
"Ini dia kamar 218,"
gumam Keyla melihat nomor yang tertera di pintu kamar.
Keyla mencoba membuka pintu beberapa kali, tapi usahanya gagal. Nampaknya pintu itu terkunci dari dalam.
"Clea, apa kamu ada di dalam? Clea...ini Kakak, jawablah! Clea...," seru Keyla sambil mengetuk pintu.
"Pak Alvian..., Pak..., jika Anda mendengar saya tolong buka pintunya!" seru Keyla beralih memanggil Alvian.
Keyla menempelkan telinganya di daun pintu.
Senyap, tidak ada suara yang terdengar dari dalam.
"Aku harus masuk ke dalam dan memeriksa apa yang terjadi. Jangan-jangan Pak Alvian pura-pura mabuk lalu memanggil Clea kesini untuk menjebaknya. Aku harus mencari cara supaya bisa masuk ke kamar ini."
Keyla melangkah cepat menuju ke lift untuk kembali ke lobi hotel.
"Mbak, apa kamar hotel ini memakai kartu untuk membuka pintunya?" tanya Keyla kepada resepsionis.
"Iya, Nona."
"Kalau begitu tolong pinjamkan saya kartu cadangan untuk kamar 218. Saya tidak bisa masuk karena pintunya terkunci dari dalam. Saya harus memeriksa keadaan saudara saya, Mbak."
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa memberikan kartu akses masuk kamar ke sembarang orang, kecuali kepada tamu hotel," tolak resepsionis itu.
"Mbak, ini berkaitan dengan masalah hidup dan mati. Saudara saya mabuk berat dan pingsan di bar. Temannya membawa dia ke kamar 218 lalu meninggalkannya sendirian. Bagaimana kalau terjadi hal yang buruk pada saudara saya?" ucap Keyla menakut-nakuti resepsionis itu.
"Kalau sampai dia berada dalam kondisi kritis atau meninggal dunia, maka Mbak dan pihak hotel ini yang akan disalahkan. Saya juga akan menuntut Mbak karena menghalangi saya untuk menyelamatkan saudara saya," ancam Keyla.
Wajah sang resepsionis berubah pucat setelah mendengar ancaman dari Keyla.
"Saya akan menghubungi supervisor saya untuk meminta izin, Nona."
"Baiklah, saya akan tunggu disini," jawab Keyla.
Keyla menunggu resepsionis itu selesai berbicara dengan atasannya melalui telpon.
"Nona, ini kartu cadangan untuk kamar 218. Nanti saat Nona check out, tolong segera kembalikan kepada kami," pesan resepsionis itu sembari menyerahkan kartu kepada Keyla.
"Jangan khawatir, pasti akan saya kembalikan..Terima kasih," ujar Keyla bergegas pergi.
...****************...
Begitu tiba di depan pintu kamar 218, Keyla langsung menempelkan kartu itu.
Dalam waktu singkat, ia berhasil memutar handle pintu dan buru-buru masuk ke dalam kamar.
Bagai tersambar petir, Keyla membeku menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya.
Cleantha, adik kandungnya tengah berbaring di ranjang bersama Alvian Adhiyaksa. Apalagi adiknya itu menempel di dada Alvian dengan posisi saling berpelukan.
Keyla juga melihat kancing kemeja keduanya telah terbuka. Ditambah celana panjang milik Alvian terserak begitu saja di atas lantai.
"Apa-apaan ini??? Apa Pak Alvian baru saja melecehkan Cleantha? Aku harus membangunkan mereka sekarang untuk meminta penjelasan."
Keyla mendekati ranjang untuk membangunkan Cleantha, tapi mendadak ia berhenti.
"Aku akan mengambil foto mereka dulu. Foto ini nanti bisa kujadikan bukti kuat untuk meminta pertanggungjawaban Pak Alvian. Kalau benar dia berbuat tidak senonoh, dia harus menikahi Cleantha,"
gumam Keyla geram.
Keyla mengambil lima buah foto dengan kamera ponselnya. Kemudian ia menyimpan ponselnya di dalam tas.
Sambil menggertakkan gigi, Keyla melepaskan tangan Cleantha dari tubuh Alvian, lalu meletakkan kepala adiknya itu di atas bantal.
"Clea, bangun. Ayo bangun, Clea..."
__ADS_1
Keyla menggoyang-goyangkan tubuh adiknya, tapi Cleantha tidak juga membuka mata. Tubuhnya juga lunglai, tampak tidak berdaya.
Sambil mengancingkan kemeja Cleantha satu per satu, Keyla memeriksa tubuh adiknya.
"Aku harus memastikan dulu apakah Cleantha dilecehkan atau tidak."
Keyla mengecek bagian bawah tubuh adiknya. Ternyata ia masih berpakaian lengkap. Tidak ada bekas cairan apapun yang tertinggal. Seperinya tidak terjadi hubungan terlarang antara Cleantha dan Alvian.
Keyla mengalihkan perhatiannya pada Alvian.
"Pak Alvian, bangun, Pak. Pak, bangun..." seru Keyla sambil mengguncangkan tubuh Alvian beberapa kali.
Sama seperti Cleantha, lelaki itu juga tidak memberikan respon. Matanya tertutup rapat, seolah tenggelam terlalu dalam di dunia mimpi.
"Apa ada orang yang memberi mereka berdua obat tidur atau obat bius? Jika dalam keadaan normal, mereka pasti sudah bangun saat aku menggoyang-goyangkan tubuh mereka."
tebak Keyla.
"Tapi siapa yang membuat mereka jadi begini? Jika mereka di bawah pengaruh obat tidur, mereka baru akan sadar besok pagi."
Keyla memutar otaknya agar mendapatkan titik terang.
"Kalau aku minta tolong pada pegawai hotel, nanti akan tersebar gosip yang buruk tentang Cleantha. Tante Ana juga akan bertanya macam-macam jika aku membawa Clea pulang. Lalu aku harus bagaimana sekarang?"
pikir Keyla kebingungan.
Keyla berjalan mondar mandir di dalam kamar untuk mencari pemecahan atas masalah pelik ini. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di dalam kamar, hingga Cleantha dan Alvian tersadar.
Dengan susah payah, Keyla menggeser tubuh Cleantha agar menjauh dari Alvian.
"Aku akan tidur di kursi untuk menjaga Cleantha. Besok pagi aku akan menanyai mereka berdua,"
gumam Keyla sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
Karena kelelahan, Keyla pun terlelap dalam tidurnya.
...****************...
Melihat ruangan yang tampak asing, Cleantha menggosok-gosok kelopak matanya. Memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
"Dimana aku sekarang? Seingatku kemarin aku pergi ke hotel La Vierra?"
Cleantha menegakkan punggungnya pada sandaran headbed. Ia melihat Keyla, kakaknya, sedang tertidur nyenyak di sofa.
"Kak Keyla? Kenapa dia tidur di sofa? Apa ini kamar hotel?"
Belum hilang rasa terkejutnya, Cleantha merasakan gerakan seseorang menggeliat di sampingnya.
Sontak, Cleantha menoleh ke samping. Ia terperanjat mendapati seorang pria berbaring di kasur yang sama dengannya. Dari jarak dekat, Cleantha langsung bisa mengenali siapa pria itu.
"Pak Alvian?" tanya Cleantha terperangah.
"Arrggh, sakit sekali kepalaku," keluh Alvian memegang kepalanya.
Bibir Cleantha memucat.
Alvian terlihat dalam kondisi berantakan dengan kemeja yang terbuka. Terlebih ia hanya memakai celana pendek.
"Ti...dak mungkin! Apa semalam aku dan Pak Alvian telah...."
Cleantha memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya terasa gemetaran, menahan rasa sesak dan pilu yang bercampur menjadi satu.
Sementara Alvian mulai siuman dan membuka matanya. Ia nampak kebingungan melihat sekelilingnya. Mengamati kancing kemejanya yang tidak terpasang, dan celana panjangnya yang teronggok di lantai.
Terlebih, ia mendengar suara seorang gadis yang terisak pelan di sebelahnya.
"Clea, kenapa...kamu bisa ada disini bersamaku? Dan kenapa kamu menangis?" tanya Alvian menatap Cleantha seperti melihat hantu.
__ADS_1
Sambil berusaha menguatkan hatinya, Cleantha menjawab pertanyaan Alvian.
"Saya juga tidak tahu, Pak. Semalam bartender hotel La Vierra menelpon saya. Katanya Bapak mabuk dan jatuh pingsan. Saya datang kesini lalu ada yang membekap mulut saya. Setelah itu...saya tidak ingat apa-apa lagi," jelas Cleantha.
Alvian berusaha mencerna kata-kata Cleantha sambil mengingat kejadian yang dialaminya.
"Semalam aku bersama Fendi di bar. Aku memang mabuk, tapi aku tidak pingsan. Dan Fendi yang membawaku ke kamar ini. Tapi dimana dia sekarang?"
Alvian bangkit dari tempat tidur dan menyambar celana panjangnya.
Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Cleantha dengan pandangan nanar.
"Soal apa?" ucap Alvian mengancingkan kemejanya.
"Apa kemarin Bapak...melakukan sesuatu pada saya dalam keadaan mabuk?" tanya Cleantha terbata-bata.
Alvian mengernyitkan dahi, mencoba mengembalikan semua memorinya.
"Seingatku aku langsung tertidur saat dibawa Fendi ke kamar ini. Aku tidak terbangun lagi. Mana mungkin aku melakukan sesuatu padamu."
Mendengar suara ribut-ribut, Keyla pun terbangun dari tidurnya.
Serta merta ia terjaga ketika melihat Cleantha dan Alvian sudah tersadar dari tidur panjangnya.
Keyla berdiri dari sofa, bergegas menghampiri Alvian.
"Pak, Anda harus bertanggungjawab atas apa yang Anda lakukan pada adik saya," tandas Keyla.
"Tanggung jawab apa? Aku tidak mengerti maksudmu."
"Coba Bapak lihat foto ini. Bapak akan memahami apa yang saya maksudkan," ucap Keyla menyerahkan ponselnya.
Keyla memperlihatkan foto-foto yang sempat diambilnya kepada Alvian.
Mata Alvian terbelalak tak percaya, ketika melihat foto dirinya dan Cleantha berpelukan dalam posisi tidak wajar. Seolah-olah mereka berdua baru saja melakukan tindakan yang sangat memalukan.
"Ini tidak mungkin. Mustahil aku berbuat tidak senonoh pada Cleantha. Kalau aku benar melakukannya, aku pasti ingat. Tapi...aku tidak mengingat apa-apa," ucap Alvian merasa frustasi.
"Pak, semalam saya menyusul Cleantha ke hotel ini. Saya mencarinya kemana-mana. Akhirnya saya meminta tolong pada resepsionis hotel dan menemukan Cleantha tidur bersama Bapak."
"Saya yakin Clea diberi obat bius. Entah Bapak yang menjebak adik saya atau orang lain, saya tidak peduli. Yang penting Bapak harus bertanggung jawab. Bapak harus segera menikahi Cleantha!" tukas Keyla dengan suara lantang.
Mendengar kemarahan Keyla, Cleantha bergegas turun dari tempat tidur. Ia merebut ponsel Keyla dari tangan Alvian.
Semenit kemudian, Cleantha merasa kedua lututnya bergoyang hebat. Kilatan putus asa memancar dari kedua netranya. Sambil berpegangan pada sudut meja, Cleantha mencengkeram ponsel Keyla erat-erat.
"Nasib buruk apa lagi yang menimpaku? Kenapa semua jadi seperti ini? Jika benar aku dinodai Pak Alvian, artinya aku sudah tidak pantas menjadi istri Tuan Raja."
Melihat Cleantha yang tampak sangat terpukul, Alvian mencoba menenangkannya.
"Tenang Clea, aku yakin kita tidak melakukan apa-apa. Kita telah dijebak, dan aku tahu siapa pelakunya. Pasti si brengsek, Fendi! Aku akan mencarinya sekarang juga dan memberinya pelajaran. Kamu tunggu saja disini," kata Alvian penuh kemarahan.
Alvian berjalan cepat hendak meninggalkan kamar itu, namun Keyla menghalanginya.
"Jangan coba-coba pergi, Pak. Saya tidak akan membiarkan Bapak kabur sebelum Bapak berjanji untuk menikahi Cleantha."
"Keyla, aku tidak mungkin menikahi Cleantha."
"Kenapa Pak? Kejadian ini sudah mencoreng nama baik adik saya. Apalagi jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya. Bagi mereka Bapak menyentuh Cleantha atau tidak, itu tidak penting. Yang mereka pedulikan hanyalah reputasi Cleantha sebagai seorang gadis telah tercemar."
"Apa karena kami berasal dari keluarga miskin, makanya Bapak tidak mau menikahi Cleantha?" tanya Keyla menekan Alvian.
"Bukan karena itu, tapi karena...."
"Karena aku sudah menikah dengan Tuan Raja, Kak. Aku adalah istri kedua dari Tuan Raja Adhiyaksa," sahut Cleantha dengan suara bergetar.
__ADS_1
BERSAMBUNG