda.
Gadis manis itu memang berperawakan tinggi dan langsing, layaknya model wanita pada umumnya.
__ADS_1
Kecurigaan Cleantha makin bertambah sesudah mendengar pengakuan Miranda.
"*P*eserta yang lolos justru tidak memiliki pengalaman maupun latar belakang sebagai pengasuh anak. Lalu kriteria seperti apa yang sesungguhnya mereka cari?"
pikir Cleantha penasaran.
"Kemarin aku sempat berkenalan dengan Jessi dan Inge. Mereka juga bukan baby sitter. Jessi adalah mahasiswi jurusan arsitek, sedangkan Inge seorang hairstylist. Tampaknya peserta yang diloloskan adalah yang berwajah cantik dan bertubuh ideal," lanjut Miranda menggoyangkan kakinya.
Suara bel yang nyaring menghentikan obrolan antara Cleantha dan Miranda. Mereka bergegas keluar dari kamar sesuai dengan instruksi yang diberikan Bu Siska.
Di ruangan itu telah berkumpul delapan gadis lain yang terpilih.
Suasana hening penuh ketegangan kembali terasa saat Bu Siska melangkah masuk.
"Selamat siang. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Nyonya Zevira Adhiyaksa hari ini akan datang untuk menilai kalian. Sebelum Nyonya Zevira hadir, saya memiliki tugas pertama untuk kalian."
Bu Siska menatap tajam para peserta lalu melanjutkan ucapannya.
"Kalian akan memasak makanan kesukaan Ny. Zevira, yaitu salmon steak dan mashed potato. Kami sudah menyiapkan bahan-bahannya di dapur. Kalian tinggal memasaknya berdasarkan resep yang diberikan kepala chef. Hasil masakan kalian akan dicicipi langsung oleh Ny. Zevira. Ini adalah tes yang diberikan Ny. Zevira sendiri. Jadi kalian harus melakukannya dengan benar."
Mendengar pengumuman itu, raut wajah para peserta menunjukkan kekhawatiran yang teramat sangat.
"Clea, aku tidak bisa masak. Lalu bagaimana aku bisa membuat masakan serumit itu?" bisik Miranda lirih.
Bu Siska memandang ke arah Miranda sambil melotot.
"Ehemmm. Saya sudah mengatakan untuk menjaga ketenangan di ruangan ini. Tidak perlu berbicara dengan peserta lain."
"Maaf, Bu," jawab Miranda kembali duduk tegak di kursinya.
"Sekarang lima peserta yang saya sebutkan, harap ikut kepala pelayan ke dapur. Sedangkan lima peserta lain akan ikut saya memilih gaun untuk dipakai menemui Ny. Zevira. Jadi kalian akan bergantian memasak dan memilih gaun. Apa kalian mengerti Nona Nona?"
"Iya, Bu," jawab para peserta serempak.
"Bagus. Mari kita mulai," ucap Bu Siska menaikkan dagunya ke atas.
...****************...
Zevira sengaja memakai gaun elegan serba merah dan riasan yang terbaik untuk menunjang penampilannya hari ini.
Ia ingin terlihat cantik, anggun sekaligus berkelas di hadapan para peserta. Zevira sudah bertekad untuk memberikan gertakan halus terhadap para gadis itu, yang notabene akan menjadi madunya dalam pernikahan.
"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Bi Dewi, pelayan setia Zevira.
Bi Dewi telah melayani Zevira selama bertahun-tahun, sehingga dia bisa menebak isi pikiran majikannya itu.
"Bibi tidak perlu cemas. Aku akan menangani ini dengan baik. Aku tidak akan menyerah begitu saja pada permainan Raja."
"Nyonya, saya mohon jangan melakukan hal-hal yang akan membuat Tuan Raja bertambah marah."
Senyuman tipis tersungging di bibir merah Zevira.
"Tenang saja, Bi. Aku ini wanita yang cerdas. Aku akan memastikan Raja mendapatkan isteri kedua yang jauh dari seleranya. Hingga dia tidak akan pernah tertarik pada wanita itu. Sekaligus aku akan menunjukkan kepada maduku bahwa akulah ratu yang sesungguhnya. Sedangkan dia nanti hanyalah seorang pelayan bagiku," tukas Zevira penuh keyakinan.
.
.
.
Jangan lupa dukung author dengan memberikan like vote, dan comment.
__ADS_1
thx all