Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 62 Melawan Hati


__ADS_3

Untuk sekejap, Alvian teringat ucapan Fendi di bar. Sepupunya yang brengsek itu telah memperingatkannya untuk tidak terlalu dekat dengan Cleantha. Karena kedekatan antar laki-laki dan perempuan berpotensi menumbuhkan perasaan yang terlarang.


Awalnya ia menganggap Fendi hanya membual dan bicara omong kosong. Namun peringatannya tersebut terbukti benar adanya.


"Setelah Cleantha sadar, aku harus segera pergi dari sini. Mulai sekarang aku harus menjaga jarak darinya. Jangan sampai aku berakhir menjadi pengkhianat yang tidak bermoral seperti Fendi,"


pikir Alvian membulatkan tekad.


Alvian hendak meninggalkan Cleantha sejenak. Mengembalikan kewarasannya yang sempat hilang selama sepersekian detik.


Namun ia berhenti karena melihat Cleantha membuka matanya.


"Dimana ini?" tanya Cleantha menatap sekelilingnya.


"Kamu ada di rumah sakit, Clea. Kamu tadi pingsan di hotel," kata Alvian bersikap sewajar mungkin.


Cleantha menatap Alvian dengan pandangan kosong.


"Pak, jam berapa sekarang? Saya harus pergi dari sini," ucap Cleantha mencoba bangun dari ranjang pasien.


"Ini jam sebelas lewat tiga puluh menit. Kamu baru saja siuman dari pingsan dan kamu masih demam. Tidak mungkin kamu pergi dari rumah sakit."


"Tapi, Pak, saya harus bekerja. Saya akan berangkat ke kantor. Kalau tidak saya akan dipecat dan kehilangan pekerjaan saya," ujar Cleantha cemas.


"Kamu tidak mungkin bekerja dalam keadaan demam dan lemah seperti ini. Lagipula siapa yang akan memecatmu? Aku adalah pemimpin divisi finance. Tidak ada yang bisa memecatmu selain aku," kata Alvian meyakinkan Cleantha.


"Sekarang berbaringlah lagi, aku akan memanggil perawat untuk memeriksamu."


Tak berselang lama, perawat datang untuk memeriksa Cleantha.


"Sebentar lagi saya akan mengambil sample darah Nona. Silakan makan siang dulu lalu minum obatnya," kata perawat itu berjalan pergi.


Alvian mengambilkan nampan makanan lalu menyerahkannya pada Cleantha.


"Clea, makanlah. Aku akan menelpon Pak Darma agar mengirim pelayan wanita kesini untuk menemanimu."


"Pak, tunggu," kata Cleantha mencegah Alvian.


"Kenapa?"


"Jangan memanggil pelayan Tuan Raja. Sebentar lagi saya akan keluar dari sini lalu kembali ke rumah saya," kata Cleantha bersikeras.


Alvian menarik nafas panjang. Ia tidak mengerti kenapa Cleantha sangat keras kepala.


"Kamu dengar sendiri apa yang dikatakan perawat. Kamu akan menjalani pemeriksaan darah lalu menunggu hasilnya. Tidak mungkin pulang secepat itu. Dan untuk apa kamu pulang ke rumah? Bukankah Keyla tidak mau menerimamu?"


"Kakak saya pasti akan menerima saya karena saya sudah mengambil keputusan. Saya akan meminta cerai dari Tuan Raja setelah dia pulang dari liburan. Dan waktunya adalah besok," kata Cleantha mantap.

__ADS_1


"Clea, bisa-bisanya kamu berkata begitu. Kamu tidak memikirkan perasaan suamimu? Bicarakan dulu semua pada Kak Raja dengan kepala dingin. Mungkin jika kalian berdua datang baik-baik untuk menemui ayahmu dan Keyla, mereka bisa menerima pernikahan kalian."


Cleantha menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Pak. Saya lebih tahu keluarga saya daripada Bapak. Tadi saya juga bermimpi bertemu ibu saya. Dia memeluk saya dengan penuh kasih sayang. Membuat hati saya damai dan tenang. Karena itu saya bertambah yakin jika sekaranglah waktunya saya harus kembali."


Alvian terkesiap mendengar pernyataan Cleantha. Mana mungkin dia mengatakan jika sebenarnya dialah yang memeluk gadis itu untuk menenangkannya.


"Aku tidak akan berdebat lagi denganmu. Aku tetap akan menelpon Pak Darma. Setelah kamu diijinkan keluar dari rumah sakit, kamu harus kembali ke rumah Kak Raja."


Alvian meraih ponselnya untuk menghubungi Pak Darma, namun mendadak Cleantha menahan tangannya.


"Saya mohon, Pak. Jangan memanggil pelayan kesini. Kalau Bapak ingin pulang, tinggalkan saja saya. Saya bisa menjaga diri sendiri," ucap Cleantha berkeras hati.


Alvian tidak menyangka Cleantha akan memohon padanya seperti itu. Daripada menimbulkan keributan di rumah sakit, Alvian akhirnya mengalah dan meletakkan ponselnya.


"Terserah kamu saja. Kamu sudah dewasa dan aku tidak punya hak untuk mengaturmu. Aku hanya bisa mengingatkanmu supaya kamu tidak menyesal nantinya. Sekarang makanlah," kata Alvian duduk di samping tempat tidur Cleantha.


Cleantha menyuapkan beberapa sendok makanan ke mulutnya. Semua makanan itu terasa hambar, sehambar hidupnya saat ini.


Ia tidak yakin apakah Raja akan semudah itu melepaskannya. Sifat suaminya itu sulit untuk ditebak. Terkadang ia begitu baik, tapi di lain waktu tampak temperamental dan tanpa rasa belas kasihan.


Terbersit kekhawatiran di hati Cleantha. Bagaimana jika Raja meminta kembali semua uang beserta bantuan yang sudah diberikannya. Dengan apa dia bisa membayarnya.


Dalam kondisi patah arang, tiba-tiba saja Cleantha mendapatkan secercah harapan. Iya tidak salah lagi, Alvian Adhiyaksa. Hanya pria itu yang bisa menolongnya keluar dari masalah pelik yang tengah membelitnya.


Dengan tatapan tajam, Cleantha menjatuhkan pandangan kepada Alvian.


Alvian mengerutkan alisnya.


"Apa maksudmu?"


"Saya tidak punya uang, Pak. Jika nanti Tuan Raja meminta saya mengembalikan uang seratus juta, saya akan mengajukan permohonan peminjaman uang ke kantor. Dan hanya Bapak sebagai direktur keuangan yang berhak menyetujuinya."


Cleantha beringsut mendekat. Tanpa memikirkan rasa malu, ia memegang tangan Alvian. Seolah menggantungkan harapan terakhir pada atasan sekaligus adik iparnya itu.


"Jika saat itu tiba, saya mohon Bapak mengabulkan permohonan saya. Kalau perlu saya akan berlutut di hadapan Bapak sampai Bapak memberikan persetujuan," ujar Cleantha dengan tatapan memohon.


Lagi-lagi Alvian terjebak dalam dilema karena Cleantha. Mustahil ia memberikan uang seratus juta supaya kakaknya sendiri bercerai dengan istrinya. Jika demikian ia adalah seorang adik yang durhaka.


Namun bila dia menolak secara tegas, maka besar kemungkinan Cleantha akan semakin putus asa dan berbuat nekat. Dan entah mengapa ia tidak ingin melihat Cleantha terus bersedih dan terluka. Ia lebih suka melihat Cleantha yang manis, polos, dan sedikit ceroboh seperti biasanya.


"Aku tidak bisa membiarkan diriku begini. Lama-lama aku bisa gila. Cukup hari ini saja aku ada di dekat Cleantha. Besok saat Kak Raja pulang, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah perceraian mereka."


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Karena aku yakin Kak Raja tidak akan pernah menceraikanmu," jawab Alvian kepada Cleantha.


...****************...

__ADS_1


"Tidak ada masalah dalam hasil pemeriksaan darah Nona Cleantha," kata dokter kepada Alvian.


"Dokter, bisakah saya diizinkan pulang sekarang saja? Saya sudah merasa sehat," tanya Cleantha memaksa.


"Jika Nona ingin pulang saya persilakan. Tapi selama dua hari ke depan, Nona harus beristirahat. Jangan bekerja berat dan hindari stres," kata dokter itu sebelum berjalan meninggalkan Cleantha.


Bersamaan dengan itu, Keyla datang ke rumah sakit. Ia melancarkan tatapan dingin kepada Cleantha.


"Kenapa kamu pingsan, Clea? Jangan-jangan kamu hamil," tanya Keyla tanpa ekspresi.


"Cleantha pingsan karena kamu terlalu menekannya. Seharusnya kamu melindungi adikmu, bukannya menambah masalah dalam hidupnya," sahut Alvian ketus.


Keyla enggan menanggapi sindiran dari Alvian. Ia lebih memusatkan perhatian pada Cleantha.


"Aku datang kesini karena ingin melihat keadaanmu. Sekaligus aku ingin bertanya apa kamu sudah mengambil keputusan?"


Cleantha meraih tangan kakaknya itu.


"Iya, Kak. Besok aku akan pulang ke rumah Tuan Raja dan meminta cerai darinya. Aku janji. Sekarang ijinkan aku pulang bersama Kakak."


"Bagus, kalau begitu ayo kita pulang ke rumah," ajak Keyla sambil tersenyum senang.


Alvian ingin mencegah kepergian Cleantha, sayangnya ia merasa tidak punya kuasa untuk melakukan hal itu. Terlebih ponselnya tiba-tiba berdering.


"Mama?"


gumam Alvian membaca nama Ny. Marina di layarnya.


"Halo, Ma," sapa Alvian.


"Al, kemana saja kamu? Dari semalam kamu tidak pulang dan tidak mengabari Mama. Barusan Mama menelpon ke kantor, tapi kata asistenmu kamu tidak masuk kerja. Ingatlah, bulan depan kamu akan bertunangan. Jagalah kelakuanmu. Bagaimana kamu bisa jadi seorang CEO kalau sikapmu seperti ini," sembur Ny. Marina kesal pada putranya.


"Maaf, Ma, aku ada urusan penting yang harus diselesaikan," jawab Alvian.


"Urusan apa? Apa yang lebih penting daripada Ayesha dan pekerjaanmu? Dua hal itulah yang paling menentukan masa depanmu. Mama ingin kamu bisa terbebas dari bayang-bayang Raja."


"Sudahlah, Ma. Sebentar lagi aku akan pulang. Tidak perlu membahas soal Ayesha dan pekerjaan lagi," ucap Alvian menutup telponnya.


"Mama tidak pernah memikirkan perasaanku. Yang ada di benaknya hanya harta dan kekuasaan. Dia bahkan memaksaku untuk menikahi wanita yang tidak aku cintai,"


batin Alvian kecewa.


...****************...


Raja menimang kalung emas berliontin mutiara putih yang ada di telapak tangannya. Ia baru saja membeli kalung itu di Tokyo sebagai hadiah untuk Cleantha. Dengan kepribadian istrinya yang lembut, ia yakin kalung itu cocok terpasang pada lehernya.


"Kenapa aku merindukan Cleantha? Padahal kami hanya berpisah sebentar. Apakah ini hanya nafsu sesaat atau aku benar-benar jatuh cinta pada gadis itu? Aku harus menahan diri. Cinta hanya akan membuatku lemah seperti dulu,"

__ADS_1


gumam Raja melawan perasaannya sendiri.


BERSAMBUNG


__ADS_2