
Raja mengepalkan telapak tangan. Ingin sekali ia meruntuhkan dinding yang ada di sekelilingnya untuk melampiaskan rasa frustasinya.
"Ini mustahil! Alvian mengatakan padaku dia hanya diberi obat tidur. Dia tidur semalaman dan tidak bangun sama sekali. Mana mungkin dia melakukan hubungan suami istri dengan Cleantha."
Entah mengapa hati Raja serasa begitu getir ketika mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku ingin tertawa mendengarnya, Raja. Mana mungkin Alvian mengaku padamu kalau dia sudah meniduri kakak iparnya. Alvian pasti malu dan merasa bersalah padamu. Sama halnya dengan Cleantha. Mereka sepakat untuk menutupi kejadian itu karena takut akan menyakitimu."
Zevira menekan tombol angka pada ponselnya lalu menatap Raja.
"Aku akan memberikan satu bukti akurat lagi padamu. Kamu ingin menemukan Fendi, bukan? Fendi ada di Singapura. Aku akan memberikan kesempatan padamu untuk bicara langsung dengannya. Tanyakan saja sendiri pada Fendi, obat apa yang dia masukkan ke minuman Alvian. Obat tidur atau obat perangsang?" ujar Zevira menyerahkan ponselnya.
Dengan geram, Raja menerima ponsel itu. Tak lama panggilan pun tersambung.
"Halo, Sayang, ada apa menelponku? Apa kamu merindukan aku?"
Terdengar suara Fendi, lelaki bejat yang sangat dibenci oleh Raja.
Mendengar Fendi memanggil Zevira dengan sebutan "Sayang", darah Raja serasa naik ke ubun-ubun. Ia yakin bila Zevira dan Fendi masih meneruskan hubungan gelap mereka di belakangnya. Namun Raja berusaha menahan diri demi mendapatkan kebenaran tentang Cleantha dan Alvian.
"Ini aku, Raja."
"Ra...ja???" ulang Fendi ketakutan.
"Ke...napa kamu bisa memakai ponsel Vira untuk menelponku?" tanya Fendi risau.
"Karena kekasih gelapmu sendiri yang memberikannya padaku. Dia bahkan ada di hadapanku sekarang," terang Raja.
"Apa Vira sudah tidak waras? Kenapa dia menyerahkan ponselnya kepadamu," gerutu Fendi kesal.
"Dengar, Fendi. Jika kamu ada disini, aku pasti akan menghabisimu. Tapi sekarang ini aku hanya perlu satu jawaban. Obat apa yang kamu berikan pada Alvian di hotel malam itu? Obat tidur atau obat perangsang? Cepat jawab!!!" tukas Raja menekan Fendi.
Fendi terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Raja. Ia tidak menyangka Raja akan mengetahui perbuatannya secepat itu. Namun Fendi menebak bahwa Raja mengetahuinya dari Zevira.
Entah apa alasannya hingga kekasihnya itu membuka sendiri kejahatannya pada Raja. Yang jelas, Zevira pasti punya alasan tertentu.
Dalam keadaan terjepit seperti sekarang, Fendi merasa harus tetap mendukung kekasihnya. Lagipula bila ia mengaku, Zevira mungkin akan memutuskan hubungan cinta mereka.
"Kenapa diam saja? Apa kamu terlalu pengecut untuk mengakuinya?" tanya Raja gusar.
"Ti..dak, Raja. Baiklah, aku akan mengaku," jawab Fendi mengenyahkan rasa ragunya.
"Aku memasukkan obat perangsang yang diberikan Zevira ke dalam minuman Alvian. Lalu aku menculik Cleantha dan menidurkan Cleantha di sebelah Alvian. Aku memotret mereka sebentar dan meninggalkan mereka di kamar hotel itu. Selanjutnya aku tidak mengetahui apa yang terjadi di antara mereka," jelas Fendi berbohong.
__ADS_1
Sambil menggertakkan gigi, Raja mengakhiri panggilan itu.
Saking marahnya, ia melempar ponsel Zevira ke lantai hingga berantakan.
Zevira bisa melihat ekspresi kecewa, marah, dan putus asa yang tersirat di wajah Raja. Dan hal ini membuatnya puas. Akhirnya ia berhasil membalas perbuatan Raja yang telah menyakiti dan mengabaikannya selama ini.
"Kamu dengar sendiri apa yang dikatakan Fendi. Meskipun perbuatan tercela itu terjadi bukan karena kemauan Alvian dan Cleantha, tapi nasi sudah menjadi bubur."
Zevira kembali melancarkan serangan mautnya.
"Kamu bukan pria bodoh, Raja. Kehamilan Cleantha pasti diakibatkan hubungan intimnya yang terakhir. Dan itu dilakukannya dengan Alvian. Artinya anak di dalam kandungan Cleantha adalah anak Alvian, bukan anakmu."
"Tidak, ini tidak mungkin!" pekik Raja merasakan lara di hatinya.
"Keluar dari rumahku sekarang juga!!! Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku lagi!" teriak Raja mengusir Zevira.
"Baik, aku akan pergi untuk selamanya. Tapi kamulah yang akan menderita, Raja, bukan aku," tandas Zevira.
"Jika kamu mau berbesar hati, maka cintailah Cleantha dan rawatlah anak adikmu yang ada dalam kandungannya. Hanya saja kamu akan melihat jejak perbuatan terlarang itu seumur hidupmu. Semoga kamu tahan menghadapinya. Selamat tinggal, Raja," kata Zevira menghapus air matanya.
Ia memutar balik kursi rodanya meninggalkan ruangan itu.
"Ahhh, kenapa semua ini harus terjadi padaku!!!" erang Raja menghantamkan tinjunya ke dinding.
Di luar, Bi Dewi sudah siap membawakan koper-koper Zevira.
"Nyonya," ucap Bi Dewi cemas memandang mata Zevira yang sembap.
"Dimana Ivyna? Tolong panggilkan dia," ucap Zevira pada Bi Dewi.
"Sebentar, Nyonya."
Bi Dewi berlari kecil, menjemput Ivyna yang sedang bermain di kolam renang.
"Mommy? Kenapa membawa banyak tas? Where do you want to go?" tanya Ivyna kebingungan.
"Ivy, Mommy akan tinggal di rumah Grandpa. Apa kamu mau ikut Mommy?" ucap Zevira memegang lengan Ivyna.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"No, Mommy. Aku mau tinggal disini bersama Daddy. Tapi kenapa Mommy pindah ke rumah Grandpa?" tanya Ivyna ingin tahu.
"Because Daddy doesn't loves Mommy anymore, Ivy," jawab Zevira berlinang air mata.
__ADS_1
"But why, Mommy?"
"Karena sekarang Daddy cuma sayang pada Mommy Clea. Tidak peduli lagi pada Mommy Vira."
"Ivy, Mommy have to go now. Jangan nakal dan turutilah perintah Daddy. Kalau kangen Mommy, mintalah Mbak Ningsih menemanimu ke rumah Grandpa. Bye bye, Honey," pamit Zevira mengecup kedua pipi putrinya.
Bi Dewi mendorong kursi roda Zevira keluar dari rumah Raja. Meninggalkan Ivyna yang menangis sedih karena kehilangan ibu kandungnya.
"Sudah, Ivy, jangan menangis. Nanti Ivy bisa minta izin pada Daddy untuk berkunjung ke rumah Grandpa. Mbak Ningsih akan menemani Ivy," kata Ningsih menenangkan gadis kecil itu.
Para pelayan pun dibuat prihatin dengan kejadian menyedihkan yang terjadi di depan mata mereka.
...****************...
Di dalam kamar, Cleantha menggeliat perlahan. Sehabis meminum susu hangat yang dibawakan Narti, matanya terasa berat. Hingga tak terasa ia tertidur lelap selama hampir dua jam.
"Ini sudah sore hari? Astaga, berapa lama aku tidur? Kenapa aku jadi pemalas sekali? Apa semua orang hamil seperti ini atau aku saja yang mengalaminya?"
keluh Cleantha dalam hati.
Cleantha melihat ke sekeliling kamarnya. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Raja.
"Tuan Raja belum kembali kesini. Katanya tadi setelah satu jam dia akan menemaniku dan mengantarku ke rumah Ayah. Apa Tuan Raja ada di ruang kerjanya? Aku akan mencarinya,"
gumam Cleantah turun dari tempat tidur perlahan-lahan.
Cleantha membuka pintu kamar dan berjalan menyusuri koridor.
Ketika sampai di ruang tengah, ia terkejut menyaksikan Ivyna sedang terisak dalam pelukan pengasuhnya. Suaranya sesenggukan dan bahunya naik turun menahan kesedihan.
"Mbak Ningsih, kenapa Ivyna menangis? Apa yang terjadi?" tanya Cleantha khawatir.
"Barusan Nyonya Zevira pergi dari sini, Nyonya. Dia kembali ke rumah orang tuanya. Ivyna sedih karena ditinggalkan Mommynya."
Cleantha kembali dibuat terkesiap. Entah mengapa Zevira tiba-tiba meninggalkan suami dan anaknya. Apakah Raja telah mengusirnya? Atau mungkinkah Zevira sakit hati karena mengetahui dirinya sedang berbadan dua?
Cleantha tidak tahu penyebabnya. Yang jelas ia tidak tega melihat Ivyna menjadi korban perpisahan Raja dan Zevira.
"Aku harus bicara pada Tuan Raja. Aku tidak bisa membiarkan Ivy menderita,"
gumam Cleantha berjalan ke ruang kerja Raja.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan comment, like, dan votenya.