
HAPPY READING
Cleantha masih tak percaya jika saat ini ia berjalan menyusuri lorong yang sama. Lorong yang dulu dilaluinya setiap hari. Menuntunnya menuju sebuah sangkar emas yang indah sekaligus menyesakkan.
Ia merasa terpenjara, terjebak pada batasan tipis antara cinta dan benci. Terkadang ingin melarikan diri tapi juga ingin tetap tinggal di dalamnya. Bertahan dalam kendali mematikan seorang Raja Adhiyaksa.
Tapi dengan bodohnya, kini ia menyerahkan dirinya sendiri ke dalam sangkar itu. Padahal sekali masuk, ia yakin tidak akan mampu keluar lagi.
Karena kebimbangan hatinya, Cleantha hanya berdiam di depan pintu kamar Raja. Tidak mengetuk pintu maupun memberitahukan kedatangannya.
"Kenapa aku menurut pada perintah Pak Alvian? Harusnya aku mempertimbangkan dulu keputusan apa yang akan kuambil sebelum datang kesini,"
pikir Cleantha menyesal.
Cleantha membalikkan punggungnya, hendak beranjak pergi. Namun daun pintu itu mendadak berderit, dibuka oleh seseorang dari dalam.
"Cleantha???" tutur Raja saat mata mereka saling bertemu pandang.
"Apa ini benar kamu? Kamu sungguh datang menemuiku?" tanya Raja memegang bahu Cleantha. Ingin memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
"Iya, Tuan, ini...saya," jawab Cleantha terbata-bata.
"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu? Masuklah," kata Raja membimbing Cleantha ke dalam.
Raja menutup pintu dan mengajak Cleantha duduk di sofa.
Karena sudah lama tidak berduaan, atmosfer canggung terasa menyelimuti mereka berdua.
Cleantha mengedarkan pandangan ke kamar yang dulu pernah ditempatinya itu. Sebagian furniturenya telah berubah posisi. Bahkan ada yang hilang dan digantikan dengan furniture baru.
Lemari baju yang dipakainya juga tidak ada lagi. Nampaknya Raja bersungguh-sungguh ingin menghapus jejaknya dari kamar tidur tersebut. Dan kenyataan itu membuat hati Cleantha serasa tercabik-cabik.
"Saya datang kesini karena ingin menepati janji saya pada Tuan. Di pesta tadi, Tuan sudah menolong saya. Jadi saya akan menuruti permintaan Tuan. Silakan Tuan bicara, saya akan mendengarkan," kata Cleantha datar.
Senyum di wajah Raja menghilang. Tadinya ia menyangka Cleantha datang untuk meminta rujuk dengannya. Namun ternyata gadis itu hanya ingin membalas budi atas pertolongannya.
Raja berdehem sebelum memulai ucapannya.
"Aku sudah mengetahui apa alasanmu meminta cerai dariku. Ternyata yang dikatakan Alvian tempo hari benar. Keyla yang memaksamu agar berpisah dariku."
"Proses perceraian kita belum selesai. Karena itu aku ingin menanyakan padamu, apakah kamu masih mau mempertahankan rumah tangga kita?" tanya Raja menatap Cleantha.
"Tuan, atas dasar apa kita harus rujuk? Saya hanyalah istri bayaran Tuan. Pernikahan kita merupakan sebuah transaksi. Tidak seperti pernikahan pada umumnya yang berdasarkan cinta," ucap Cleantha.
"Tapi saya tidak bisa menyalahkan, Tuan. Saya yang sudah menjual diri sendiri seharga seratus juta," sambung Cleantha sedih.
Raja terkejut melihat mata Cleantha berkaca-kaca. Tidak biasanya gadis itu mudah menangis. Barangkali Cleantha terlalu tertekan oleh banyaknya masalah yang membelitnya. Dan inilah waktu yang tepat baginya untuk mengungkapkan isi hatinya.
Meskipun ia bukan tipe pria yang romantis, namun sebagai suami sudah menjadi tugasnya menghibur sang istri.
"Pernikahan kita memang diawali dengan perjanjian. Dan aku hanya memanfaatkanmu untuk membalas dendam pada Vira. Tapi sekarang semuanya sudah berubah," tutur Raja memegang kedua tangan Cleantha.
"Tidak ada yang berubah di antara kita, Tuan. Tuan tetaplah suami Zevira Adhiyaksa. Dan saya bukan siapa-siapa," potong Cleantha.
"Tidak lama lagi kamu akan menjadi satu-satunya istriku, karena perasaanku padamu sudah berubah."
Cleantha merasa sorot mata Raja saat ini sama seperti sorot mata Alvian ketika menyatakan cinta padanya.
Tak bisa dihindari lagi, debar jantungnya bertalu dengan kencang. Berharap dan menunggu detik-detik dimana Raja mengungkapkan perasaannya.
"Aku baru menyadari ini setelah kita berpisah. Aku...ingin kamu terus berada di sisiku. Jika kamu bersedia kembali padaku, maka aku akan membatalkan proses perceraian kita," kata Raja dengan suara berat.
__ADS_1
Ia merasa bagai anak remaja yang kesulitan menyatakan cinta pada gadis pujaannya.
"Aku minta maaf kalau selama ini aku sudah menyakitimu. Jika kita bersama lagi, aku tidak akan berbuat kasar. Aku pasti akan membuatmu bahagia. Tapi, aku tidak akan memaksa, keputusan ada di tanganmu, Clea," kata Raja menambahkan kalimatnya.
Mendengar janji yang terucap dari bibir Raja, Cleantha merasa bahagia sekaligus kecewa. Bahagia karena Raja masih menginginkan dirinya. Namun kecewa karena bukan kalimat itu yang diinginkannya.
Ia berharap Raja akan mengakui cintanya seperti yang dilakukan Alvian. Dan entah mengapa ia malah ingin Raja bersikap seperti dulu. Selalu memaksanya agar tetap berada di sisinya. Bukan malah menyerah semudah itu dan menyerahkan keputusan di tangannya.
Melihat Cleantha masih membisu, Raja mencoba meyakinkannya.
"Soal Ayahmu dan Keyla, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan bicara pada mereka mengenai pernikahan kita," sambung Raja menambahkan.
"Aku membutuhkan jawabanmu, Clea. Katakan "ya" atau "tidak" agar semuanya jelas bagi kita berdua. Dan aku ingin mengetahui bagaimana perasaanmu padaku," tanya Raja menanti jawaban.
Sementara Cleantha masih tenggelam dalam pikirannya. Berusaha mengatasi peperangan batin yang tengah melandanya.
Sebagian dirinya menyuruhnya kembali pada Raja. Sebaliknya bagian yang lain melarangnya melakukan hal itu. Apalagi masih ada Zevira di antara mereka.
Mungkinkah ia tega membuat Zevira diceraikan oleh Raja. Saat ini saja ia dibebani rasa bersalah kepada Ayesha.
Konflik batin ini sungguh melelahkan dan menguras pikiran. Bagai dua sisi mata uang yang saling berlawanan.
"Tuan, mohon beri saya waktu malam ini untuk memikirkannya," jawab Cleantha.
Meski sedikit kecewa, Raja memutuskan untuk mengalah. Pasalnya, ia ingin menunjukkan pada Cleantha bahwa ia bukan seorang diktator yang suka memaksakan kehendak.
"Baiklah. Aku akan menunggu jawabanmu besok."
Raja berjalan ke arah lemari bajunya, mengambilkan sepasang piyama tidur untuk Cleantha.
"Sebagian bajumu masih kusimpan disini. Sekarang ganti gaunmu dan istirahatlah. Aku tidak akan mengganggu."
"Terima kasih, Tuan. Tapi maaf saya tidak bisa bermalam di kamar yang sama dengan Tuan. Tolong izinkan saya tidur di salah satu kamar tamu," pinta Cleantha seraya menerima piyama tidur yang diberikan Raja.
Sayangnya, ia mesti belajar bersabar sampai Cleantha memberikan keputusan.
"Tunggu disini. Aku akan memanggil Pak Darma."
Raja berjalan keluar dari kamarnya. Tak berselang lama, ia datang bersama Pak Darma.
"Mari, Nyonya. Saya akan mengantarkan Nyonya ke kamar untuk istirahat," kata Pak Darma penuh hormat.
"Terima kasih, Pak."
Cleantha mengikuti Pak Darma menuju ke kamar tamu yang ada di lantai satu.
"Silakan beristirahat, Nyonya. Selamat malam," ucap Pak Darma meninggalkan Cleantha.
Setelah mengunci pintu kamar, Cleantha melepaskan gaunnya. Berganti dengan piyama tidur yang diberikan Raja.
Sembari menghirup sebanyak mungkin oksigen ke dalam paru-parunya, Cleantha merebahkan diri di tempat tidur. Bingung sendiri dengan emosinya yang sangat labil.
Cleantha mengubah beberapa kali posisi tidurnya, berharap perasaannya akan membaik.
"Kenapa aku jadi sensitif, ingin diperhatikan dan dicintai lebih dari biasanya? Ini seperti bukan diriku. Lebih baik aku tidur daripada berpikir yang tidak-tidak. Besok aku harus mengambil keputusan yang penting dalam hidupku,"
batin Cleantha menutup matanya.
...****************...
Dering ponsel membangunkan Cleantha. Merasa enggan untuk meninggalkan tempat tidur, Cleantha bangun perlahan lalu meraih ponselnya dari atas nakas.
__ADS_1
Terdengar suara Keyla yang penuh amarah dari seberang telpon.
"Dimana kamu sekarang, Clea? Aku kira kamu akan pulang ke rumah, tapi ternyata tidak. Ayah dan Tante Ana sejak semalam menanyakan keberadaanmu. Apa kamu di rumah Tuan Raja?"
"Iya, Kak. Aku menginap di rumahnya," jawab Cleantha jujur.
Suara Keyla makin meninggi.
"Oh, jadi sekarang kamu lebih memilih dia daripada keluargamu. Kamu benar-benar ingin melupakan aku dan Ayah, lalu rujuk dengan Tuan Raja?" sentak Keyla.
"Cukup, Kak. Hari ini aku yang akan mengambil keputusan tentang hidupku sendiri. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengaturku lagi."
"Clea, kamu berani bersikap kasar padaku sekarang?" tanya Keyla tidak percaya.
Cleantha akan memberikan tanggapan, tapi perutnya terasa mual. Rasa mualnya bahkan lebih dahsyat daripada yang dialaminya semalam.
Dengan cepat, ia berlari ke kamar mandi. Meninggalkan ponselnya yang masih tersambung dengan panggilan dari kakaknya.
"Apa kamu pura-pura tidak mendengarku? Clea...jawab!" seru Keyla.
...****************...
Sementara di luar, Raja mengetuk pintu kamar Cleantha. Ia sudah tidak sabar mendengar jawaban dari istrinya. Menanyakan apakah mereka bisa rujuk kembali sebagai pasangan suami istri.
"Clea, buka pintunya!" ketuk Raja beberapa kali.
Namun Cleantha belum juga membuka pintu.
"Aku harus bersabar sebentar lagi. Mungkin dia masih tidur."
"Clea," panggil Raja sekali lagi.
Dan kali ini, penantiannya membuahkan hasil. Cleantha membukakan pintu kamar untuknya.
"Kenapa wajahmu pucat, Clea? Apa kamu sakit?" tanya Raja menyentuh pipi istrinya dengan lembut.
"Saya baru saja muntah, Tuan. Mungkin hanya masuk angin," jawab Cleantha lemah.
"Kalau begitu berbaringlah lagi. Aku akan memanggil pelayan untuk membawakan sarapan untukmu. Setelah itu kita ke rumah sakit. Kamu harus diperiksa oleh dokter."
Tak ingin membuang waktu, Raja segera memanggil pelayan wanita untuk membantu Cleantha.
Zevira yang ada di meja makan, penasaran melihat Raja mondar mandir di pagi hari.
Terlebih, Bi Dewi memberinya informasi bahwa semalam Cleantha telah kembali.
Kini ia sedang memutar otak, mencari cara untuk mencegah rujuknya Cleantha dan Raja.
"Bi Dewi apa yang terjadi? " tanya Zevira.
"Saya dengar gadis kampung itu sedang kurang sehat. Kata Narti dia muntah, Nyonya," jawab Bi Dewi.
"Muntah? Apa jangan-jangan Cleantha hamil? Ini tidak boleh terjadi! Kalau Cleantha hamil, Raja pasti tidak jadi menceraikannya,"
pikir Zevira putus asa.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya Bi Dewi melihat bibir Zevira memucat.
Zevira tidak menjawab. Tulang-tulangnya terasa lunglai, membayangkan bahwa Raja dan Cleantha akan berbahagia di atas penderitaannya. Itu artinya ia sudah kalah telak dari gadis ingusan seperti Cleantha.
Namun rasa frustasi Zevira tiba-tiba lenyap ketika ia teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Aku hampir lupa. Justru bagus jika Cleantha benar-benar hamil. Kehamilannya itu akan membuatnya berpisah dari Raja untuk selamanya."
BERSAMBUNG