Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 88 Memaksakan Kehendak


__ADS_3

Keyla langsung menghampiri Cleantha ketika adiknya itu menampakkan diri di ruang finance.


"Clea, ikut aku," kata Keyla menarik Cleantha ke sudut ruangan.


"Aku sengaja datang lebih pagi supaya kita bisa bicara," ujar Keyla setengah berbisik.


"Apa lagi, Kak? Bukankah aku sudah pergi dari rumah? Lalu apa mau Kakak sekarang?" tanya Cleantha enggan. Ia sungguh malas meladeni Keyla di pagi hari.


"Justru itu. Tante Ana mengatakan bahwa kamu pergi bersama Pak Alvian. Kenapa kamu berubah jadi gadis yang tidak tahu malu, Clea? Apa kamu tidak bisa mencari laki-laki lain di luar keluarga Adhiyaksa?" tanya Keyla dengan sengit.


"Dulu kamu menjadi istri kedua Tuan Raja lalu sekarang kamu mau mau menjalin hubungan juga dengan adiknya? Kamu berpindah dari satu laki-laki beristri ke laki-laki lain yang sudah memiliki tunangan. Jangan-jangan kamu menikmati kehidupan barumu sebagai pelakor. Apa kamu belum puas mempermalukan aku di kantor ini? Cepat putuskan hubunganmu dengan Pak Alvian!" lanjut Keyla menekan bahu Cleantha.


"Sudah cukup Kak bicaranya?" tanya Cleantha memutar bola matanya.


"Kalau Kakak malu dengan perbuatanku maka abaikan saja aku. Kita juga tidak serumah lagi. Atau anggap saja aku sudah tiada. Kakak tidak perlu ikut campur dengan masalah pribadiku."


"Selama kamu masih ada di kantor ini, aku akan terkena imbas atas ulahmu. Lebih baik kamu resign saja dari Adhiyaksa Group dan carilah pekerjaan baru," tandas Keyla.


Cleantha menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sampai kapan Kakak akan terus memerintahku? Kakak bukan atasanku dan juga bukan pemilik perusahaan ini. Jadi Kakak tidak berhak menyuruhku resign. Maaf Kak, aku harus ke ruang brankas untuk mengambil uang. Permisi," ucap Cleantha melepaskan diri dari Keyla.


Keyla menatap punggung adiknya dengan kesal. Cleantha kini telah berani melawannya secara terbuka. Padahal dulu Cleantha sangat penurut dan mau melakukan apa saja yang dia perintahkan.


"Clea sudah berubah dari anak kucing menjadi anak singa. Pasti dia besar kepala karena merasa diperebutkan oleh kakak beradik Adhiyaksa itu. Tunggu saja sampai dia dicampakkan juga oleh Pak Alvian. Saat itu dia akan menangis darah dan memohon padaku untuk kembali ke rumah,"


batin Keyla geram.


...****************...


Ny. Marina turun dari mobil dan berjalan dengan anggun ke dalam kafe.


Setelah melepas kacamata hitamnya, ia mencari meja nomor sebelas. Dari jarak pandangnya yang tidak terlalu jauh, dengan mudah ia bisa menemukan Ayesha.


"Halo, Ayesha, bagaimana kabarmu?" tanya Ny. Marina mencium pipi bakal calon menantu idamannya itu.


"Kabarku tidak terlalu bagus, Tante. Ini semua karena aku sedang patah hati.setelah putus dari Alvian," jawab Ayesha lesu. Ia sengaja berdandan tipis dan menggunakan kaos sederhana agar terlihat menderita di mata Ny. Marina.


Ny. Marina memegang tangan Ayesha untuk memberikan semangat. Ia nampak prihatin melihat paras Ayesha yang tidak semanis biasanya.


"Ayesha, Tante mewakili Alvian untuk minta maaf padamu. Tante juga tidak mengerti mengapa Alvian sekarang jadi keras kepala. Dia sudah melakukan kesalahan besar dengan memutuskan pertunangan kalian. Entah siapa yang mempengaruhi Alvian sehingga dia berubah drastis," keluh Ny. Marina.


Ayesha merasa inilah saatnya dia membuka kedok Cleantha di depan Ny. Marina.


"Tante, aku sudah lama memendam rahasia ini. Karena jika aku menceritakannya mungkin Tante tidak akan percaya. Tapi aku tidak kuat lagi menahan sakit hati ini sendirian," ungkap Ayesha dengan suara lirih.


"Rahasia apa, Ayesha? Kamu membuat Tante khawatir."

__ADS_1


Ayesha menghembuskan nafasnya dua kali sebelum menyatakan alasan perpisahannya dengan Alvian.


"Tante, sebenarnya Alvian sudah berselingkuh dengan wanita lain. Dia lebih mencintai dan memilih wanita itu daripada aku. Padahal wanita itu sangat sangat tidak pantas untuk Alvian. Dia adalah seorang pelakor, wanita murahan," ucap Ayesha dengan mata berkaca-kaca.


"Pelakor? A...apa Tante tidak salah dengar?" tanya Ny. Marina membelalakkan matanya.


"Sayangnya tidak, Tante. Alvian memang tergoda oleh wanita pelakor. Wanita itu sudah membutakan mata Alvian dan mengendalikannya seperti robot. Alvian benar-benar membelanya dan menurut padanya. Apa Tante ingin tahu siapa wanita itu?" tambah Ayesha memanas-manasi.


"Katakan kepada Tante, siapa dia? Tante harus segera menjauhkannya dari Alvian," ucap Ny. Marina diselimuti kemarahan.


Ayesha menundukkan kepalanya seolah menahan kesedihan yang mendalam.


"Aku tidak sanggup mengatakan ini, Tante. Wanita itu adalah kakak ipar Alvian sendiri, istri mudanya Tuan Raja. Namanya Cleantha. Tante pasti pernah berkenalan dengannya. Dia memang masih muda dan cantik. Karena itu dia menggunakan pesonanya untuk merayu dan menjerat Alvian. Apalagi sekarang dia sudah diceraikan oleh Tuan Raja. Aku yakin dia semakin leluasa berhubungan dengan Alvian."


Ny. Marina memijit kedua pelipisnya dengan tangan. Kepalanya serasa akan meledak mendengar perbuatan memalukan yang dilakukan oleh Alvian.


Putra semata wayangnya itu telah menjalin hubungan terlarang dengan janda kakaknya.


Jika para kolega dan saudaranya mengetahui hal ini, entah mau ditaruh dimana mukanya. Mungkin ia tidak akan sanggup keluar dari rumah lagi.


"Huh,...Tante bingung harus mengatakan apa, Ayesha. Yang jelas Tante tidak akan tinggal diam. Tante akan menyadarkan Alvian dari kekhilafannya. Dan Tante pastikan anak Tante itu akan meninggalkan Cleantha dan kembali padamu," ucap Ny. Marina berapi-api.


...****************...


Fendi berjalan mondar-mandir di dalam apartemennya. Ia merasa sangat bosan hari ini. Ingin sekali rasanya kembali ke Jakarta dan menemui Zevira. Yah, sejak kemarin ia menunggu telpon dari kekasihnya itu. Namun Zevira tidak juga menghubunginya.


"Tuuuuttt, tuutttt..."


Beberapa kali Fendi mengulang panggilannya, namun Zevira tidak kunjung menerima.


Baru pada panggilan keenam atau ketujuh, Zevira mengangkat telponnya.


Suara Zevira terdengar lirih dan ragu-ragu.


"Fendi kenapa kamu menelponku? Aku sedang tidak bisa bicara denganmu sekarang?"


Fendi mengernyitkan dahinya.


"Memangnya kenapa, Sayang? Kamu sudah pindah ke rumah papamu, kan? Seharusnya kamu lebih bebas melakukan apa saja."


"Justru itu masalahnya, Fendi. Papaku tiba-tiba pulang karena mendengar kabar perceraianku dari pengacaranya. Papa memaksaku kembali pada Raja dan mencabut gugatan ceraiku," kata Zevira mengecilkan suaranya.


"Kenapa kamu tidak menentang papamu, Sayang? Bilang saja kalau kamu sudah tidak mencintai Raja dan ingin menikah denganku."


"Aku tidak berani melawan kemauan Papa. Dia mengancam akan mencoret namaku sebagai pewarisnya kalau aku bercerai dari Raja. Maafkan aku, Fendi. Sementara waktu kita tidak bisa berkomunikasi. Aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu mengenai kelanjutan hubungan kita," terang Zevira jujur.


Mendengar pengakuan Zevira, Fendi naik pitam. Ia tidak menyangka Zevira akan mengingkari janjinya setelah semua pengorbanan yang dia lakukan.

__ADS_1


"Jadi seperti ini balasanmu, Vira. Aku mencintaimu dan bersedia melakukan perbuatan buruk hanya demi membuatmu bahagia. Tapi kamu malah berniat mengakhiri hubungan kita. Kamu lebih memilih harta warisan papamu daripada aku. Aku mengerti sekarang bagaimana karaktermu. Ternyata kamu hanya menganggapku sebagai boneka yang bisa kamu permainkan seenaknya."


"Fendi, bukan begitu maksudku. Aku juga mencintaimu, tapi..."


Fendi mematikan telponnya sebelum Zevira selesai berbicara. Ia mengarahkan tinjunya ke meja untuk melampiaskan semua kemarahannya.


"Vira, aku tidak akan membiarkanmu bersatu lagi dengan Raja. Tunggu saja sampai aku membuka rahasia tentang Alvian dan Cleantha kepada Raja. Kalau Raja tahu Alvian tidak menyentuh Cleantha, dia pasti akan rujuk dengan istri mudanya itu. Dan kamu akan kembali dicampakkan oleh suamimu,"


gumam Fendi mengucapkan sumpahnya.


...****************...


Masih dipenuhi rasa gusar bercampur malu, Ny. Marina memasuki rumah mewahnya. Ia terkejut ketika melihat seorang pria sudah menunggunya di sofa ruang tamu.


"Bayu? Ini benar-benar kamu?" tanya Ny. Marina tersenyum senang.


"Iya, Marina. Apa kabar? Kamu masih awet muda dan cantik seperti dulu," puji Tuan Bayu.


Ny. Marina tersipu mendengar pujian dari sahabat suaminya itu.


"Ah, bisa saja. Aku sudah tua sekarang, Bayu. Angin apa yang membawamu pulang ke Jakarta?" tanya Ny. Marina berbasa-basi.


Ekspresi wajah Tuan Bayu berubah menjadi prihatin.


"Aku kemari karena ingin mencegah perceraian Raja dan Zevira. Sayang sekali aku tidak berhasil melunakkan hati Raja."


"Raja dan Vira akan bercerai? Kenapa mereka tidak memberitahuku? Tapi aku tidak heran. Raja tidak pernah menganggapku sebagai mamanya," ucap Ny. Marina tersinggung.


"Aku juga mendengarnya dari pengacaraku, bukan dari Raja maupun Vira. Begitulah anak-anak. Kalau sudah dewasa mereka bertindak sesuka hati tanpa menghiraukan orang tuanya."


"Iya, kamu benar, Bayu. Aku juga pusing memikirkan putra kandungku, Alvian. Aku berharap dia menjadi CEO, menikah dengan gadis yang sepadan dengannya lalu hidup bahagia. Tapi yang terjadi pada Alvian malah sebaliknya," ucap Ny. Marina sedih.


"Jangan sedih, Marina. Aku kesini ingin memberikan kabar baik untukmu. Salah satu harapanmu akan segera terwujud."


"Apa maksudmu, Bayu?" tanya Ny. Marina penasaran.


"Tiga hari lagi aku akan mengadakan rapat dewan direksi untuk melakukan peninjauan ulang posisi CEO. Aku berjanji akan mencalonkan Alvian untuk menggantikan Raja. Aku juga akan membujuk anggota dewan direksi yang lain untuk memilih Alvian. Perceraian Raja dengan kedua istrinya bisa menjadi alasan yang kuat untuk menggeser posisinya. Aku melakukan ini sebagai shock terapi bagi Raja agar dia tidak menceraikan Vira."


"Benarkah itu?" tanya Ny. Marina berbinar-binar.


"Iya, tapi aku butuh bantuanmu. Bujuklah Alvian supaya dia bersedia dicalonkan. Kalau perlu paksa dia untuk menurut padamu."


"Baik, Bayu. Aku mengerti. Terima kasih atas bantuanmu."


**BERSAMBUNG


Terus dukung author dengan memberikan like, comment, dan votenya.

__ADS_1


Lope you all my readers**


__ADS_2