
Raja mengantarkan Cleantha ke salah satu apotek terdekat. Ia diam saja melihat Cleantha memilih obat yang dibutuhkannya. Namun Raja mengamati bentuk dan warna dari obat tersebut. Setelah selesai, mereka berdua mencari restoran untuk makan siang.
Sepanjang jalan, Raja tidak pernah melepaskan tangan Cleantha.
"Mau makan apa, Clea?" tanya Raja meminta pendapat istrinya.
"Seafood. Aku ingin makan udang dan tiram."
"Seingatku kamu dulu tidak menyukai makanan laut."
"Iya, tapi Al sangat suka makan seafood. Dia selalu memaksaku mencicipinya dan lama-lama aku jadi suka," jawab Cleantha jujur.
Wajah Raja langsung berubah cemberut mendengar Cleantha menyebut nama Alvian. Ia tahu tidak sepantasnya cemburu pada mendiang adiknya yang telah tiada. Tapi entah mengapa dia tidak rela mendengar Cleantha menyebut nama pria lain.
"Bisa tidak kita makan yang lain? Sate lilit atau ayam betutu?"
"Tapi seafood disini sangat enak, sayang untuk dilewatkan," ucap Cleantha tidak memahami kecemburuan Raja.
"Aku alergi udang," jawab Raja mencari alasan.
Cleantha mengernyitkan dahi. Selama menjadi istri Raja, dia tidak tahu jika pria ini memiliki alergi terhadap udang. Namun akhirnya dia mengalah dan mengikuti kemauan Raja.
Mereka makan siang sambil mengobrol tentang anak-anak. Raja banyak bertanya tentang Almero mengenai apa makanan kesukaannya, hobinya dan beberapa kebiasaan anak sambungnya itu. Tampaknya dia sangat serius ingin menjadi ayah yang baik bagi Almero.
Selesai makan siang, Raja mengajak Cleantha berbelanja di salah satu mall terbesar di Bali. Ia membelikan lego dan beberapa mainan untuk Almero. Saat Cleantha sibuk memilih baju untuk Ivyna dan Almero, Raja membeli sesuatu tanpa sepengetahuan istrinya.
"Sudah selesai, Sayang? Ayo kita pulang," ajak Raja.
"Ini baru jam tiga sore. Apa tidak lebih baik kita berjalan-jalan? Lagipula besok kita sudah pulang ke Jakarta."
"Justru karena itu aku mau kita berduaan lebih lama. Nanti di rumah, kita tidak akan punya waktu seperti ini lagi. Perhatianmu akan lebih banyak tersita untuk anak-anak dan aku pasti akan diabaikan," ucap Raja sedikit manja. Cleantha menahan senyumnya. Baru kali ini dia melihat Raja bisa merajuk seperti itu.
Setelah tiba di vila, mereka tinggal berdua di dalam kamar. Cleantha sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi ia menurut saja karena ini adalah hari terakhir mereka berbulan madu.
Selesai bercinta, Cleantha membersihkan dirinya lebih dulu. Melihat istrinya pergi, Raja mengambil kotak obat milik Cleantha dan menukar isinya dengan suplemen kesehatan wanita yang dia beli di mall. Ia melakukannya dengan cepat sehingga Cleantha tidak mengetahuinya.
Saat Cleantha keluar, ia keheranan melihat Raja tersenyum sendiri. Dia mengira pria itu bahagia karena mereka baru saja bermesraan layaknya sepasang pengantin baru.
"Sayang, mandilah lalu kita makan malam," kata Cleantha meminum obat pencegah kehamilan tanpa rasa curiga.
Raja mengangguk lalu pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Cleantha menunggu Raja sambil membuka jendela kamarnya. Ia memandang ke arah pegunungan yang jauh di seberang sana. Ada rasa bahagia sekaligus sedih di hatinya. Dalam hidupnya dia bersuamikan dua orang pria. Masing-masing dari mereka memiliki tempat tersendiri di hatinya. Dia sangat mencintai Alvian tapi juga mencintai Raja. Sungguh hal ini sangat membingungkan. Dia tidak tahu apakah perasaan semacam ini pantas dimiliki oleh seorang wanita.
Ketika sedang melamun, Cleantha merasakan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Ia menoleh dan melihat Raja memeluknya dari belakang. Raja membenamkan wajahnya di ceruk leher Cleantha. Menghirup dalam-dalam aroma harum dari tubuh Cleantha yang telah menjadi candu baginya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Raja.
"Tidak ada."
"Jangan mencemaskan apapun. Kita akan menua bersama. Melihat anak-anak kita tumbuh dewasa lalu menemukan cinta mereka sendiri. Setelah itu mereka akan menikah dan memberikan banyak cucu untuk kita," ucap Raja mengecup helaian rambut istrinya.
"Aku juga ingin begitu."
"Clea, aku ingin mengaku satu hal padamu," kata Raja mengeratkan pelukannya.
"Sebenarnya aku orang yang sangat kesepian. Sejak ibuku meninggal dunia lalu ayahku menikah lagi, aku merasa kehilangan kasih sayang. Karena itu aku tumbuh sebagai pribadi yang kaku dan dingin. Lalu ketika aku dijodohkan dengan Vira, aku menjadi pria yang posesif. Aku sering mengekangnya, padahal Vira adalah wanita yang menginginkan kebebasan. Mungkin karena itu dia berselingkuh dengan pria lain."
Tersirat jelas nada sedih di setiap ucapan Raja.
"Dan aku mengulangi kesalahan yang sama padamu. Aku berusaha menguasaimu dan menjadikanmu milikku seorang. Tapi karena cemburu buta, akal sehatku hilang dan aku malah membuatmu menderita."
Cleantha berbalik dan menempelkan jemarinya di bibir Raja.
"Jangan diteruskan. Masa lalu tidak perlu diungkit. Kita sudah saling memaafkan."
"Iya, aku janji."
Cleantha berpelukan dengan Raja sambil menikmati semilir angin sepoi-sepoi. Diam-diam Raja mengelus perut istrinya sambil berharap di dalam hati.
"Tumbuhlah, anakku. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu."
...****************...
Tepat seperti perkiraan Raja, setelah pulang dari berbulan madu ia jarang sekali bisa berduaan dengan Cleantha. Sehari-hari dia disibukkan dengan banyak pekerjaan kantor bahkan seringkali pulang terlambat. Belum lagi di malam hari, Cleantha sudah tertidur bersama Almero dan Ivyna. Hal ini terus berlangsung selama hampir dua minggu ke depan. Lama-lama Raja menjadi frustasi. Dia bisa gila jika tidak segera melepaskan kerinduannya yang besar kepada sang istri.
Melihat anak-anak sudah tertidur, Raja membawa Cleantha keluar dari kamarnya.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Cleantha bingung.
"Ke lantai tiga. Mencari tempat yang aman."
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Aku ingin kita bebas berduaan malam ini. Di atas adalah tempat yang paling cocok."
Dengan tidak sabar, Raja mengunci pintu lalu menarik Cleantha ke dalam pelukannya.
"Kamu mengabaikan aku selama ini. Sekarang kamu harus membayarnya."
Cleantha menahan senyum. Sesungguhnya dia tahu bahwa Raja merasa kesal akhir-akhir ini, hanya saja dia pura-pura tidak mengerti.
"Bagaimana cara aku membayarnya?"
"Dengan ini."
Tanpa basa-basi lagi, Raja menyambar bibir istrinya. Selanjutnya mereka melanjutkan dengan permainan cinta yang membara hingga larut malam. Karena kelelahan, keduanya akhirnya tertidur pulas.
Keesokan paginya, Cleantha bangun terlebih dulu dari Raja. Ketika hendak turun dari tempat tidur, Cleantha menyadari ada yang tidak beres pada dirinya. Raja ikut terbangun karena merasakan pergerakan istrinya. Ia cemas melihat wajah Cleantha yang pucat pasi. Raja mengira istrinya itu sakit akibat ulah garangnya semalam.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu sakit?"
"Kepalaku pusing."
"Biar aku pijat. Berbaringlah di bahuku."
"Jangan, aku mau muntah."
Cleantha berlari turun dari tempat tidur dan bergegas menuju ke toilet. Dari pintu, Raja bisa mendengar Cleantha muntah cukup banyak. Ia menyusul Cleantha lalu membantu menenangkan istrinya.
"Kita ke dokter setelah ini," kata Raja lembut.
"Tidak usah. Aku hanya masuk angin."
"Jangan bandel, aku akan membawamu ke dokter kandungan."
"Dokter kandungan?" tanya Cleantha terkejut.
"Iya, aku yakin kamu hamil, Sayang," ucap Raja tersenyum simpul.
.
.
Like, comment, vote
__ADS_1
**Author mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir Batin"
Jangan lupa follow author agar tidak ketinggalan novel terbaru di bulan Juni**.