Istri Bayaran Milik Tuan Raja

Istri Bayaran Milik Tuan Raja
Bab 97 Kehilangan Cinta (Part 2)


__ADS_3

Raja tergesa-gesa masuk ke ruang perawatan Zevira ditemani oleh Bayu Narendra.


"Vira, ini Raja datang," kata Tuan Bayu kepada putrinya yang tergolek lemah di ranjang pasien.


Tuan Bayu mengalihkan pandangannya kepada Raja.


"Kalian berdua perlu bicara. Papa akan menunggu di luar," ucap Tuan Bayu melangkah pergi.


Zevira menatap Raja dengan matanya yang sayu. Tidak ada lagi paras cantik nan angkuh yang biasanya terpancar dari diri wanita itu. Yang ada hanyalah keputusasaan bercampur rasa sakit.


Melihat Zevira dalam keadaan tak berdaya, hati Raja tergerak oleh belas kasihan.


"Raja, akhirnya kamu datang juga," ucap Zevira lemah.


"Aku dengar dari Papa Bayu bahwa kamu sedang sakit," jawab Raja menatap Zevira dengan prihatin.


"Apa kamu senang melihatku dalam keadaan begini, Raja? Kamu pasti berpikir aku terkena karma atas semua perbuatanku."


"Aku tidak pernah berpikir begitu. Kamu harus berjuang untuk kesembuhanmu," kata Raja memberikan semangat.


Zevira tersenyum kecut.


"Berjuang untuk siapa? Kamu menceraikan aku dan Fendi juga memutuskan hubungan denganku."


"Tapi kamu masih punya Ivyna. Setidaknya pikirkanlah dia," jawab Raja.


"Ivy? Bukankah kamu mau merebutnya dariku? Lalu aku harus bagaimana menjalani hidupku? Aku hanya akan menikmati penderitaanku setiap hari di rumah sakit ini. Digerogoti penyakit kanker dan menghembuskan nafas terakhir dalam kesepian," ucap Zevira berurai air mata.


Raja memegang tangan mantan istrinya itu.


"Nasibmu tidak akan seburuk itu, Vira. Kamu bisa menjalani pengobatan di luar negri. Masih ada harapan untuk sembuh."


"Sudahlah, Raja, tidak perlu berpura-pura peduli padaku. Kembali saja pada Cleantha, istri mudamu itu. Kalian pasti sudah rujuk sekarang," ujar Zevira penuh kepahitan.


"Vira, aku kesini sebagai temanmu. Jangan singgung soal masa lalu kita."


Zevira menggeleng lemah.


"Tinggalkan aku, Raja. Aku ingin tidur untuk mengurangi rasa sakit ini."


"Baiklah, aku akan keluar. Jaga dirimu, Vira," ucap Raja berjalan pergi.


Di luar ruangan, Tuan Bayu sudah menunggu menantunya itu.


"Raja, kamu lihat sendiri kondisi Vira. Papa benar-benar tidak tega menyaksikan dia kesakitan. Boleh Papa minta sesuatu darimu? Ini adalah permohonan Papa untuk yang terakhir kalinya."


"Iya, Pa, katakan saja. Aku akan berusaha memenuhinya," jawab Raja terenyuh dengan kesedihan Tuan Bayu.

__ADS_1


"Tolong batalkan perceraianmu dengan Vira. Jika dia menderita tumor otak, mungkin usianya tidak akan lama lagi. Papa mohon dampingilah Vira di sisa-sisa waktunya. Dia membutuhkanmu dan Ivyna untuk memberinya semangat dalam menjalani pengobatan. Dan seandainya Vira harus pergi, biarkanlah dia tetap menyandang status sebagai istrimu," kata Tuan Bayu dengan mata berkaca-kaca.


Permintaan Tuan Bayu menyebabkan Raja terjatuh dalam jurang dilema. Pikirannya terbelah dua saat ini. Sesungguhnya ia mencemaskan Cleantha yang hatinya sedang hancur karena kehilangan anak. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Tuan Bayu dan Zevira yang tengah dilanda penderitaan.


Raja tidak bisa memungkiri bahwa ia ingin bersatu dengan Cleantha. Namun mengingat Cleantha membencinya, rasanya mustahil untuk mereka bersama saat ini. Apalagi ada Alvian di antara mereka berdua. Akan butuh waktu cukup lama untuk membuat Cleantha memaafkannya dan kembali ke pelukannya.


"Raja, jika perlu Papa akan bersimpuh dan memohon kepadamu," sambung Tuan Bayu dengan suara bergetar.


"Jangan, Pa. Orang tua tidak sepantasnya memohon pada anaknya. Aku berjanji untuk mendampingi Vira sampai dia sembuh," ucap Raja tulus.


Tuan Bayu memeluk Raja dengan penuh haru.


"Terima kasih, Raja. Papa tidak pernah salah menilaimu. Kamu memang suami yang terbaik untuk Vira."


...****************...


Dua hari kemudian,


Hari ini adalah hari kepulangan Cleantha dari rumah sakit. Karena ada rapat dewan direksi yang tak mungkin ditinggalkan, Alvian tidak bisa menjemput Cleantha. Ia menyuruh Bu Nur menemani Cleantha kembali ke apartemennya.


"Non, itu taksinya. Ayo kita masuk," kata Bu Nur menggandeng tangan Cleantha.


Cleantha menurut saja. Ia masuk ke dalam taksi tanpa berbicara apapun. Namun di dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana. Setibanya di apartemen, ia akan mengambil semua baju dan barangnya lalu pergi secara diam-diam. Ia harus memanfaatkan peluang selama Alvian masih di kantor agar bisa meninggalkan pria itu. Jika Alvian ada, dia pasti akan mencegah kepergiannya.


Cleantha sudah memesan tiket bus yang akan berangkat malam ini ke Bandung.


"Non, tidak apa-apa, kan?"


"Tidak, Bu."


"Nanti Non harus istirahat di apartemen. Jangan turun bekerja apa-apa dulu supaya kandungan Non cepat pulih," ucap Bu Nur memberikan nasehat.


Cleantha mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati, ia menyangkal semua perkataan Bu Nur. Setelah ini ia justru akan menempuh perjalanan untuk memulai awal baru dalam kehidupannya. Ia akan berjuang di kota yang lain. Mencari pekerjaan atau membuka usaha kecil-kecilan di bidang kuliner. Tifak ada lagi yang bisa menghalanginya.


Debaran jantung Cleantha semakin terasa ketika menginjakkan kaki di apartemen Alvian. Ini adalah kali terakhirnya berada di tempat itu. Bagaimanapun apartemen itu telah menyimpan kenangan manisnya bersama Alvian dan bayinya yang telah tiada. Walaupun berjalan sangat singkat, tapi kenangan itu sudah cukup membuatnya bahagia.


"Bu, saya masuk kamar dulu," kata Cleantha buru-buru ke kamarnya.


Cleantha mengeluarkan kopernya lalu meletakkannya di lantai. Ia mulai mengambil baju-baju dari lemari dan menyusunnya di dalam koper.


Meskipun gerakannya belum selincah biasanya, Cleantha berusaha menata pakaiannya secepat mungkin.


"Non, saya bawakan susu," ketuk Bu Nur di pintu kamar Cleantha.


"I..iya, Bu," jawab Cleantha membukakan pintu.


"Ini, Non, diminum supaya cepat pulih," kata Bu Nur meletakkan minuman yang dibawanya.

__ADS_1


Bu Nur terkejut saat melihat sebuah koper besar tergeletak di samping tempat tidur Cleantha.


"Loh, Non mau pergi dari sini?" tanya Bu Nur curiga.


"Iya, saya mau kembali ke rumah keluarga saya. Tidak baik jika saya terus tinggal di apartemen ini," kata Cleantha terpaksa berbohong.


"Tapi saya kira Non akan segera menikah dengan Tuan Alvian."


"Kami belum ada rencana menikah, Bu," jawab Cleantha singkat.


"Lalu apakah Tuan Alvian sudah tahu kalau Non Cleantha akan pergi?" tanya Bu Nur penasaran.


"Belum, Bu. Saya minta tolong jangan katakan apa-apa pada Pak Alvian. Saya tidak mau merepotkannya lagi," ucap Cleantha memegang tangan Bu Nur.


"Tapi saya takut disalahkan oleh Tuan Alvian kalau Non pergi tanpa pamit."


"Saya mohon, Bu. Tolong saya sekali ini saja. Saya butuh waktu sendirian supaya bisa menenangkan diri," pinta Cleantha.


Karena tidak ingin membuat Cleantha makin terpuruk, Bu Nur akhirnya mengalah.


"Baik, Non. Nanti saya akan bantu Non bawa kopernya ke bawah. Sekarang saya permisi dulu," ucap Bu Nur.


Bu Nur melangkah menuju dapur, namun hatinya masih bimbang. Antara memberitahukan atau merahasiakan kepergian Cleantha dari Alvian. Pasalnya, Cleantha baru saja keguguran. Akan sangat berbahaya bila ia harus bepergian seorang diri.


"Apa aku perlu menelpon Tuan Alvian? Tapi aku sudah janji sama Non Cleantha,"


batin Bu Nur kebingungan.


...****************...


Raja dan Alvian duduk bersebelahan di rapat dewan direksi. Rapat itu berjalan cukup menegangkan karena akan diselenggarakan peninjauan ulang posisi CEO.


Sebelum ketua dewan direksi angkat bicara, Raja meminta izin untuk memberikan pernyataannya.


"Saya sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan dewan direksi kepada saya selama ini untuk memimpin Adhiyaksa Group. Saya tahu masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk memajukan perusahaan. Mungkin juga ada banyak kekurangan dan kesalahan yang saya lakukan selama memimpin perusahaan ini. Karena itu secara pribadi saya menyampaikan permohonan maaf kepada dewan direksi. Sekaligus saya ingin menyatakan pengunduran diri saya sebagai CEO efektif mulai hari ini," tegas Raja.


Semua anggota dewan direksi keheranan mendengar perkataan Raja. Mereka tidak menyangka Raja dengan sukarela menyatakan pengunduran dirinya dari posisi CEO.


"Dan dengan ini saya menyarankan pengangkatan adik saya, Alvian Adhiyaksa sebagai CEO yang baru. Dia masih muda, cerdas, dan juga pekerja keras. Saya yakin di bawah kepemimpinannya, Adhiyaksa Group akan semakin berkembang."


Alvian terhenyak. Ia berdiri dari kursinya untuk menyadarkan Raja.


"Kak, kenapa jadi begini? Aku tidak bisa menjadi CEO, karena Kakak yang lebih pantas untuk kedudukan itu," tolak Alvian.


"Al, aku akan pergi ke luar negri bersama Ivyna dan Zevira. Aku ingin melupakan semua yang terjadi sekaligus memastikan Vira menjalani pengobatan yang tepat. Karena itu aku menitipkan perusahaan kepadamu," ucap Raja penuh keyakinan.


Mendengar Raja berkata demikian, Alvian tidak dapat menolak. Hanya satu yang ada di pikirannya. Ia akan memberitahukan berita ini kepada Cleantha sepulang kerja nanti. Sekaligus ia akan membelikan sebuah cincin sebagai tanda keseriusan cintanya pada gadis itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2