
"Aku yakin Clea akan menolaknya. Dia tidak ingin menikah lagi, apalagi dengan Raja," kata Ny. Marina meragukan usul Tuan Bayu.
"Kita tidak perlu mengatakannya secara lugas kepada mereka berdua. Kita lakukan saja bagian kita untuk mendekatkan mereka."
"Apa kamu sudah punya rencana untuk itu, Bayu?" tanya Ny. Marina penasaran.
"Tentu saja. Walaupun usiaku tidak muda lagi, tapi otakku masih sangat cemerlang seperti dulu. Asalkan kamu menyetujuinya, kita bisa mulai menjalankan rencana kita," kata Tuan Bayu penuh percaya diri.
"Baiklah, aku setuju," jawab Ny. Marina menyanggupi. Baginya yang terpenting saat ini adalah kesejahteraan dan kebahagiaan cucunya, Almero.
...****************...
Tubuh Cleantha terasa letih sehabis bekerja seharian. Ia pulang agak malam karena harus menyiapkan laporan yang diminta Raja.
Kini dia hanya ingin berendam di bathtub lalu tidur bersama putra kesayangannya. Sejak kepergian Alvian, Cleantha selalu tidur sambil memeluk Almero. Dengan cara itu, ia bisa mengatasi rasa kehilangannya.
"Ma, dimana Almero?" tanya Cleantha kepada Ny. Marina.
"Almero baru saja tidur, Clea."
"Tidur? Tidak biasanya dia tertidur sebelum jam delapan malam," kata Cleantha keheranan.
"Mungkin dia kelelahan karena bermain seharian dengan Ivyna. Dari tadi siang Ivyna datang kesini bersama opanya," jelas Ny. Marina.
"Lalu jam berapa Ivyna pulang, Ma?"
"Dia tidak pulang, Clea. Ivyna ketiduran bersama dengan Almero di kamarmu. Jadi aku meminta Bayu membiarkan Ivyna menginap disini," jawab Ny. Marina enteng.
"Tapi bagaimana kalau Tuan Raja mencari Ivy?" tanya Clea terkejut.
"Raja bisa ke rumah kita kalau dia ingin menjemput putrinya."
Ny. Marina menguap sambil meregangkan kedua tangannya.
"Clea, Mama mau tidur sekarang. Mama capek karena seharian menjaga Almero."
"Iya. Mama istirahat saja."
Di dalam hatinya, Cleantha merasa sungkan karena telah merepotkan ibu mertuanya. Semestinya ia memikirkan kesehatan Ny. Marina lebih daripada pekerjaannya sebagai direktur keuangan.
Sesudah Ny. Marina berlalu, Cleantha menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya di lantai dua.
Seulas senyum terukir di bibirnya, saat memandangi Almero dan Ivyna. Kedua bocah itu tertidur lelap di atas ranjang.
__ADS_1
Melihat wajah damai keduanya, membuat hati Cleantha terharu. Andai saja takdir tidak merenggut salah satu orang tua mereka, Almero dan Ivyna pasti bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna.
"Lebih baik aku mandi lalu tidur bersama mereka,"
pikir Cleantha berjalan ke kamar mandi.
...****************...
Raja memilih menyetir mobilnya sendiri. Menembus jalanan ibu kota yang masih ramai di malam hari.
Jujur kali ini ia merasa kesal kepada mertuanya. Entah apa alasannya hingga Bayu Narendra membiarkan Ivyna berada di rumah Cleantha. Jika Ivyna tertidur, seharusnya mertuanya itu bisa menyuruh supir atau pelayan untuk menggendongnya ke dalam mobil. Bukan malah meninggalkan Ivyna disana.
Sepulang kerja, terpaksa ia pergi lagi untuk menjemput Ivyna. Padahal ini sudah menjelang jam delapan malam. Tidak pantas rasanya mengunjungi seorang adik ipar di malam hari.
Raja menyalakan klakson mobilnya ketika tiba di depan gerbang rumah Cleantha. Security yang berjaga pun membukakan gerbang untuk Raja.
Setelah memarkirkan mobilnya, Raja berjalan ke pintu depan dan menekan bel.
Cukup lama ia berdiri disitu, menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
"Oh, Tuan Raja, selamat malam. Tuan mau menemui Nyonya Clea?" sapa Titin agak terkejut.
"Bukan, aku mau menjemput Ivyna. Boleh aku masuk?" tanya Raja.
"Tidak usah. Aku hanya ingin membawa Ivyna lalu langsung pergi. Dimana Ivyna tidur?"
"Di lantai dua, Tuan. Kamar paling kanan."
"Terima kasih. Aku akan kesana," jawab Raja berjalan cepat menaiki tangga.
"Eh, Tuan tunggu, itu kamarnya Nyonya," seru Titin berusaha menghalangi Raja. Namun Raja yang sudah terlanjur ke atas, tidak mendengar seruan Titin.
Setiba di lantai dua, Raja menatap kamar yang dimaksud oleh Titin. Tanpa pikir panjang, ia meraih handle pintu dan memutarnya. Tujuannya hanya satu, ingin segera membawa Ivyna pulang tanpa harus bertemu Cleantha.
Sementara di dalam kamar, Cleantha baru saja selesai mandi. Masih menggunakan bathrobe, ia mendengar suara handle pintu kamarnya dibuka dari luar.
"Siapa itu? Aku ceroboh sekali sampai lupa tidak mengunci pintu kamarku,"
gumam Cleantha berjalan keluar dari kamar mandi.
Karena tergesa-gesa, ia hampir bertabrakan dengan tubuh kokoh dan liat di hadapannya. Anehnya, ia merasa mengenali siapa pemilik tubuh ini.
Cleantha mundur ke belakang. Tercengang saat menyadari seorang pria masuk ke kamar pribadinya. Lebih parahnya pria itu adalah Raja, kakak iparnya sekaligus mantan suaminya.
__ADS_1
Sejenak mata mereka beradu pandang. Rasa terkejut dan malu bercampur menjadi satu. Menciptakan suasana hening dan canggung di antara mereka berdua.
Cleantha buru-buru membenahi bagian atas bathrobenya, karena merasa Raja memperhatikan bagian itu.
"Maaf, Clea, aku...tidak bermaksud mengganggumu. Aku ingin menjemput Ivyna pulang. Aku tidak tahu kalau ini kamarmu," ucap Raja tergagap.
Raja merutuki dirinya sendiri karena gagal menguasai diri. Menatap Cleantha dalam balutan bathrobe, membuat pikirannya menjalar kemana-mana. Apalagi tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Cleantha. Aroma harum yang menguar dari tubuh wanita itu telah membangkitkan kenangan lamanya. Dimana dulu ia pernah melakukan kegiatan romantis bersama Cleantha.
Sebaliknya ekspresi Cleantha menunjukkan keberatannya akan kehadiran Raja. Namun apa mau dikata, pria ini terlanjur masuk ke ruang pribadinya akibat ketelodorannya sendiri.
"Kalau Tuan ingin membawa pulang Ivyna, silakan," kata Cleantha dingin.
Cleantha menyingkir agak jauh dari Raja. Membiarkan Raja mendekat ke sisi tempat tidurnya.
Melihat Ivyna tidur pulas di sisi Almero, fantasi Raja kembali berkembang. Ia berharap bisa menyusupkan diri di kasur yang sama dengan kedua bocah itu. Dan tentu saja ada Cleantha yang menemani di sampingnya.
Namun Raja tersadar ketika menatap foto pernikahan Alvian dan Cleantha yang terpajang di dinding.
Pikiran gilanya tadi sungguh tidak pantas. Terlebih dia membayangkannya saat berada di kamar mendiang adiknya. Pasti tempat ini telah menjadi saksi hangatnya percintaan Alvian dan Cleantha sebagai pasangan suami istri.
"Ivy, ayo pulang, Sayang," ucap Raja lembut sambil berusaha mengenyahkan rasa cemburunya.
"Hemmm," gumam Ivyna tidak jelas.
Gadis itu menggeliat pelan. Nampak enggan bila tidurnya diganggu oleh orang lain.
Perlahan, Ivyna membuka sedikit kelopak matanya untuk melancarkan protes.
"Daddy, aku mau tidur."
"Iya, Sayang. Tapi kamu harus tidur di kamarmu sendiri," kata Raja menggendong Ivyna.
Sebelum keluar, Raja berpamitan kepada Cleantha.
"Clea, sekali lagi maaf karena aku telah lancang memasuki kamarmu. Ini tidak akan terulang lagi. Aku pamit pulang sekarang," ujar Raja melangkah pergi.
"Iya, Tuan. Hati-hati," jawab Cleantha singkat.
Raja menuruni anak tangga satu per satu sembari menetralkan perasaannya. Entah mengapa ia berharap Cleantha akan mencegah kepergiannya, walaupun hal itu sangat mustahil.
"Sampai kapan aku harus tersiksa seperti ini? Ternyata waktu tidak bisa membuatku melupakan Cleantha. Aku benar-benar pria yang menyedihkan,"
batin Raja mengasihani dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung